
Bima terengah sambil menatap ponsel dan berjalan bolak balik di sebuah kamar di hotel yang dia jadikan tempat bersembunyi.
Wajahnya panik berkeringat, semua orang yang bekerja sama dengannya memutuskan hubungan. Dia tidak bisa menghubungi siapapun.
"Mereka hanya membutuhkan uang ku, saat seperti ini, mereka sama sekali tak menjawab pesan ku"
Bima semakin panik. Tak lama kemudian suara pintu diketuk terdengar. Mata Bima membelalak menatap pintu, keringat mengucur di dahinya. Perlahan dia berjalan menuju pintu dan mengintip siapa yang datang.
"Layanan kamar, pesanan makan malam anda Pak!" ucap petugas layanan kamar hotel.
Bima memeriksa dan melihat tak ada siapa pun yang mengikutinya. Setelah dia merasa sudah aman, barulah dia membuka pintu.
Bima menarik nampan yang dia berikan, kemudian buru-buru masuk dan menutup pintu.
"Terimakasih!" ucap Bima sesaat sebelum menutup pintu.
Mata pelayan menatap meraba seluruh wajah Bima. Dia merasa heran dengan sikap Bima yang seolah terburu-buru dan ketakutan.
Tanpa bertanya dan menjawab ucapan terimakasih nya, dia pergi dengan menggelengkan kepalanya.
Bima mencoba makan dan minum, namun rasa khawatirnya masih menyelubungi pikirannya. Dia tak bisa tenang dan masih harus mencari tempat bersembunyi.
"Semua bukti yang dia kirim ke ponsel ku, itu semua sudah sangat menunjukkan kesalahan ku. Gadis itu, gadis gila itu juga memberikan kesaksiannya. Hasna sialan, seharusnya aku membunuhnya hari itu"
Bima terus bicara pada dirinya sendiri. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Mata Bima berbinar melihat nama yang muncul. Dia segera menjawab telponnya.
"Ya, apa semua sudah selesai?" tanya Bima.
"Belum Pak, dokumen baru anda akan selesai besok siang. Sekarang anda di mana?" jawab pria itu.
"Katakan saja jam berapa dan dimana aku akan mendapatkan dokumen dan tiket pesawatnya. Aku akan langsung datang ke sana" ucap Bima.
"Besok, waktu makan siang di restoran di tengah kota. Aku juga akan ada di sana Pak" ucap pria itu.
"Baiklah, uangnya akan aku transfer saat kita bertemu" janji Bima.
Dia menutup telponnya kemudian duduk menghela dengan keras. Dia sedikit merasa lega mendengar kabar paspor dan identitas juga tiket pesawat menuju China akan siap besok siang.
###
Sementara itu, Beno baru menutup ponselnya di hadapan ruang tahanan tempat Hasna ditahan.
"Baru kali ini aku menyebut dia sangat naif. Dia tak sadar dan menganggap semua orang mudah dibodohi. Sementara dirinya sendiri sangat bodoh" ucap Hasna.
Beno membuat kepalan tangan yang siap meninju kapan saja.
"Aku tak sabar untuk menemuinya besok siang" ucap Beno penuh amarah.
"Ya, titip satu pukulan untuk kekesalan yang tak pernah terlampiaskan dari ku" ucap Hasna.
"Ya, aku akan membungkuskannya untuk mu" jawab Beno.
Pembicaraan mereka terhenti saat Vino datang dengan tubuh basah terkena hujan.
Hasna berdiri dan menatapnya, Beno pun berdiri dan mendekat.
"Anda baik-baik saja Pak?" tanya Vino.
Vino menangis, dia mendekat perlahan pada Hasna.
"Maafkan aku!" ucap Vino.
Vino terduduk bersujud di hadapan Hasna yang tak tega melihat keadaan Vino yang menurutnya sangat menyedihkan. Hasna memalingkan wajahnya sembari menangis.
Beno pergi keluar dan meninggalkan mereka berdua setelah membukakan kunci ruang tahanan Hasna.
Hasna mendekat dan membantu Vino berdiri. Mereka duduk berdua di kursi. Vino masih menundukkan kepalanya di hadapan Hasna.
Sementara Hasna mengusap wajah dan pipinya yang basah karena air hujan dan tangisnya.
"Kau ini seperti anak kecil, kenapa sampai bisa kehujanan hingga basah kuyup seperti ini. Ini sudah malam, bagaimana jika masuk angin" ucap Hasna menatap meraba seluruh wajah Vino.
"Maafkan aku, maafkan aku!" hanya ucapan itu yang keluar dari mulutnya.
Hasna membelai rambutnya, sesekali mengusap air matanya sendiri karena menyesal telah memanfaatkan Vino untuk balas dendamnya.
Beno datang membawa handuk dan minuman hangat. Langkahnya terhenti saat melihat posisi mereka yang menurutnya tidak bisa diganggu. Beno menyimpan handuk dan minuman hangat di meja dekat mereka duduk. Kemudian keluar dan menunggu mereka di luar.
###
Fajri duduk termenung, matanya menatap pintu dan ponselnya bergantian. Suara Hasna yang menceritakan kejadian rudapaksa yang dia alami lagi, terngiang dan menyiksa batinnya.
Fajri tak kuasa menahan rasa kesal yang berkecamuk di hatinya. Namun dia sangat tidak berdaya dengan keadaannya sekarang. Dia menatap kaki dan tangannya yang masih menggunakan penyangga tulang.
Hela nafas keras sesekali terdengar di ruangan itu. Hujan juga belum berhenti, suaranya menambah menghiasi perasaan nya yang tak karuan.
Tak lama kemudian, Vania mengetuk pintu.
"Pak! Anda belum tidur?" seru Vania.
Dia yang masih menungguinya di luar, merasa khawatir karena melihat lampu kamar Fajri masih menyala.
Fajri tak menjawabnya, dia sedang dibalut kemelut di hatinya. Dia tak mau mempedulikan yang lainnya.
"Apa kau lapar? Aku buatkan sesuatu ya?" Vania masih berusaha dan berharap Fajri menjawab.
Tapi Fajri masih diam. Vani merasa kecewa karena tak ada jawaban. Tapi dia tetap membuatkan roti dengan selai coklat untuk Fajri.
Fajri keluar dari kamarnya, dia melangkah perlahan menuju pintu keluar. Vania melihatnya dan mencegah.
"Anda mau kemana?" seru Vania dengan tubuh menghalangi pintu.
Fajri berhenti melangkah.
"Kenapa kau masih di sini? Kenapa tidak pulang saja?" Fajri kesal.
"Bu Hasna yang minta, dia minta aku tinggal sebagai perawat mu" jawab Vania terbata.
Fajri menutup matanya sebentar menahan diri karena kesal.
"Kau mau kemana malam-malam begini?" tanya Vania sedikit takut Fajri akan marah padanya.
Fajri menghela.
"Aku akan ke kantor dan menjemput Hasna. Kau puas?" Fajri menunjukkan kekesalan dari nada suaranya.
"Tidak bisa!" jawab Vania.
"Kau tidak bisa mengatur apa yang harus dan tidak harus aku lakukan" ucap Fajri sambil memegang lengan Vania dengan menekannya.
Wajah Vania meringis kesakitan.
"Kau....harus...menunggu.....telpon darinya, itu yang...dia katakan" ucap Vania terbata karena menahan rasa sakit di lengannya.
Mata Fajri membulat.
"Kapan dia meminta dan mengatakan semua itu padamu? Kenapa dia mengatakannya pada mu bukan padaku!"
Genggaman tangan Fajri semakin kuat dan membuat Vania semakin kesakitan.
"Kau menyakiti ku" ucap Vania tak kuasa.
Fajri tersadar, dia melepaskan pegangan tangannya dan terduduk di lantai bersama Vania yang mulai mengusap lengannya sendiri yang sakit.
Fajri memukul lantai beberapa kali dengan tangannya yang bulat mengepal. Vania menahan tangannya karena takut dia terluka.
Fajri menangis, dia tak tahu harus berbuat apa. Tapi Vania memeluknya, dia menaruh kepala Fajri di dadanya kemudian membelai rambutnya agar dia lebih tenang.
Fajri hanya menangis, tak ada lagi suara lain yang keluar. Vania terus menenangkannya hingga dia diam dan tenang.