
Hasna mendapat kabar dari Wisnu tentang keadaan Nabila. Dia terduduk lemas mendengarnya. Hasna langsung pergi ke rumah sakit dengan hanya memakai baju tidur dan jaket. Dia marah pada Fajri yang mengatakan bisa menjamin keadaan Nabila Sehingga dia meminta dua penjaga bayaran Vino untuk tak lagi menjaga.
Sampai di rumah sakit, dia berlari dan terlihat sangat kesal. Dia berhenti di depan ICU dan menatap Fajri dengan marahnya. Fajri hanya bisa menghindari tatapan Hasna yang membuatnya merasa sangat menyesal.
Hasna mendekat dan memukul dada Fajri.
"Kau bilang kau bisa menjaganya? Apa ini? Bagaimana kau bisa menjelaskan ini? Dia satu-satunya kesempatan ku untuk mengejar iblis itu" Hasna terengah.
Wisnu mendengarnya, dia menatap terpaku pada Hasna yang punya dendam juga pada pelakunya. Dia merasa dimanfaatkan, meskipun dia mau penjahat itu ditangkap, tapi dia tak mau jika Nabila diharapkan hidup hanya untuk melampiaskan dendam orang lain.
Fajri melihat Wisnu yang terlihat kecewa pada ucapan Hasna.
"Wisnu?"
Hasna terdiam meremas jaket Fajri. Dia lupa dan hilang kendali sehingga mengatakan tujuannya membantu Wisnu. Dia berbalik dan menatap Wisnu yang pergi tanpa melihatnya. Hasna hendak menyusulnya, tapi Fajri menahannya.
"Jangan sekarang!" ucap Fajri.
Hasna tak menoleh, dia menepis tangan Fajri dengan kesal. Dia pergi dari rumah sakit dan kembali pulang ke rumahnya.
Fajri masih berdiri menatap kepergiannya. Dia memalingkan wajahnya pada Nabila yang tak sadarkan diri.
~Hasna benar, dia satu-satunya yang ku miliki sekarang. Aku bahkan tidak mendapat petunjuk dari rekaman CCTV yang jauh dari tempat dia ditemukan. Tak ada saksi, tak ada bukti, sekarang korban kembali tak sadarkan diri. Apa yang harus aku lakukan~ hati Fajri gusar.
Sementara itu, Wisnu menatap wajah adiknya, yang tadi siang sudah begitu berusaha berlatih menahan tangisnya saat hendak menceritakan kejadiannya. Dia bahkan tak sanggup mendengarkannya.
Wisnu tak suka ucapan Hasna yang memanfaatkannya. Tapi Wisnu berpikir lagi, Hasna yang pertama membantunya. Hasna yang membuatnya bisa dirawat. Jika bukan Hasna yang menemukan mereka pertama kali, mungkin ceritanya akan lain lagi.
"Apa yang harus kakak lakuin dek, kakak bingung. Apa kamu sanggup mengatakannya berkali-kali? Di sini, di kantor polisi dan di pengadilan. Berkali-kali dek, kamu juga akan sangat malu karena sudah dinodai orang yang Hasna sebut 'iblis' itu. Tapi, kenapa Hasna begitu marah padanya? Dia terlihat sangat dendam. Apa dia pernah mengalami hal yang sama? Atau ada saudara yang mengalami hal yang sama? Jika ini terjadi pada orang yang disayanginya mungkin dia sangat marah karena itu. Dia anak angkat Pak Agung, jadi mungkin seperti itu" Wisnu bicara pada dirinya sendiri.
Wisnu keluar dari ruang tunggu, dia melihat Fajri yang masih diam terpaku. Wisnu mendekat dan mengajaknya duduk bersama.
"Apa bisa jika Nabila hanya memberikan kesaksiannya di rumah sakit saja?" tanya Wisnu.
"Hmm?" Fajri terkejut dengan perkataannya.
"Aku, tidak yakin dia bisa bertahan atau tidak, tapi, jika dia bertahan, apakah bisa seperti itu? Aku tidak mau dia diombang ambing oleh kalian hanya untuk mendapatkan pelakunya" jelas Wahyu.
Fajri diam, dia tak bisa menjanjikan apapun pada Wisnu. Terlebih hal yang tidak dia duga sudah terjadi. Wahyu menunggu jawaban darinya, tapi kedatangan Beno membuat mereka melupakan pembicaraan mereka.
"Ada yang menyuntikkan anestesi dalam jumlah besar pada infusnya. Sebentar lagi dokter kemari untuk menjelaskan" ucap Beno terengah.
Fajri dan Wisnu berdiri.
"Aku akan memeriksa rekaman CCTV gedung" ucap Beno.
Fajri mengangguk, Wisnu menatap Fajri dengan banyak pertanyaan di benaknya.
###
Hasna sampai di rumah, dia melempar laptopnya ke kasur. Dia terengah sambil menangis karena kesal dengan situasi yang akhir-akhir ini sangat membuatnya merasa buntu.
Hasna berjalan keluar dan membuka pintu. Dia melihat Fajri berdiri di hadapannya. Hasna berpaling dan kembali ke kamar. Dia menutup pintu dan berbaring. Dia tak mau bicara dengan Fajri, dia berpikir Fajri akan pergi setelah dia ke kamar. Karena dia takkan berani masuk.
Namun Fajri melihat jejak langkah Hasna yang berdarah. Dia langsung mencari obat dan masuk begitu saja ke kamar. Dia membuka selimut dan menarik kaki Hasna.
Fajri menarik kaki yang salah, dia melemparnya, kemudian mengambil kaki yang satunya dan mengobatinya.
Hasna kebingungan, dia terkejut karena Fajri masuk ke kamarnya dan meraih kakinya dengan tiba-tiba. Kemudian dia melihat bahwa kakinya terluka.
Fajri melirik pecahan gelas yang berceceran dan juga kamarnya yang berantakan. Dia menghela dan kembali fokus mengobati kaki Hasna.
"Sudah, tidak perlu diobati. Bukan kaki ku yang sakit!" seru Hasna kesal karena tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Lalu, mana yang sakit? Yang ini? Hah!"
Fajri menunjuk dada Hasna dengan tangannya. Mata Hasna membelalak, dia merasa kesal karena Fajri menyentuh dadanya.
"Sini, aku obati!" ucap Fajri menarik tubuh Hasna lebih dekat.
Fajri hendak membuka kancing Hasna, namun Hasna menamparnya.
plakkk
Suara tamparan menggema di ruangan itu. Hasna menutup mulutnya karena merasa bersalah telah refleks menamparnya. Fajri belum memalingkan wajahnya lagi, dia diam dengan mata tertutup.
"Maaf!" lirih Hasna.
Fajri mundur dan merapikan obat yang dia bawa. Dia jongjok mengambil satu persatu pecahan gelas yang terpencar. Hasna diam saja.
Fajri membawa pecahan gelas ke dapur dan membuangnya ke plastik sampah yang ada. Dia mengambil sapu kecil dan merapikan kamar Hasna yang berantakan. Fajri mengerti Hasna sangat kesal dengan apa yang terjadi. Tapi tak bisa mengatakan apapun selain membantunya.
Hasna masih menangis setelah Fajri selesai merapikan semuanya. Fajri melihatnya.
"Kakinya pasti perih, aku akan belikan anti nyeri supaya kamu bisa tidur. Lukanya cukup lebar" ucap Fajri sambil menutup pintu kamarnya.
Dia keluar untuk membeli obat anti nyeri dan dengan cepat kembali. Namun dia berhenti di depan pintu. Dengan perlahan memegang gagang pintu, dia memastikan Hasna tidak mengunci pintunya. Tapi dia ragu, dia mundur lagi karena takut Hasna menguncinya. Tapi dia sangat khawatir, Fajri menyentuh gagang pintu dan terbuka. Wajahnya menyiratkan rasa leganya. Fajri masuk perlahan dan membuka pintu kamarnya.
Hasna masih duduk dan menatap dinding dengan tatapan kosong dan mata yang sembab. Dia tak menoleh saat Fajri masuk. Fajri kembali ke dapur untuk membawa segelas air. Kemudian masuk lagi dan duduk di samping Hasna.
Fajri menyodorkan gelas ke depan Hasna, tapi dia masih diam. Fajri menatap wajahnya.
"Mau sampai kapan begini? Kaki mu harus cepat sembuh, Nabila butuh pengacara, dia akan senang jika kamu yang jadi pengacaranya. Kamu juga bisa membalaskan dendam mu sekalian...." Fajri terus bicara.
Hasna terkejut karena Fajri mengatakan Nabila tertolong. Dia hanya menyerap sedikit anestesi di darahnya. Dia akan pulih dalam waktu kurang dari 24 jam. Hasna tak mendengarkan hal lainnya. Dia langsung memeluk Fajri dan menangis dengan keras dia pelukannya.
Fajri tertegun sejenak mendengar tangisan Hasna yang kesekian kalinya. Tangannya perlahan maju dan mengusap kepalanya.
"Maafkan aku!" ucap Fajri perlahan.
Hasna mengangguk di perlukannya. Fajri menepuk punggung Hasna untuk menenangkannya.