
Fajri berjalan keluar menuju mobilnya, dia berhenti sejenak saat melihat Vino yang keluar dari gedung dan hendak masuk ke mobil tahanan.
Vino menatapnya saat hendak masuk mobil. Petugas ikut melihatnya kemudian mendorong Vino untuk cepat-cepat.
Fajri menghela, dia ingat saat Vino sangat terlihat tak kuasa mendengar semua kesaksian Hasna sebagai korban dari ayahnya. Fajri juga jadi ingat sesuatu, dia melihat seorang pria yang selalu ada si setiap persidangan Hasna maupun Bima.
"Tunggu! Aku tidak melihatnya di persidangan Dudung" gumam Fajri.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
"Pak pengintaian para begal itu sudah selesai, kmi mendapatkan bukti" ucap anak buahnya.
"Ok, aku kesana" ucap Fajri.
Mobil tahanan Vino melewatinya, Vino memperhatikan Fajri. Matanya menatap ke bawah, dia ingat saat mendengar kabar dari beberapa petugas bahwa Fajri berusaha untuk menemuinya setelah kejadian pertengkaran nya.
~Aku ingin sekali kau datang lagi dan membicarakan tentang Hasna. Aku bahkan tak bisa bicara dengannya hari ini. Padahal aku sangat merindukannya~ ucap hati Vino.
Petugas rutan memperhatikan gerak raut wajahnya.
"Kau melihat istri mu tapi tak bisa menemuinya" ucap petugas itu.
Vino menoleh menatapnya.
"Tenang, sebentar lagi dia akan keluar karena kasusnya tidak terbukti bersalah. Dia akan segera menemui mu, kecuali dia bukan istri yang baik... "
Belum selesai petugas itu bicara, Vino sudah menghajarnya dengan kedua tangan menyatu dalam sebuah kepalan.
Supir memberhentikan laju kendaraan dan melihat keadaan petugas itu. Dia menganga menatapnya yang terkapar, habis babak belur dihajar Vino yang duduk santai menginjak punggungnya.
"Kau.... "
Supir itu tak bisa berkata-kata lagi, dia menggelengkan kepalanya.
Sampai di rutan, supir itu meminta beberapa orang membantu petugas yang babak belur itu. Beberapa petugas kembali menghukum Vino, dia dipukuli dan di kurung lagi di ruang gelap untuk beberapa hari ke depan.
***
Hasna kembali ke ruang selnya, Dewi dan Nunik menatapnya. Mereka diam karena tadi sudah mendapat kabar bahwa Hasna menjadi saksi sebuah kasus dimana dirinya adalah korban.
Mata Dewi menatap seluruh tubuh Hasna dan glek.. dia menelan salivanya saat dia menatap paha Hasna.
Tak bisa dibayangkan bagaimana bisa dia menahan rasa sakit, takut dan amarah yang bercampur aduk sejak remaja.
Hasna menatap mereka yang masih diam. Dewi dan Nunik kembali mengalihkan pandangan. Hasna duduk dan diam tanpa memperdulikan mereka.
Tak lama kemudian, Wulan yang baru saja mendapat kunjungan, datang dan duduk sambil menangis.
"Ada apa Wulan? Siapa yang mengunjungi mu? " tanya Dewi.
Wulan menatapnya, tapi dia menunduk lagi, tak menjawabnya.
"Ish, anak ini kalau ditanya itu jawab" ucap Dewi sambil hendak memukul kepalanya.
Tapi tangannya dihadang Hasna yang sejak tadi mulai mendekati mereka.
"Biasakan tanpa memukul kepala" ucap Hasna datar tanpa ekspresi.
Glek...., Dewi menelan salivanya lagi mentap wajah Hasna.
"Dia sedang tidak ingin diganggu, kembali lah ke tempat mu" ucap Hasna dengan gerak kepala yang menunjukkan tempat Nunik berada.
"Kau memerintah ku? Ah, berani beraninya kamu melakukan itu? Jangan hanya karena..... "
Dewi tak meneruskan ucapannya.
"Karena aku pengacara? Ya, sebentar lagi aku bebas dan aku akan memperjuangkan kasus para wanita yang benar-benar dalam keadaan tidak bersalah. Kau mau aku bela? " tanya Hasna.
Mata Dewi membulat, Wulan pun langsung mengangkat wajahnya dan menatap dengan harap padanya.
Nunik berdiri dari tempat duduknya. Dia mendekat dan memegang tangan Hasna.
"Tolong bantu aku! " ucap Nunik penuh harap.
Dewi menatapnya dengan heran, begitupun Hasna dan Wulan.
"Maksud ku, bantu aku memperjuangkan anak ku. Dia dirawat oleh pria yang akan menjadikannya sesuatu yang tidak semua ibu inginkan" jelas Nunik.
~Ujungnya dia juga yang meminta bantuan Hasna~ ucap hati Dewi kesal dengan sikap Nunik.
Hasna duduk, dia mendengarkan cerita Nunik dengan lengkap. Dewi dan Wulan pun tak pelak terkejut dengan masalah yang dihadapi Nunik.
"Aku menjadi pel@cur karena suami ku yang menjual ku. Dia yang mengambil semua keuntungan dari pekerjaan ku. Tapi dia tak mau membela ku saat aku tak sengaja membun#h pelanggan ku"
Wulan diam menatap Nunik sementara Dewi mendelik merasa bosan mendengar ceritanya.
"Anak ku, perempuan, masih berumur 15 tahun, dia mengatakan akan memanfaatkannya untuk mencari uang yang banyak" Nunik meraih tangan Hasna.
"Ayahnya akan menjadikannya pel@cur? " seru Wulan yang terbawa suasana dari cerita Nunik.
Semua mata tertuju padanya, glek... Wulan menelan salivanya.
"Lebih buruk lagi, dia akan menjadikannya aktris p@rno" ucap Nunik dengan suara yang lemah.
Semua orang tercengang, Dewi pun tak menyangka tentang niat suami Nunik.
"Bayu nggak mungkin punya pikiran ke sana" ucap Dewi.
Nunik menatapnya heran.
"Darimana kamu tahu suami ku bernama Bayu? " tanya Nunik.
Glek... Dewi mengalihkan pandangannya.
"Mba Dewi pacar suami Mba Nunik sebelum masuk penj@ra" ucap Wulan polos.
Mata Dewi membelalak, nyaris lepas dari tempatnya, menatap Wulan yang menunduk merasa sudah salah bicara.
Hasna hanya diam memperhatikan Nunik yang memejamkan matanya dan mengambil nafas dalam.
"Aku tidak peduli, sekarang yang aku pedulikan hanya Nina, anakku" ucap Nunik seraya membuka matanya menatap Dewi.
"Aku tidak bisa melakukan apapun" jawab Hasna.
Nunik melepas tangannya dari tangan Hasna.
"Kenapa? " tanya Nunik putus asa.
"Kecuali kau memberikan kuasa padaku untuk mengurusi segala kebutuhan anak mu. Kau tahu akan sulit jika mengambil hak asuh dari ayah kandung, terlebih jika aku sulit membuktikan bahwa suami mu bukan orang yang baik" jelas Hasna.
Nunik menghela dengan kerasnya.
"Aku kira kau tidak mau melakukannya"
Dia meraih tangan Hasna lagi.
"Jangankan surat kuasa, aku akan memberikan seluruh sisa warisan orang tuaku untuk mu, asalkan kau mau membebaskan anakku dari pria sint/ng itu" ucap Nunik berjanji.
"Warisan apanya, hanya sebuah rumah yang layak disebut gubuk" ucap Dewi menghina.
Wulan membuat wajah jelek saat menatap Dewi.
"Rumah mu juga jelek, jangan saling menjatuhkan" ucap Hasna.
Wulan tertawa mendengar ucapan Hasna. Dewi memukul kepalanya sehingga dia meringis kesakitan sambil menggosok kepalanya.
"Berhenti memukul kepala orang lain, kau mau ku suruh mereka melakukan hal yang sama padamu! " Hasna kesal dengan tingkah sok berkuasa Dewi.
"Kepala ku bisa lepas jika semua orang melakukannya pada ku" Dewi mengeluh.
"Dia selalu melakukannya padaku" keluh Wulan sedikit merengek.
"Kau juga harus bisa menjaga mulut mu, jangan selalu merasa polos membicarakan apa yang tidak seharusnya dibicarakan" Hasna menjadi marah pada Wulan.
Wulan menunduk, Nunik kembali meraih tangan Hasna.
"Terimakasih karena kau masih baik padaku walaupun aku selalu menjahili mu"
"Aku belum melakukan apapun" ucap Hasna seraya melepaskannya.
"Pokoknya terimakasih! " ucap Nunik sambil membungkuk pada Hasna.
Tapi mata Hasna terus menatap Wulan yang tadi menangis dan sekarang menjadi tertawa ikut senang saat melihat Nunik juga senang.