My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
72



Hasna dibebaskan dan keluar dari penjara setelah segala pertimbangan yang menunjukkan semua jasa yang dia berikan disisi lain tindakannya. Namun di tidak dperkenankan kembali menjadi pengacara. Keputusan pengadilan membekukan izinnya.


Fajri menjemputnya dengan mobil yang dia pinjam dari Armand. Hasna menatap pemandangan di luar jendela. Sesekali Fajri menatapnya, dia paham Hasna masih memikirkan tentang pekerjaannya.


"Aku sudah menyiapkan liburan di pantai untuk satu minggu ini, aku mengambil cuti. Kita akan liburan sepuasnya" ucap Fajri.


"Aku tidak bisa" jawab Hasna singkat juga tanpa menoleh.


Fajri menatapnya.


"Kenapa? " tanya Fajri heran.


"Aku ada pekerjaan" ucap Hasna.


"Pekerjaan? " tanya Fajri heran.


"Bukankah kau... " lanjut Fajri.


"Bukan menyelidiki sesuatu, pekerjaan lain. Kau tidak perlu tahu, kau akan sangat mengganggu karena akan bertanya ini itu dan membuatku tak leluasa" ucap Hasna.


"Kau tahu aku selalu begitu, tapi kau tak pernah menjelaskan semua yang kau rencanakan atau apa yang akan kau kerjakan...."


Belum selesai Fajri bicara, Hasna sudah memukul tangannya yang memegang stir mobil.


"Awww! Sakit! " keluh Fajri.


"Kau sudah mulai menjadi seperti ayah, cerewet dan.... "


Keluhan Hasna membuat dirinya sendiri diam. Fajri menghentikan laju mobilnya.


"Kita pergi menemui ayah, akan ku adukan semuanya padanya" ucap Fajri.


Dia menjalankan mobilnya menuju pemakaman.


***


Sementara itu di penjara. Vino mendapatkan kunjungan dari Armand yang akan memberikan kabar buruk baginya.


Vino datang diantar petugas dan duduk di hadapan Armand.


Armand memperhatikannya, sudah tak ada lebam di wajah dan lengannya. Wajahnya juga mulai cerah dan berseri. Dia jadi tak tega hendak memberikan surat gugatan cerai dari Hasna.


"Hari ini Hasna keluar dari penjara, para penjaga bergosip tentangnya" ucap Vino.


Armand membulatkan matanya mendengar ucapan Vino.


"Aku senang, setidaknya aku sudah tidak akan khawatir lagi dia mendapatkan perlakuan tidak baik dari teman sekamarnya" jelas Vino.


Armand semakin canggung.


"Dia pasti sudah ada di rumah nya, katakan padanya dia bisa pindah ke rumah ku saja dan tunggu aku di sana" Vino merasa Hasna akan menunggunya.


"Vino" seru Armand menyela ucapannya.


"Hmmm? " Vino menjawab.


"Aku kemari untuk memberikan surat ini dan meminta tanda tangan mu sebagai persetujuan mu menceraikan Hasna Maulida Fadilah" jelas Armand.


Meski sangat berat keluar dari mulutnya, tapi Armand harus melakukannya.


Vino terdiam menatap berkas yang Armand berikan di meja. Air matanya terjatuh, dia menangis tanpa isak.


Armand merasa sangat bersalah.


"Maafkan aku, dia meminta ku mengurus semua ini setelah dia..... "


"Dimana aku harus tanda tangan? " tanya Vino menyela ucapan Armand.


Glek... Armand semakin tak nyaman dengan situasi yang dia hadapi sekarang.


"Di sini" ucap Armand seraya menunjuk sisi bawah kanan kertas.


Dengan mata terpejam sebentar, Vino mengambil nafas dalam kemudian menandatangani surat perceraiannya. Dia berdiri dan berbalik ke arah pintu masuk penjara, tanpa pamit dan menoleh lagi pada Armand.


Armand menghela, dia menunduk merasa sangat sangat tidak enak pada Vino. Dia pun merapikan tas nya dan keluar dari ruangan itu.


***


Hasna keluar dari mobil setelah Fajri memarkirkan nya di depan rumah Hasna.


Fajri mengeluarkan semua barang yang dia beli untuk Hasna. Selesai menaruh semuanya di depan pintu, sebuah panggilan telepon datang dan membuatnya sibuk meraih ponsel di sakunya.


Hasna diam memperhatikan tingkah lakunya.


"Hallo! " ucap Farji.


[Hallo Pak! Venus ada di lokasi, menunggu perintah dari anda Pak] ucap anak buahnya.


Hasna mendengar ucapannya karena suara telponnya cukup keras.


Hasna mengangkat kedua alisnya.


"Jangan kemana-mana sebelum aku kembali" ucap Fajri seraya menyerahkan kunci rumah yang Hasna titipkan sebelumnya.


"Aku tidak bisa menunggu mu, kau bisa saja kembali besok" ucap Hasna sedikit mengeluh.


"Kalau begitu, kabari kemana saja kau pergi. Jangan menyembunyikan apapun lagi dari ku, awas! " ucap Fajri sambil berjalan mundur menuju mobilnya.


Hasna tak peduli, dia membuka kunci rumahnya.


Tet..... tet.....


Klakson mobil Fajri berbunyi berkali-kali. Hasna menoleh seraya menutup sebelah telinganya.


"Jawab iya! " seru Fajri.


Hasna menghela keras.


"Iya, kau puas? " jelas Hasna mengucapkannya dengan kesal.


Tapi Fajri tersenyum mendengar dia masih menurut padanya.


Fajri pergi, Hasna memasukkan satu persatu tas plastik berisi bahan makanan dan barang yang dibeli Fajri untuknya.


Hingga tas terakhir hendak dia ambil, seorang pria berpakaian rapi berwarna hitam berdiri di hadapan nya. Mata Hasna membulat, dia mengenalinya.


"Kau! " ucap Hasna.


"Hai Nona Hasna Maulida Fadilah, saya Keanu dari kantor Hukum ternama Reaves Firma Hukum" ucapnya seraya menawarkan jabat tangannya.


Hasna menatap tangannya sejenak kemudian mengingat-ingat dimana dia pernah melihat pria itu.


Keanu tersenyum melihat Hasna yang terlihat jelas sedang mengingat.


"Aku mengikuti perkembangan kasus mu, aku selalu menjadi pengunjung di setiap sidang mu" Keanu mengingatkan.


Hasna mengerutkan dahinya, dia setuju dengan ucapannya dan mengingatnya.


"Bisa kita berbincang-bincang sebentar sambil minum kopi? " ajak Keanu.


Hasna diam sejenak menatap mata Keanu yang bersiap dengan jawaban Hasna.


"Cafe yang menyediakan kopi enak, cukup jauh dari sini" ucap Hasna.


"Aku membawa mobil, kita bisa pergi kemana pun kau mau" ucap Keanu dengan senyuman.


"Kau murah senyum" ucap Hasna datar.


Dia mengambil tasnya dan mengunci pintunya. Keanu menunjukkan dimana dia memarkir mobilnya dan mempersilahkan Hasna berjalan terlebih dahulu.


Hasna berjalan dengan percaya diri dan masuk ke mobilnya setelah Keanu membukakan pintu mobil untuknya.


Mereka pergi ke cafe yang Hasna maksud.


***


Sementara itu di penjara, Vino diam di dalam sel menatap dinding yang menghalangi kebebasannya. Dia melempar sebuah bola tennis ke dinding yang kemudian dia tangkap kembali dan dia lempar lagi begitu seterusnya.


Warga binaan lain sedang melakukan kegiatan bersama di aula. Suara lemparan bolanya terdengar menggema keluar, seorang petugas datang dan menegurnya.


"Seharusnya kau bergabung dengan yang lainnya di aula" ucapnya seraya mendekat.


Vino menangkap bola dan berhenti, dia melirik tapi tak sedikitpun menjawab petugas itu.


"Aku tidak bisa memberikan pengecualian secara cuma-cuma tuan pengacara" ucap petugas itu seraya jongkok di sisi nya.


"Berapa harga untuk pengecualian ku?" tanya Vino.


Petugas itu senyum, merasa senang Vino mengerti apa yang dia maksud.


"Berapa saja, sesuai harga "panai" seorang pengacara" jawab petugas itu.


*Panai, istilah mahar di beberapa daerah yang biasa diberikan pada pengantin sebagai hadiah pernikahan.


Istilah ini mereka gunakan di penjara ini untuk meminta upah dari fasilitas yang akan diberikan pada orang yang membayar.


Ama seperti istilahnya, besar "panai" mereka tergantung pada jabatan orang yang akan mereka spesial kan. Vino yang pengacara harus membayar cukup banyak agar dia bisa mendapatkan fasilitas yang terbaik.


"Nepotisme" ucap Vino.


Petugas itu menoleh.


"Hal ini memang selalu ada di mana pun, tentu saja bahkan tempat kotor seperti ini" lanjut Vino.


Petugas itu sontak berdiri dan melihat keadaan di luar sel, mendengar ucapan Vino. Takut ada yang mendengar terutama kepala penjara.


"Jika kau tidak mau bayar, tidak usah ceramah. Kau bisa membuat kacau semuanya" ucap petugas itu.