My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
107



Fajri kembali menyiapkan kopinya. Tapi Hasna keluar dari kamarnya dengan penampilan rapi.


"Kau mau kemana? " tanya Fajri seraya buru-buru meraih tangannya.


"Bekerja" jawab Hasna.


"Tapi.... kau... semalam..."


"Tidak ada yang terjadi tadi malam, aku tidak mau mengingatnya" ucap Hasna seraya melepaskan tangan Fajri dan pergi mengambil tasnya.


"Kau bahkan belum memeritahu ku kemana kau akan pergi semalam" Fajri menahan langkahnya.


Hasna berbalik, dia menatap Fajri yang semalam sudah menyelamatkannya. Dia hampir saja akan menjadi korban kejahatan seperti malam kelam yang dulu pernah dia alami.


Fajri mendekat dengan perlahan dan meraih tangannya. Hasna terdiam dan mengikuti tangan Fajri yang menuntunnya untuk duduk.


Pikirannya sedang memikirkan nasib dirinya jika Fajri tak ada di sana. Dia juga memikirkan anak panti asuhan saat mengingat pria yang malam kemarin dia lihat dalam tempat hiburan itu.


"Aku tidak akan bertanya lagi tentang apa yang akan kau lakukan semalam, tapi saat ini kau harus istirahat dulu. Aku akan menemani mu sehari ini, besok kau boleh melakukan apa yang ingin kau lakukan, ok! " ucap Fajri.


"Aku sedang mengurus sebuah panti yang Wulan titipkan padaku selama dia dihukum" ucap Hasna lemah.


Fajri yang hendak menyiapkan makanan untuk Hasna jadi duduk kembali menatapnya.


"Ada dua belas anak di sana, aku mengkhawatirkan mereka saat mendengar kasus yang kau tangani, seorang pria yang sering menggerutu atas tindakan ku yang mengambil tanggung jawab mereka, ku lihat dia sedang bertemu seseorang di tempat hiburan milik Venus. Aku sangat khawatir dengan keadaan mereka" jelas Hasna.


Fajri mendengarkan dengan seksama.


"Kau mengambil tanggung jawab yang besar dan tak mengatakannya pada siapa pun. Pantas saja kau menerima pekerjaan dari Keanu. Kau selalu melakukan ini, menanggung semuanya sendiri" keluh Fajri.


"Bisakah kau melihat mereka sebentar? Aku takut terjadi sesuatu pada mereka" pinta Hasna.


"Tentu saja, aku dan Hadi akan ke sana setelah kau makan dan minum obat mu. Aku akan siapkan makanan mu dulu" ucap Fajri seraya berjalan menuju dapur.


***


Di penjara.


Untuk melancarkan rencana Vino, Wira membuat keputusan agar Vino keluar lebih cepat. Siang itu juga dia keluar dari penjara.


Vino menatap langit yang saat itu sedang cerah. Dia masih memikirkan bagaimana keadaan Hasna. Mendengar apa yang terjadi padanya semalam, Vino tak bisa mengabaikan keselamatannya kali ini.


Langkah Vino mulai mantap menuju rumah Hasna. Dia akan melindunginya apapun yang terjadi.


Tapi belum sampai dia menggapai gerbang untuk keluar dari lingkungan penjara, mobil Wira sudah menghadangnya. Vino berhenti dan menatap ke arah kaca mobil yang turun perlahan.


"Ingat, waktu mu hanya sebentar. Manfaatkan dengan sebaik-baiknya, pertemuan kali ini jangan sampai dia tak ada di hadapan ku" ucap Wira.


Vino hanya mengangguk, Wira pergi setelah mendapatkan respon yang dia mau. Vino mengantar kepergiannya dengan tatapan yang kesal. Dia juga melihat seorang pria menatapnya dan tersenyum padanya.


"Aku terjebak, dia akan terus mengawasi ku sepanjang perjalanan ku menuju rumah Hasna. Selama aku bersama Hasna hingga malam pertemuan itu" gumam Vino.


Dengan kesal, dia memberhentikan taksi dan pergi ke rumah Hasna.


Sampai di dekat rumah Hasna, Vino turun, dia menatap sekitar rumah Hasna yang juga ada anak buah Wira sedang mengawasi di sana.


"Apa Fajri tidak melakukan pengawasan di rumahnya? Hanya ada anak buah Wira di sini, hanya untuk mengawasi pekerjaan ku saja" gumam Vino.


"Syukurlah dia mengganti pintunya" gumam Vino.


Tangannya mendekat pada bel, namun berhenti dan berpikir.


'Apa dia akan menerima kedatangan ku?' pikir Vino.


Keraguan muncul, dia takut Hasna tak mau menerimanya, terlebih semalam, kejadian semalam akan membuatnya menjauh lagi darinya.


Tapi, Vino mengingat ucapan Venus yang begitu kesal anak buahnya gagal menyakiti Hasna. Kembali dia khawatir dan sangat ingin memeluk Hasna dan menenangkannya.


Glekk...


Vino menelan salivanya, dia benar-benar dilema. Takut Hasna tak mau menerima kedatangannya.


"Tidak apa-apa jika dia menolak kehadiran ku, aku akan datang lagi besok untuk memantau keadaan. Sekarang kau harus menemuinya Vino, kau harus memastikan dia baik-baik saja" gumam nya lagi menyemangati dirinya sendiri.


Tangannya mulai menekan bel. Suara bel terdengar, Vino tak mendengar gerakan atau suara pintu kamarnya yang terbuka atau apapun itu yang membuatnya yakin Hasna akan membuka pintunya.


Vino menghela, dia kecewa, berpikir mungkin Fajri membawanya ke rumahnya. Dia berbalik dan hendak pergi. Namun pintu rumah Hasna terbuka. Vino kembali berbalik dan menatap Hasna yang berdiri menatapnya di ambang pintu.


Menatap wajah wanita yang sangat dia cintai, membuatnya sangat bahagia, meskipun bibir Hasna pucat dengan mata sayu yang seolah sudah banyak air mata yang mengalir dari sana.


Dia sangat ingin memeluk Hasna, namun ragu dan diam saja. Vino hanya meraba tubuh Hasna dengan tatapannya.


"Apa kabar? " tanya Vino dengan lirihnya.


Hasna tak menjawab, air matanya mengalir dalam diam.


Vino jadi terdiam, dia merasa bahwa Hasna tak ingin menerima kedatangannya. Dia mundur selangkah hendak pergi.


Tapi tiba-tiba, Hasna datang memeluknya. Vino terkejut, namun langsung membalas pelukan Hasna yang hampir terjatuh.


Hasna menangis dengan tersedu di pelukan suaminya. Sama seperti saat dia menangis dalam pelukan Fajri, namun seolah lebih bisa melepaskan semuanya saat itu juga.


Tentu saja Vino memeluknya dengan erat dan mengusap kepala juga punggungnya. Tangis pun keluar, tangis bahagia dan lega.


Perlahan, Vino melangkah menuju ke dalam rumahnya. Tanpa mendengar satu ucapan pun dari Hasna yang tak mau melepaskan pelukannya.


Vino menuntun Hasna untuk duduk dan menenangkan dirinya.


"Aku sudah datang, aku akan selalu bersamamu" bisiknya.


Hasna berhenti menangis dan menyamankan dirinya bersandar di dada Vino. Seolah menemukan tempat bersandar yang tepat dan nyaman yang selama ini dia inginkan.


Meskipun dia sangat tak menyangka dengan respon Hasna, Vino sangat memanfaatkan momen ini untuk melakukan apa yang sangat dia inginkan. Membelai dan menjaga Hasna dengan pelukan dan kasih sayangnya. Mengerti betapa dia sangat ketakutan dan butuh perlindungannya saat ini.


Dia cukup lega melihat keadaan Hasna yang baik-baik saja setelah kejadian semalam. Tak terbayangkan apa yang terjadi, Venus bahkan menggambarkan seolah Hasna adalah barang yang mampu diambil begitu saja.


Vino menghela keras membayangkan apa yang sudah dihadapi istrinya.


"Jangan tinggalkan aku, aku takut sekali" ucap Hasna pelan.


"Tidak, tidak akan pernah. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu lagi" ucap Vino berjanji.


Pelukannya semakin erat, Hasna pun seolah tak ingin melepaskannya.