
Fajri menatap pusara berbahan kayu ayahnya yang baru terpasang. Dia menaburkan berbagai jenis bunga yang sudah dipersiapkan dalam satu wadah, di atas gundukan tanah yang mengubur tubuh orang yang sangat dia sayangi itu. Fajri tak bisa menahan semua air mata yang bergejolak di matanya, ingin keluar dengan segera. Meski entah telah berapa banyak sudah tertumpah sejak kemarin. Dia menangis, terduduk lemas dengan kepala bersandar di papan nama terakhir ayahnya.
Beno mencoba memberikan dukungan moril dengan mengusap punggungnya. Tak terbayangkan bagaimana rasa sakit yang dirasakan Fajri. Dia kehilangan orang yang telah selalu menguatkannya.
Semua orang pergi saat Fajri masih meratapi kehilangannya. Pagi itu terasa kelam, meski mentari menyinari kening Fajri yang mengerut saat dia bangkit dari tanah kuburan itu. Beno mengikutinya, tapi Fajri berisyarat agar dia tak mengikutinya untuk sementara waktu. Beno pun hanya bisa menatapnya yang berlalu dengan langkah yang berat.
###
Banyak luka lecet di kaki dan wajah Hasna, tabrakan yang terlihat pelan itu ternyata membuat banyak luka di tubuhnya. Seorang suster membantunya merawat luka yang ada di wajahnya yang tanpa ekspresi, namun matanya terus menerus berair.
"Nona, jika terus menangis, luka anda takkan cepat kering dan mengakibatkan infeksi. Bekas lukanya akan sulit hilang, ini di wajah loh!" ucap suster yang kesulitan mengoleskan salep luka karena air matanya.
Dia tak merespon, suster menghela, dia keluar setelah kehabisan tisu yang dia bawa dari ruang suster. Dia tersenyum pada Fajri yang menatapnya dari ambang pintu.
Fajri mengeluarkan sapu tangannya dan menyapu pipinya yang luka dengan lembut. Fajri menatap tangan dan lengan Hasna yang sudah terbayang olehnya telah terseret tubuhnya sendiri di aspal.
"Ayah sudah dikubur, dia sudah tak perlu lagi mengawasi ku yang selalu malas dan tak bersemangat. Dia juga takkan memarahi mu lagi untuk sekedar membela ku karena semua keluhan mu" ucap Fajri.
Fajri menangis menatap Hasna yang keadaannya sama seperti pertama kali dia mengenalnya. Diam tanpa kata, menangis tak bersuara. Menatap tanpa nyawa. Sesekali dia mengusap air matanya sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan tanpa ayah dan dirimu? Aku bisa apa jika kau terus begini?" Fajri duduk mengeluh di sisi Hasna.
Masih tak ada respon, Hasna seperti mayat hidup hingga dua hari berbaring di ranjang rumah sakit. Vino datang pun semakin membuatnya diam membisu. Hingga datang Nabila menjenguknya.
"Kakak, aku minta maaf" ucap Nabila.
Mata Hasna bergerak mendengar suaranya. Dia menatap gadis yang beberapa minggu lalu kritis di ruang ICU karena kelalaian petugas yang tak menjaganya.
"Dia datang setelah kakak menanyaiku, sebelum polisi datang mencatat semua kesaksian ku. Dia bilang jika dia mengatakan dialah pelakunya, dia akan membunuh kak Wisnu. Aku takut kak, aku tak punya siapa-siapa lagi selain kak Wisnu. Aku minta maaf kak!" ucap Nabila dengan bercucuran air mata.
Hasna ingat, Nabila mengatakan hal lain dengan apa yang dia katakan padanya, pada Fajri dan Beno. Kecewa, kesal dan pasti marah. Namun saat dia kesana saat itu Nabila tak henti menangis di pelukan kakaknya.
Nabila keluar dari kamar rawat Hasna karena tak ada respon darinya.
###
Hasil tes menunjukkan bahwa ****** Dudung yang terdapat di pakaian Nabila. Dudung mengakui di hadapan Fajri dan Beno bahwa dia khilaf karena sudah lama tak bergumul dengan istrinya yang sakit-sakitan.
Fajri juga mengidentifikasi bahwa Dudung yang melakukan percobaan pembunuhan pada Hasna di rumah sakit. Kasus Nabila sudah lengkap dan diajukan kejaksaan agung.
Hasna menghadiri sidang pertama yang mendatangkan pelaku dan korban juga mendengarkan tuntutan jaksa penuntut dan lainnya. Hasna menatap Dudung dengan matanya yang kian membulat saat dia ingat bahwa Dudung yang mengebut dengan tatapan tajam pada ayah angkatnya Agung.
Pandangannya beralih pada Bima yang menyeringai menatap Dudung dengan melipat tangannya di dada.
~Kecelakaan ayah di sengaja!~ ucap hati Hasna yakin.
Tangannya gemetar, dia mencoba berdiri dan hendak mengatakan kesengajaan Dudung menabrak ayahnya. Tapi lutut Hasna lemah dan diapun ambruk di tengah persidangan.
Dokter datang, Hasna diperiksa.
"Dia lemah, malnutrisi. Kau harus membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan cairan nutrisi" ucap Dokter.
Fajri yang baru datang dengan berlari setelah tahu Hasna pingsan, langsung menepis tangan Vino yang memegang tangannya.
"Terima kasih sudah membawanya kemari, sisanya biar aku yang urus" ucap Fajri sambil menggendongnya.
Vino berdiri hendak menghalangi.
"Ayahku tidak bersalah, semua sudah terbukti dan pelakunya pun sudah ditangkap. Kenapa kamu masih menyalahkan dan menjauhkan aku darinya"
Ucapan Vino menghentikan langkah Fajri.
"Terserah!" jawab Fajri.
Dia melanjutkan langkahnya dan membawa Hasna ke mobil yang dibawa Beno. Hasna dirawat lagi.
Bima menatap wajah anaknya yang terlihat sangat sedih melihat Fajri membawanya. Kemudian Bima menelpon seseorang.
"Cari tahu dimana rumah gadis itu, curi semua dokumen dan barang penting miliknya. Bawa padaku!" ucap Bima.
Vino keluar dari ruang kesehatan itu dan menatap ayahnya. Dia memaksakan diri tersenyum dan berjalan beriringan dengan ayahnya.
Mereka pulang, Vino pamit pulang ke apartemen, dia melangkah lemas dan tak bersemangat seperti sebelumnya. Bima sangat sedih melihat anaknya yang diputuskan kekasihnya.
Tiba-tiba ponsel Bima berdering.
"Saya sudah dapat Pak!" ucap pria di ujung telpon itu.
Bima meluncur ke rumahnya. Sesampainya di sana paket dalam kotak kertas itu ditaruh di meja ruang tamu oleh penjaga. Bima langsung membukanya dan memeriksa satu persatu barang yang ada.
Lama membongkar, Bima menatap foto gadis berusia sekitar empat belas tahun. Matanya membulat, dia menutup mulutnya dengan satu tangan lainnya. Bima menghela keras, dia menyandarkan tubuhnya di sofa.
~Bukankah dia sudah mati?~ ucap hati Bima.
Dia menatap lagi foto itu, membandingkannya dengan foto yang bersama Agung dan Fajri setelah dia lulus menjadi pengacara.
Bima semakin terkejut, gadis itu Hasna. Gadis yang jadi korbannya saat istrinya memergokinya. Bima mengira gadis itu ikut bunuh diri setelah ayahnya gantung diri. Karena Dudung memberitahunya seperti itu.
"Si Dudung ini nggak beres kerjaannya. Dulu aku nanya Hasna udah mati apa belum dia bilang sudah. Sekarang disuruh buang Nabila malah polos gitu aja. Pengen aja duit dapet banyak, kerjaannya nggak becus" Bima kesal dan melempar semua barang.
Dia menemukan sebuah flashdisk. Bima menatapnya dalam, dia pikir isinya hanya berkas kasus yang dia sudah tangani. Teringat dengan ucapan Jefri yang memujinya. Namun dia penasaran dengan isinya. Bima membawa laptopnya dan melihat isi flashdisk itu.