My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
76



Hasna datang ke rutan sesuai dengan jadwal berkunjung. Dia mendaftar dan menyebutkan siapa yang hendak dia temui.


Para penjaga saling menatap dan memperhatikan penampilan Hasna yang casual dengan rambut yang terikat ekor kuda. Mereka saling berbisik dan salah satu pergi dengan tergesa.


Hasna duduk di ruang tunggu. Dia tetap fokus pada ponselnya yang terus berdatangan info tentang Bayu dan Nina yang hari ini kembali ke hotel M untuk casting.


[Bisa kau ikuti sebentar kemana mereka pergi? Foto dan berikan padaku info lainnya. Aku akan datang setelah urusan ini selesai]


[Baik Bos! ]


Hasna menyimpan ponsenya di saku dalam blazernya. Dia menatap ke sekeliling dan mendapati dirinya sedang jadi pusat perhatian para penjaga di sana.


"Kenapa mereka menatap ku seperti itu? " tanya Hasna heran.


Tak lama kemudian dia dipanggil.


"Yang ingin bertemu pak Vino! " Seru mereka.


Beberapa orang yang ingin menjenguk sebelum dia pun mengerutkan dahinya karena merasa di dahulukan. Hasna berdiri dan sedikit menurunkan tubuhnya berjalan melewati mereka.


Sampai di ruang jenguk, belum ada siapapun. Dia menunggu sambil merapikan kotak makan yang dia bawa.


Gerak tangan Hasna berhenti saat dia mendengar suara langkah sepatu datang mendekat. Matanya menatap ke arah datangnya suara itu.


Vino datang dengan gagahnya, pakaian rapi dan rambut yang di sisir. Mata Hasna tak berkedip menatapnya. Tapi kemudian...


"Bhuuaahaha....! " Hasna tertawa lepas dan sangat merasa tak bisa menahannya.


Vino merasa kesal dengan responnya.


"Hei, kau menertawakan penampilan ku?" ucap Vino.


"Tidakk....., astaga, maafkan aku! " ucap Hasna tetap tertawa.


Vino memencet hidungnya, tak lama kemudian Hasna berhenti tertawa. Mereka saling berpandangan.


Hasna melepaskan tangan Vino dari hidungnya. Kemudian mengalihkan pandangannya, karena terlalu salah tingkah.


"Kau manis sekali dengan minyak rambut seperti itu, seperti anak TK jaman dulu. Kau tahu! " kelakar Hasna.


Vino mengangguk, dia hanya memperhatikan wajah Hasna yang ceria dan manis.


"Setelah bercerai kau semakin cantik dan bahagia" ucap Vino.


Hasna terdiam merasa di sindir olehnya. Tapi dia tak mau momen itu menjadi canggung.


"Hooh, benar. Maya, Bianca mendesak agar aku membatalkan gugatan ku, mereka tidak tahu, cinta tidak harus terikat dalam sebuah pernikahan" jawab Hasna sambil menyiapkan makanan untuknya.


"Kau masih mencintai ku? " tanya Vino.


Hasna memberikan makanan ke hadapan Vino.


"Tentu saja! " jawab Hasna singkat.


"Coba aku test! "


Vino berdiri dan duduk di samping Hasna dengan wajah yang mulai mendekati wajahnya. Hasna mundur perlahan dan hampir tak bisa menyeimbangkan posisi duduknya. Tapi Vino meraih pinggangnya dan membuat tubuh mereka saling menempel.


Hasna mengacak-acak rambut Vino, untuk mengalihkan perhatiannya.


"Kamu jelek kalau rambutnya seperti tadi, lebih bagus mengembang dan sedikit acak begini" ucap Hasna.


Vino masih merangkul pinggangnya, Hasna kembali salah tingkal karena Vino diam saja.


"Kau masih mencintai ku, tapi melepaskan ku. Apa kau mau membuktikan kalau kau baik dan ingin melindungi ku dengan melepaskan ku? " ucap Vino.


Hasna melepaskan pelukan Vino dan duduk dengan tegak.


"Aku kesini mau makan siang bersama, bukan untuk membahas semua itu, bisakah kita makan sekarang? " Hasna tak menatapnya.


"Tidak, aku tidak mau makan" ucap Vino juga mengalihkan pandangannya.


Hasna berdiri dan meraih blazernya.


"Kalau begitu aku pergi, buang saja semua makanannya" Hasn menunjuk ke meja.


Vino ikut berdiri dan meraih tangan Hasna dan menariknya. Hasna bertahan, dia masih sulit untuk Vino tarik ke arahnya.


"Maafkan aku! " ucap Vino.


Hasna menoleh, dia tak menyangka Vino akan mengatakan hal itu. Hasna melemah dan diapun mendekat ke pelukan Vino.


"Maafkan aku! " bisik Vino lagi.


Hasna meneteskan air mata.


Vino membelai rambut Hasna, pelukannya semakin erat saat dia mengingat ucapan Fajri yang berkunjung padanya dan mengatakan alasan Hasna melepaskannya.


{Dia tidak mau kau terus terluka karena tetap bersamanya. Jadi dia melukai mu agar kau membencinya dan tak lagi membelanya. Dia ingin kau bangkit dari keterpurukan karena rasa marah mu terhadapnya. Kau mengerti kan?}


"Minyak rambut mu bau, aku tidak suka! " ucap Hasna.


Vino tertawa, dia melepas pelukan nya dan sengaja menyundulkan kepalanya ke perut Hasna.


"Berhenti, kau membuat baju ku ikut bau! " seru Hasna.


Mereka bercanda tawa hingga beberapa jam, Hasna baru menyadari dan bertanya.


"Aku terlalu lama di sini, kenapa tidak ada yang datang dan memperingatkan? "


"Oh ya, bukannya kau baru datang setengah jam yang lalu? " ucap Vino.


"Tidak, ini sudah hampir dua jam" ucap Hasna hendak memeriksa telponnya.


"Itu berarti kau sangat senang bertemu dan bisa bersama ku lagi. Kau sangat merindukan ku ya? " Vino menggoda nya.


Tiba-tiba suara ponsel Hasna yang berdering membuyarkan semua bayangan yang Vino ingin jalani bersama Hasna hari itu.


"Hallo! " jawab Hasna yang masih merapikan kotak makan siang mereka.


"Oh ya, sebentar lagi aku ke sana" ucap Hasna setelah diam mendengarkan.


Matanya menatap sepatu Vino yang berdiri diambang pintu.


"Kau sudah berdiri di sana? Sejak kapan? " tanya Hasna.


"Sejak tadi, aku mengumpulkan keberanian ku untuk mendekat padamu" ucap Vino terbata.


Hasna diam menundukkan pandangannya.


"Aku bawakan makan siang, makan lah. Aku ingin makan siang bersama mu" ucap Hasna.


Vino mendekat dan duduk di hadapannya. Akhirnya, hanya sikap canggung yang ada diantara mereka. Semua bayangan yang Vino bayangkan takkan pernah terjadi. Bahkan keinginannya menyentuh tangan Hasna hanya jadi asa dan hanya bisa dia tatap saja.


Hasna memperhatikan Vino yang menatap tangannya yang sudah tak memakai cincin pernikahan mereka. Hasna menyembunyikan tangannya ke pangkuan.


"Makanlah! " pinta Hasna.


Vino mengalihkan tatapannya karena sudah tak diperbolehkan untuk menatap tangannya. Dia makan lahap dan hampir tersedak.


Hasna datang dan menepuk punggungnya perlahan kemudian tangan yang satunya memberikan botol air.


Tangan Vino menggenggam botol air, namun tangan mereka bersentuhan dan membuat mereka menjadi canggung kembali.


Hasna kembali duduk dan makan, Vino minum sambil memperhatikannya.


Selesai makan, Hasna merapikan kembali kotak makan siangnya.


"Kau tidak tanya kabar ku? " tanya Vino.


Hasna terdiam.


~Iya, aku lupa~ ucap hati Hasna.


"Jangan terbiasa bicara dengan hati mu, aku bukan Tuhan yang tahu semua isi hati umatNya" keluh Vino.


Mata Hasna membulat menatapnya.


"Aku bahkan tak bisa bertanya kenapa kau melepaskan ku secara langsung. Karena kau selalu diam dan pasti akan menjawabnya hanya dalam hati mu" ucapnya lagi.


Hasna diam memperhatikan nya.


"Aku mengeluh apapun kau tidak akan pernah mengatakan apapun, bahkan untuk mengobati keluhan ku" Vino masih mengoceh.


"Keluarlah dari penjara secepatnya, temukan gadis yang baik dan normal dan menikahinya kemudian hidup bahagia bersamanya. Simple, kau pengacara pintar, hal itu akan mudah kau jalani bukan? " Hasna mencegahnya bicara lagi.


Vino diam menatapnya.


"Aku pergi, jam kunjungan sudah berakhir" ucap Hasna.


"Berhenti di situ, aku belum selesai bicara! " seru Vino.


Hasna berhenti melangkah tapi tak menoleh.


"Aku pilihkan dua jalan untuk kita jalani masing-masing. Berhentilah berharap untuk terus memegang tangan ku. Carilah tangan yang juga ikut menggenggam mu saat kau memegang nya, untuk menjalani hidup mu"


Hasna keluar dan menghilang dari pandangan Vino. Dia menunduk dan menangis.