
Bayu dan Nina masuk ke suitroom. Orang-orang penting dan mereka yang bergabung di sana menatap kedatangan mereka.
Nina menundukkan pandangannya, merasa tak nyaman dengan pakaian yang dia pakai. Bayu menggenggam tangannya dan menatap semua pria yang jelas menatap lekuk tubuh putrinya.
"Akhirnya...., sang diva baru kita telah tiba! " seru seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan Nina.
Bayu tak begitu merespon mereka, dia hanya menatap satu persatu orang yang maju perlahan, beberapa orang dengan badan tegap dan beberapa pria paruh baya. Bayu semakin tak senang menghadapi situasi ini.
"Nina sayang ku, kau harus bisa mengucapkan semua sumpah dan melakukannya dengan baik nak, jika tidak kehidupan kita akan dikutuk selamanya oleh Sang penguasa" ucap wanita paruh baya itu.
Hasna yang menyamar sebagai pria, salah satu tamu, menatap aneh pemandangan di ruangan yang biasa dipakai untuk bulan madu pasangan pernikahan itu.
Puluhan pria datang dan menatap ke arah Nina yang berdandan begitu cantiknya. Beberapa maju dan bersiap melakukan sesuatu. Tapi sebelumnya Nina diminta untuk mengucapkan sumpah dan melakukan hal yang belum dia tahu apa itu.
Hasna melihat Wira hanya tertunduk seraya meremas tangannya.
"Dewi dewa yang senang hati menghadiri pertemuan kita kali ini, akan lebih senang jika kalian melakukan semuanya sekarang. Bersiaplah Nina ku sayang, kau akan menjadi dewi bagi dewa dewa yang nantinya akan mencintai mu di alam sana"
Alis Hasna semakin merengut, dia sama sekali tak paham dengan ucapannya. Sementara itu Nina mengucapkan semua sumpahnya dengan isak tangis.
"Aku... bersumpah...akan menjadi....wanita...satu-satunya...yang menerima...semua...keputusan perkumpulan ini....dan...melakukan semua....yang kalian inginkan di ruangan ini. Demi....dewa dan dewi yang hadir pada malam ini... "
Pria yang tadi berdiri dan mendekat, sekarang mulai membuka jas dan pakaian mereka. Mereka juga mendekat dan meraih pakaian Nina. Seorang pria berbadan tegap meraih tubuh Bayu yang masih melindungi Nina. Tangannya dilepaskan dari tangan Nina yang menangis menatapnya.
DOORRR!
Suara letusan senjata membuat mereka berhenti bergerak. Fajri dan puluhan anak buahnya masuk ke ruangan itu dan menodongkan senjatanya.
"Angkat tangan kalian, kalian semua ditangkap! " teriak Fajri pada mereka semua.
Tapi sayang, seorang pria yang berbadan tegap membuka pengaman pemadam kebakaran dan menyemprotkan nya ke arah Fajri.
Semua orang berhamburan karena beberapa orang melakukan hal yang sama pada anak buah Fajri. Seorang menarik tangan Nina dan hendak membawanya pergi.
Di sudut ruangan, Bayu kesulitan bergerak karena diikat oleh pria tadi. Dia hendak menggapai Nina namun sulit membuka ikatan talinya.
Hasna membuka topinya kemudian berlari mengejar Nina ke arah luar. Dia mengambil sebuah tabung pemadam api dan membantingnya ke arah pria yang memegang tangan Nina.
Nina terkejut karena pria itu jatuh kemudian menatap Hasna yang menengadahkan tangannya untuk Nina raih.
"Ikut aku! " pinta Hasna.
Tapi Nina diam saja dan menatap pintu suitroom itu. Beberapa orang berhamburan keluar melarikan diri.
Para petugas berusah bangkit dari semprotan alat pemadam api itu. Fajri menendang pria yang menyemprot anak buahnya. Dia tak melepaskan tembakan karena senjatanya terjatuh saat orang-orang itu menyerang.
"Nina! Lihat aku, ayah mu akan baik-baik saja. Ok? " ucap Hasna.
Nina terengah, dia masih tak menyangka situasi akan menjadi seperti ini. Hasna menariknya keluar dari hotel dan berhenti di sebuah gang kecil.
Hasna memberikan jasnya untuk menutupi tubuh Nina yang terbuka.
"Apa yang kalian lakukan?" Nina menangis histeris.
"Apa?" tanya Hasna terheran.
"Sekarang ibu dan bapak ku akan mati" ucap Nina lagi.
"Apa maksud mu? " Hasna mendekat.
"Jika ritual ini tidak terjadi malam ini. Maka mereka akan membunuh ibu dan bapak ku. Mereka juga tidak akan pernah membiarkan ku lolos" Nina semakin meracau.
Hasna mundur, tak menyangka dengan apa yang dia dengar. Hadi yang menyusul mereka pun terdiam mendengar ucapan Nina.
"Ritual? " Hasna lemas, bersandar di dinding.
***
Di penjara.
Dewi datang dari ruang kunjungan dengan wajah kesal masuk ke dalam sel tahanan. Dia langsung menampar Nunik yang sedang diam berdoa untuk keselamatan Nina. Wulan mendekat dan memisahkan mereka.
"Hei kenapa mba Dewi menampar nya?" Wulan menghadangnya.
Nunik menunduk tak berani menatapnya.
"Karena ulah mu yang membunuh pria itu, aku dan Bayu juga Nina harus menanggung semuanya. Sekarang, karena kau meminta bantuan pengacara sialan itu, kita akan segera mati" ucap Dewi.
"Kau tak berpikir bahwa Nina juga akan mereka incar?" Dewi menunjuknya.
"Bukahkah lebih baik mati daripada hidup seperti mereka?" ucap Nunik.
"Kau yang meminta semua kesenangan itu, kekayaan, kesejahteraan. Sekarang kau mau menolak apa yang mereka minta dari mu? " Dewi semakin kesal padanya.
"Aku mau semua itu tapi bukan begini. Melayani n@fsu semua anggota sesuai dengan jadwal dan ketentuan perkumpulan. Kau kira itu tidak menjijikkan? " ucap Nunik menangis.
"Ada harga yang harus kau bayar saat kau banyak mengambil. Dan itulah yang harus kau bayar dari semua yang kau terima. Kau tidak berkaca dari para penguasa yang sudah mendapat banyak hal lebih dari mu. Mereka bahkan harus membunuh gadis di setiap malam bulan purnama. Untuk apa? Untuk semua yang mereka dapatkan. Rasa terima kasih mereka pada perkumpulan"
Dewi semakin menjadi dan seolah hilang akal. Wulan mendorongnya.
"Apa yang kalian bicarakan? Perkumpulan apa yang mengharuskan seseorang membunuh? " tanya Wulan.
Dewi dan Nunik terdiam saat menyadari mereka terlalu banyak bicara.
***
Hasna menatap Nina yang sedang makan di rumahnya. Dia membawa Nina ke rumahnya setelah Hadi mengatakan bahwa situasi sudah lebih aman.
Hasna memutuskan untuk membawanya ke rumah karena merasa khawatir dengan ucapannya yang ketakutan akan ancaman mereka.
Dia juga memikirkan tentang apa yang dia diskusikan dengan Hadi perihal perkumpulan itu. Perkumpulan aneh yang berkaitan dengan Wira dan Bima.
Nina selesai makan. Dia menaruh piring di wastafel dan minum dengan buru-buru.
"Pelan-pelan!" seru Hasna.
"Aku harus pergi" ucap Nina.
"Kemana? " tanya Hasna.
"Mereka akan membunuh ibu dan bapak ku, aku harus kembali pada mereka dan berjanji akan melakukan ritual itu dengan baik, supaya.... "
"Hentikan!" Hasna menyela ucapannya.
Nina diam menatapnya dengan ekspresi ketakutan.
"Sejak tadi kau mengatakan perkumpulan ini akan membunuh kalian, kau harus ritual, menjalankan sumpah..., aku tidak mengerti! " ucap Hasna menatapnya.
Nina diam.
"Perkumpulan apa ini? Siapa bos nya dan bagaimana mereka mengancam mu? " tanya Hasna.
Nina malah diam membisu, dia meremas kedua tangannya sendiri dan menunduk.
"Sekarang kau diam, jadi aku harus bagaimana? " ucap Hasna kesal.
Tak berapa lama, Hadi menelponnya.
"Hoh, ada apa? " tanya Hasna.
"Bayu masih diamankan, dia terus berteriak mencari Nina. Dia memohon agar kita bisa melindunginya dari mereka. Tapi dia diam saat Fajri memintanya menjelaskan perkumpulan yang dia maksud" jelas Hadi.
"Ya, sama halnya dengan Nina. Dia juga diam saat aku tanyakan hal itu"
"Apa yang harus kita lakukan? " tanya Hadi.
"Kau ikut menyelidiki ini? " suara Fajri tiba-tiba terdengar.
Hasna terkejut dan menatap ponselnya. Fajri merebut telpon milik Hadi. Fajri memukul kepala Hadi yang menutupi tentang Hasna yang ikut andil dalam kasus ini.
"Ahhh, ya, sedikit" jawab Hasna.
"Kau mau di blacklist dari profesi pengacara mu? " tanya Fajri.
"Tidak, bukan begitu! " Hasna mengelak.
Fajri menutup telponnya. Dia memberikan ponsel Hadi dengan memukulkannya ke dadanya.
"Jangan hubungi di lagi! " ucap Fajri.
Sementara itu Hasna menghela dan menatap Nina yang masih diam.