
Hasna dan Armand datang menemui Rendy. Beberapa pertanyaan diajukan pada Rendy oleh Armand. Hasna hanya menatap Rendy yang terlihat tak ingat padanya.
Hasna benar-benar terlihat tak begitu ingin diperhatikan oleh Rendy. Terlebih pertanyaan yang diajukan membuat Rendy gugup dan terbata-bata saat menjawab.
Sesi berkunjung habis, Armand dan Hasna keluar dari ruangan itu. Hasna terlihat lega dan bisa tersenyum lebar karena mereka sudah tak ada di hadapan Rendy.
Armand sedikit memperhatikan sikap Hasna. Dia protes.
"Kau ini kenapa? Tadi seperti orang yang tak ingin terlihat. Sekarang tersenyum seperti itu"
Hasna terkejut dengan pertanyaan Armand seniornya. Sikapnya terlalu jelas, dia terlalu takut pada Rendy yang padahal sama sekali tak mengenalinya.
"Tidak....maksud saya, tadi saya nahan kentut, sekarang sudah lega" ucap Hasna mencari alasan yang bodoh.
Armand membelalak.
"Apa?" seru Armand dengan mengerutkan dahinya.
Tangan Armand refleks menutup hidungnya meski tak bau, matanya menatap ke arah belakang Hasna.
"Sudah lega?" tanyanya memastikan.
"Sudah Pak, tak ada suaranya" jawab Hasna dengan wajah bodohnya sambil menyentuh bokongnya.
Armand menghela.
"Biasanya yang tidak bersuara itu paling bau!" ucap Armand sambil berjalan meninggalkan Hasna.
"Tidak Pak, tidak selalu begitu. Tadi juga tidak bau"
Hasna menyusulnya dengan menjelaskan sesuatu yang bahkan tak seharusnya dijelaskan. Armand menghindarinya dengan tetap menutup hidungnya.
Di perjalanan, Hasna baru melihat ponselnya.
~Fajri menelpon, ada apa ya?~ ucap hatinya.
"Mau makan siang dimana?" tanya Armand.
Hasna melihatnya sedikit terkejut dengan pertanyaannya.
"Aku bukan mau mentraktir mu, hanya bertanya" jelas Armand.
"Ouh...aku ada urusan, aku turun di depan saja" ucap Hasna menunjuk ke jalan di depannya.
"Urusan apa? Sore ini kita harus mempersiapkan untuk sidang besok!" ucap Armand mengingatkan.
"Aku sudah siap, tenang saja" jawab Hasna santai.
"Maksudku jangan sampai kau meletus lagi di persidangan" ucap Armand sambil tertawa.
Hasna kesal mendengarnya, alasannya yang bodoh membuatnya akan dibicarakan nanti di kantornya. Mau bagaimana lagi, hanya itu yang bisa dia katakan untuk menyembunyikannya.
"Aku pergi, terimakasih pak" ucap Hasna.
Armand pergi setelah mengangguk dan melambaikan tangan padanya. Hasna langsung menelpon Fajri.
"Ada apa?" tanya Hasna.
Fajri yang sedang bicara dengan ayahnya terdiam sesaat menatap ayahnya.
"Ayah di sini, kemari lah. Aku akan makan siang dengannya di Venus" ucap Fajri.
"Ayah! Bernarkah? Oke!" jawab Hasna semangat.
Dia memberhentikan taksi dan meluncur menuju restoran Venus.
Fajri yang berdiri hendak mengajak ayahnya makan siang terlebih dahulu. Ayahnya memegang tangannya.
"Bisa kah jika dia tak ikut menangani kasus ini?" ucap Agung.
"Ayah...aku rasa dia tidak akan memaafkan kita jika kita menyembunyikan kasus ini darinya. Aku lebih takut kehilangan dirinya dibandingkan kehilangan pekerjaan atau nyawaku sendiri" ucap Fajri.
Agung menatap anaknya, mengerti perasaan anaknya yang begitu menyayangi Hasna lebih dari apapun.
Mereka pun pergi ke restoran, yang dekat dengan kantor Fajri.
Hasna datang kemudian mencari mereka, dia tersenyum saat yang dilihatnya adalah Agung yang sudah dia anggap sebagai ayahnya sendiri.
"Ouh....ayah rindu sekali padamu, kau baik-baik saja kan?" tanya Agung.
"Aku akan baik-baik saja selama Fajri membantu ku. Tapi...hari ini..." Hasna diam mengingat kejadian di lampu merah.
"Apa?" tanya Fajri khawatir melihat ekspresi Hasna.
Hasna duduk dan hendak bicara.
"Aku...melihatnya" ucap Hasna.
Fajri dan Agung menatapnya terkejut.
"Dia!" ucap Fajri.
Hasna mengangguk dengan wajah sedih. Agung memegang tangannya.
"Dia masih bebas tersenyum diantar oleh seorang supir dengan mobil mewah. Aku gemetar tak bisa menahan rasa sakit ini. Hanya bisa menangis" jelas Hasna.
"Dimana?" tanya Fajri.
"Lampu merah dekat dermaga kecil. Aku sempat berhenti untuk menghentikan tangis ku di sana" ucap Hasna.
Fajri berpikir, karena itu dia merasa sesak dan ingat pada Hasna secara tiba-tiba. Agung menatap Fajri dan memberi kode agar tak memberitahunya hari ini. Namun Fajri berpikir lain. Dia merasa Hasna harus tahu hari ini agar semua selesai lebih cepat. Dan dia ingin mengajak Hasna pergi sejauh mungkin dari kota ini untuk memulai hidup baru bersamanya.
"Jangan terkejut, kau ingat tempo hari aku menangani kasus mayat wanita dalam koper?"
Hasna mengangguk dan membulatkan matanya.
"Ada tanda inisial namanya yang dibuat pembunuh di selakangannya. Meski berbeda tempat, kasus ini sama dengan kasus sepuluh tahun yang lalu. Setelah kau mengalami hal yang sama" jelas Fajri.
Hasna terdiam.
~Itu berarti, wajah senang itu, wajah yang sama yang aku lihat dulu setelah mayat Raisha ditemukan. Wajah yang merasa puas telah melakukan semua yang dia ingin kan pada wanita itu~ ucap hati Hasna.
"Sudahlah, kita bicarakan ini nanti. Kau harus makan. Wajah mu pucat karena mengingat kenangan buruk. Tenangkan dirimu" ucap Agung.
Hasna hanya terdiam, namun saat makanan datang, dia langsung melahapnya. Mata yang berkaca-kaca tak bisa tertahan menyiratkan rasa sakit dan kesalnya. Fajri hanya menatapnya. Dia mengerti bahwa Hasna tak ingin membuat ayah angkatnya khawatir namun juga tak bisa menahan hasrat ingin segera membuat pria yang membuatnya kehilangan segalanya cepat mendapat ganjaran.
"Ya kita harus makan yang banyak, agar punya banyak tenaga untuk melakukan semuanya" ucap Fajri melahap semua makanannya.
Agung menatap sedih pada mereka. Semangat Fajri mungkin hanya karena dia seorang polisi, namun hasrat Hasna hanya sebuah balas dendam yang entah sampai kapan akan berakhir.
Selesai makan, mereka semua berpisah di depan restoran.
"Karena masih dalam penyelidikan, belum ada yang bisa dinyatakan sebagai tersangka. Tapi jangan pernah tidak mengabari ku" ucap Hasna.
Agung menghela, ingin rasanya dia menghentikan semua ini, namun tak bisa. Fajri hanya tersenyum dan mengangguk.
"Aku panggilkan taksi" ucap Fajri.
Dia memberhentikan taksi dan Hasna pun hendak masuk. Sebelum itu, dia melihat Agung masih dengan wajah yang ragu dan tak merelakan keinginan Hasna membalas dendam. Dengan tiba-tiba Hasna memeluk Agung.
"Ayah...tenang...aku akan baik-baik saja" bisiknya.
Agung membelai rambut Hasna.
"Baiklah, aku tidak akan khawatir lagi, kau sudah jadi pengacara andal. Kalian sudah dewasa dan terlatih. Pergilah, taksi mu menunggu" ucap Agung.
Hasna tersenyum kemudian masuk ke mobil dan melambaikan tangannya pada Agung.
"Ayo Ayah, aku antar sampai stasiun" ajak Fajri.
Agung berjalan mengikuti langkah Fajri, mereka berjalan hingga stasiun kereta yang tak jauh dari sana. Sampai di stasiun Agung menatap putranya yang terlihat gagah di matanya.
"Berjanjilah untuk selalu menjaganya. Kau bisa kan?" pinta Agung pada anaknya.
"Dengan segenap jiwa ragaku Ayah, Ayah tahu itu kan?" jawab Fajri meyakinkan.
Agung masuk ke dalam stasiun, dalam setiap langkahnya dia mengingat saat-saat berdiskusi tentang kasus "R" yang dahulu tak terpecahkan. Ketidakberdayaannya menghukum penjahat yang sudah ada di hadapannya, namun cacat bukti, membuatnya menyesali semua.
Wajah kedua orang tua Hasna yang memohon padanya untuk membantu mereka terlihat jelas di matanya. Tak terasa air mata menetes mengingat semua hal itu.
"Maafkan aku Hasna, seharusnya saat itu aku membuatnya menebus semua kejahatannya. Aku tak bisa, aku sudah berusaha. Sulit bagi ku saat itu Nak!" gumam Agung sambil menyandarkan kepalanya ke kursi.