My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
93



Keanu menghentikan mobilnya tepat di depan taman kecil di depan rumah Hasna.


"Terimakasih Pak" ucap Hasna.


"Kenapa kau menjual mobil mu? " tanya Keanu.


Hasna tak jadi keluar, dia menoleh dan tersenyum.


"Tidak ada alasan khusus, lain kali aku tidak akan merepotkan anda" ucap Hasna.


"Aku melihat mu pergi berbelanja dengan beberapa anak berbeda beberapa kali. Kau mengurus sebuah panti asuhan? " tanya Keanu.


Hasna membeku, dia tak bisa menjawab pertanyaan Keanu.


"Aku.... " Hasna terbata.


Keanu menatapnya menunggu kelanjutan ucapannya.


"Aku tidak bisa mengatakan apa-apa saat ini. Maaf Pak" ucapnya.


"Kau membatasi hubungan kita dengan panggilan itu. Aku jadi merasa benar-benar menjadi bos mu sekarang" ucap Keanu dengan canda.


"Aku wanita yang sudah bersuami, meskipun dia masih ditahan. Tentu saja seharusnya seperti ini bukan? " ucap Hasna.


"Bukankah kau akan mengajukan gugatan cerai padanya setelah di keluar dari penjara?" ucapan Keanu menghentikan tangannya untuk membuka pintu mobil lagi.


Hasna terdiam, kini dia memejamkan matanya sejenak, mengambil nafas dan berusaha mengendalikan diri. Keanu melihatnya dari pantulan kaca.


"Aku sangat menghargai sekali jika anda tidak mencampur adukan urusan pribadi dalam hubungan profesional kita" ucap Hasna seraya menoleh padanya.


"Ok, maafkan aku. Kalau begitu selamat malam. Sampai jumpa hari senin" ucap Keanu dengan senyumannya.


Hasna keluar, dia berusaha tersenyum meskipun tak nyaman dengan semua ucapan Keanu.


Tatapannya mengantar kepergian Keanu dan mobil mewahnya keluar dari jalan besar di depannya.


Hasna menghela dan menatap ke arah rumahnya.


"Aku bilang bahwa aku wanita bersuami, tapi masih tinggal di rumah ku sendiri" gumamnya.


Tiba-tiba Hasna tersadar dan memukul kepalanya sendiri.


"Tidak Hasna, Vino akan lebih baik tanpa mu. Dia harus mendapatkan wanita yang lebih baik darimu" ucap Hasna pada dirinya sendiri.


Hasna berbalik ke arah jalan saat mendengar suara mobil datang. Matanya menyipit berusaha tetap melihat mobil dan plat nomornya meskipun silau karena lampunya.


"Fajri! " gumamnya.


Fajri keluar dari mobil dan mendekat padanya.


"Kau cari masalah lagi? " tanya Fajri dengan menancapkan kedua tangan di pinggangnya sendiri.


"Kenapa tiba-tiba marah setelah kita tidak bertemu beberapa bulan? " Hasna mengeluh.


Dia berbalik hendak berjalan menuju pintu. Tapi Fajri meraih lengannya dan menariknya. Tapi karena Hasna lelah, dia akhirnya tertarik dan menabrak tubuh tegapnya. Tangan Fajri refleks menahan tubuh Hasna agar tak jatuh dan memeluknya.


"Fajri! " seru Hasna mengeluh seraya menolak pelukannya.


"Kau bisa jatuh jika tidak aku peluk! " Fajri membalas keluhannya.


"Kau kemari hanya untuk melakukan hal bodoh ini? " Hasna kesal.


"Tidak, tentu saja tidak. Aku kemari untuk... "


"Cukup!"


Tangan Hasna melebar di depan wajahnya dan membuatnya diam.


"Aku lelah, sangat lelah dan tak punya tenaga untuk meladeni semua ucapan mu. Jadi pergilah! Pergi! " Hasna mengibaskan tangannya mengusir Fajri.


Fajri mundur perlahan sambil memperhatikan langkah Hasna.


"Kau libur besok? " seru Fajri dari jauh.


Hasna mengabaikannya.


"Aku akan mentraktir mu makan siang, di restoran biasa! " seru Fajri.


Hasna menutup pintunya tanpa menjawab. Tapi kemudian dia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan padanya.


[Jam 1 siang, awas kalau kau bohong! ]


Keanu memperhatikan mereka dari jauh. Tangannya mengepal di atas stir mobilnya.


***


Keesokan harinya, Hasna bangun pagi buta. Dia bergegas pergi ke panti untuk menjenguk anak-anak.


Hasna naik taksi, dia melihat sebuah mobil di belakangnya terus mengikutinya di setiap belokan.


"Pak, bisa berhenti di depan saja" pinta Hasna.


Dia berhenti di depan sebuah stasiun kereta. Dengan mantap Hasna berjalan dengan langkah panjang dan cepat.


Dia menyusuri jalan tikus yang bisa dilaluinya di dalam stasiun. Penjaga stasiun pun sudah terbiasa dengan lalu lalang orang yang melewatinya saat pagi buta seperti itu.


Tapi Keanu, yang membawa mobil yang Hasna curigai, hanya bisa diam menghela keras.


"Dia tahu dia sedang diikuti" gumamnya.


Keanu kembali ke rumahnya. Masih pagi buta juga hari minggu, dia tak ada kegiatan lain. Dia mencoba mencari cara agar bisa membuat Hasna datang menemuinya. Keanu mengambil ponsel dan menelponnya.


Tapi sayang, Hasna tak mengaktifkan telponnya. Keanu kesal dan hendak melempar ponselnya. Namun dia menarik nafas dan mencoba mengendalikan dirinya.


"Tenang Keanu, kau harus bisa mengendalikan diri. Ini tidak akan lama lagi, kau sudah dekat dengan tujuan mu" ucapnya menenangkan diri.


Entah apa yang menjadi tujuan Keanu. Dia mendekati Hasna sejak dia keluar dari penjara.


Semua orang yang mengenalnya, hanya mengetahui bahwa dirinya adalah penggemar rahasia Hasna sejak bangku kuliah.


***


Dengan susah payah, Hasna akhirnya bisa sampai di panti. Nafasnya tersengal saat sampai di depan pintu. Beberapa pemuda yang pernah membantunya dulu, mengikutinya saat melihatnya berlari kearah panti.


Hasna menoleh dan melihat mereka. Dahinya berkerut dan matanya menyipit.


"Kalian mau apa? " tanya Hasna.


"Kami penasaran dengan mu, kenapa begitu sangat berusaha dengan baik untuk panti ini" ucap salah satu dari mereka.


Tak lama kemudian, keluar Haris, anak berusia 6 tahun, menggosok matanya, berusaha melihat siapa yang ribut di luar.


Para pemuda itu terbelalak menatap Haris yang kini sudah mulai terlihat lebih gemuk dan sehat. Mereka menganga menatap anak lain yang ikut keluar.


"Kau benar-benar malaikat" gumam salah satu dari mereka.


"Beberapa bulan lalu mereka terihat kurus kering dan tak terurus. Sekarang mereka terlihat segar dan sehat" timpal lainnya.


Hasna diam memperhatikan mereka.


"Kau punya pekerjaan apa bisa membiayai mereka? " tanya lagi mereka.


"Benar, membiayai satu anak saja seseorang harus punya berjuta-juta penghasilan setiap bulannya. Apalagi dua belas" seru salah satunya.


"Kalian sudah selesai? " Hasna kesal dengan semua ucapan mereka.


Mereka semu terdiam.


"Pergilah, jadi seperti warga lain yang tidak peduli. Kalian anak-anak mereka bukan? Jadilah penerus sifat buruk mereka.... "


Dania menarik lengan baju Hasna untuk menghentikan ucapanya. Hasna menoleh dan menatap wajahnya.


Hasna menghela dan menggigit bibirnya sendiri. Tatapannya tajam pada para pemuda itu.


"Pergilah, kami ada kelas matematika hari ini" pinta Hasna dengan nada suara yang jauh lebih lembut.


Mereka pergi meski masih ingin banyak pertanyaan untuk Hasna.


Hasna pun masuk, dia langsung memeriksa lemari es dan persediaan makanan untuk anak-anak.


Dania dan yang lainnya bergiliran mandi dan bersiap akan belajar bersamanya hari ini. Tapi Haris datang mendekati Hasna dan mengadu padanya.


"Kemarin ada yang datang" ucap Haris polos.


Meli menarik Haris agar ikut dengannya mandi. Sekaligus menghentikannya agar tak bicara lebih banyak pada Hasna.


"Siapa? " Hasna jadi curiga karena tingkah Meli.


Tapi Meli dan Haris hanya diam. Yang lainnya pun berpura-pura tak mendengar pembicaraan mereka dan bersiap mengikuti kelas bersamanya.


Hasna semakin curiga, dia mengerutkan dahinya dan mulai berpikir bahwa anak-anak menyembunyikan sesuatu darinya.