My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
22



Kabar Nabila selamat sudah tersebar, Dudung yang ikut duduk bersama bapak-bapak yang catur mendengarkan mereka.


"Kalian tahu, adik Wisnu yang bapak ibunya kecelakaan pesawat!" seru seorang bapak yang berdiri melihat pemain.


"Ooh, yang tinggal dekat kantor polisi itu?" tanya pemain yang memajukan benteng di papan caturnya.


"Iya, dia ditemukan kritis di sawah pinggiran toll. Dia korban perkosaan dan hampir mati dengan luka di sekujur tubuhnya" ucapnya.


Dudung gemetar mendengarkannya, dia tak berani menatap orang yang bicara. Matanya gugup menatap ke bawah. Nafasnya mulai tak beraturan dan tangannya berkeringat.


Dia berjalan mundur meninggalkan mereka tanpa mereka sadari. Dia masuk ke rumah dan hendak mengatakannya pada bosnya. Namun Bima sedang mendapat telpon dari temannya yang berkerja sama dengannya di bidang perdagangan batu bara.


"Ya ok, aku akan ke sana satu jam lagi" ucap Bima.


Dudung menelan dan merasa tak ada kesempatan untuk bicara saat Bima menepiskan tangannya agar dia menyiapkan mobil. Dudung pergi ke garasi dan bersiap.


Bima juga bersiap setelah dia menutup telponnya. Dia merapikan diri, bercermin dan merapikan rambutnya. Dia menatap dirinya di cermin, kemudian tersenyum. Dia mengingat bagaimana dia menikmati proses pelampiasan emosinya pada Nabila.


Dia memejamkan matanya dan menikmati memorinya seolah sedang terjadi. Kemudian dia tersenyum lagi dan menghela seolah lega.


Terdengar Dudung membuka garasi dan mengeluarkan mobil. Bima keluar setelah menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya.


Dia masuk ke mobil dan melihat ponselnya. Dia juga menatap Dudung yang seolah bingung hendak maju atau tidak.


"Kamu kenapa?" tanya Bima.


Dudung sulit untuk mengatakannya.


"Soal istri mu lagi?" tanya Bima terlihat malas sambil membuka koran lebar-lebar.


Dudung menatap bosnya yang seolah tak bersalah, tak melakukan perbuatan salah.


"Nabila dikabarkan selamat Pak!" ucap Dudung terbata.


Bima terdiam, dia melipat kembali korannya dan menghela.


~Oh ya, pantas saja tak ada kabar mayat ditemukan. Aku kira, dia membusuk di sana~ ucap hati Bima.


Bima menatap Dudung yang belum memajukan mobilnya.


"Lalu, bagaimana dengan istri mu, dia sudah di rawat kan?" tanya Bima dengan menatap mata Dudung di cermin.


Dudung memahami pertanyaan Bima yang sebenarnya sedang menagih balas budi padanya. Dia terlihat menyesal.


"Baik Pak, dia sudah di rawat dengan baik. Kondisinya juga membaik" jawab Dudung.


Bima tersenyum, dia senang melihat Dudung paham dengan maksudnya.


"Aku tidak memaksa Dung, tapi kalau gadis itu mati, itu jauh lebih mudah. Kau tidak perlu melakukan apa yang aku pikirkan" ucap Bima dengan santai.


Dia membuka lebar korannya lagi, Dudung menatapnya kesal.


"Sekarang jalan lah, aku mau meeting!" ucap Bima.


Dudung memindahkan persneling dan melaju setelah pagar terbuka otomatis.


###


Dudung menaruh plastik berisi makanan kesukaan istrinya di meja. Kemudian duduk perlahan agar istrinya tak terganggu.


Istrinya dirujuk ke rumah sakit kota karena operasinya hanya bisa dilakukan di rumah sakit kota. Dudung sangat terbantu oleh uang yang diberi Bima. Tapi hatinya sebenarnya sangat menentang dengan kelakuan aneh bosnya itu.


~Ini adalah kejahatan, aku juga sudah melakukan kejahatan karena sudah diam. Dia menutup mulut ku oleh ketidakberdayaan ku~


Dudung menatap wajah istrinya yang kurus dan pucat. Kemudian dia pergi setelah adik istrinya datang dan menggantikannya.


Di lorong dia mendengar suster yang sedang membicarakan obat tidur yang dia sedang bawa ke arah farmasi rumah sakit. Kemudian dia menatap arah ruang rawat kelas VIP yang bersebrangan dengan kelas 4.


Dudung melihat dua polisi berjaga dan beberapa orang yang sibuk di dekat sebuah kamar. Kemudian seorang keluarga pasien yang lewat di hadapannya membicarakannya.


Dudung jelas mendengar bahwa dia adalah korban yang ditemukan di sawah di pinggiran toll. Dia terdiam dan menatap pemandangan kesibukan polisi.


Kemudian Fajri keluar bersama Beno dengan mengatakan semua yang harus dilakukan Beno saat dia tak ada.


"Suruh orang-orang berseragam itu bubar, nanti orang-orang tahu Nabila di sini. Aku akan ke kantor sebentar" ucap Fajri.


Beno mengangguk dan menepuk punggung Fajri.


"Hati-hati!" ucap Beno sambil kembali masuk dan menatap Dudung yang pura-pura hendak ke kamar kecil.


Dudung masuk ke kamar kecil dan berpikir. Dia ingat dengan ucapan Bima yang mengatakan bahwa semua akan berakhir jika Nabila mati. Dudung mengusap wajah hingga kepala. Dia menghela dan berdiri.


Dia keluar dan mencari perawat yang membawa obat-obatan tadi. Dia mencuri beberapa botol obat anestesi yang dibicarakan mereka tadi. Dia menyimpannya di saku dan berusaha bersikap biasa.


Dudung keluar dari rumah sakit untuk membeli suntikan di apotek yang berani menjual suntikan tanpa izin. Dia percaya diri karena pernah membelinya untuk majikan sebelumnya.


Malam hampir larut, Dudung duduk di kursi tunggu di ruang VIP. Dia melihat Beno menggosok matanya seolah mengantuk. Hari ini dia tak diberi obat tidur tapi mengantuk meski sudah minum kopi. Hasna tak mengunjungi Nabila karena ada kasus yang dia kerjakan bersama Vino.


Dudung masih menunggu, tak lama kemudian dia melihat Wisnu keluar dan pergi ke arah ruang suster. Dudung langsung masuk ke ruangan Nabila dan menyuntikkan cairan anestesi ke botol infus. Setelah selesai, dia pergi langsung masuk ke lift.


Wisnu datang dan melihatnya masuk ke lift, namun hanya menganggap dia pengunjung biasa. Tapi Wisnu menatap wajahnya yang melihat ke arah tombol lift.


Wisnu masuk ke kamar dan kembali duduk. Dia melihat botol infus yang menetes di sisi lain. Dudung menggunakan suntikan yang cukup besar dan membuat lubang baru di sisi lain. Wisnu membangunkan Beno menyuruhnya memanggil suster.


Beno sangat terkejut kemudian langsung memanggil suster. Wisnu panik karena Nabila tak bangun saat dia bangunkan. Wisnu menatap ke arah pintu berharap suster cepat datang.


Beno muncul pertama disusul dua orang suster. Mereka memeriksa botol infusnya. Salah satu suster panik dan langsung pergi menyusul dokter.


Wisnu tak bertanya apapun, dia melihat kepanikan suster saat memeriksa mata Nabila juga denyut jantungnya.


"Kenapa? Kalian terlihat panik!" tanya Beno.


"Botol infusnya bocor dan membuat cairan masuk ke darah lebih cepat. Tapi saya curiga ini bocor karena ada yang menyuntikkan sesuatu. Nabila tidak merespon apapun. Dokter akan memeriksa lagi dan menjelaskan lagi nanti " jelas suster.


Beno langsung mengeluarkan ponsel hendak menelpon Fajri. Namun dokter datang, Beno memasukkan ponselnya lagi dan fokus mendengarkan Dokter.


Fajri yang baru datang berjalan dengan melihat pesan di ponselnya. Dudung menabraknya karena dia berjalan dengan terburu-buru. Fajri menatap wajahnya yang terlihat ketakutan.


"Maaf Pak!" seru Fajri yang merasa salah karena berjalan sambil memainkan ponsel.


Tapi Dudung tak peduli, dia bergegas menghentikan taksi dan masuk. Fajri terheran, kemudian dia kembali berbalik dan masuk ke lift. Dia masih bertanya-tanya, tapi pikirannya menjawab bahwa mungkin saja dia sedang terburu-buru karena operasi atau hal lain.


Saat pintu lift terbuka, Fajri melihat Wisnu menangis mengantar Nabila yang dibawa suster dan dokter. Beno melihat Fajri dan mengatakan semua yang terjadi. Fajri menatap Nabila yang lewat di depannya hendak dibawa ke ruang ICU.