
Beno datang ke rumah sakit. Saat itu Fajri sedang pergi ke rumah Hasna untuk mengambil beberapa pakaian ganti untuknya. Vania yang menemani Hasna yang sejak tadi tak berani mengucapkan sepatah kata pun saat menemaninya, merasa lega melihat Beno datang.
"Hai, akhirnya ada yang datang juga" seru Vania lega.
"Hai!" jawab Beno.
Meski heran, tapi itulah Vania. Beno sudah mulai terbiasa dengan sikap dan tingkahnya. Beno duduk di kursi yang dia dekatkan dengan ranjang Hasna.
"Semua bukti sudah menunjukkan bahwa kau bersalah dan status mu berubah menjadi tersangka. Tapi penangkapan mu ditangguhkan karena kondisi mu" jelas Beno.
Hasna hanya menunduk. Beno memperhatikannya.
"Vino juga akan segera diadili. Dia menolak bantuan yang ditawarkan Pak Armand. Aku rasa hukumannya akan sesuai dengan pasal yang terkait"
Beno terus bicara sambil memperhatikan lengan Hasna yang masih diperban dan terlihat bengkak hingga ke jari nya. Sementara Hasna masih diam.
"Itu bengkak seperti itu apa tidak apa-apa, bukan infeksi kan?"
Kali ini wajah Beno menoleh pada Vania yang berdiri di belakangnya. Vania mendekat.
"Bukan, mungkin karena tak bergerak, jadi bengkak" jawab Vania pelan.
Beno dan Vania saling menatap kemudian melihat wajah Hasna. Mereka merasa tak mendapat respon dari Hasna meski panjang lebar bicara. Mereka memutuskan keluar dari ruangan itu.
"Sejak siuman dia seperti itu. Aku khawatir, tapi pak Fajri bersikap seperti hal ini sudah biasa terjadi. Dia juga berusaha banyak bicara seperti mu" jelas Vania tanpa diminta.
Beno duduk, Vania ikut duduk.
"Oh ya, apa yang sebenarnya terjadi? Dia seperti gagal dan menyesali sesuatu yang sangat besar" tanya Vania yang masih penasaran.
Beno menatap Vania. Dia ingat dengan pengakuan Hasna pada Fajri saat di kantor. Dia juga merasa terkejut dengan semua itu. Dendam Hasna sangat besar, mungkin di merasa hukuman bagi Bima terlalu singkat.
Vania menunggu jawaban dari Beno, namun dia mengerti bahwa Beno juga tak bisa menjawabnya.
"Aku rasa ini adalah pertanyaan paling sulit dijawab dalam beberapa hari ini" ucap Vania menyerah.
"Pengacara Hasna, sudah banyak hal yang terjadi saat berusaha membuktikan kejahatan Bima, dia kehilangan ayah angkatnya yang juga ayah Fajri, dia juga harus menghadapi kenyataan bahwa orang jahat itu adalah ayah dari pria yang jadi suaminya. Jika kau jadi dia, apa yang kau pikirkan?"
Mata Vania membulat mendengar pertanyaan Beno. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri seolah mencari jawaban untuk pertanyaannya.
"Aku? Dilema. Pasti semua menjadi dilema, terlebih sekarang dia dan suaminya sedang dihadapkan pada hukuman atas apa yang dituduhkan. Kalau aku jadi dia, aku tidak akan diam seperti itu.... "
Belum selesai bicara, Beno sudah menyela ucapannya.
"Ya, aku sudah bisa bayangkan apa yang terjadi" ucapnya sambil sedikit menertawakan.
Vania menatap sinis dengan kesalnya. Dia hendak memukul lengan Beno namun tak jadi karena melihat Fajri datang keluar dari lift.
Vania berdiri, Beno juga ikut berdiri. Mereka berdua seolah sedang siap melaporkan sesuatu pada Fajri. Namun Fajri berlalu begitu saja dan langsung masuk ke ruangan Hasna.
Beno menunduk, tindakannya pada Fajri masih terekam jelas di ingatannya. Dia takkan pernah lupa. Hal itu juga yang mungkin membuat Fajri kini bersikap dingin padanya.
"Hufff! Dia semakin dingin sekarang. Padahal kemarin dia terlihat sangat putus asa dan seolah nyaman dalam pelukan ku. Kini perhatiannya hanya tertuju pada pengacara Hasna" rengek Vania.
Beno melirik pada Vania.
"Aku kan sudah bilang, jika hal itu tentang pengacara Hasna, maka menyerahlah!" ucap Beno.
Vania mendecak, semakin kesal dengan semua ucapan Beno.
"Aku pergi! " ucap Beno sambil berlalu menuju lift.
"Pergi saja, lagipula siapa yang mengharapkan kedatangan mu? " gumam Vania.
"Aku mendengar semuanya! " seru Beno sebelum pintu lift terbuka.
Vania menggigit lidahnya kemudian berbalik dan pergi menyusul Fajri.
**
"Kenapa harus menolak bantuan ku? Lagi pula hanya meringankan masa tahanannya saja. Setidaknya masa tahanan mu bisa sama atau lebih cepat dari Hasna" ucap Armand.
Vino menoleh dan menatap Armand.
"Hasna ditahan? " tanya Vino khawatir.
"Ya jelas di tahan, dia sudah terbukti membeli obat mengeropos beton. Rekaman sudah diperjelas" jawab Armand sedikit kecewa.
Vino menghela dengan keras.
"Bantu dia, alasan di melakukan semua itu adalah karena tindakan ayah ku. Dia merasa dendam karena merasa sangat terluka" Vino memohon.
"Itulah mengapa ada hukum, untuk mengendalikan seseorang dari pemikiran untuk membalas dendam. Jika alasan dendam kamu dibebaskan, untuk apa ada hukum? "
Kini giliran Armand yang menghela keras.
"Bantu dia, apapun harus kau lakukan untuk membantunya. Jangan biarkan dia kembali merasa terpuruk dengan harus masuk ke sel tahanan" Vino semakin memohon.
"Jika hanya menghasut atau menekan pelaku untuk berbuat jahat, akulah yang pertama menjadi garda terdepan membelanya. Tapi ini, dia sudah menyebabkan bencana besar untuk puluhan orang. Semua bukti sudah jelas dan dia sendiri yang menyerahkannya. Aku rasa, keinginan mu hanya akan menjadi asa saja" jelas Armand.
"Lalu bagaimana? Hasna tidak boleh dipenjara" Vino merasa putus asa.
"Hanya keajaiban yang bisa membuatnya lolos dari hukum yang satu ini" ucap Armand.
Mereka berdua terdiam sambil memikirkan nasib Hasna.
**
Beno yang sedang mengumpulkan semua bukti yang sudah ada, dikejutkan dengan kedatangan ketua pimpinan petugas. Jabatannya lebih tinggi dari pak Rahmat, atasannya.
"Selamat pagi Pak! " seru Beno dengan memberikan hormat.
"Pagi! " jawab pria bertubuh besar dan gagah itu dengan santai.
"Ada yang bisa kami bantu Pak?" tanya Beno.
Tak biasanya dia datang kemari.
"Rahmat ada di kantor?" tanya Pak Wira.
"Ada Pak! Mari, saya bantu menunjukkan ruangannya" Beno mempersilahkan.
Pak Wira berjalan beriringan dengan Beno yang terlihat canggung.
Semua mata memandang gagahnya Pak Wira, mereka juga terheran dengan kedatangannya yang terbilang mendadak.
Beno mengetuk pintu, mereka masuk setelah Pak Rahmat menjawab dan mempersilahkan masuk.
Mata Pak Rahmat membulat melihat Pak Wira.
"Anda? "
"Hai! " jawab Pak Wira santai.
Dia juga langsung duduk di sofa tanpa dipersilahkan. Pak Rahmat menatap Beno yang terlihat kikuk dengan situasi ini.
"Ada masalah besar apa, yang membuat Anda datang langsung kemari? " tanya Pak Rahmat.
"Saya permisi Pak! " ucap Beno pamit sebelum pembicaraan mereka dimulai.
"Kamu di sini saja, aku ingin kamu juga mendengarkan" ucap Pak Wira.
Pak Rahmat menatap Beno kemudian beralih pada Pak Wira.
"Ada apa ini? " tanya Pak Rahmat.
Pak Wira melipat tangan di dada dan menyandarkan tubuny ke sofa. Pak Rahmat mendekat dan meminta Beno ikut duduk. Mereka bertiga saling berhadapan hendak membahas apa yang akan Pak Wira utarakan.