My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
85



Beno tersenyum pada Fajri. Dia membawa penjahat yang dia tangkap ke dalam. Fajri mengikuti dan memeriksa laporan mereka.


Beno duduk di depan meja di ruang kerja Fajri. Mereka saling menatap beberapa saat kemudian menunduk, menatap tangan masing-masing dari mereka.


"Apa kabar Dara? " tanya Fajri memulai pembicaraan.


"Baik, jauh lebih baik. Semua berkat Hasna" jawab Beno.


"Oh, syukurlah! " ucap Fajri.


"Aku dengar, kasus baru yang kalian tangani buntu dan di tutup karena saksi bunuh diri" Beno mengulas kasus Bayu.


"Ya, seperti biasanya. Aku kesulitan menyimpan bukti" jawab Fajri mencari alasan.


"Kau tidak pernah mau melibatkan Hasna yang notabene adalah kunci dari semua pemikiran mu" ujar Beno.


Mata Fajri membulat mendengar ucapan Beno.


"Instingnya selalu benar tentang semuanya. Bukan karena dia salah satu korban dari kasus Bima, tapi dari keseluruhan kasus yang dia tangani, dia punya keahlian membuat semuanya menjadi jelas" tambah Beno.


"Dia sedang di skors karena kasus longsor. Aku benar-benar sedang menjaga dirinya agar tak terpuruk lebih jauh" ucap Fajri.


"Oh iya aku lupa, aku selalu merasa bahwa dia tak pernah punya masalah lain, hehe" ucap Beno bersikap bodoh.


"Aku dengar pekerjaan di lantas sangat baik setelah kedatangan mu. Kau bekerja dengan keras" puji Fajri.


"Aku pernah bekerja dengan seorang yang sangat patut dijadikan teladan, dia sangat loyal terhadap pekerjaan dan kewajibannya. Aku beruntung pernah bekerja bersamanya" puji Beno untuk Fajri.


Fajri menyeringai, Beno memperhatikan senyumannya yang seolah menertawakan ucapannya.


"Kau berubah" ucap Beno.


"Kenapa? Karena aku sedikit bergaya? " tanya Fajri.


"Ya, Hasna pasti sekarang mudah jatuh cinta padamu" ucap Beno.


Fajri menyeringai lebih lebar hingga tertawa.


"Sayangnya tidak" jawab Fajri.


Beno tercengang dengan jawabannya. Sikap dan jawaban Fajri bertentangan.


"Tapi,.... " Beno ingin mengungkapkan pendapatnya tentang Hasna.


"Kembalilah ke pekerjaan mu, terimakasih sudah membantu anak buah ku" ucap Fajri.


Glek...


Beno menelan salivanya. Fajri mengusirnya perlahan. Beno beranjak dari kursinya kemudian memberi hormat.


"Baik Pak! " ucap Beno tegas.


Dia pergi, sementara Fajri diam menyentuh bibirnya yang tadi mencium Hasna.


~Ini ciuman ku yang pertama pada Hasna, tapi rasanya dingin dan hambar. Aku bahkan tak bisa merasakan sisa kecupannya~ ucap hati Fajri.


***


Hari ini Hasna keluar rumah, Nendi kembali mengikutinya. Hasna menyadari keberadaannya dan membiarkannya mengikuti hingga ke lapas.


Ya, Hasna ingin bertemu dengan Wulan dan Dewi. Setelah lapas membatasi kunjungan untuk mereka untuk beberapa minggu, akhirnya, hari ini dia bisa bertemu dengan mereka. Hasna sangat ingin menanyakan apa yang terjadi.


Nendi mengambil potret Hasna hingga dia masuk ke lapas. Dia sendiri tak bisa masuk karena tak punya tujuan orang yang akan dia kunjungi. Nendi pun menunggu di parkiran dekat mobil Hasna.


Hasna mencatat nama dan orang yang hendak dia temui. Penjaga menatap tulisannya kemudian menatapnya.


"Dewi tak mau menerima tamu siapa pun" ucap penjaga itu.


"Kenapa? " tanya Hasna.


"Aku bukan pengasuhnya yang harus menanyakan alasan mengapa dia tidak mu dijenguk siapapun" jawab penjaga itu.


Tak lama kemudian, datang Maya. Penjaga itu berdiri dan mempersilahkannya duduk.


"Kau datang untuk menanyakan pada mereka tentang Nunik? " tanya Maya.


"Salah satunya, aku juga ingin memastikan Wulan baik-baik saja" jawab Hasna.


"Dia baik-baik saja, aku juga sering menengoknya di dalam" ucap Maya.


"Apa aku masih tidak boleh menemui mereka? " tanya Hasna yang mulai kesal.


"Boleh... tentu saja boleh. Jangan mudah marah seperti itu" ucap Maya sedikit menggodanya.


"Sikap mu yang membuatku kesal" ucap Hasna.


Hasna duduk di ruang tunggu, dia menatap rantang makanan yang dia bawa untuk Wulan.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Wulan datang. Langkahnya perlahan mendekat pada Hasna dengan tatapan yang sangat ragu. Tapi Hasna datang memeluknya.


"Wulaaaan! " seru Hasna.


Wulan terkejut, dia juga merasa terharu karena Hasna memeluknya. Sementara Hasna diam, dia memeluk Wulan cukup lama.


~Sikapnya berubah, dia tak seperti Wulan yang bersikap kekanakan~ ucap hati Hasna.


Wulan duduk, Hasna pun ikut duduk seraya membuka kotak makan untuknya. Mata Wulan berbinar menatap menu bekal yang Hasna bawa. Hasna memperhatikannya.


"Makanlah! " ucap Hasna.


Wulan meraih kotak makan dan sendok kemudian melahapnya. Hasna semakin kasihan melihatnya yang terlihat sangat kelaparan.


"Enak sekali! " seru Wulan sambil mengunyah.


Hasna tersenyum.


"Aku bawa banyak, tadinya mau ku bagi juga dengan Dewi. Tapi dia tidak mau menemui siapapun" ucap Hasna.


Wulan diam sebentar, tak berapa lama dia kembali melahap makanannya hingga habis. Kotak makan yang satunya lagi dia sisihkan di sisi meja. Wajahnya tersenyum menatap Hasna.


"Sudah kenyang? " tanya Hasna.


Wulan mengangguk.


"Aku ingin tanya soal Nunik" ucap Hasna.


Wulan terdiam, meski sudah menduga Hasna akan mempertanyakan kematian Nunik, dia tetap terkejut mendengarnya.


"Apa yang terjadi? Sebelumnya, Bayu datang tapi dia menemui Dewi bukan Nunik. Lalu kenapa Nunik mengambil langkah bodoh itu?" tanya Hasna.


Wulan merasakan aura pengacara yang Hasna miliki terpancar. Pertanyaan dengan semua rasa penasaran yang selalu dia punya. Berontak dengan semua ketidakadilan yang ada di hadapannya.


"Entahlah... " jawab Wulan.


Mata Hasna membulat, tak menyangka akan mendapatkan jawaban nihil seperti itu.


"Dewi memang pernah mendapatkan kunjungan tapi aku tak pernah tahu dengan siapa dia bertemu. Dia kembali dengan wajahnya yang sama. Dahi berkerut dan menatap kesal ke arah kami berdua" lanjut Wulan.


Hasna menunggu kelanjutan ceritanya.


"Hari itu, Nunik diam saja. Sejak subuh dia bangun, tapi dia tak banyak bicara. Awalnya aku merasa aneh, tapi sebelum dia ke ruang dapur untuk membantu, dia tersenyum padaku, jadi aku menganggapnya biasa saja" jelas Wulan.


Hasna memperhatikan cara Wulan menjelaskannya.


~Dia terlihat gugup saat menjelaskannya. Jelas di berbohong sejak kata pertama yang dia ucapkan~ ucap hati Hasna.


"Jadi, ini murni bunuh diri?" Hasna berpura-pura mengambil kesimpulan.


Wulan mengangguk perlahan.


"Yang aku tidak pahami, Bayu dan Nina pun bunuh diri di tempat berbeda" lanjut Hasna sambil merapikan tas nya.


Wulan terdiam, menatap kosong ke arah meja.


"Ya sudah, jika tidak ada yang mencurigakan, toh kasus ini juga sudah ditutup" ucap Hasna.


Wulan tak bicara lagi. Hasna masih memperhatikan nya.


"Kau ingat, sebelum Nunik meminta bantuan mu, aku juga ingin meminta bantuan dari mu tentang kehidupan ku" ucap Wulan.


Hasna mengerutkan dahinya. Wulan bicara tanpa menatap wajahnya.


"Apa itu? " tanya Hasna.


"Aku salah seorang anak dari panti asuhan Kasih Ibu dari Kota Baru. Aku melakukan kesalahan dengan menusuk pria yang hendak menculikku, tanpa berpikir bahwa aku meninggalkan adik-adik ku di panti asuhan itu tanpa pengawasan orang dewasa lainnya" ucap Wulan.


"Maksud mu, mereka terlantar. Tidak ada yang mengasuh? " Hasna memperjelas.


Wulan mengangguk.


"Aku mencoba untuk menjadi pel@cur untuk mendapatkan uang tambahan bagi kelangsungan hidup kami. Karena memang sudah beberapa bulan sebelumnya, tak ada lagi yang mau mengurus panti" jelas Wulan.


"Dimana? Aku akan ke sana untuk membantu" ucap Hasna.


Baru kali ini dia mau menatap Hasna lagi kemudian tersenyum.


"Akan ku tulis alamatnya, berikan pulpen dan kertas" pinta Wulan dengan riang.