My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
115



Beberapa hari kemudian, Hasna mencari Dania ke seluruh tempat hiburan milik Venus yang tersebar di kota. Tapi sayang, dia tak bisa menemukannya.


Di sisi lain jalan, Wira mengawasinya di dalam sebuah mobil dengan kaca hitam.


"Kami baru mendapat informasi, ternyata Pengacara Hasna yang mengambil tanggung jawab anak-anak di panti asuhan itu" ucap Zavier.


Wira diam saja menatap Hasna yang begitu lelah mencari keberadaan Dania.


"Dia menghabiskan semua tabungan dan menjual mobilnya untuk membiayai kebutuhan mereka" lanjut Zavier.


Wira masih memantau gerak-gerik Hasna.


"Ini mungkin juga alasan dia menerima pekerjaan yang ditawarkan Keanu, Pak! " ucap Zavier mengakhiri informasi yang dia sampaikan.


Wira menatap Zavier. Mendengar kata Keanu, dia jadi ingat tentang ayah Keanu, Marvin Reaves. Pria yang berjuang bersamanya di bangku kuliah untuk menggapai cita-cita mereka.


Wira menghela mengingat memori saat Marvin meminta Wira menuntaskan sekte sesat yang sudah berlangsung lama ini. Namun dia tak bisa melakukannya. Dia malah terjebak jauh lebih dalam dan tak bisa keluar begitu saja.


Tangan Wira kembali mengepal mengingat bagaimana dia harus kehilangan istri dan anaknya dalam misi rahasia itu. Sekarang dia malah menjadi ketua sekte itu kembali, setelah Bima mati.


"Apa yang harus kita lakukan Pak? " tanya Zavier.


"Tidak, tidak ada. Kau awasi saja Vino dan Fajri, sementara itu aku akan bicara dengan Hasna" ucap Wira.


Zavier mengerutkan dahinya, dia tak bisa berpikir tentang rencana Wira. Tapi dia mengangguk dan pergi untuk melakukan perintahnya.


Sementara itu Hasna kelelahan, dia duduk di halte bus sembari melihat ke seluruh sudut jalan.


Wira turun dari mobil dan berjalan mendekatinya.


Sore itu, malam hampir menguasai siang yang sudah akan berakhir. Hanya beberapa orang yang duduk menunggu bus yang akan mengantarkan mereka pulang. Wira sengaja berdiri di dekat Hasna yang tak menyadari kedatangannya.


Saat Hasna hendak beranjak meninggalkan halte bus dan melanjutkan pencariannya, Wira menghalanginnya. Mata Hasna meraba orang yang ada di hadapannya dengan menatap dari kaki hingga kepala.


"Anda? " ucap Hasna.


"Hai!" sapa Wira.


"Apa yang anda lakukan di sini? " tanya Hasna.


"Kau mencari Dania? " Wira malah balik bertanya.


Raut wajah Hasna berubah.


"Darimana anda tahu? " tanya Hasna.


"Ikutlah dengan ku, ada yang ingin aku katakan padamu" ucap Wira dengan tangan menunjuk ke arah mobilnya.


Hasna berpikir seraya menoleh ke arah mobilnya. Wira hanya tersenyum, tapi Hasna masih bertanya-tanya dengan sikap Wira yang berubah sejak terakhir mereka bertemu.


"Ayo! " ajak Wira.


"Baiklah! " ucap Hasna seraya melangkah mengikuti Wira.


Belum sampai ke mobil, Vino menghubunginya.


"Hallo!" seru Hasna.


"Sayang kau dimana? " tanya Vino.


"Aku masih mencari Dania, mungkin sebentar lagi aku pulang" jelas Hasna dengan mata menatap ke arah Wira yang membukakan pintu mobil untuknya.


"Dimana? Biar aku jemput" ucap Vino.


"Halte dekat.... "


Mata Hasna mencari gedung yang dekat dan bisa dijadikan petunjuk untuk memberitahu Vino.


"Museum Geologi" jawab Hasna.


"Baiklah, tunggu aku di halte. Dua puluh menit lagi aku kesana" pinta Vino.


"Kau begitu khawatir mencari anak itu, seistimewa apa dia bagimu? " tanya Wira sambil duduk dan merapikan posisi duduknya.


"Darimana kau tahu aku mencari Dania? Apa hubungannya dengan mu Pak?" tanya Hasna.


"Aku tahu, anak buah Venus yang menculiknya. Aku yang mendengar semua itu dari Fajri. Aku masih selalu mengawasi pekerjaannya" jelas Wira mengarang cerita.


"Dia seperti adik bagiku, aku tidak bisa membiarkannya terluka. Adik-adiknya di panti asuhan pun sedang menunggu kepulangannya" ucap Hasna.


Wira memperhatikan raut wajah Hasna yang benar-benar cemas.


"Dia akan dijadikan persembahan di pertemuan sekte itu" ucap Wira.


Ucapannya membuat Hasna terdiam dengan tatapan mata yang tak berkedip padanya.


"Apa?" Hasna cukup terkejut dengan ucapan Wira.


"Ya, dan aku tahu apa yang bisa membuat dia selamat"


Wira menatap dalam sambil memperhatikan wajah Hasna.


"Apa itu?"


"Perkumpulan itu mengincar mu Hasna, mereka harus tetap menjadikan mu sebagai korban dalam persembahan yang tak bisa Bima lakukan malam itu"


Wajah Hasna memerah, air matanya mulai menetes mendengar ucapan Wira yang diluar dugaannya. Dia merasa sesak membahas semua tentang kejadian malam itu, juga perkumpulan sesat itu.


"Semua tidak akan berakhir jika kau tidak menjadi persembahan. Mereka juga akan memburu Nabila dan lainnya"


"A... pa maksud mu? " tanya Hasna yang masih gemetar.


"Yang ku dengar itu, mereka akan tetap memburu semua wanita dan takkan menghentikan semuanya jika kau tak pernah kembali ke tempat yang seharusnya" jelas Wira.


Hasna semakin ketakutan, dia menyesal karena mau ikut dengan Wira ke mobilnya.


"Aku menyelidiki semua tentang perkumpulan itu Na, bertahun-tahun. Maaf jika aku harus mengatakan ini"


"Kau tahu semuanya tapi tidak pernah mengatakannya padaku" ucap Hasna dengan tangan memegang pintu mobil bersiap untuk kabur.


"Aku akan mengatakannya hari itu Hasna, tapi mereka mengambil langkah yang membuatku harus menyerahkan Anna, putriku untuk menggantikan posisi mu" jelas Wira.


Hasna kembali lebih terkejut lagi dia bersiap dan membuka pintu mobilnya.


"Aku tidak akan memaksa mu, aku hanya memberitahu mu. Semua itu terserah padamu Na, kaputusan mu yang bisa menentukan nasib Dania" ucap Wira sebelum Hasna keluar.


Dengan langkah lemas karena gemetar, Hasna kembali ke halte bus dan duduk perlahan.


Terngiang semua ucapan Wira yang terus mengatakan bahwa mereka semua mengincar Hasna dan takkan pernah melepaskannya.


Hasna menangisi nasibnya, dia terus bertanya-tanya mengapa ini semua terjadi pada dirinya. Kenapa dia harus menjadi persembahan mereka.


"Kenapa hanya aku? " gumam Hasna.


"Apanya yang kenapa? " tanya Vino yang sudah berdiri di sisinya.


Hasa diam, dia berdiri perlahan kemudian memeluk suaminya. Vino terkejut tapi tetap diam memeluknya.


"Ada apa? " tanya Vino khawatir.


Hasna hanya menangis dan tak menjawab pertanyaan Vino.


"Ada apa sayang? Kau membuatku khawatir" ucap Vino.


"Aku.... aku hanya sangat cemas karena tak bisa menemukan Dania" ucap Hasna menyembunyikan masalahnya.


"Huuft, dengar! Aku dan Fajri, bahkan Vania ikut melakukan pencarian. Armand juga mencari informasi dimana keberadaan Dania. Jadi kau jangan khawatir oke! " ucap Vino mencoba menenangkannya.


Hasna menghapus air matanya, dia juga mencoba tetap tenang, meskipun dia masig memikirkan semua ucapan Wira.


Vino mengajaknya pulang, Hasna tetap diam dengan semua pertanyaan di benaknya. Vino memperhatikan sikap Hasna yang menurutnya sangat terlihat ketakutan. Tapi seperti biasa, dia diam untuk memberi ruang dan waktu pada Hasna untuk menenangkan dirinya dan mau menceritakan semuanya pada saat yang dia inginkan.