My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
53



Fajri mengaitkan tangannya di lengan Hasna.


"Apa ini?" tanya Fajri.


Mata Hasna menatap wajah Fajri kemudian tersenyum.


"Aku dituduh" jawab Hasna.


"Apa yang kau rencanakan?" tanya Fajri.


"Aku ditangkap, tidak ada rencana apa-apa" jawab Hasna.


Beno berhenti dan berbalik, dia menatap Fajri yang tadi sangat marah padanya. Hasna berjalan lagi, Vino mengikutinya, juga menatap Fajri yang berdiri di sana.


###


Di kantor Beno.


Seorang pria, rekan kerja Beno bertugas untuk mencatat identitas Hasna.


"Nama!" ucapnya sambil mengetik.


"Hasna Maulida Fadilah" jawab Hasna.


"Pekerjaan" lanjutnya.


"Pengacara" Hasna menjawab singkat dan seperlunya.


Pria itu menatapnya saat mendengar pekerjaannya. Kemudian dia menghubungi Beno dan berbisik-bisik.


"Apa kasusnya? Dia seorang pengacara, pengacara yang terkenal itu kan?" tanya nya.


"Aku sebentar lagi datang" ucap Beno.


Pria itu menutup telponnya dengan masih penasaran dengan kasus yang dihadapi Hasna. Karena belum ada pemberitahuan sebelumnya. Sementara itu Hasna hanya menatapnya, dia juga mengangkat kedua alisnya, bertanya apalagi pertanyaan yang harus dia jawab.


Tak lama kemudian Beno datang, dia duduk di tempat pria itu tadi duduk.


"Ok, baru sampai pekerjaan. Kita akan lanjutkan sampai anda menjelaskan semua tindakan yang anda ambil" ucap Beno.


"Ok" jawab Hasna.


Beno sedikit bingung dengan sikap Hasna. Dia juga hanya diminta untuk menerima kasus yang diajukan Brian tentangnya. Dia tak meminta diringankan atau dimudahkan untuk lolos dari introgasi ini.


"Pada bukti rekaman cctv yang kami dapat dari salah satu rumah sakit yang di kunjungi Hani, ibu bayi Nara. Anda terlihat sedang bicara dengannya. Pertanyaan yang pertama, apa yang anda lakukan di rumah sakit itu?"


Beno memulai introgasinya, dia mengajukan banyak pertanyaan atas tuduhan yang sudah dilayangkan Brian dan Rusdiawan terhadap dirinya. Hasna menjawab semua pertanyaan dengan santai. Namun dalam beberapa pertanyaan yang mengenai kesengajaannya melakukan semua itu, Hasna menyangkalnya. Beno mencatat semua jawaban Hasna tanpa terkecuali.


Namun setelah belasan pertanyaan di ajukan, Brian datang dengan marah-marah dan memukul meja yang ada di hadapan Hasna.


"Apa yang kau lakukan pada bukti-bukti itu?" tanya Brian dengan wajah merah padam.


"Pak, anda tidak boleh melakukan ini..." ucap Beno melerai Brian yang menarik blazer Hasna.


"APA? Dia sudah melakukan..."


Brian tak bisa berkata-kata lagi karena kesal mengingat dengan tindakan firma hukum Armand yang sudah mengajukan kasus Bima Sebastian.


"Pak.., jika ini tentang kasus penyalahgunaan profesi Bu Hasna, serahkan semua pada kami. Kami akan menyelesaikan semuanya. Bu Hasna akan dihukum jika semua terbukti" ucap Beno.


Brian melepas blazer Hasna dan pergi meninggalkan kantor Beno. Hasna merapikan pakaiannya dan kembali duduk dengan santai menatap Beno.


Beno menghela keras, dia lega Brian pergi, tapi juga masih tegang dengan semua pertanyaan yang diajukan pada Hasna.


###


Brian datang dengan wajah kesal dan melempar semua berkas yang ada di atas meja. Vino menatapnya sebentar kemudian kembali menatap komputernya.


"Istri mu, apa yang sebenarnya dia rencanakan?" ucap Brian dengan nafas yang tersengal.


"Apalagi? Kau sudah melaporkan tindakannya yang kau tuduhkan. Kau mau apalagi darinya?" Vino kesal dengan cara Brian membicarakan Hasna.


Brian tak terima Vino menjawab dengan ketus, dia menarik kerah jas Vino dan menantangnya.


"Jika kau bicara seperti itu lagi padaku, aku tidak akan segan untuk melayangkan kepalan tanganku pada wajah mu ini" ucap Brian tepat di depan wajah Vino.


"Kau pikir aku terima jika kau membicarakan istri ku dengan nada dan cara mu itu?" jawab Vino.


"Dia sudah membuka kembali kasus Dudung dan kasus nya sudah disetujui kejagung. Penangkapan akan dilakukan pada ayah mu, persidangan akan di mulai setelah ayah mu tertangkap. Kau ini anak macam apa? Kenapa sama sekali tak membela ayah mu?" jelas Brian.


"Hahaha..., aku terpisah dengannya selama beberapa tahun, alasan kami berpisah karena dia penyebab kematian ibu ku. Jadi, tentang kasus ini, mungkin dia memang bersalah. Jangan terlalu menggebu untuk membelanya" ucap Vino.


Brian mengerutkan dahinya, sangat heran dengan reaksi Vino yang acuh. Dia melepas tangannya dan mundur.


Matanya melirik pada komputer Vino yang menunjukkan pemeriksaan atas kasus Hasna.


"Apa yang akan kamu lakukan? Kenapa memeriksa kembali kasus Hasna?" tanya Brian.


"Aku akan membebaskannya. Aku akan membela istri ku" ucap Vino.


Brian menganga tak percaya, susah payah dirinya mendapatkan bukti tentang Hasna. Tapi Vino sekarang berusaha membebaskannya.


"Aku tak sangka telah menjadikan musuh sebagai rekan kerja. Jika aku tahu kau seperti ini, aku tidak akan menerima rekomendasi Bima atas dirimu" ucap Brian.


Vino tak menghiraukannya, dia kembali duduk dan melakukan perkerjaannya.


Brian masih kesal dengan respon Vino. Dia kembali ke mejanya dan mencari hal-hal yang bisa dijadikan alibi untuk Bima.


Namun saat dia hendak menghubungi Bima, sama sekali tak ada jawaban. Vino yang mendengar suara panggilan tak dijawab dari ponsel Brian, melirik ke arahnya kemudian menyeringai.


"Jelas dia tidak akan mengangkat telpon mu, dia sudah kabur" ucap Vino.


Mata Brian membulat mendengar Bima telah melarikan diri.


"Jangan bercanda, dia tidak mungkin melarikan diri. Apa yang harus dihindari? Dia...."


Brian menghela setelah semua pemikiran bahwa Bima memang bersalah tersirat di pikirannya.


Brian keluar dari kantor dan pergi. Vino tak mempedulikannya, dia fokus pada berkas Hasna.


###


Di sela semua introgasi yang dilakukan Beno pada Hasna, Fajri datang setelah dia memeriksa barangnya yang ada di rumahnya. Fajri datang langsung memukul wajah Beno dan membuatnya terjatuh di kursi. Hasna yang terkejut, berdiri dan membantu Beno.


"Apa yang kau lakukan pada barang-barang di rumah ku? Ini cara mu menjatuhkan seseorang? Aku sudah katakan padamu untuk jangan menyentuhnya, tapi kenapa kau lakukan semua ini?"


Fajri terbakar amarah, pemikiran tentang pengkhianatan Beno membuatnya kesal.


Beno menatap Hasna setelah mendengar ucapan Fajri. Hasna menarik tangan Fajri dan menjauh dari Beno.


"Jangan halangi aku, dia bukan manusia. Teganya dia melakukan ini pada kita padahal dia tahu semua rasa sakit yang kita alami" ucap Fajri.


"Aku yang melakukannya!"


Ucapan Hasna membuat Fajri terdiam terpaku menatapnya dan Beno secara bergantian.


"Aku yang mengambil semua barang mu, bukan Beno" lanjut Hasna menjelaskan.


Fajri menutup matanya sebentar untuk memulihkan kesadarannya. Dia perlu waktu untuk mencerna apa yang dikatakan Hasna dan maksud dirinya membawa semua bukti yang dia dapat tentang dirinya.