My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
81



Fajri datang ke rumah Hasna. Dia mengetuk pintu dengan cukup keras. Hasna buru-buru membukanya.


"Kau bisa mengetuk lebih pelan? " Hasna menunjukkan wajah kesal nya.


"Mana anak itu? " tanya Fajri.


"Dia di kamar, tidak mau keluar sejak tadi" jawab Hasna.


"Aku mau lihat" ucap Fajri dengan ekspresi datarnya.


"Kau tidak percaya padaku? " tanya Hasna.


Dia cukup tersinggung dengan sikap Fajri.


"Kau yang tidak punya rasa percaya kepadaku. Kau juga mulai tidak peduli apakah orang-orang di sekitar mu merasa khawatir dengan keadaan mu, kesehatan mu, pekerjaan mu. Apa hari ini kau bosan menjalani hari mu hanya di rumah saja, atau hanya sekedar memikirkan apa yang kau lakukan tanpa pekerjaan" Fajri mencecar Hasna dengan semua kekhawatiran nya.


"Fajri... aku... "


"Aku sudah tidak mau mendengarkan semua penjelasan mu. Aku mau bawa Nina dan menahannya sebagai pelaku prostitusi di hotel JM" ucap Fajri seraya mengalihkan Hasna dari hadapannya.


Hasna menghela keras, dia mencoba menyusul Fajri, namun Fajri sudah membuka pintu kamarnya dan menganga melihat kamarnya kosong.


"Tidak ada orang di sini" ucap Fajri.


"Apa? "


Hasna mendekat dan melihat kamarnya. Jendela yang menuju sebuah gang kecil diantara pertokoan, terbuka. Hasna buru-buru keluar dan mencari Nina.


Fajri diam menatap gang dari arah jendela Hasna. Dia memperhatikan jalan dan tempat yang mungkin Nina ambil setelah keluar dari sana. Dia melihat Hasna yang sedang mencari Nina.


Hasna kembali dengan nafas tersengal.


"Aku kehilangan tersangka karena ulah mu" ucap Fajri.


Mata Hasna membulat, dia menganga tak percaya mendengar ucapan Fajri. Sementara Fajri sendiri keluar dengan kesal karena tak bisa membawa Nina.


"Hei... kau mulai menyebalkan! " seru Hasna saat Fajri meninggalkan nya begitu saja.


Fajri pergi menggunakan mobil dinasnya. Tanpa bicara ataupun menoleh lagi pada Hasna.


Hasna langsung menelpon Hadi dan memintanya untuk mencari Nina. Namun sayang, nomor Hadi tak bisa dihubungi.


"Aishhhh... Fajri, kenapa kau tak bisa mengakui bahwa aku punya andil membantu mu memecahkan kasus ini" keluh Hasna.


Dia menutup pintu rumahnya dan pergi mencari Nina ke rumahnya.


Fajri baru saja keluar dari rumah Nina, Hasna bersembunyi di dekat rumah tetangganya. Dia tak bisa ikut mencari Nina secara terang-terangan di hadapan Fajri.


"Dia akan terus melakukan itu, bergerak lebih dulu dari ku" gumam Hasna.


Fajri berjalan menuju mobilnya. Hasna mulai masuk ke rumah Nina dan mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk kemana kemungkinan dia pergi.


Dia memeriksa buku telpon dan semua laci yang tak dikunci. Tapi tetap saja tak menemukan apapun yang menjadi petunjuk kemana Nina bisa pergi.


"Apa aku harus menemui Nunik? " gumam Hasna.


Hasna buru-buru keluar menuju mobilnya. Fajri sedang bersandar di sana dan menatapnya dengan mengerutkan dahinya. Hasna berjalan perlahan dengan senyum bodoh tertuju padanya.


"Menemukan sesuatu? " seru Fajri.


Hasna menggelengkan kepalanya.


"Kau menunggu ku? " tanya Hasna.


"Lain kali parkir agak jauh supaya aku tak melihat mobil mu ini" pukul Fajri pada mobil Hasna.


Hasna ikut bersandar dan mengeluarkan semua yang dia dapat di rumah Nina.


"Tak ada apapun, mereka bahkan tidak punya kontak keluarga selain nomor ini"


Hasna menunjukkan buku telpon yang dia bawa dari rumah Nina. Fajri mengambilnya dan memasukkan nomornya ke kontaknya.


Mata Fajri membulat, nama dari kontak itu sudah tersedia di ponselnya.


"Pak Wira!" gumam Fajri.


"Hmmm, itu nama yang muncul di ponse ku juga" ucap Hasna.


"Lalu apa yang akan kau lakukan? " tanya Fajri.


"Entahlah! " jawab Hasna.


~Aku tidak akan mengatakan rencana ku dulu, dia juga mungkin punya pemikiran yang sama~ ucap hati Hasna.


Mereka saling diam dan berpikir.


"Kau menyuruh Hadi memblokir nomor ku? " tanya Hasna.


"Jangan hubungi dia, dia sangat sibuk sekarang. Katakan saja padaku, telpon aku jika kau butuh bantuan" ucap Fajri.


Di beranjak dan hendak pergi ke mobilnya.


"Kau akan kemana sekarang? " tanya Hasna.


Fajri berbalik kemudian tersenyum.


"Ke penjara, menemui Nunik. Kau juga mau ke sana kan? " jawab Fajri.


Raut wajah Hasna berubah.


~Apa ku bilang! ~ lagi-lagi Hasna bicara pada dirinya sendiri.


"Ya, aku mengikuti dari belakang" jawab Hasna dengan senyum bodohnya.


***


Vino mendengarkan semua informasi yang diberikan Nendi tentang Hasna dan Fajri.


"Aku berusaha lari dari sana dengan mempertaruhkan nyawaku. Mereka hampir memberendeli semua orang dengan senjata mereka.... "


"Jadi semua ini masih berhubungan tentang ayah ku? " tanya Vino menyela pembicaraan Nendi.


"Itu masih menjadi dugaan ku. Oh ya, ada orang berpengaruh yang ikut andil dalam pertemuan itu" ucap Nendi.


"Siapa? " tanya Vino.


"Wira Wiranto, kepala petugas berwajib yang sebentar lagi akan diganti" jawab Nendi.


Vino mengerutkan dahinya. Dia berpikir keras memikirkan semua benang merah yang mungkin terikat diantara ayahnya, Wira dan Venus.


"Sekarang, Hasna dimana? " tanya Vino.


"Saat aku kemari, dia masih di rumahnya menunggui gadis itu" jawab Nendi.


"Ikuti dia lagi, kalau bisa kau cari orang untuk bisa melindunginya secara diam-diam. Sesuatu bisa saja terjadi. Dan aku tidak mau jika Hasna terluka" pinta Vino.


Nendi berdiri dan merapikan tasnya.


"Baik Pak, saya permisi" ucap Nendi.


Dia pergi, Vino mengantar kepergiannya dengan tatapan penuh kekhawatiran dan memikirkan Hasna.


"Kau takkan pernah berhenti, jika ini semua tidak berakhir. Apa yang bisa aku lakukan untuk membuat mu berhenti Na. Kau bisa saja terluka lagi" gumam Vino.


Vino kembali ke ruang tahanannya. Dia "dilayani" lagi oleh temannya. Seorang memijat bahunya, seorang lagi memijat kakinya.


Tak berapa lama kemudian, Wira berdiri di depan ruang tahanannya melipat tangan menatapnya.


"Hei bocah! Pria tua itu menatap mu. Sapa dia" seru Choki dari sisi ruang tahanan lain.


Vino kesal dengan panggilan Choki padanya. Tapi tatapannya menuruti ucapan Choki. Dia melihat Wira di sana. Dia pun teringat dengan cerita Nendi. Vino berdiri dan mendekat.


"Waaah, aku iri padamu. Aku mengeluarkan banyak uang untuk bisa dihormati di tempat ini. Tapi kau, hanya dengan jabatan mu, kau bisa melipat tangan di depan ruang tahanan ku" ucap Vino.


"Bawa dia ke ruangan kepala penjara" Wira memberikan perintah.


Dia pergi lagi dan tak menghiraukan nya.


"Hahahha, dia tidak mendengarkan mu bocah ingusan. Hahaha! " Choki senang dengan situasi itu.


Vino keluar dari ruang tahanannya dan memukul hidung Choki yang keluar dari sela jeruji. Choki mengerang kesakitan, kemudian melancarkan semua umpatan yang dia tujukan pada Vino.


Vino berjalan dengan wajah menyeringai penuh kemenangan karena sudah memukulnya tapi dia tak bisa membalas.