My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
74



Tiba di supermarket, Hasna sudah berdiri di dekat halte menunggu taksi yang lewat. Untungnya Fajri tak masuk ke parkiran supermarket dan berhenti tepat di depan Hasna.


"Cepat masuk, mau hujan" ucap Fajri.


Hasna menatapnya kemudian masuk.


"Kau datang? " ucap Hasna.


"Jika aku bilang aku akan datang itu berarti aku akan datang" jawab Fajri.


Hasna merapikan rambutnya dengan bercermin di spion. Fajri memperhatikannya.


Glekk... Dia masih selalu terpesona dengan wajah Hasna sejak pertama bertemu.


"Aku lapar, kita makan dulu ya" ucap Hasna.


"Hmmmm? " jawab Fajri yang tak fokus.


Hasna menatapnya dengan heran.


"Kau masih terpesona melihat wajahku dari dekat? Ayolah kak, Vania, ingat dia. Jangan memberi harapan palsu padanya" ucap Hasna memukul lengannya.


"Harapan palsu apanya? " Fajri meringis kesakitan.


"Dia bilang kau memeluknya saat menunggu ku di rumah sakit. Kau terlihat sangat nyaman berbaring di pangkuannya. Kau juga selalu menerima perhatiannya saat aku masih di penjara.... "


Belum selesai Hasna bicara, Fajri menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


"Perhatikan stirnya" keluh Hasna sambil menepis tangan Fajri.


"Makanya jangan bawel" jawab Fajri.


Mereka diam sejenak saat melihat restoran yang ada di depan.


"Yang ini juga enak makanannya" ucap Hasna.


"Kalo begitu kita makan di sini" ucap Fajri dan mulai mencari tempat parkir.


Hasna keluar dari mobil seteoh Fajri membukakan pintunya terlebih dahulu. Dia tersenyum menatap Fajri yang meminta tangannya untuk dia kaitkan ke lengannya. Hasna menolaknya dengan memukul telapak tangan Fajri yang kemudian meringis karena kesakitan.


"Wah, tenaga mu besar sekali, apa liburan kemarin kau sering latihan fisik? " tanya Fajri dengan mengeluh.


"Liburan? " Hasna tak paham maksud Fajri.


Fajri tersenyum.


"Baguslah, jangan terlalu fokus dan banyak berpikir. Aku suka kau yang terlihat bodoh seperti ini, terlihat manis" ucap Fajri.


Tangannya datang ke bahu Hasna kemudian tangan yang lainnya mencubit hidungnya.


"Sakiit! " Hasna menepisnya.


"Maaf! " Fajri melepas kedua tangannya.


Dia menggeser kursi untuk Hasna duduki.


"Mau pesan apa?" tany Fajri dengan mata berbinar.


Hasna membuka menu dan memilih, matanya meraba dan membaca satu persatu menu yang ada di sana.


Fajri suka sekali untuk memperhatikannya, dia tersenyum namun kemudian mengerutkan dahinya.


"Tumben sekali kau jadi pemilih, biasanya kau pesan sesuatu yang menurut mu mudah dicerna dan tak membuat mu mengantuk" Fajri berkomentar lagi.


"Siapa yang pedulikan itu sekarang, aku tidak punya pekerjaan, tabungan ku pun harus ku hemat, jadi aku harus memilih makanan yang murah tapi bisa membuatku kenyang semalaman" ucap Hasna masih memilih.


"Kau tidak perlu melakukan itu, ada aku" ucap Fajri seray menepuk dadanya sendiri.


Hasna tersenyum melihatnya, dia seperti sedang melihat Agung, ayah angkatnya, yang bicara.


"Aku mau nasi goreng komplit, dengan telur dan ati ayam, minumnya teh hangat saja. Aku juga harus menjaga berat badan ku" ucap Hasna mengalihkan perhatian dan perasaannya yang mulai melow mengingat ayahnya.


Mata Fajri membulat, pesanannya sama dengan pesanan makanan yang pernah dia pesan untuk ayahnya. Kini Fajri yang termenung.


"Hei, kenapa?" Hasna memperhatikannya.


"Ayah, suka memesan menu itu" jawab Fajri.


Hasna menghela.


~Aku sudah berusah mengalihkan perhatian dan perasaan ku agar tak menangis, dia malah memperjelasnya! ~ keluh Hasna dalam hati.


Hasna tersenyum.


"Kapan kau akan melamar Vania? " tanya Hasna.


Fajri tertegun dengan pertanyaannya.


"Apa? " dia malah pura-pura tak mendengar.


"Vania itu baik, dia juga sangat menyukai mu. Orang yang menyukai mu adalah orang yang paling berharga di dunia ini" ucap Hasna.


"Lalu apa aku tidak cukup berharga bagi mu?" Fajri malah berbalik bertanya.


"Kak,.... " Hasna menghela.


"Kau tidak pernah memanggil ku seperti itu sebelumnya. Berhenti memanggil ku seperti itu! " keluh Fajri.


Hasna hendak menjawab dan meladeni debatnya dengan Fajri. Tapi kilat dan petir yang datang seiring hujan yang cukup deras membuat mereka memandang ke arah luar.


"Waah, kau benar, hujan deras sekali" ucap Hasna terkesima menatap derasnya hujan.


Mata Fajri beralih pada wajah Hasna. Cukup lama, hingga pesanan mereka datang.


"Makan! Jangan melihat hujan terus! " ucap Fajri seraya menepuk punggung tangan Hasna.


Mereka makan dengan lahap, tapi mata Hasna sesekali menatap seorang pria yang bayangannya terpantul dari kaca jendela yang ada di belakang Fajri.


Pria itu memotretnya menggunakan ponsel. Hasna teringat dengan pertemuannya dengan Keanu dan pria itu adalah pria yang sama.


~Siapa dia?~ tanya hati Hasna.


Hasna membiarkannya, dia memperhatikan Fajri yang terlihat tak menyadari hal itu.


Lama mereka menunggu hujan reda, Fajri memeriksa pesan email dari ponselnya. Sementara Hasna asyik diam memandangi tetesan air hujan yang turun di jendelanya.


"Hei! " seru Fajri.


Hasna menoleh.


"Cantiknya! " puji Fajri.


"Kenapa mengambil foto ku dengan cara seperti itu? " keluh Hasna.


"Kau selalu membuat wajah mu jelek jika aku meminta kita selfie bersama, jadi aku putuskan mengambil dengan cara seperti ini. Kau lihat, cantik sekali! " jelas Fajri.


Hasna menyeringai kesal karena tingkah Fajri.


Tak lama kemudian hujan reda, Hasna berdiri hendak mengajak Fajri pulang. Tapi Fajri langsung ikut berdiri dan melepas jaketnya kemudian memasangkan nya di tubuh Hasna.


Mata Hasna membulat. Fajri sering melakukannya sejak SMA, tapi hari ini Hasna merasa sangat hangat apalagi Fajri langsung memeluknya dari samping.


"Ayo pulang! " ajaknya dengan senyuman manis.


Hasna tersenyum. Merek berlari kecil untuk masuk ke mobil karena hujan masih turun meski sudah mereda.


Sampai di mobil, Hasna melayangkan pertanyaan yang membuat Fajri terdiam membisu.


"Ada yang kau ingin bahas dengan ku, tapi kau mengurungkannya karena takut aku memikirkannya dan mulai bekerja lagi, iya kan? " ucapnya kemudian menatap wajah Fajri yang membeku.


Glek...


~Ya, kau benar. Aku ingin mengatakan bahwa Venus juga punya hubungan dekat dengan Bima juga Wira. Aku ingin sekali berdiskusi dan memecahkan masalah ini dengan mu. Tapi aku tak mau membuat mu khawatir. Beberapa hari ini kau dilanda kecemasan yang cukup membuat tangan mu gemetar hebat. Perceraian mu dengan Vino pun adalah kehancuran yang jelas terlihat di mata mu. Aku harus apa Hasna?~ Fajri bergumul dalam hatinya.


"Aku baik-baik saja, penjara, perceraian, orang lain bahkan mengalami hal yang lebih buruk. Kau tidak percaya aku bisa menghadapi semua itu? " tanya Hasna.


Tapi Fajri masih diam saja sambil menatap nya.


"Aku kuat, ayah Agung yang menguatkan ku, tapi ternyata kau masih belum yakin kalau aku sekuat itu"


Hasna menyimpulkan dengan benar alasan dari tingkah Fajri hari itu.


"Aku ingin mulai mencoba mendekati mu sebagai seorang pria. Apa kau tidak peka terhadap perhatian ku tadi? " Fajri mengungkapkn perasaannya yang lain.


Mata Hasna membulat, dia merubah raut wajahnya semakin kesal.


"Pulang, pulang. Aku mau pulang, cepat! " pinta Hasna dengan nada kesal.


Fajri tersenyum dan menyalahkan mobilnya.


~Hari ini kau lolos Fajri~ ucap hatinya lega.