
"Kau membuat Anna ku menjadi korban dari kerakusan orang-orang sialan ini! Kau membuatnya bertanggung jawab atas ketidakbecusan Bima menjadikan mu korbannya. Aku harus menyaksikan anakku sendiri menjadi santapan nafsu para biadab ini"
Wira histeris dan tak terkendali. Hasna cukup terkejut dengan semua ucapannya. Anggotanya pun menganga mendengar ketidaksetujuan Wira terhadap perkumpulan dan pengorbanan mereka.
"Kau menolak perkumpulan ini? Kau begitu menggebu mengadakan pertemuan kembali hanya untuk membalaskan dendam mu? " ucap wanita yang bersamanya tadi.
Wira menarik nafas dalam, dia sudah terlanjur mengatakan semuanya. Dia mundur dengan tangan tetap menodongkan senjata ke arah Hasna.
Sementara itu, Vino berusaha membuka pintu dengan merangkak, setelah sebelumnya memberi kode pada Keanu untuk membawa Hasna pergi dari sana.
"Kau dan kakak mu, pria sialan yang selalu merepotkan itu. Aku akan membunuh kalian berdua! " lanjut Wira.
Hasna lebih terkejut lagi mendengar ucapan Wira.
'Kakak? ' tanya hati Hasna.
Saat tangan Wira hendak menarik pelatuk senjatanya, Keanu berlari dan menyerangnya. Tembakan Wira melesat mengenai bahu Hasna dan membuatnya tumbang.
Tak ada yang bereaksi selain Vino dan Fajri. Semua anggota perkumpulan itu malah berebut ingin menghajar Wira yang tersungkur.
Keanu berdiri dan menutupi tubuh Hasna dengan jubahnya ditambah jasnya. Dia berusaha untuk membawanya keluar karena sudah tidak ada waktu lagi.
Dia berlari menerobos pintu, meninggalkan Vino, Fajri dan Hadi juga yang lainnya. Beberapa anak buah Venus yang bekerjasama dengan Vino hendak membantunya, namun mereka juga memikirkan diri merasa sendiri, tak mau mati dalam ledakan di dalam aula itu.
Belum sempat sampai ke luar, ledakan sudah terjadi. Tubuh Keanu terpental bersama Hasna yang digendongnya.
***
Armand membaca semua pesan yang Venus kirim. Matanya membelalak mengetahui Hasna adalah adik kandung dari Venus.
Dia berusaha mencari tahu apa yang terjadu. Tapi tak ada satupun orang yang menjawab telponnya.
Tak berapa lama, telpon rumahnya berdering. Bianca datang dari kamar dan mengangkatnya. Armand keluar dari ruang kerjanya dan menatap Bianca yang masih mendengarkan.
"Apa? " seru Bianca dengan terkejutnya.
Armand langsung mendekat dan menepuk bahunya. Bianca menoleh dan menatapnya sambil melepaskan telpon dari tangannya.
"Ada apa? " tanya Armand.
Bianca meneteskan air matanya.
"Hasna.... " Bianca terbata.
"Ada apa dengan Hasna? " Armand panik.
"Dia di rumah sakit" lanjut Bianca.
Armand terdiam sejenak, mengingat pesan Venus padanya untuk menjadi walinya.
"Sayang...! " Bianca menguncang tubuhnya.
Armand menatap Bianca.
"Jaga anak-anak" ucap Armand.
Bianca terpaku melihat suaminya pergi.
***
Rumah sakit.
Seorang suster berlari dari ruang tindakan di unit gawat darurat.
"Dokter, pasien wanita yang baru saja datang mengalami kejang! " seru suster.
Dokter yang memang sebelumnya sudah memeriksanya, terdiam dan menatap telpon yang sedang dia pegang.
Suara seseorang terdengar di sana, Dokter itu kembali mendengarkan sejenak.
"Ya, baik Pak! " ucap Dokter itu kemudian menutup telponnya.
Dokter itu langsung bergegas menuju ruang tindakan.
Hasna kejang, selang di hidung dan infus nya pun berantakan. Dua orang perawat sudah memeganginya, tapi dia tetap kejang.
Dokter datang dan menyuntikkan penenang. Hasna mulai tenang dan kemudian tidur kembali.
"Dokter, dia... " seorang perawat hendak protes dengan apa yang dilakukan Dokternya, menyuntikkan penenang dosis tinggi tanpa persetujuan keluarganya.
"Tidak apa-apa, kakaknya sudah menghubungi ku" sela Dokter itu.
Dia menatap Hasna yang wajahnya penuh garis luka bekas serpihan kaca yang mengenainya saat ledakan itu terjadi.
"Revan! " seru Armand yang baru datang
"Kau datang sebagai walinya? " tanya Revan yang sudah diberi tahu tentang kedatangannya.
"Darimana kau tahu? " tanya Armand.
"Dia menelpon dari penjara" ucap Revan.
Armand terdiam, dia menatap Hasna.
"Apa yang terjadi padanya? " tanya Armand.
"Hotel milik Venus meledak, dia ditemukan berada di sana dalam pelukan Keanu" jelas Revan.
"Keanu? "
"Ya, dia ada di sana. Tidak ada luka berat selain luka tembak di bahunya" ucap Revan seraya menatap Hasna.
"Luka tembak? "
"Ya, meskipun cukup dalam, Hasna masih beruntung karena tembakannya meleset" jelas Revan lagi.
"Lalu apa yang terjadi tadi, aku lihat kau berlari kemari" tanya Armand.
"Dia kejang, dia menangis histeris memanggil nama Vino dan Fajri. Siapa mereka? " tanya Revan.
"Vino suaminya, Fajri kakaknya, maksudku, kakak angkatnya" jelas Armand.
"Mungkin mereka terjebak di dalam ledakan itu, Hasna begitu histeris seolah tak bisa menerima keadaan ini" jelas Revan lagi.
"Apa?" Armand terkejut.
Dia tidak mengetahui apa yang sudah dilakukan mereka di hotel yang sama. Apa yang terjadi dan apa yang sudah mereka perbuat.
"Ya, banyak korban. Lebih dari lima puluh orang ditemukan meninggal di tempat. Dan maaf jasad mereka semua berantakan. Bagian inafis pasti kesulitan melakukan kecocokan dengan orang-orang dilaporkan sedang berada di sana" Revan menjelaskan dengan detil.
"Ok, terimakasih Van. Makasih juga sudah menangani Hasna dengan baik. Aku akan melihat Keanu dulu" pamit Armand.
"Baiklah, sama-sama" Revan pergi.
Armand masuk ke ruang sebelah Hasna, tempat Keanu terbaring tak berdaya.
"Apa yang kalian semua lakukan di sana? Kenapa semua jadi begini? " gumam Armand dengan semua pertanyaannya.
Tak berapa lama, Bianca menelpon dan Armand langsung keluar untuk menjawabnya.
"Ya, aku sudah di rumah sakit" jawab Armand sebelum Bianca bicara.
"Sayang, ada orang di rumah" ucap Bianca pelan.
Armand terdiam, berpikir nada suara Bianca yang terdengar cemas.
"Siapa? " tanya Armand.
"Aku tidak tahu, mereka ingin bicara padamu" ucap Bianca terbata.
Seseorang merebut telpon dari Bianca.
"Pergi dari sana, jangan berpihak pada Hasna, atau aku akan melukai keluarga mu" ucap pria itu.
"Ya, aku akan melakukan apa yang kau inginkan. Aku akan pergi dari sini, jadi kau pergi juga dari sana" ucap Armand dengan perasaan cemas pada keluarganya.
Pria itu menutup telponnya, Armand menatap ponselnya sendiri dengan perasaan yang kacau.
Revan tertegun menatap Armand yang dilanda dilema.
"Kau akan meninggalkannya? "
Armand terkejut dengan kehadiran Revan.
"Kau sendiri mendengar keluarga ku jadi taruhannya. Mereka pasti anak buah.... "
Armand terdiam, dia hendak mengatakan bahwa mereka adalah anak buah Wira. Tapi dia berhenti karena merasa Revan tidak perlu tahu lebih dalam apa yang terjadi.
"Para penguasa itu masih suka menekan orang-orang seperti kalian?" ucap Revan sembari menyeringai.
"Kau terlahir kaya karena mulai dari kakek buyut mu adalah seorang dokter. Sedangkan aku, aku harus berjuang dari nol untuk meraih semuanya. Aku tidak mau semuanya berakhir apalagi aku harus kehilangan anak dan istriku. Meskipun Hasna punya andil besar dalam kesuksesan ku, tapi aku tidak bisa mempertaruhkan keluarga ku"
Armand menghela keras setelah menjelaskan semua alasannya.
"Tapi bagaimana jika Venus.... "
"Aku tidak peduli! "
Armand pergi meninggalkan Revan, Hasna dan Keanu di rumah sakit.