
Sampai di bawah, Hasna berusaha mencari Vino, tapi dia mendapati Vino tersungkur ke lantai karena pukulan di wajah yang dilayangkan Keanu.
Keanu terengah setelah meninju wajah Vino. Dia menlonggarkan dasinya, kemudian menggulung lengan kemejanya untuk kembali menyerang Vino.
"Kau mau menyerahkan Hasna pada mereka? " ucap Keanu.
Langkah Hasna terhenti, dia terkejut mendengar perkataan Keanu.
"Pria macam apa yang akan membiarkan istrinya menjadi persembahan sekte biadab seperti itu? " lanjut Keanu.
Dia mengangkat tubuh Vino dan meremas kerah kemejanya. Vino yang masih merasakan pusing, menatapnya dengan bibir yang berdarah.
"Bertahun-tahun aku menyelidiki sekte itu untuk mencari cara agar bisa melepaskannya dari persembahan. Sekarang kau mau menyerahkan dia begitu saja? " ucap Keanu di hadapan wajahnya.
Vino tak menjawab, dia hanya menghela dan seolah masih mengumpulkan kesadarannya.
Keanu melayangkan pukulannya lagi di wajah Vino dan membuatnya jatuh lagi.
"HENTIKAN!"
Teriakan Hasna membuat Keanu berhenti dan menoleh padanya.
Hasna mendekat dan membantu Vino berdiri. Sementara Keanu mendekat dan berusaha menjelaskan pada Hasna.
"Dengarkan aku, dia berusaha untuk menyerah..... "
"Aku tahu, justru aku terkejut kau juga tahu tentang semua itu" ucap Hasna menyela ucapan Keanu dengan mata menatap tajam padanya.
Keanu mengalihkan pandangannya.
Hasna dan Vino berhasil berdiri, dia mencoba mengantar Vino kembali ke apartemen.
"Kau begitu takut akan malam itu, tapi sekarang kau masih membela Vino meskipun tahu dia akan menjebak mu lagi dalam malam persembahan itu" seru Keanu.
Langkah Hasna terhenti. Tangannya masih memegangi Vino yang masih sempoyongan. Hela nafasnya terdengar oleh Vino. Tapi Hasna tak menjawab ucapan Keanu, dia terus berjalan ke lift dan kembali ke apartemen mereka.
Keanu terdiam, dia kesal karena Hasna masih membela Vino.
***
Sementara itu di sebuah gudang tua yang tak terpakai.
Fajri bersiap dengan senjata di tangannya, Vani dan Hadi pun siap menyerah dari sisi lain gedung itu. Dengan aba-aba dari Fajri, mereka mendobrak pintu dan menodongkan senjata ke arah dalam gedung.
Tak ada siapapun di sana, mereka saling menatap heran karena merasa telah dibohongi.
"Apa ini? Tidak ada siapapun di sini! " seru Hadi.
Fajri menatap ke sekeliling, berusaha menemukan sesuatu. Dia berjalan lebih dalam dan memeriksa tumpukan kardus yang ada di sana.
Langkahnya terhenti saat dia melihat sebuah kursi dibiarkan tergeletak dengan tali yang tergerai melingkar di kursinya.
"Tidak, informasinya benar. Hanya saja mereka sudah memindahkan Dania dari sini" ucap Fajri sambil menunjuk ke arah kursi itu.
"Wah, siapa yang sudah membocorkan informasi kedatangan kita?" ucap Hadi.
"Aku rasa kita yang terlambat menyergap mereka" ucap Vania.
Fajri dan Hadi menatap ke arah Vania yang menepuk kedua tangannya karena debu dari kursi yang tergeletak itu.
"Mereka sudah pergi mungkin sehari atau dua hari yang lalu" duga Vania.
Fajri menurunkan senjata dan kesiagaannya. Hadi pun sama, begitu pula Vania. Mereka semua hendak meninggalkan gedung itu.
Namun tak berapa lama, kepulan asap masuk dan cepat memenuhi ruangan itu. Mereka menutup hidung dengan jaket dan sarung tangan yang ada. Tapi asap itu tak bisa terhindar, merasa menghirupnya dan seketika pingsan.
***
Sementara itu di apartemen, Hasna mengobati luka sobek di bibir Vino. Matanya memperhatikan wajah Vino dan mengingat semua ucapan Keanu.
Dia masih tak percaya, orang-orang di sekeliling nya mengetahui tentang perkumpulan itu tapi tak memberitahukan padanya.
Hasna merasa menjadi orang paling bodoh dan selalu percaya pada siapa saja.
Diapun menyesali telah merasakan sedikit kebahagiaan bersama Vino beberapa minggu ini. Air matanya tak bisa terbendung, dia mengobati Vino sambil menangis.
Vino hanya bisa diam menatap kesedihan Hasna. Dia masih oda pendiriannya untuk menyembunyikan rencana yang pernah dia sepakati dengan Fajri.
Kini Vino terus berpikir, melakukan rencana cadangan yang akan dia terapkan saat Hasna menyerahkan diri pada Wira.
***
Fajri terbangun dari pingsannya. Dia melihat dirinya, Hadi dan Vania di ikat di kursi di sudut ruangan yang cukup besar.
Ruangan itu seperti aula sebuah hotel. Tak ada yang mengawasi mereka, tapi Fajri bisa melihat beberapa kamera di pasang di dekat mereka.
'Kamera-kamera ini untuk apa? ' ucap hati Fajri.
Sambil mengumpulkan kesadarannya, Fajri berusaha untuk melepaskan diri dari ikatannya.
"Pak, Pak! " seru Hadi.
Fajri menatapnya dan mengangkat kepalanya beberapa kali.
"Seseorang datang" ucapnya.
Fajri menatap ke arah pintu dan tak berapa lama Wira muncul dan tersenyum padanya.
"Hai Fajri! " sapa Wira penuh dengan senyuman.
Fajri tak merespon, dia juga tak menjawab sapaannya.
"Kalian benar-benar hebat, bisa menemukan persembunyian anak buah Venus. Tak diragukan lagi, semua pujian yang dilontarkan pimpinan kalian, bisa kalian buktikan" ucap Wira.
Wira mendekat pada Vania, Fajri bergerak tak terima dan sangat ingin mencegahnya. Tangan Wira menyentuh dagu Vania dan mengangkat wajahnya yang masih pingsan.
"Kenapa? Kau tak terima aku menyentuhnya?" tanya Wira.
Fajri semakin kesal saat Wira mulai mendekatkan wajahnya pada Vania.
"Bukankah cinta mu adalah Hasna? Lalu kenapa kau begitu marah saat aku menyentuh gadis ini? " Wira menghempas wajah Vania.
Fajri kesal karena tak bisa melepaskan diri, dia terengah dengan mata menatap tajam pada Wira.
"Pengkhianat tetap pengkhianat, kau, ayah mu dan orang-orang bodoh itu" ucap Wira.
Fajri meronta kembali mendengar Wira menghina ayahnya.
"Dasar pengecut, kau hanya bisa menghina ku dan ayahku saat aku terikat. Lihat saja jika aku bisa melepaskan ikatan ini, kau tidak akan bisa lepas" ancam Fajri.
"Waah, aku takut sekali" ucap Wira mendekat dengan raut wajah mengejek.
Dia mendorong Fajri hingga dia tersudut ke dinding.
"Kau tidak penasaran dengan cerita bagaimana bisa Hasna menjadi satu-satunya persembahan yang bisa menentukan perkumpulan ini? " ucap Wira.
Mata Fajri membelalak di hadapannya.
"Tentu saja, kalian hanya bocah ingusan yang tak paham dengan semua yang terjadi"
Wira menghempas wajah Fajri.
"Aku.... sama seperti Bima, Kau dan Vino" Wira mulai berteriak.
Fajri semakin heran dengan ucapan Wira.
"Heuh, korban" Fajri mengejek.
"Yaaa, aku begitu ingin memecahkan kasus ini. Rasa penasaran yang begitu besar mendorong ku untuk mencari tahu, apa dan bagaimana sekte ini bisa terbentuk" lanjut Wira.
Wira menatap ke langit-langit ruangan dan memejamkan matanya.
"Adik Bima yang pertama menjadi korban mereka"
Fajri terkejut, dia baru mengerti mengapa Bima begitu bersikeras mengatakan bahwa dirinya adalah korban.
"Bima datang menemui ku dengan bercucuran air mata. Kematian adiknya membuat kedua orang tuanya sedih begitu dalam dan sakit hingga meninggal"
Wira duduk di kursi yang ada di tengah aula itu.
"Dendamnya begitu besar sehingga dia lupa kalau dia harus mengorbankan seseorang untuk bisa bergabung dengan sekte sialan ini"
"Kau berusaha membalikkan fakta" ucap Fajri yang tak mau meyakini semua cerita Wira.
Wira berdiri dan secepat kilat datang mencekik Fajri.
"Pak! "
"Fajri! "
Vania berteriak cemas dengan keadaan Fajri.