
Bianca duduk menunggu kedatangan Hasna, Fajri dan Armand mengusap wajah mereka menatap sikapnya. Mereka khawatir dengan apa yang akan dikatakan Bianca pada Hasna karena kekesalannya.
Tak lama kemudian, Bianca dipersilahkan untuk masuk ruangan dan duduk menunggu kedatangan Hasna. Dia menatap seisi ruangan itu yang menurutnya sangat kotor.
Tidak menunggu lama, Hasna diantar petugas dan duduk di depannya.
"Mana Pak Armnad?" tanya Hasna.
Bukan jawaban yang dia dapat, tapi Bianca berdiri dan langsung menampar nya.
PLAAAKKK!
Mata Hasna terpejam merasakan panas di pipinya. Hela nafasnya terdengar saat dia berusaha mengendalikan diri.
"Sudah ku katakan padamu, jaga perasaan Vino. Mendengar alasan mu menikahinya hanya untuk membalas dendam saja aku sudah geram, apalagi mendengar keputusan yang akan kau ambil sekarang. Kau akan meninggalkan dia saat dia begitu rela berkorban untuk membela mu! "
Bianca bicara tanpa jeda. Hasna hanya menunduk
"Aku tidak menyangka kau sejahat ini Na! " ucap Bianca lemah.
Mata Hasna menatapnya.
"Kau masih menyukainya? " tanya Hasna.
Bianca salah tingkah mendengar pertanyaan Hasna, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain selain mata Hasna.
"Kau bilang kau bahagia dengan Pak Armand" lanjut Hasna.
"Aku bahagia atau tidak dengan Armand, semua urusan rumah tangga ku bukan urusan mu" ucap Bianca dengan menatap dan mengangkat wajahnya.
"Kau juga pasti tahu kalau semua yang terjadi dalam rumah tangga ku pun tidak menjadi kewajiban mu menentukan apa aku salah atau tidak" jawab Hasna.
Glek... Bianca menelan salivanya. Tatapan mata dan nada suara Hasna sama seperti saat dia sedang mengungkap kasus di persidangan dan Bianca yang jadi tersangka nya karena ketahuan masih menyukai Vino sejak kuliah.
"Ada alasan dalam setiap tindakan. Menyakitkan atau tidak, itu tergantung pola pikir Vino dalam menerima semua ini. Aku dengan pola pikir ku, dia dengan pola pikirnya. Kau juga dengan pola pikir mu. Aku tidak harus menjelaskan alasan di setiap langkahku bukan? " Hasna menurunkan pandangan nya.
Bianca mulai menangis.
"Tapi apakah tidak bisa kau berpura-pura saja bertahan? Setidaknya sampai dia bisa keluar dari penjara" ucap Bianca memohon.
"Dia membunuh seseorang Bianca, di depan petugas berwajib. Kau pikir apa hukumannya akan bisa diringankan semudah itu? " ucap Hasna santai.
"Na! Kau tahu alasan dia melakukannya. Dia melindungi mu! " ucap Bianca.
Hasna diam sejenak. Bayangan saat Bima terlempar ke dinding oleh tembakan Vino sekilas terlihat di matanya. Dia mengambil nafas dalam, mencoba mengendalikan diri dan rasa takutnya.
"Mana Pak Armand, aku harus membicarakan banyak persoalan dengannya" ucap Hasna dengan mata terpejam.
"Kau mengalihkan pembicaraan, kau tahu kau melakukan hal yang menyakiti dia tapi tetap melakukannya. Kau jahat" ucap Bianca.
Dia berdiri dan keluar dari ruangan itu. Langkahnya terhenti saat dia melihat Fajri berdiri di depan pintu dan menatapnya. Bianca memalingkan wajahnya yang menangis.
"Sayang! " seru Armand saat melihatnya pergi begitu saja.
Armand menyusulnya dan berhasil meraih tangannya.
"Kamu mau kemana? Aku belum selesai, tunggu aku di ruang depan" ucap Armand.
"Ya" jawab Bianca tanpa menatap mata suaminya.
Armand melepas tangannya kemudian mengambil tasnya untuk menemui Hasna. Fajri diam menatap Bianca yang berjalan menuju ruang depan. Pandangan nya beralih pada Armand yang masuk ke ruang jenguk, kemudian pada Hasna yang sedang meremas tangannya di atas meja.
Armand duduk dan membuka tasnya. Hasna menatapnya, dia memperhatikan wajah pria yang sudah beberapa tahun ini menjadi rekan kerjannya.
"Kau mendengar ucapan ku pada Bianca tadi? " tanya Hasna.
"Tidak, kau bilang kau akan mengajukan gugatan cerai. Jika kau mengajukannya sekarang, semua akan selesai saat kau keluar dari penjara" jelas Armand.
Hasna memperhatikannya yang langsung mengalihkan pembicaraan.
"Hanya satu minggu? " tanya Hasna memastikan.
"Ya, aku bisa mempermudahnya. Sekarang aku hanya akan mengatakan bahwa sidang putusan mu akan diadakan beberapa hari lagi. Dan aku rasa, kau akan vakum sejenak dari profesi mu. Jadi.... "
Armand tak bisa berkonsentrasi, matanya terpejam tak tahu lagi apa yang harus dia katakan pada Hasna.
"Terimakasih" ucap Hasna.
Armand menunduk, tangannya yang memegang pulpen lemas dan menjatuhkan nya di atas meja.
"Apa menurut mu dia tidak bahagia bersama ku? " ucap Armand.
"Tidak, tentu saja dia sangat bahagia bersama mu. Semua treatment yang kau berikan padanya adalah impian setiap wanita" ucap Hasna santai.
Armand tersenyum mendengar ucapan Hasna.
"Kau bicara sangat alami, terdengar bahwa dia benar-benar bahagia bersama ku dan bisa melupakan perasaannya pada cinta pertamanya" ucap Armand.
"Maafkan aku, aku tidak bisa mengendalikan semuanya. Karena keputusan ku, kau jadi mendengar sesuatu yang membuat mu ragu" ucap Hasna.
"Tidak, aku malah berterimakasih. Aku akan membuatnya berubah pikiran. Aku akan memberikan semua waktu ku lebih banyak lagi untuknya, dia akan sangat lebih bahagia hidup dengan ku mulai sekarang" janji Armand.
"Lakukanlah, aku mendukung mu" ucap Hasna.
"Baiklah, Fajri ingin bicara dengan mu. Masih tentang keputusan mu yang ingin bercerai dengan Vino. Aku pulang lebih dulu" pamit Armand.
"Ok, bye" jawab Hasna singkat.
Armand pergi menyusul Bianca, dia bersikap manis dan berusaha bersikap seperti biasanya. Bianca menurut dan mengaitkan tangannya di lengan suaminya itu.
Sementara itu, Fajri masuk ke ruang jenguk dan menatap Hasna.
"Semenjak kau naik pangkat, kau jadi banyak membuang-buang waktu" ucap Hasna.
"Apa setelah kau bercerai dengan Vino, kau bersedia menikah dengan ku? " tanya Fajri.
Pertanyaannya tak selaras dengan apa yang Hasna katakan. Tapi itulah Fajri, dia mengatakan semua yang ada di benaknya, meskipun mereka sedang tak membicarakannya ke arah itu.
"Tidak, aku tidak menikahi kakak angkat ku" jawab Hasna santai.
Fajri menghela, tapi dia duduk di depan Hasna dan memegang tangannya.
"Sejak tadi kau meremas tangan mu. Kau gugup atau merasa menyesal telah mengambil keputusan ini? " tanya Fajri.
Hasna dia mendengar ucapan Fajri. Dia sangat tahu kebiasaan dari gerak gerik Hasna.
"Fajri, ucapan ku dengan mu, sejak tadi kita tak searah" ucap Hasna terbata.
"Kau menyesal, karena kau sangat mencintainya. Kau menceraikannya untuk melindunginya, melepaskannya dari ikatan yang menurut mu membebani nya" jelas Fajri dengan dugaan nya sendiri.
Hasna mengalihkan pandangannya dari mata Fajri yang seolah menusuk matanya.
"Fajri aku.... " Hasna hendak menjelaskan seperti saat dia bicara pada Bianca dan Armand.
Tapi dia tak bisa, Fajri terus menggenggam tangannya dan menatap matanya.
"Kalian saling melindungi, kalian berhasil melakukannya. Kalian membuktikan dengan perbuatan bahwa kalian saling mencintai. Vino yang terus melindungi mu dengan sekuat tenaga nya, kau yang melindunginya dengan semua pemikiran mu" jelas Fajri.
Hasna menghela, dia berusaha melepaskan tangannya dari Fajri.