My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
113



Fajri datang ke tempat hiburan milik Venus. Hadi mengawasi dari luar bersama beberapa orang yang menyamar. Dengan bekal foto yang diambil dari rekaman CCTV, mereka siap menangkap pria yang diduga membawa Dania.


"Oyy, Pak petugas! " seru Zavier salah satu anak buah Venus yang menjaga tempat hiburan itu.


Fajri menjawab sapaannya dengan mengangkat tangannya.


"Apa yang dilakukan petugas baik seperti anda di sini? " tanyanya di dekat telinga Fajri.


"Aku mencari seseorang, dia sering kemari" jawab Fajri langsung.


Zavier terdiam, dia menatap Fajri dengan mengerutkan dahinya. Kemudian berpaling pada salah satu temannya dan memberikan kode.


"Hanya sebentar, jika dia tidak ada, aku akan langsung pergi" ucap Fajri saat melihat gerakan tangan Zavier yang memberi kode.


Zavier kembali memberikan kode pada temannya.


"Siapa dia? " tanya Zavier.


"Aku hanya tahu wajahnya, ku rasa dia hanya seorang pecundang yang suka mabuk dan mengganggu toko sekitar jalan di seberang sana" jelas Fajri.


Zavier mengangguk, dia mempersilahkan Fajri memeriksa seraya menemaninya.


Dengan langkah perlahan, mata Fajri juga mengawasi setiap pintu ruangan VIP yang terbuka sedikit. Dia ingat dengan ucapan Hasna yang mengatakan bahwa pria yang dia curigai duduk di ruang VIP bersama beberapa orang.


Sayangnya, pria yang dia maksud tidak ada dimanapun dia memperhatikan. Fajri menghela, dia menatap ke arah lantai atas seraya memeriksa, tetap saja nihil.


"Ketemu? " tanya Zavier.


"Tidak, kurasa dia tak datang hari ini" jawab Fajri.


Saat hendak memeriksa toilet, ponsel Fajri bergetar, diapun langsung menjawab telponnya.


"Hmmm? " seru Fajri singkat.


"Kami sedang mengejarnya Pak, dia keluar dari pintu belakang, menuju arah pasar malam" ucap Hadi seraya terengah.


Fajri menatap Zavier yang tangannya sibuk memberikan kode pada temannya.


"Baiklah" jawab Fajri kemudian menutup telponnya.


Zavier bersikap biasa kembali setelah dia melihat Fajri menaruh ponselnya kembali.


"Tidak ketemu Pak? " tanya Zavier.


"Ketemu, anak buah ku sedang mengejarnya" jawab Fajri santai.


Zavier mengubah raut wajahnya, terlebih saat Fajri hendak pergi dari tempat hiburan itu.


"Tunggu Pak! " seru Zavier saat Fajri hendak menggapai pintu keluar.


Fajri menoleh kemudian tak sadarkan diri setelah dipukuk oleh Zavier.


***


Fernand terus berlari setelah mendengar teriakan salah satu petugas. Dia sadar telah diintai dan menjadi sasaran tangkapan mereka malam itu.


Dengn tubuh kecilnya, dia berlari secepatnya dan mencari jalur yang mungkin dapat dia ambil untuk segera lolos dari mereka.


Hadi dan teman-temannya telah jauh mengejar Fernand. Dia masuk ke lingkungan pasar untuk mengecohnya.


Hadi berdiri menatap kerumunan orang-orang di hadapan nya. Dia pergi ke arah di depannya setelah dia memberikan kode pada temannya untuk berpencar.


Para petugas itu mengincar pria yang berpakaian serba hitam. Mereka memeriksa setiap orang yang sesuai dengan yang mereka kejar tadi. Tapi sayangnya mereka selalu salah orang.


Dari kejauhan, Hadi menanyakan dengan menggerakan dahinya. Para petugas lainnya menggelengkan kepalanya.


Hadi menatap ponselnya, dia hendak menghubungi Fajri untuk memberikan kabar tentang pengejarannya. Tapi Fajri tak menjawabnya.


"Kemana dia?" gumam Hadi.


***


Sementara itu, di ruang VVIP tempat hiburan milik Venus. Fajri mulai sadar dari pingsannya. Tangannya meraba kepala bagian belakangnya karena merasakan sakit yang luar biasa.


Fajri berhenti bergerak mendengar suara yang tak asing baginya. Dia mengangkat kepalanya dan membuka lebar matanya untuk melihat orang itu.


Matanya membelalak saat dugaannya benar. Namun dia tak menyangka Wira akan melakukan ini padanya.


"Orang yang kau cari, jika tertangkap, bebaskan dia" ucap Wira.


Fajri masih diam seraya meringis merasakan tegang di kepalanya.


"Jangan perpanjang kasus anak panti asuhan yang sudah terbengkalai itu" lanjut Wira.


Fajri mengambil nafas dalam.


"Apa yang akan kau lakukan padanya? " tanya Fajri berusaha tetap santai.


"Kau hanya punya tugas untuk mengikuti semua perintah ku. Kau tidak berhak tahu apa yang kami lakukan! " ucap Wira seraya hendak berdiri.


"Aku tidak mau" ucap Fajri.


Wira menoleh dengan mata terbuka lebar mendengar penolakan Fajri.


"Kalau begitu kembalikan semua yang pernah aku berikan untukmu" ucap Wira dengan kesalnya.


"Ambil saja, aku bahkan tidak pernah merasa nyaman memakainya. Bersenang-senang diatas penderitaan orang lain, hufft!Orang-orang seperti kalian hanya sampah yang dibungkus kertas kado yang mewah" ucap Fajri seraya berdiri menantangnya.


Zavier maju dan menodongkan senjata ke hadapan Fajri. Tapi Wira menahan tangannya dan Zavier pun menurunkan senjatanya.


Wira tersenyum, menunduk dan memainkan kedua tangannya.


"Kau kira hanya itu yang sudah kami berikan untuk kalian? " Wira menunjukkan senyuman khasnya.


Fajri tak mau terpancing, dia menahan dirinya untuk melawan. Saat dia mendengar semua ucapan Wira, dia melihat ponselnya dan memberikan kabar pada Hadi bahwa dia diserang secara diam-diam. Hadi dan petugas lainnya sedang dalam perjalanan menuju tempat hiburan itu lagi. Dia berusaha menahan Wira dan Zavier untuk pergi.


"Agung sudah banyak mengambil sebelum kelahiran mu, bukan hanya rumah, semua yang dia miliki bahkan jasadnya pun sudah menjadi milik kami" ucap Wira.


Mendengar ucapan Wira tentang ayahnya, tangan Fajri mengepal dan tak bisa menahan dirinya lagi. Dia mulai maju dan melancarkan serangan tinjunya di wajah Wira.


Zavier mendorong dengan keras tubuh Fajri ke sudut ruangan. Dia yang kalah berat tubuh, langsung terpental dengan kerasnya.


Wira bangkit setelah mendapat pukulan. Namun dia hanya tersenyum menatap Fajri yang juga ikut bangkit.


"Selesaikan dia, jangan sampai ada yang melihatnya" bisik Wira pada Zavier.


Zavier menatap Fajri dan mendekat. Wira pergi dari ruangan itu dan menutup pintunya.


"Bantu aku mengurus petugas bodoh ini" ucap Zavier pada rekannya.


Tangan Zavier yang besar mengambil Fajri seperti mengambil kucing untuk dibuangnya. Fajri diberi pukulan di perut dan kemudian kalah telak hingga dia lemas. Zavier menyeretnya keluar dari ruangan itu.


Beberapa pengunjung menatap Fajri yang diseret oleh Zavier.


"Maaf mengganggu ketenangan kalian, inilah akibatnya jika berani masuk tapi tak berani membayar" ucap Zavier dengan tersenyum.


Vania yang sedang menyamar sebagai pengunjung, langsung menghubungi Hadi dan rekan yang lainnya.


{Fajri tak berdaya dan dibawa ke belakang}


Meskipun khawatir, tapi Vania harus berpura-pura tak memperdulikannya.


Sampai di belakang, Fajri dilempar. Namun sayang, Vino yang sudah ada di sana, langsung menangkapnya. Fajri menatap Vino dengan heran, karena ada di sana.


Zavier langsung diam tak berkutik. Dia juga menundukkan kepalanya di hadapan Vino.


"Katakan pada Wira, aku, Vino, yang akan mengurusnya" ucap Vino.


Zavier tak menjawab, dia memberi kode pada yang lainnya untuk mundur dan kembali.


Hadi yang baru sampai, menatap mereka berdua bergantian.


"Pak, kau baik-baik saja? " tanya Hadi.


Vino melepaskan pegangan tangannya dari lengan Fajri. Kemudian mereka semua pergi dari sana.