My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
45



Fajri minum dengan bantuan tangan Hasna. Vino menatap dan memperhatikan mereka dengan sinis. Hasna membantunya kembali tidur dan merapikan bantal juga selimutnya.


Hasna tersenyum padanya dan mengelus tangannya sebentar.


"Apa yang kau rasakan? Kau lapar, atau...."


Hasna benar-benar sangat mengkhawatirkannya.


"Aku cuma mau tidur lagi. Kau dan Vino pulanglah, kasihan Vino" ucap Fajri.


"Hmm, ok. Aku sama Vino pulang pas kamu udah tidur" ucap Hasna.


Vino mendelik.


"Aku tunggu di luar!" ucap Vino.


"Makasih Vin!" ucap Fajri.


"Santai Bro!"


Vino keluar, Hasna masih duduk menatap Fajri yang wajahnya masih pucat pasi.


"Kasus Bima, kau mengabaikannya karena aku kecelakaan?" tanya Fajri.


"Aku tidak bisa tidur saat melihat mu masuk ICU dengan semua alat yang menempel di badan mu. Rasanya seperti..."


"Seperti akan kehilangan seseorang yang sangat berarti bagi mu?" ucap Fajri.


Hasna menatapnya.


"Aku minta maaf, aku hanya fokus pada amarah ku. Kau benar, aku seharusnya aku mendahulukan orang-orang yang ada di dekat ku. Aku lupa, kalau hatiku merasa sangat sakit saat melihat mereka terluka"


"Jangan berhenti!" ucap Fajri dengan suara paraunya.


Hasna yang tadi menunduk mengingat Agung dan saat Fajri terluka, kembali menatapnya dengan heran.


"Usaha kita, semua yang kita lakukan, semuanya sudah benar. Ada seseorang yang membuatnya menjadi rumit dan seolah buntu untuk maju dan membuat Bima masuk penjara" Fajri sangat berusaha untuk bicara.


"Kau bilang mau tidur, kenapa kau jadi banyak bicara" Hasna mengkhawatirkan keadaan Fajri.


"Mumpung Vino di luar. Dengar, jangan katakan pada siapapun tentang semua yang kau dapat dan kau lakukan untuk kasus ini. Aku.....sudah..."


Nafas Fajri mulai terengah karena berusaha bicara.


"Sudah, aku tahu semuanya. Ini pasti tentang Beno. Aku juga sudah tahu alasan dia melakukannya. Kau istirahat saja, ya!" ucap Hasna sambil mengusap dadanya.


Fajri mengatur nafasnya sendiri. Dia lega mendengar Hasna sudah tahu semuanya, dia tahu Hasna akan sangat berhati-hati jika dekat dengan Beno. Meskipun dirinya masih bertanya-tanya apa alasan Beno melakukan semua ini.


Perlahan mata Fajri tertutup, dia tidur. Hasna menunggu hingga Fajri benar-benar terlelap. Kemudian dia keluar dan melihat Vino berdiri seperti sudah bosan menunggu.


"Ayo kita pulang!" ucap Hasna.


Vino tersenyum, dia mengaitkan tangannya di bahu Hasna. Mereka pulang ke rumah Bima.


##


Malam tiba, Fajri masih tertidur. Hasna menyewa seorang perawat pria untuk menunggui dan merawatnya. Dia menjaga dan duduk di sebelah Fajri sambil memainkan ponselnya.


Beno yang datang sejak tadi hanya memperhatikan dari balik jendela ruang rawat Fajri. Dia tak masuk mengetahui Fajri masih tidur juga ada perawat itu.


Beno ingin memastikan apa Fajri akan melaporkannya atau tidak. Dia juga mau meminta Fajri untuk menyerah saja pada kasus Bima. Bukan hanya karena dia masih bergantung dengan uang yang dikirimkan Bima, tapi dia tahu bahwa Bima adalah orang yang bisa melakukan apa saja.


Beno berpikir sambil memperhatikan pria yang berdiri di ujung lorong dekat ruang rawat Fajri. Dia mengenalnya sebagai anak buah Bima. Dia merasa bahwa Bima sudah merencanakan sesuatu untuk Fajri.


Beno tak bisa melawan Bima, dia tak ingin Fajri menderita lagi. Dengan ketidaksengajaan ini saja, Beno sudah sangat sedih melihat temannya kesakitan. Dia tak mau Fajri menjadi korban Bima. Dia akan berusaha membujuk Fajri sampai Fajri benar-benar berhenti menangani kasus Bima.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Vania.


Beno terkejut dengan suara Vania yang tiba-tiba ada di dekatnya. Beno merapikan jaketnya juga mengelus dadanya.


"Kamu yang ngapain ? Bikin kaget aja" ucap Beno.


"Ih, masa kamu ngga denger suara langkah heels aku tadi, di sini kan sepi. Ngelamun ya?" Vania mulai membuat Beno kesal.


"Mau lihat Fajri kan, udah sana masuk. Kasih semua yang kamu buat ke perawat nanti dia yang suapin Fajri. Hasna ngasih perawatan dan pengawasan ketat buat Fajri. Kamu cuma bisa jenguk sebentar" jelas Beno dengan nada kesal.


Vania hanya membuat wajah jelek kemudian menyeringai.


"Aku sudah tahu, pengacara Hasna sendiri yang ngasih tahu aku buat jaga Fajri malam ini" ucap Vania.


Mata Beno membulat mendengar ucapan Vania.


"Minggir!" Vania menabrak lengan Beno.


Beno menyingkir dan menghela.


"Hasna sudah tahu aku bersekongkol dengan Bima. Dia pasti akan menjauhkan aku dari Fajri" gumam Beno.


"Lalu bagaimana aku mengatakan pada Hasna untuk menjaga Fajri lebih ketat. Apa dia akan percaya padaku?"


###


Di rumah Bima.


Hasna keluar dari kamar mandi menggunakan pakaian tidur satin yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Vino menatapnya terpesona. Rambut Hasna yang terurai membuatnya menelan salivanya.


Hasna melihat reaksi Vino, tapi dia lebih tertarik melihat bagaimana Bima mengintip dari pintu kamar mereka yang sedikit terbuka. Hasna tersenyum sambil menyisir rambutnya.


Vino mendekat dan memeluknya dari belakang.


"Kamu cantik banget sayang" bisik Vino di telinga Hasna.


~Ya Tuhan, aku benar-benar sangat takut. Sentuhan Vino bahkan membuat semua kenangan buruk itu muncul. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa menolak Vino lagi, selain sekarang dia adalah suamiku, aku juga harus membuat Vino mengetahui kebusukan Bima ayahnya. Bantu aku Tuhan, kuatkan aku untuk menghadapi semua ini~


Hasna sangat menderita menjalankan semua rencana balas dendam ini. Dia mengorbankan dirinya lagi dan lagi. Berharap semua pengorbanannya takkan sia-sia lagi.


Vino mulai mengecup lehernya dan Hasna memejamkan mata merasakan sentuhannya. Tapi reaksi Bima yang sangat gemas ingin memberitahu anaknya untuk tak menyentuh Hasna, membuatnya membuka pintu kamar mereka secara tiba-tiba.


Vino terperanjat dari kursi rias menjadi canggung saat Bima masuk begitu saja.


"AYAH! Apa tidak bisa mengetuk pintu dulu!" seru Vino mengeluh dengan kerasnya.


"Pintunya terbuka, kalian yang salah. Ikut ayah, ada kasus yang harus kamu tangani. SEKARANG!"


Bima keluar dengan membanting pintu.


"Ada apa dengannya? Kenapa pas lagi gini sih!" keluh Vino dengan memukul ranjang beberapa kali.


Hasna tersenyum, rencananya berhasil.


~Ya, terus tunjukkan rasa tidak suka mu terhadap hubungan ku dengan anak mu. Aku akan bertahan hingga kau sendiri yang mengatakan bahwa aku adalah korban mu. Keluar dari mulut mu sendiri, agar Vino menyadari semuanya~ ucap hati Hasna.


"Sayang! Aku akan kembali, segera!" ucap Vino sambil mengecup kening Hasna.


Vino keluar dengan langkah yang berat dan kesal.


"Apa sih Yah?" tanya Vino yang membuka ruang kerja Bima dengan keras.


"Ini, baca semua berkas ini. Teman ayah sedang dalam masalah, bantu dia, kau akan mendapatkan imbalan yang banyak" ucap Bima santai.


"Yah, ini sudah malam. Aku akan membacanya besok pagi saat sarapan" janji Vino.


"Berkasnya sebanyak ini, kau takkan bisa bangun pagi setelah tidur dengan istri mu" ucap Bima.


"Astaga, ayah benar-benar menguji kesabaran ku" Vino mengusap wajahnya.


Vino membuka berkasnya dan dia membacanya. Mengalah karena dia merasa sudah melawan sejak beberapa hari. Bima tersenyum merasa puas.


"Ayah akan ambilkan minum" ucap Bima sambil keluar dari ruang kerjanya.


Tapi bukannya pergi ke dapur, dia malah ke kamar Vino dan menutup pintunya dengan rapat.


Hasna yang sedang membaca berkas untuk dia ajukan besok, terkejut dengan kedatangan Bima yang awalnya dia kira adalah Vino yang kembali.


Hasna berdiri dan mengambil sebilah pisau dan menyembunyikannya di belakang pinggangnya.


"Mau apa kamu kemari?" tanya Hasna panik.


"Kau sengaja membuka sedikit pintu kamar ini untuk menggoda ku. Wanita macam apa yang pernah diperkosa dua kali dan menikah dengan putra si pemerkosa. Apa mau mu? Kamu mau aku hancur, mengancam dengan menikahi anak ku?" Bima terus maju sambil bicara.


Sampai Hasna tak bisa mundur lagi karena ada dinding, Bima berhenti karena Hasna menodongkan pisau tajam di perutnya.


Bima menatap pisau yang ujungnya sudah melukai kulit perutnya.


"Kau wanita jahat" ucap Bima.


"Kau yang membuatku jahat. Terima saja semua yang kau tanam" ucap Hasna.


Bima mundur, dia berbalik dan hendak keluar.


"Aku penasaran bagaimana reaksi Vino jika dia tahu alasan kau kembali ke dalam hidupnya"


Hasna memainkan pisau dengan ujung jarinya. Bima berbalik dan menatapnya dengan mata merah karena marah.


"Oh, kau mau mengungkapkan semua pada Vino? Coba saja, aku sudah tahu siapa kelemahan mu. Kau akan mendapatinya tergeletak seperti Agung yang tertabrak mobil Dudung yang bodoh itu"


Bima menyeringai melihat Hasna terdiam karena ancamannya. Tapi Hasna berubah menjadi tertawa.


"Hahahahahaha......ayah mertua bisa saja!" seru Hasna.


Bima membulatkan matanya mendengar Hasna mengatakan hal itu. Dia mengerti bahwa Vino ada di sana.