My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
114



Hasna berdiri di dekat jendela, dengan sesekali mata menatap ke arah luar. Teringat ucapan Vino sebelum meninggalkannya di panti.


"Kenapa dia tahu sesuatu akan terjadi pada Fajri? Dia pergi setelah menerima telpon. Apa yang sebenarnya dia lakukan?" gumam Hasna.


Tak bisa dipungkiri, Hasna terus mengaitkan Vino dengan almarhum ayahnya, Bima. Hasna terus mencari benang merah antara perkerjaan Vino sekarang dengan kegiatan perkumpulan yang Bima ikuti.


"Jika perkumpulan itu masih aktif, seharusnya ada korban yang ditemukan. Tapi setelah beberapa bulan ini, tak ada penemuan korban atau apapun sejenis dengan kasus Nabila, Dara ataupun aku. Fajri hanya mene.... "


Mata Hasna membulat, pikirannya mengaitkan semua korban yang ditemukan Fajri. Baru dia sadari, semua korban yang mereka temukan adalah gadis, meskipun organ dalam mereka yang diambil.


"Apa ini? Apa mereka mencoba modus baru? Aku harus menelpon Fajri"


Hasna buru-buru menelpon Fajri.


"Ya, Na! " jawab Fajri dengan suara lemas.


"Kenapa? " tanya Hasna khawatir.


"Tidak, aku hanya lelah. Kami tidak bisa menemukannya. Dia lari begitu cepat" jawab Fajri.


'Fajri berbohong, kenapa aku merasa dia dan anak buahnya kehilangan pria itu karena satu alasan' ucap hati Hasna.


"Kita bisa mencarinya di tempat lain, kembalilah ke rumah, ini sudah malam. Vino, beritahu dia kembali saja ke apartemen. Aku dan anak-anak baik-baik saja di sini" ucap Hasna.


Dia menutup telponnya kemudian menghubungi salah satu teman Vino yang masih sering dia hubungi.


Tapi sayangnya, dia tak memberikan informasi apapun. Hasna merasa buntu, dia harus memikirkan sesuatu untuk mengetahui apa yang Vino dan Fajri sembunyikan.


**


Sementara itu, Vino menatap Fajri yang menutup telponnya. Fajri menghela keras seraya bangun dari duduknya.


"Apa yang Hasna katakan? " tanya Vino.


"Dia minta kita untuk pulang, aku ke rumah ku, kau ke apartemen mu" jawab Fajri dengan sesekali menyeringai kesakitan.


"Apartemen? Dia tak mau aku kembali ke panti asuhan? " Vino menerka.


"Entahlah, terserah padamu mau kemana. Aku akan kembali ke kantor saja bersama yang lainnya" ucap Fajri.


Hadi dan anak buahnya yang lain membantu Fajri masuk ke mobil. Tak berapa lama, Vania ikut masuk dan mereka pun pergi.


Vino sendiri mengantar kepergian mereka dengan tatapannya. Dia menatap ponselnya hendak menelpon Hasna. Tapi tak ada jawaban. Vino memutuskan kembali ke panti dan menemuinya.


Tapi, belum sempat dia masuk ke mobil, Zavier datang.


"Ketua ingin anda menemuinya" ucap Zavier tanpa basa-basi.


Mata Vino menatap ke arah Van hitam yang terparkir di dekat Bar. Dia pun mengikuti Zavier dan masuk ke dalam Van itu.


Wira sudah menunggunya di sana, dia menatap kesal ke arah Vino.


"Aku ingin dia lenyap karena dia mulai goyah, kenapa kau datang menyelamatkannya? " tanya Wira.


"Dia kunci agar Hasna mempercayai ku" jawab Vino dengan mata memperhatikan ke sekeliling mobil.


"Kau mulai berbelit-belit, sama sepertinya. Kurasa aku mulai ragu untuk memakai bantuan mu" ucap Wira.


Vino menatapnya.


"Terserah padamu, tapi jika kau tidak memakai ku lagi, bukan aku yang mati, tapi semua anggota perkumpulan itu. Aku bahkan bisa melakukan semuanya seperti mu. Melenyapkan tanpa jejak" ancam Vino.


Wira menelan salivanya, tangannya mengepal karena kesalnya.


"Janji mu untuk membawa. .. "


"10 Januari, hotel milik Venus. Aku ingat dan akan terus mengingatnya. Berhubung waktunya sangat dekat, aku tidak mau semua rencana ku berantakan. Bisakah kau melepaskan Dania sekarang? " Vino melakukan kompromi.


"Gadis panti asuhan itu? , apa hubungan dia dengan mu dan Fajri hingga kau begitu menggebu ingin dia kembali? " Wira menyamankan posisi duduknya.


"Lepaskan saja, tanggal 10 aku akan membawa Hasna pagi buta, 10 jam sebelum acara dimulai" Vino menawarkan tindakan lagi.


Wira menghela kemudian tersenyum.


"Baiklah, aku akan minta pada Zavier untuk melepaskan anak itu" ucap Wira.


Vino keluar, dia kembali ke panti.


"Darimana kalian mendapatkan gadis itu? " tanyanya.


"Sebuah panti asuhan bekas Wulan tinggal, seorang wanita sudah membantu mereka dan membuat mereka lebih sehat secara fisik dan kejiwaan" jawab Zavier.


"Seorang wanita? " Wira terheran.


"Ya, Sansan mengatakannya saat dia menerima pekerjaan ini" jelas Zavier.


Wira terus berpikir.


"Minta Sansan datang menemui ku, secepatnya" pinta Wira.


"Baik Pak! " jawab Zavier.


Mereka pergi meninggalkan Bar.


***


Fajri duduk di ruang kerjanya, Vania datang membawa alat kompres dan juga minum untuknya.


"Terimakasih" ucap Fajri.


Vani tak menjawabnya, wajahnya tetap cemberut mengingat apa yang Fajri alami hanya untuk memenuhi permintaan Hasna.


"Kau pasti lelah, tinggalkan saja di sana, aku bisa melakukannya sendiri" ucap Fajri.


"Ya, kau melakukan semuanya sendiri, sedangkan dia berbahagia dengan suami tercintanya" ucap Vania.


"Kau kenapa lagi? " keluh Fajri.


Vania menunjukkan raut wajahnya yang kesal dengan sikap Fajri.


"Aku benar-benar tidak bisa meladeni sikap mu yang random seperti ini"


"Apa? Random?" seru Vania tak terima dirinya disebut seperti itu.


Fajri meringis, dia masih merasakan sakit di perutnya.


"Aku random? Heuhh! " Vania menertawakan ucapan Fajri.


Fajri terlihat sangat malas meladeni sikap Vania. Dia memutuskan untuk berdiri dan hendak keluar dari ruangannya.


"Kau mau kemana? " seru Vania.


"Pulang! " jawab Fajri sedikit mengabaikannya.


Vania semakin kesal, dia bahkan menghentakkan kakinya karena Fajri pergi.


Sementara itu Fajri meminta Hadi mengantarnya pulang.


"Tapi Pak, bukankah kau sendiri yang mengatakan akan istirahat di sini saja" jawab Hadi yang sudah menyiapkan tempatnya untuk tidur.


"Mau atau tidak? " tanya Fajri mulai kesal.


"Mau Pak, Siap! aku akan keluarkan mobilnya" seru Hadi.


Tak berapa lama Vania menyusul tapi tak mengatakan apapun. Fajri malas menoleh padanya, dia hanya melirik saja.


Perlahan Fajri berjalan keluar dari kantornya. Vania mengikuti dengan kekhawatirannya, takut Fajri terjatuh.


'Dasar keras kepala! ' keluh Vania dalam hatinya.


Hadi menyambut Fajri dan membantunya untuk masuk.


"Pak, Pak. Seharusnya anda istirahat saja di dalam. Kan sudah saya siapkan tempat tidurnya" ucap Hadi.


"Ini semua karena kau memintanya untuk menyamar menjadi pelanggan di bar itu. Dia jadi mengomel pada ku. Padahal hampir setengah tahun aku tak mendengar ocehannya" ucap Fajri.


Hadi tersenyum, matanya melihat ke arah Vania yang tetap berdiri meski dia sudah menyalakan mobilnya.


Vania masih menatap ke arah Fajri yang tak pernah mendengarkannya.


"Dasar bodoh, kau melakukan semua itu demi wanita yang menganggap mu kakak. Sementara kau mengacuhkan wanita yang menyukaimu" gumam Vania.


Fajri melirik sedikit ke arah Vania yang masih menatapnya. Dia menundukkan pandangannya saat matanya beradu. Fajri mengakui telah menyia-nyiakan wanita yang mencintainya. Tapi jalan yang dia pilih adalah keputusan terakhir yang dia ambil setelah dia memikirkan dengan matang. Dia pun berharap semua akan berakhir seperti yang dia rencanakan.