My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
100



Fajri menatap Hasna yang makan dengan lahapnya. Dia tak pernah melihat Hasna yang begitu. Hasna biasanya selalu elegant dan rapi dalam melakukan apapun. Apalagi makan, dia selalu memilih, tak sembarangan makan.


"Kau harus kembali pada Vino. Dia sudah mendapatkan warisan dari Bima. Meskipun tidak bekerja, dia punya cukup banyak uang untuk menafkahi mu" ucap Fajri.


Hasna berhenti menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Belum tentu Vino masih mau dengan ku, lagipula aku tidak mau merepotkan siapapun lagi. Aku berjanji, ini kali terakhir aku minta traktiran mu" ucap Hasna dengan mulut penuh makanan.


"Cck! " Fajri hanya berdecak.


Bukan itu yang dimaksud Fajri dari ucapannya. Tapi dia malas untuk menjelaskan apapun pada Hasna.


"Kenapa berdecak?" Hasna membulatkan matanya.


"Tidak, sudah, lanjutkan makan mu. Kau harus kembali ke kantor bukan? " ucap Fajri.


Hasna menghabiskan makanannya. Tapi dia berhenti dan menatap Fajri.


"Kenapa kau memintaku kembali pada Vino? Bukannya tempo hari kau bilang kau mampu mengurusku sendiri? Kau mau pergi? Atau kau sedang dalam masalah? " Hasna mulai lagi dengan pertanyaannya.


Fajri tersenyum, menertawakan caranya bicara dan bertanya dengan mulut penuh makanan. Dia pun mengambil tisu dan membasuh makanan yang menempel hingga sisi bibir Hasna.


"Aku tidak akan kemana-mana, aku akan selalu bersamamu dan akan langsung datang jika kau membutuhkan ku" ucap Fajri.


"Lalu? Kenapa aku masih membutuhkan Vino jika kau akan selalu ada untukku? " tanya Hasna.


Fajri terdiam mendengar pertanyaan Hasna yang terdengar seperti anak kecil di telinganya.


Di mata Fajri, wajah Hasna tiba-tiba berubah seperti mereka dulu, saat belasan tahun yang lalu. Saat Hasna yang masih susah untuk diajak bicara, tapi makan dengan lahap di hadapannya.


Fajri menundukkan pandangannya, ingin mengembalikan masa-masa dulu. Ingin membawanya pergi saja dari kota ini dan membangun hidup yang baru.


Tapi saat dia hendak membuka matanya, tangan Hasna menyentuh tangannya.


"Apa masalah kali ini sangat sulit? Sangat beratkah? Kita pernah mengalami semua jenis masalah, kau selalu bilang kita bisa melewatinya. Lalu kenapa sekarang seakan kau sudah tidak bisa lagi tinggal untukku? " Hasna melontarkan pertanyaan yang tak bisa Fajri jawab.


"Hasna, Vino sangat mencintai mu. Dia mampu mengorbankan nyawanya untuk melindungi mu... "


"Bukankah kau menyayangi ku lebih besar dari rasa cinta siapapun untukku? Kau juga selalu mengorbankan semuanya untukku. Lebih dari siapapun. Kenapa? Kau tidak mau aku terlibat di kasus yang sangat sulit ini? Aku tidak akan terlibat aku janji, tapi jangan mengatakan hal seperti itu. Seolah kau akan pergi jauh" Hasna memegang erat tangannya.


Plakk!


Tangan Fajri yang satunya memukul dahi Hasna.


"Dasar hiperbola! Kau terlalu berlebihan mencerna ucapan ku" ucap Fajri seraya tersenyum.


Hasna menggosok dahinya seraya meringis kesakitan.


"Kau yang mulai, kemarin bicara apa sekarang bicara apa" keluh Hasna.


"Aku meminta mu kembali karena kau terlihat kurus dan tak terurus. Beda dengan label pengacara cantik yang dulu pernah jadi julukan mu. Dengan Vino kau bisa kembali menjadi pengacara cantik pujaan ku lagi" jelas Fajri.


Hasna diam kemudian menghabiskan makanannya.


'Entahlah, apa aku bisa kembali pada Vino atau tidak. Memang ada untungnya jika kembali padanya, aku akan punya cukup uang untuk membiayai anak-anak. Vino juga mungkin akan setuju jika aku mengambil tanggung jawab untuk mengurus mereka. Tapi, apa aku bisa membahagiakan dia seperti wanita lainnya. Aku bahkan masih belum bisa tenang dan nyaman saat bersamanya. Ingatan masa kelam itu masih selalu menghantui ku. Aku takut tak bisa membahagiakannya' Hasna diskusi dengan dirinya sendiri.


"Cepat! Aku juga harus memeriksa sesuatu di rumh ayah" seru Fajri.


"Hmmm! " jawab Hasna singkat.


***


Keanu menunggu Hasna di mejanya. Tatapannya terus tertuju pada kursi Hasna.


"Kenapa lama? Apa yang dia lakukan dengan Fajri? Ada urusan apa? Mereka sudah tak berkutat dalam satu kasus yang sama. Lalu kenapa aku begitu merindukannya padahal dia baru saja pergi dan dengan kakaknya" gumam Keanu.


Keanu mengusap seluruh wajahnya untuk menenangkan pikirannya.


Tak berapa lama, seseorang masuk dan membuatnya terperanjat.


Seorang OB masuk membawa kopi untuknya.


"Dua?" nya Keanu yang merasa hanya memesan satu gelas kopi.


"Satu lagi untuk Bu Hasna, Pak. Barusan datang dan pesan kopi" jawabnya.


"Dia sudah datang? Lalu kenapa tidak ada? " Keanu melihat ke arah pintu.


"Sedang di toilet Pak, tadi jalan ke arah sana" jawabnya seraya tersenyum.


Keanu sumringah mendengar Hasna sudah akan datang ke ruangannya. Ob itu menggelengkan kepalanya melihat tingkah bos nya kemudian pergi.


Tak lama kemudian Hasna datang sambil merapikan blazernya. Tak sengaja tatapannya tertuju pada Keanu yang berdiri menatapnya sambil tersenyum.


"Hmmm, dia tersenyum seperti itu saat aku datang. Astaga, apa dia tidak bisa menyembunyikan sikap dari perasaannya itu" gumam Hasna.


"Hai! " sapa Keanu dengan melambaikan tangannya.


"Siang Pak! Maaf terlambat! " jawab Hasna.


"Tidak apa-apa, pasti ada urusan penting sampai kalian pergi terburu-buru seperti itu" jawab Keanu.


'Hmmmm? Dia sangat pengertian, aku bukannya melted tapi malah merasa risih' ucap hati Hasna.


"Terimakasih Pak! " ucap Hasna.


Hasna mengabaikan perhatiannya dan duduk di kursi nya. Keanu tersenyum melihatnya, dia mendekat dan mengambil kursi lain untuk bisa duduk di dekatnya.


Hasna mengerutkan dahinya merasa tingkahnya mulai kelewatan.


"Aku ingin mendiskusikan kasus penyerangan di tempat hiburan" ucap Keanu sambil menunjukkan berkas.


Hasna menelan salivanya, dia menahan diri dan mendengarkan semua yang disampaikannya. Keanu menjelaskan dengan jelas, sesekali menatap wajah Hasna yang manis saat begitu serius mendengarkan.


"Jadi, malam ini kita ke tempat hiburan itu. Maaf kau harus lembur" ucap Keanu diakhir kesimpulannya.


Hasna menghela, dia tak ingin pergi. Dia ingin istirahat dan ingin mengunjungi anak-anak sebelum dia berangkat kerja besok. Tapi apa boleh buat, dia harus bekerja keras, lembur juga baik untuk menambah penghasilan nya.


"Baiklah, lembur kerja, aku dapat bonus kan?" tanya Hasna.


Keanu mengerutkan dahinya.


"Akhir-akhir ini kau terlihat sangat membutuhkan uang, untuk apa? Kau bisa mendiskusikannya dengan ku, siapa tahu aku bisa membantu" ucap Keanu.


'Menduskusikannya dengan mu? Iya bisa, kau mungkin sangat membantu dan bisa menjadi donatur tetap. Tapi aku takut dengan imbalan yang akan kau minta, aku tidak bisa. Aku tidak mau bergantung lagi pada seseorang sehingga harus mengikuti semua keinginan perasaannya' ucap hati Hasna sambil memperhatikan wajah Keanu.


Keanu yang menunggu balasan dari Hasna juga memperhatikan wajah Hasna.


"Kau tidak mau jawab? Tidak apa-apa.... "


"Aku terbiasa hidup mewah, saat aku kehabisan tabungan, aku merasa panik dan ingin mengisinya lagi, itu saja" jawab Hasna menyela ucapan Keanu.


Keanu tersenyum.


"Jadi itu alasan kau menerima pekerjaan ini?" tanya Keanu.


"Hmmm, benar" jawab Hasna seraya mengangguk.


Hasna menghadap ke arah komputernya, Keanu memperhatikannya.


'Insting pengacara ku mengatakan kau berbohong. Aku semakin penasaran, apa yang sedang kau lakukan. Seorang Hasna bukan tipikal wanita yang senang bersantai dan menikmati hidup mewah. Aku sangat tahu itu' ucap hati Keanu.


"Baiklah, jangan lupa nanti malam. Aku harus menemui seseorang dulu. Kau bisa lihat berkas limpahan dari Armand di meja ku" ucap Keanu seraya berdiri.


Hasna tertegun mendengar "berkas kasus limpahan dari Armand", matanya tertuju pada meja Keanu.