My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
78



"Lalu apa yang akan kau lakukan? " tanyanya.


"Masuk. Aku akan masuk ke dalam" jawab Hasna.


"Tidak mungkin? " Hadi berdiri tak percaya Hasna akan melakukan itu.


"Kenapa tidak mungkin, aku pernah tinggal di sana. Kenalan ku banyak di sana" ucap Hasna dengan menunjuk.


Hadi menganga mengantar kepergian Hasna ke dalam rutan.


Bayu sudah keluar dari sana dengan wajah penuh amarah. Mereka berpapasan, Hasna tersenyum padanya, tapi dia merengut saja dan tak memperdulikan nya.


"Pria itu bertemu bertemu dengan siapa? " tanya Hasna pada penjaga.


"Kau datang? " petugas itu bertanya sambil melihat daftar tamu dan siapa yang dikunjungi.


Hasna menunggu dengan membulatkan matanya di depan penjaga itu.


"Dewi, dia bertemu dengan Dewi" jawabnya.


Hasna tertegun.


"Aku kira dia marah dan menemui Nunik karena kiriman tas dari ku. Tapi kenapa dia menemui Dewi? " gumam Hasna.


"Mau ketemu siapa? " tanya petugas.


"Tidak, tidak jadi berkunjung" jawab Hasna seraya berlari menyusul Bayu.


Tapi sayang, Bayu sudah pergi jauh. Hadi pun sudah pergi dari sana. Hasna menghela dengan keras.


"Kalau begini caranya, aku harus turun sendiri ke hotel M" gumam Hasna.


***


Fajri sedang menginterogasi Venus, matanya menatap dengan seksama semua pertanyaan yang harus ditanyakan.


"Ckk! " Fajri berdecak.


Dia menutup berkas dan menatap wajah Venus.


"Gerald Cuvier, alias Venus. Ada dugaan bahwa kau juga terlibat dalam sebuah bisnis prostitusi. Dengar, permudah penyelidikan kami dengan mengatakan semua yang kamu sembunyikan" Fajri mengajaknya berkompromi.


Venus menyeringai, dia tertawa seraya menundukkan wajahnya.


"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan" ucap Venus.


"Ada sebuah kegiatan pencarian seseorang di suitroom hotel M. Kau yang mendanai nya"


"Apa maksud mu? Aku benar-benar tidak mengerti" Venus masih tak mengakui.


Fajri diam karena memang belum melakukan penyergapan. Dia pun belum yakin dengan apa yang dikatakan oleh dirinya. Dia hanya bisa menatap Venus yang juga menatapnya dengan santai.


~Bagaimana caranya dia bisa berhubungan? Pertanyaan apa yang akan membuatnya bicara?~ tanya hati Fajri.


Kemudian dia ingat dengan foto yang dia dapatkan. Dia mengambilnya dari saku dalam jaketnya.


"Perkumpulan apa ini? " tanya Fajri.


Kali ini Venus mundur dan terlihat menelan salivanya.


"Itu hanya foto bersama" jawabnya.


Tatapan matanya dialihkan ke sisi lain ruangan. Dia menghindari mata Fajri yang memperhatikan nya.


"Ini sebuah perkumpulan, dimana Bima Sebastian adalah salah satu anggotanya. Seorang pembunuh berantai yang telah mati beberapa bulan yang lalu" lanjut Fajri.


Wajah Venus yang putih bersih berubah merah. Telinganya pun ikut merah, seolah tak ingin membahas semua ini.


"Bima disinyalir mendanai semua kegiatan gratifikasi yang menjurus pada prostitusi. Kalian melakukan casting untuk setiap wanita yang bisa dijadikan penghibur gratifikasi kan?" Fajri menyimpulkan.


Venus semakin gugup, kakinya tak berhenti bergerak. Tangannya juga mulai basah.


"Venus, mudahkan aku untuk memecahkan kasus ini. Kapan dan dimana casting itu dijadwalkan lagi? " Fajri santai memintanya.


Venus menjadi gemetar, bukan hanya kakinya yang kini bergerak. Tangan dan tubuhnya ikut bergerak tai beraturan. Keringat memenuhi dahi dan wajahnya. Fajri mengerutkan dahinya merasa aneh dengan apa yang terjadi.


Tak lam kemudian dia terjatuh dan kejang-kejang. Fajri mendekat dan meraihnya. Anak buahnya datang membuka pintu.


"Apa yang terjadi Pak? " tanya anak buahnya.


"Aku juga tidak mengerti, panggil ambulans!" pinta Fajri.


***


Maya datang ke rumah Hasna, tapi dia belum kembali dari hotel M. Maya duduk menunggu di depan rumahnya sambil bermain ponsel.


Beberapa lama, bahkan cukup lama di menunggu, barulah Hasna kembali. Maya menatap jam tangannya.


"Pukul 12 malam, dari man dia? " gumam Maya.


Hasna keluar dari mobil dan menatap Maya.


"Apa yang kau lakukan di luar? " tanya Hasna.


"Tentu saja menunggu mu" jawab Maya.


"Pintunya tidak dikunci! " ucap Hasna.


Maya menganga melihat Hasna masuk begitu saja. Pintu rumahnya tidak dikunci, dia menyesal tidak mencoba membukanya.


"Tahu tidak dikunci aku masuk saja tadi, duduk di depan situ sangat dingin" keluh Maya.


"Kau mau kopi? " tanya Hasna.


"Susu hangat saja, sehari ini aku sudah minum dua gelas kopi hitam" jawab Maya.


Hasna mendidihkan air, sementara itu dia masuk ke kamarnya yang dikunci. Maya memperhatikan seluruh isi rumah Hasna yang kecil itu.


"Kau dari mana? Kenapa pulang selarut ini" tanya Maya dengan suara cukup keras.


Hasna tak menjawabnya, tapi langsung menjawab saat dia keluar sambil memakai kaus.


"Ada sesuatu yang harus aku lihat dan tunggu tadi" jawabnya.


"Kau membantu seseorang lagi? " tanya Maya sambil melihat foto Hasna dengan Agung dan Fajri.


"Ya, seperti biasanya" jawab Hasna sambil menuangkan air panas ke gelas.


Dia memberikannya pada Maya kemudian duduk.


"Aku turut berduka cita atas kepergian ayah angkat mu"


"Terimakasih! " jawab Hasna sambil meminum kopinya.


"Apa Fajri semakin mengejar mu beberapa bulan ini? "


"Ya, selalu seperti itu. Aku semakin canggung saat berada di hadapan nya" jawab Hasna.


"Ku dengar seorang wanita yang bertugas di kantor sempat menjadi sandarannya saat kau masuk rumah sakit"


"Kau tahu segalanya, hebat. Apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya?" Hasna menjawab dengan menatap wajahnya.


Maya menatap gelas susu hangatnya.


"Ini tentang Vino"


Maya bergerak mendekat dan duduk di dekat Hasna.


"Dia membatalkan persetujuannya untuk bercerai, aku menyetujuinya bukan karen aku ingi kembali padanya. Aku menunggunya keluar dari penjara saja. Setelah itu aku benar-benar akan berpisah darinya" jelas Hasna.


"Kau tidak akan bisa melepaskan diri dari pria yang sangat mencintaimu" ucap Maya seraya menunduk dan melipat tangannya.


"Maya aku... "


"Beberapa hari yang lalu kau datang. Dia terlihat senang sekali. Dia menyisir rambutnya dengan minyak rambut milik Cahyo. Dia bertingkah lucu seperti remaja yang sedang pubertas" ujar Maya sambil tersenyum membayangkan tingkahnya.


Hasna hanya bisa diam, dia juga melihat perubahan itu. Menyadarinya tapi tak memikirkan nya.


~Aku terlalu sibuk dengan Nina, aku sampai tak memikirkan apa yang membuat Vino bertingkah aneh seperti itu~ ucap hati Hasna.


"Dia menguasai beberapa ruangan. Orang-orang di dalam juga tunduk terhadap perintahnya. Dia mengambil banyak perhatian dan membuat beberapa orang yang tidak menyukai nya menjadi kesal dan merasa dendam melihat tingkahnya"


Maya bicara dengan menatap kearah gelas yang dia pegang.


"Maya...."


"Aku sangat menyukainya dulu, itu karena dia tampan dan sangat baik. Dia selalu tersenyum pada siapa saja. Pada ku juga, aku jadi merasa bahwa dia juga menyukai ku. Tapi dia sama sekali tak mengenal ku saat aku datang dan berdiri di depannya. Dia lupa aku pernah menyatakan perasaan ku padanya"


Maya berkeluh kesah hingga menangis tersedu.