My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
50



Mata Vino membulat dengan semua fakta yang ada. Dia juga memeriksa rekaman yang Brian dapat untuk menjadi buktinya yang kuat.


"Aku sangat mengagumi wanita yang mendapat julukan 'Pengacara Cantik' itu. Tapi aku tidak sangka dia akan menghalalkan segala cara untuk memenangkan kasusnya" ucap Brian.


Vino diam saja mengepalkan tangannya di atas meja. Brian menatapnya karena tak mendengar sepatah katapun darinya.


"Kau menyesal telah menikah dengannya?" tanya Brian.


Vino mengambil nafas dalam kemudian berdiri dan meninggalkan Brian sendirian.


"Baiklah, istirahatlah. Lagipula ini hanya tinggal melaporkan ke kejagung, soal penangkapannya biar polisi yang bekerja" seru Brian.


Vino kesal, kepalan tangannya semakin erat. Dia berjalan dengan semua rasa marah di hatinya. Dia ingin sekali cepat-cepat menemui Hasna dan bicara padanya.


###


Hasna kembali dari rumah sakit bersama Armand. Dia kembali menulis semua laporan dan mengumpulkan semua bukti baru.


"Akhirnya, semua selesai. Kita tinggal menyerahkannya ke kejagung dan menjalankan kembali sidangnya" ucap Armand lega.


"Aku akan menitipkan semua ini pada mu" ucap Hasna.


Armand berhenti bekerja dan menatap Hasna dengan heran.


"Apa maksud mu?" tanya Armand.


Hasna mendekat dan memberitahukan rencananya pada Armand. Dengan wajah penuh rasa cemas, Armand menatap Hasna.


"Aku menyerahkan semua pekerjaan kotor ku pada firma hukum Brian. Mereka terlihat sibuk dengan semua bukti yang aku kirimkan" ucap Hasna.


"Pekerjaan kotor?" tanya Armand tak mengerti.


"Aku melakukan sesuatu atas nama balas dendam. Semua berjalan dengan baik dan tak ada satu pun yang mengetahuinya. Tapi kini mereka tahu semuanya, dan semua itu hanya untuk mengalihkan Bima dari mengumpulkan semua bukti tentangnya" jelas Hasna.


"Semua berkas ini, serahkan ke kejagung tanpa sepengetahuan siapa pun. Mereka sudah menyadari kita sudah membuka kasus Dudung. Tapi mereka akan sibuk sementara untuk menjatuhkan ku"


Armand menghela keras mendengar ucapan Hasna.


"Detilnya, mungkin Beno yang akan menjelaskan di penangkapan ku nanti. Aku tidak akan menjelaskannya sekarang"


"Beno juga ikut melakukannya? Bukankah dia sudah..."


"Aku yang menyuruhnya untuk tetap tenang dan mengikuti semua arahan mereka lagi" jawab Hasna.


"Pak, dengar. Jika aku tidak melakukan ini semua, jalan kita akan buntu lagi. Dara, Bianca dan anak-anak mu akan dalam bahaya" ucap Hasna membujuk Armand.


"Tapi karir mu, semuanya akan hancur saat kasus itu dimenangkan Brian. Apa yang akan terjadi pada dirimu?" Armand cemas.


"Aku akan menyerahkan semuanya pada Tuhan dan pada mu sekarang. Terimakasih untuk selalu percaya padaku" ucap Hasna.


"Kau tidak bercanda kan?" tanya Armand setelah selesai mendengarkan rencana Hasna.


"Ya, lakukan semuanya. Aku akan pulang malam ini" ucap Hasna.


"Tapi Na, bukankah bahaya jika kau pulang sekarang? Kau pulang ke kandang macan" ucap Armand.


"Tidak, Vino mencintaiku, dia akan melindungi ku meski dia merasa kecewa padaku" ucap Hasna sambil tersenyum.


"Aku pamit. Anda juga jangan lupa istirahat"


Armand mengantar kepergian Hasna dengan tatapan matanya. Dengan semua rasa cemas di hatinya pada wanita yang sudah dianggapnya adik itu.


Hasna berjalan kemudian berhenti saat melihat Vino datang menjemputnya. Hasna melihat raut wajahnya yang sangat sedih menatap dirinya. Tapi dia tersenyum dan berlari untuk memeluknya. Vino terkejut dengan sikap Hasna yang terasa manja baginya.


"Aku kira kau takkan datang, ini sudah malam dan susah sekali mendapat taksi" ucap Hasna.


"Hmmm" jawab Vino singkat.


"Aku sangat merindukan mu. Dua hari satu malam, serasa seperti setahun lamanya" Hasna mencoba membuat ironi dalam pertemuan mereka ini.


"Aku juga sangat merindukan mu, ayo kita pulang" ucap Vino.


"Ayo" tangan Hasna memegang erat tangan Vino sampai masuk ke mobil.


Di mobil.


"Kasusnya sudah selesai?" tanya Vino datar.


Hasna menoleh menatap wajah Vino yang tak menatapnya. Kemudian dia tersenyum.


"Sudah!" jawab Hasna riang.


Vino menoleh karena ingin melihat ekspresi nya saat mengatakan hal itu. Tapi Hasna malah seperti sedang mencari sesuatu di dalam tas nya.


Vino menatap ke arah depan kembali, kemudian menyalakan mesin mobilnya. Mereka pulang ke rumah tanpa pembicaraan berarti di mobil.


Sampai di rumah, Hasna keluar sendiri kemudian mereka berjalan masuk. Bima menyambut mereka dengan tepuk tangan yang keras hingga menggema di ruangan besar rumahnya itu.


Prok...prok....prok...prok...


"Selamat datang Nyonya pengacara yang memanfaatkan segala cara untuk memenangkan kasus mu" ucap Bima dengan senyum lebar di wajahnya.


"Ayah!" keluh Vino.


"Kenapa? Kau mau melindungi istri mu? Silahkan, tapi dia tidak akan lolos dari sidang profesi. Camkan itu" ucap Bima menunjuk Hasna.


"Apa salah ku?" tanya Hasna santai.


Dia tak membiarkan Bima pergi ke kamarnya begitu saja. Hasna berencana membuat konflik malam itu juga antara dirinya, Bima dan Vino.


"Biarkan saja ayah pergi, jangan diladeni" ucap Vino.


"Apa salahku sehingga kau membuat ku begini?" lanjut Hasna tanpa peduli pada ucapan Vino.


Bima membulatkan matanya. Pertanyaannya seolah diberikan pada dirinya yang sudah merudapaksa dirinya.


"Aku bilang hentikan, kenapa kalian senang sekali berselisih? Ini sudah malam, kau harus istirahat kan ayah?" ucap Vino ingin melerai.


"Apa alasan kau mengatakan hal yang membuat ku bertanya tentang kesalahan ku padamu?" ucap Hasna.


Vino menatap mereka bergantian.


"Kau pengacara busuk, beraninya menantang aku dan mencoba menjatuhkan bisnis ku" Bima mulai terpancing emosi.


"Bisnis mu ilegal, lagipula tidak ada prostitusi yang legal di dunia ini" ucap Hasna.


"Kau menghasut seorang ibu dan membuat dia membiarkan suaminya mencekik bayinya sendiri" Bima mulai menyebut satu persatu kesalahan Hasna.


"Oh, Ibu Hani, ibu bayi Nara. Mereka orang tua yang buruk. Mengatasnamakan penyakit anak untuk menerima semua kenyamanan hidup. Mereka pantas mendapatkan ganjarannya" jawab Hasna.


"Kau juga menjebak anak pengusaha tanah untuk melakukan kejahatan pada ayahnya sendiri" ucap Bima sambil menatap Vino.


"Ah, kau sangat paham siapa itu Rusdiawan Pratama. Bukankah dia teman baik mu? Kenapa? Dengan membelanya kau mendapat sebagian tanah di tengah kota?" jawab Hasna.


Bima tersentak, ucapan Hasna benar. Bima dan Rusdiawan adalah teman baik. Dia juga benar, Bima mendapatkan imbalan salah satu tanah milik Rusdiawan di tengah kota untuk menjebloskan Hasna ke penjara.


Keadaan semakin panas, ruangan besar itu terasa semakin menyempit karena pertikaian dan adu mulut antara Bima dan Hasna.


Vino yang berdiri diantara mereka kebingungan harus membela siapa. Dia terpaku dalam dilema antara cinta dan ayahnya.


Mana yang akan dia bela, mana yang akan dia pertahankan. Vino sendiri merasa bingung. Sekian lama dia terpisah dari ayahnya, kini kembali bersama namun fakta menyebutkan dia adalah pelaku kejahatan. Haruskah dia menjebloskan ayahnya ke penjara?