
Bunyi klakson sebuah mobil di belakang mobil Hasna terdengar kencang dan membuat Hasna kesal.
"Apa-apaan dia, sudah tahu masih lampu merah, malah membunyikan klakson berkali-kali" gumam Hasna.
Hasna minggir sedikit ke kiri, membiarkan mobil itu maju dan hendak memarahinya. Namun dia terdiam saat melihat pria paruh baya yang duduk di belakang dan sedang menerima telpon.
Tangan Hasna meremas stir, jantungnya berdetak dengan kencang. Nafasnya tersengal, matanya mulai berkaca-kaca. Dia menggigit giginya menahan rasa sakit di dadanya. Tatapan nya tak lepas dari pria itu.
Hingga mobil itu melewatinya, Hasna menahan dirinya. Dia lemas setelah mobil itu pergi. Hasna hanya bisa menatap jalan yang ada di depannya dengan tatapan kosong. Teringat dengan semua yang terjadi pada dirinya 10 tahun yang lalu.
Klakson mobil-mobil yang ada di belakangnya membuatnya terbangun dari masa kelam yang diingatnya. Hasna menghapus air matanya dan kembali menjalankan mobilnya. Namun semakin lama berjalan, semakin ingatan itu mengganggunya. Dadanya terasa semakin sesak. Hasna menepi dan menangis dengan keras menunduk pada stir mobil. Memukul-mukuli stir dengan tangannya, berusaha menghilangkan perasaan terhina itu.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Vino menelponnya. Hasna mengangkatnya, dia berpikir Armand mencarinya.
"Katakan aku akan datang sebentar lagi" ucap Hasna tanpa mendengar satu kata dari Vino.
"Hasna tunggu! Kenapa suara mu parau? Kau dimana?" tanya Vino curiga.
Hasna terdiam, berusaha menyembunyikan nafas isak tangisnya.
"Aku masih di jalan, dekat dermaga" ucap Hasna sambil melihat dermaga kecil di samping kanannya.
Hasna menutup ponselnya, Vino terdiam mengingat dermaga kecil yang ada di jalan yang dilewatinya setiap hari.
Vino yang masih berada di motornya, langsung memakai helmnya kembali dan mengebut menuju dermaga yang Hasna sebut.
Hasna masih belum bisa menghentikan air matanya yang terus terjatuh. Meski nafasnya mulai tak tersengal, namun air mata itu masih menetes, menyiratkan kepedihan yang dialaminya.
Tak berapa lama Vino datang, dia turun dari motornya dan mengetuk jendela mobil Hasna. Dia menatap mata Hasna yang sembab, meski berusaha dia sembunyikan. Vino langsung membuka pintu mobil saat Hasna terlihat telah membuka kunci pintunya.
"Kenapa?" tanya Vino jongkok di hadapan Hasna.
Hasna ingin tak menunjukkan tangisnya lagi. Dia memalingkan wajahnya mencoba membuat Vino tak melihat matanya terus.
"Aku..."
Tak sempat Hasna melanjutkan alasannya, Vino sudah memeluknya. Membelai rambutnya dan Hasna pun hanya diam. Sebenarnya sudah bukan hal yang aneh jika Vino melakukan hal itu. Beberapa kali dia selalu menyatakan perasaannya pada Hasna yang tak sama sekali memiliki perasaan padanya.
Namun Hasna sedang butuh pelukan itu. Pelukan yang dulu pernah diberikan Agung padanya saat dia tak bisa berkata apapun saat melihat mayat ayahnya tergantung. Pelukan yang Fajri berikan saat dia mengamuk mengingat kenangan pahit itu.
"Tidak usah mengatakannya, menangislah di pelukan ku" ucap Vino.
Air mata Hasna semakin mengalir mendengar ucapannya. Kasih sayang tanpa balas yang dia berikan membuat Hasna kembali terisak dan menangis lebih lama di pelukan Vino.
Vino merasa lega Hasna tak berusaha melepas pelukannya, bahkan menangis dan terasa nyaman di pelukannya.
###
Fajri menatap berkas foto mayat korban yang ada di hadapannya. Tiba-tiba dia teringat Hasna dan merasakan sesak di dadanya.
"Apa yang sedang dia lakukan?" gumamnya.
Beno menatap karena sedikit mendengar gumaman Fajri.
"Kurasa dia hendak pulang dari pekerjaannya, dia membawa tas dan alat kerjanya di pabrik. Waktu kematiannya pun sekitar 9 jam" jelas Beno.
Fajri melirik kemudian membuka lagi foto berikutnya. Matanya membulat saat sebuah tanda huruf D terukir di selakangan korban.
"Aku baru melihat ini!" ucap Fajri.
Beno menatap.
"Ya, itu ...huruf itu, inisial dari korban yang dibuat pembunuh. Dokter bilang itu dibuat oleh sejenis pisau yang sangat tajam ujungnya, bisa cutter atau silet" jelas Beni.
Fajri mengerutkan dahinya. Dia mengambil ponselnya yang ada di meja dan menelpon Hasna.
Namun Hasna sedang terdiam menatap keluar jendela mobil, berangkat dengan Vino yang menyetir. Tangisnya sudah reda tanpa kata. Vino menatapnya kemudian melihat ponselnya berdering, terlihat Fajri, nama yang menghubunginya. Vino membuat ponsel Hasna senyap dan membiarkannya tak mengganggu Hasna.
Fajri menghela, dia berpikir Hasna mungkin sedang meeting dengan seniornya untuk menangani kasus "Juragan Garang". Beno melihat gerak-gerik Fajri yang membuatnya menganga.
"Hei...kau kenapa?" tanya Beno penasaran.
Fajri terdiam, matanya bergerak-gerak seolah mencari-cari.
"Ada kasus yang sama!" ucapnya.
"Yang mana? Kapan? Kita belum pernah mendapatkan kasus yang sama sebelumnya" ucap Beno mengingat-ingat.
"Kasus 10 tahun yang lalu" lanjut Fajri.
"Ah...itu bukan kita yang urus" ucap Beno.
"Ayah ku yang mengurusnya. Minta pada humas tentang kasus "R" di berkas 10 tahun yang lalu" ucap Fajri.
Beno masih tak mengerti. Fajri menatapnya.
"Cepat! Aku yang akan melapor pada atasan" seru Fajri seolah membangunkan Beno dari diamnya.
Beno terkejut dan berdiri dari kursinya kemudian bergegas ke humas meski tak begitu yakin.
Fajri menghubungi Agung ayahnya. Agung yang sedang berpatroli di dekat tempat tinggalnya, terkejut mendengar semua yang dikatakan Fajri. Dia bergegas pergi ke kantor polisi tempat Fajri bekerja.
###
Hasna dan Vino sampai di kantor jaksa. Vino menyentuh tangan Hasna dan menatapnya.
"Kau sudah lebih baik?" tanya Vino.
Hasna terbangun dari lamunnya.
"Ya, terimakasih!" jawab Hasna setelah menoleh dan sambil membuka sabuk pengamannya.
Hasna terlihat kesulitan membukanya, Vino tersenyum kemudian membantunya. Beberapa teman kerja melihatnya dari luar mobil. Posisi Vino terlihat sedang mencumbu Hasna. Mereka memotretnya.
Mata Vino membulat, melihat kilatan cahaya dari ponsel mereka yang memotret. Hasna keluar dari mobil, begitu pun Vino.
Vino melihat orang yang sedang memperhatikan ponselnya dan mengambilnya dengan tiba-tiba. Membuat wanita itu terkejut dan menatap Vino. Namun dia menjadi diam dan takut setelah menatapnya.
Vino menghapus foto yang baru saja dia ambil.
"Anda tahu UUHC Pasal 19 s.d 23 tentang hak dari orang yang menjadi objek dalam sebuah foto. Di mana pemotret memang memiliki hak pencipta atas foto-fotonya, tapi harus mendapatkan ijin dari orang yang dipotret. Apabila Anda memotret seseorang tanpa izinnya dapat dikenakan hukuman maksimal 10 tahun kurungan. Dan jika Anda berniat mengunggahnya di sosial media, anda bisa dituntut dengan UU ITE pasal 48, hukuman penjara minimal 8 tahun" ucap Vino dengan tegas kemudian memberikan ponselnya langsung ke tangannya.
"Maaf!"
Hanya itu yang bisa dikatakan wanita itu.
Hasna melihatnya.
"Sudahlah, bukannya sudah dihapus?" ucap Hasna tak peduli.
"Lihat saja jika satu jam atau setelah ini tersebar, aku akan membuatnya menyesal seumur hidup" ancam Vino.
"Astaga, sumpah serapah mu terdengar mengerikan" ucap Hasna yang berjalan di depannya.
Hasna kembali duduk di meja kerjanya, Armand menatapnya.
"Kau terlambat. Mana berkas yang aku minta?" pinta Armand.
Hasna mengambil berkas dari tasnya dan memberikannya pada Armand. Dia melihat dan memastikan berkas yang diberikan Hasna tak salah. Kemudian Armand menghela nafas.
"Kau benar-benar bekerja keras, padahal semalam ku lihat kau sedang makan malam bersama seorang pria" ucap Armand.
Mata Hasna membulat, matanya melirik kearah Armand. Vino yang juga mendengarkan terhenti dari pekerjaannya.
"Siapa dia? Pacar mu?" lanjut Armand bertanya.
Hasna menatap Vino yang berdiri membelakangi mereka. Meski Hasna tak memiliki perasaan pada Vino, namun dia merasa tak nyaman Armand mengatakan hal itu di dekatnya.
"Pukul berapa kita akan mengunjungi tersangka?" tanya Hasna mengalihkan.
Vino yang awalnya merasa tak khawatir jadi mengerutkan dahinya mendengar Hasna yang justru mengalihkan topik pembicaraan.
"Pukul 10, sebentar lagi kita berangkat" jawab Armand
Sambil menatap Vino, dia tersenyum merasa Hasna tak mau melanjutkan pembicaraan di depan Vino.
Armand pergi, Vino berbalik, dan Hasna berdiri merapikan berkas juga tasnya. Vino memperhatikan gerakan Hasna yang terlihat biasa saja.
"Hati-hati" ucap Vino.
Hasna terkejut kemudian menatapnya.
"Oh ya, terimaksih! Aku pergi" ucap Hasna.
Vino tersenyum padanya yang berjalan menuju ruangan Armand kemudian menghilang dari pandangannya. Tangan Vino mengepal dan yang satunya meremas berkas yang ada di mejanya. Wajahnya terlihat sangat tak senang, terlebih dengan ucapan Armand. Dia ingat dengan perkataan Hasna yang tak mau diganggu. Namun bisa makan malam dengan seorang pria.