
Revan memanggil suster, tangannya sibuk mencatat dan menyiapkan sebuah berkas.
"Ya Dok! " seru Suster Lena.
"Siapkan resep obat ini untuk pasien Hasna, dia akan pulang hari ini" ucap Revan.
Suster Lena tertegun, terheran dengan permintaan Dokternya.
"Keluarganya belum ada yang datang Pak! " ucap suster Lena.
Revan terdiam, dia mengingat apa yang dikatakan Hasna saat terakhir memeriksanya.
**
"Aku tidak punya keluarga, tidak ada siapapun selain Vino dan Fajri" ucap Hasna saat Revan memeriksanya.
"Kau ini bicara apa? Bukankan Gerlad, maksudku Venus adalah kakak mu? " jawab Revan.
"Tidak, tempo hari dia mengatakan bahwa dia bahkan tak pernah tahu siapa aku. Aku juga sangat tahu tentang hal itu" ucap Hasna seraya duduk di sisi ranjang.
Revan menatapnya dengan heran.
"Dia terlihat sangat mengkhawatirkan mu" ucap Revan.
"Saat kalian tak ada, dia mengatakan semuanya. Aku merasa sangat buntu dan ingin mengakhiri hidupku" jelas Hasna.
Revan terkejut dengan ucapannya.
"Tapi setelah mendengar ucapan mu tentang Fajri, aku merasa dia masih hidup dan menunggu ku untuk menemuinya, kakakku" ucap Hasna.
Revan menatap wajahnya yang masih pucat.
"Apa yang kau inginkan? " tanya Revan.
Dia setuju dengan keinginan Hasna.
"Aku ingin pulang ke rumah ku yang lama, tapi jangan beritahu siapapun. Entah itu Beno ataupun Keanu. Aku tidak peduli dengan Venus, aku bahkan tidak mengenalnya" pinta Hasna.
"Ku rasa Keanu takkan pernah menyerah padamu" ucap Revan.
Hasna diam saja.
"Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi dengan satu syarat" Revan menunjukkan jari telunjuknya.
"Apa itu? " tanya Hasna datar.
"Minum obat mu sampai habis, jangan berpikir untuk mati lagi. Aku dengar anak-anak panti asuhan tak ada yang mengurus, jadi kuharap kau bisa memulai lagi semuanya dengan semangat yang baru" pinta Revan.
"Itu bukan satu" keluh Hasna dengan ekspresi datar.
Revan tersenyum, dia senang Hasna mulai bicara pertama kali padanya.
**
Bukannya menjawab pertanyaan suster Lena, Revan malah senyum-senyum sendiri.
"Dok! " seru suster Lena.
"Hmmm? " Revan terkejut.
Dia baru tersadar dari lamunannya.
"Oh ya, Hasna sendiri yang meminta. Rahasiakan ini dari orang-orang yang selalu datang menjenguknya, ok! " pinta Revan.
"Termasuk Pak Keanu? " tanya suster Lena.
"Yaaaa, termasuk dia! " jawab Revan. b
Suster Lena merasa kasihan padanya, karena dia yang begitu giat mengunjungi dan mengurus Hasna.
"Hei! " Revan memperhatikan raut wajahnya.
Suster Lena menoleh.
"Ingat, tidak boleh ada yang tahu" Revan mengancam.
***
Vania berjalan dengan terburu-buru menuju ruang rawat di rumah sakit. Bingkisan yang dia tenteng dari tadi diayunkannya dengan riang.
Raut wajahnya sangat berbeda dengan yang dia tunjukkan saat dia dikunjungi Beno. Hari ini, seolah hari yang paling cerah sepanjang hidupnya.
Dia mengingat semua kejadian buruk sekaligus menjadi kesempatan baginya untuk mendapat apa yang dia inginkan selama ini.
**
Malam itu, Vania disuruh menunggu oleh Keanu. Tapi dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Diapun menyelinap dan berhasil sampai di pintu masuk aula.
Dia menyaksikan semua tragedi di aula itu, mereka tidak memperhatikannya yang masuk karena fokus pada Vino dan Fajri juga Hadi yang melawan.
Vania juga berteriak histeris saat Fajri terkena tembakan. Dia langsung terduduk lemas melihatnya.
Vania langsung membawa Fajri yang berusaha menghalangi Wira yang hendak menyusul Hasna. Kemudian Vino membantunya, yang akhirnya membuat Fajri melepaskan Wira karena tangannya ditarik Vania.
Dia berhasil membawa Fajri keluar dari aula itu setelah Hasna jauh pergi bersama Keanu. Mereka keluar dari hotel itu lewat jalan belakang. Tak ada satupun yang memperhatikan, Vania pun mengambil kesempatan itu untuk membawa Fajri ke sebuah klinik ilegal yang dia kenal.
Setelah merasa Fajri berhasil ditangani, Vania kembali ke hotel dan berpura-pura terkejut dengan kejadian itu. Dia datang dan mencari jasad Fajri dengan derai air mata.
Keanu yang saat itu masih sadar juga melihatnya histeris memanggil nama Fajri. Sampai dia kehilangan kesadarannya karena terlempar cukup jauh.
Setelah memberikan laporan, juga kesaksian, Vania membawa Fajri ke rumah sakit di luar kota. Menjauh dari semua orang yang ada di sana, terutama Hasna.
Dalam keadaan tak sadar, Vania terus mengatakan bahwa Hasna meninggalkan Fajri di sana sendirian.
"Hasna tak pantas mendapatkan kasih sayang mu, bahkan hanya sebagai kakak angkat sekalipun"
Itu yang selalu dia ucapan di telinga Fajri.
**
Hari ini, dia akan menjemputnya untuk pulang ke rumahnya. Tinggal bersamanya dan memulai hidup yang baru bersama.
Sampai di depan pintu ruangan itu, Vania mengambil nafas kemudian tersenyum. Dia membuka perlahan pintunya dan menyapa Fajri.
"Haii, Fajri, Selamat pagi! " seru Vania.
Namun sayangnya, tak ada jawaban. Ranjang Fajri rapi seolah sudah semalam tak ada orang yang tidur di sana.
Vania panik, tapi dia berusaha berpikir positif dan mencarinya di kamar mandi. Dia mengetuk dengan pelan dan memanggilnya.
"Fajri, kau di dalam? " seru Vania.
Tak ada jawaban, tak ada suara air mengalir. Vania membuka pintu kamar mandi dan melihat tak ada siapapun di sana.
"SUSTER! " teriak Vania.
Semua orang terkejut, seorang suster datang dengan wajah panik
"Ya nona, ada apa? " tanyanya.
Wajah Vania merah padam, dia kesal dan mengambil nafas saat hendak bertanya.
"Dimana Fajri? " tanya Vania sambil mengendalikan diri.
"Pasien Fajri? " suster itu terheran dan melihat ke arah ranjang.
Dia mencari ke kamar mandi dan ruangan sebelahnya namun tak ada.
"Sebentar nona, kami akan... "
"Sudah aku bilang untuk mengawasinya, kenapa kalian lengah? " Vania meninggikan nada suaranya.
"Maaf nona, kami... "
"AAAARRRGGGGGHHHH....! "
Vania histeris dan melempar bingkisan yang dia bawa. Dia juga mengobrak-abrik ranjang itu.
Suster keluar dan memanggil keamanan. Vania pun diamankan oleh dokter dengan suntikan penenang.
***
Keanu datang dengan bunga cantik di tangannya. Dia hendak menjenguk Hasna dan mengajaknya jalan-jalan di taman rumah sakit.
Berjalan dengan langkah riang menuju ruang rawat Hasna. Suster Lena yang melihatnya langsung menyapa dengan senyuman.
"Pagi Pak Keanu! " sapa suster Lena.
"Pagi suster Lena! " jawab Keanu riang.
Suster Lena meneruskan pekerjaannya, namun dia berhenti dan menatap ke arah Keanu. Dia baru sadar dengan apa yang dia sembunyikan darinya. Dia pun bergegas berdiri dan melihat ke arah Keanu yang mulai membuka pintu.
"Pagi Hasna! " seru Keanu.
Suara riangnya berubah menjadi diam saat melihat ruangan Hasna kosong. Semua sudah rapi dan siap untuk di isi oleh seseorang yang sakit lagi. Keanu mundur dan kembali ke meja suster.
Suster Lena berpura-pura menulis, Keanu sampai dan menepuk meja.
"Mana Hasna? " tanyanya setelah suster Lena menatapnya.
"Nona Hasna? " suster Lena berpura-pura kebingungan.
"Kau menyembunyikan sesuatu? " insting pengacar Keanu muncul.
"Ah, tidak Pak. Itu.... "
Suster Lena tak bisa menjelaskan.
Keanu langsung pergi ke ruang kerja Revan.