
Vino pulang dengan bersemangat, dia langsung memeluk ayahnya yang duduk menatap kedatangannya di ruang keluarga.
"Selamat sore ayah, ada hal yang ingin aku sampaikan" ucap Vino dengan senyum lebar.
Bima sudah bisa menebak apa yang akan anaknya katakan. Dia berpura-pura mengambil ponsel dan membuka sebuah pesan yang sebenarnya sudah dia terima sehari yang lalu.
"Ayah ada urusan, kamu istirahatlah. Ayah segera kembali" ucap Bima.
"Tapi ayah, ini sangat penting. Aku harus mengatakannya sekarang" ucap Vino.
"Ayah pasti pulang, hanya sebentar!" ucap Bima tanpa memperdulikannya.
Vino mengerutkan dahinya merasa heran dengan sikap ayahnya. Tapi dia berusaha untuk berpikir positif.
"Ayah pasti sibuk, nanti saja aku bicaranya. Lagipula, aku bisa mengatakannya besok. Hasna akan menunggu ku. Dia mencintaiku" gumam Vino.
###
Bima berdiri di depan pintu rumah Hasna, dia menggedor dengan kuat. Beberapa orang yang lewat menatapnya dengan aneh.
"Buka pintunya atau ku dobrak!" ucap Bima pelan namun tegas.
Namun Hasna tak keluar. Dia sengaja membuat Bima uring-uringan setelah melihatnya memutuskan untuk tetap tinggal dan kembali pada Vino.
Hasna menatap laptop barunya. Dia menemukan sesuatu dari bisnis yang dijalani Bima.
~Hmmm, jadi kau kembali pada Vino hanya untuk mendapatkan warisan yang sudah diatasnamakan pada Vino. Dasar "iblis", kejam, bahkan terhadap anak mu sendiri kau melakukan kecurangan~ ucap hati Hasna.
Mata Hasna menatap ke arah luar rumah. Dia menelpon polisi untuk melaporkan gangguan pemabuk.
Penerima telpon meminta petugas mendatangi tempat kejadian. Fajri yang sedang dekat dengan petugas, mendengar alamat rumah pelapor. Matanya membulat, alamat itu adalah tempat tinggal Hasna.
Fajri segera tancap gas menuju rumah Hasna. Dia khawatir karena Hasna melaporkan ada yang memaksa untuk masuk ke rumahnya.
Sebelum mobil Fajri parkir di depan rumah Hasna, Bima sudah pergi, karena Hasna tak membuka pintu rumahnya. Dia memutuskan untuk memberi peringatan pada Hasna dengan cara lain.
Fajri mendekat pada pintu, dia memeriksa dengan teliti. Namun pintu dalam keadaan baik-baik saja.
"Hasna!" seru Fajri.
Mata Hasna membulat, dia mendengar suara Fajri dan menutup laptopnya. Hasna pergi ke pintu dan membukanya.
"Ada apa?" tanya Hasna setelah pintu terbuka.
Fajri menatapnya dari ujung rambut ke ujung kaki.
"Kau baik-baik saja?" tanya Fajri.
"Ya, aku baik-baik saja. Kenapa?" tanya Hasna.
"Seseorang menelpon polisi, mengatakan bahwa seseorang mencoba mendobrak pintu rumahnya. Alamatnya di sini" jelas Fajri dengan terengah.
"Bukannya kamu bagian kriminal? Kenapa dikirim ke lapangan?" tanya Hasna.
"Tuh, benerkan? Siapa yang nyoba dobrak?" Fajri semakin khawatir.
"Ada apa sayang?" tanya Vino yang datang dari belakang Hasna.
Mata Fajri membulat, tak menyangka Vino ada di sana.
"Fajri! Wah, sekarang kamu bagian lapangan? Atau memang sedang acara spesial, seorang detektif kriminal dikirim ke lapangan atas laporan warga" ucap Vino dengan nada mengejek.
Hasna menundukkan pandangannya ke bawah karena merasa tak nyaman dengan ucapan Vino. Fajri sendiri menelan salivanya namun tetap menatap Vino dengan tatapan tajam.
"Pengganggunya sudah pergi? Ya sudah, aku akan pergi. Lain kali langsung telpon aku, tidak usah ke operator" ucap Fajri dengan mata masih menatap Vino.
"Nggak usah, sudah ada aku. Dia hanya butuh aku, iya kan sayang?" ucap Vino sambil merangkul Hasna.
Fajri menghela, dia menatap Hasna yang diam saja saat Vino merangkul bahunya.
"Ok, aku pergi"
Fajri berbalik dan hendak melangkah.
"Kami akan segera menikah, datang ya, kami akan beritahu tanggalnya. Hanya keluarga dan teman saja yang diundang" ucap Vino.
Langkah Fajri terhenti mendengar ucapan Vino. Dia berbalik dan menatap Hasna yang juga menatapnya. Fajri mendekat lagi, dia menyodorkan tangannya.
"Selamat ya!" ucap Fajri.
Mata Hasna berair, dia tahu hal ini menyakiti hati Fajri. Setelah sekian ratus kali Fajri memintanya berhenti membalas dendam dan menikah dengannya. Dia mendengar Hasna akan menikah dengan Vino. Teman sebangkunya saat SMA.
Mata mereka masih saling menatap, Vino tak menyukainya. Dia meraih tangan Fajri yang ada di hadapan Hasna.
"Ya, terima kasih!" jawab Vino.
Goyangan tangan Vino membuyarkan tatapan mereka dan beralih pada tangan Vino dan Fajri yang bersalaman. Hasna pun tak bisa mengatakan atau menjelaskan apapun.
Fajri melepas tangan Vino kemudian kembali berbalik untuk pergi. Hatinya terasa sangat sakit saat ucapan Vino tentang pernikahan mereka terus terngiang, hingga dia masuk ke mobil dinasnya, dan hilang saat dia menutup pintu mobil.
Vino meraih tangan Hasna untuk mengajaknya masuk. Namun mata Hasna masih mengantar kepergian Fajri hingga mobilnya hilang dari pandangannya.
~Aku tidak akan mengatakan apapun Fajri, ini tentang aku dan iblis itu saja. Aku takkan membawa mu lagi. Kali ini aku akan melakukannya sendiri. Jika hukum tak bisa menyentuh dan menghancurkannya. Maka aku akan menghancurkannya dengan tangan ku sendiri~
Vino menyadari tatapan mata Hasna dan raut wajahnya yang terlihat sedih, adalah untuk Fajri.
"Dia pernah menyatakan perasaannya?" tanya Vino.
Hasna berjalan hendak ke kamar, namun langkahnya terhenti, dia menoleh.
"Sering, ratusan kali dia mengajakku menikah" jawab Hasna dengan raut wajah yang datar.
Vino terkejut dengan jawaban kekasihnya itu. Dia mendekat dan merajuk, bersikap seperti anak kecil.
"Lalu apa jawaban mu?" tanya Vino dengan meraih tangannya.
"Tentu saja tidak, dia sudah seperti kakak bagiku. Selamanya akan seperti itu" ucap Hasna datar.
Vino memeluk Hasna dan mengusap kepalanya.
"Kalau begitu aku telah salah karena cemburu pada kedekatan kalian. Maafkan aku ya, lain kali aku tidak akan ketus padanya" ucap Vino.
Ekspresi wajah Hasna tak berubah, tapi hatinya berkata lain.
~Aku tidak bisa membiarkan dia menikahi wanita seperti ku. Korban perkosaan yang berjuang karena tak pernah mendapatkan keadilan. Fajri harus menikahi gadis yang baik dan terhormat. Dia pria yang baik~
"Oh ya, siapa pria yang ku dengar mengetuk pintu dengan keras? Aku juga merasa khawatir, makanya langsung kemari" tanya Vino.
"Aku nggak tahu, mungkin orang yang mendendam karena kasus yang aku tangani" jawab Hasna.
"Sepertinya aku harus menginap hari ini. Dia bisa saja kembali saat tengah malam" ucap Vino.
"Hmmm, sepertinya begitu" ucap Hasna.
"Ok, aku akan tidur di sofa. Sekarang kau istirahatlah, besok kita ke kantor bersama" ucap Vino.
Hasna berjalan ke kamar, wajahnya sama sekali tak mencerminkan rasa lain. Datar dan dingin. Vino mengikutinya kemudian mengambil bantal dan satu selimut untuknya tidur di luar.
Hasna duduk di depan laptopnya. Vino memperhatikan dan berkomentar.
"Laptop baru?" tanya Vino.
"Hmmm" jawab Hasna singkat.
"Bukannya laptop mu yang sebelumnya masih bagus? Kok ganti?" tanya Vino.
"Ada yang mencurinya, jadi aku ganti" jawab Hasna.
Vino memperhatikan ekspresi wajah Hasna yang tak berubah sejak tadi pagi.
"Ada apa? Aku merasa kau lebih dingin sejak tadi pagi" tanya Vino dengan meraih tangan Hasna dan menggenggamnya.
Hasna menatap wajahnya.
"Aku baik-baik saja" jawab Hasna.
"Tidak, kau tidak baik-baik saja. Kau berubah lebih dingin dari sebelumnya. Kau juga tiba-tiba meminta untuk menikah. Katakan padaku, apa yang membuat mu seperti ini?"
Hasna tiba-tiba mencium bibir Vino. Tindakannya membuat Vino terkejut, dia mundur sedikit dan menahan tubuh Hasna dengan memegang kedua bahunya.
"Hasna...aku" Vino menolak.
Hasna mendekat lagi dan menciumnya. Kali ini Vino diam saja, dia akhirnya menerima dan menikmatinya. Tapi kemudian dia menahan lagi tubuh Hasna dan menatap heran padanya.
Hasna hanya diam menatapnya. Vino menelan salivanya menatap bibir Hasna yang menjadi merah. Vino mengalihkan pandangannya kemudian berdiri.
"Aku mengerti, aku tidak akan tanya lagi. Aku akan keluar, tidurlah" ucap Vino.
Dia pergi dan menutup pintu kamarnya. Sementara Hasna melanjutkan pekerjaannya.
Vino tak bisa menerima begitu saja sikap Hasna yang menurutnya aneh, meskipun sekarang dia lebih dekat dengannya. Dia berpikir keras tentang apa yang membuat gadis yang disukainya menjadi seperti itu. Dia juga berpikir tentang pria yang menerornya tadi. Dia mengurutkan satu persatu kasus yang pernah ditangani Hasna secara langsung dan tidak langsung. Kemudian menduga siapa saja yang memungkinkan membalas dendam padanya.