My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
106



Di penjara.


Pagi menuju siang, semua tahanan keluar untuk kegiatan yang akan mereka jalani. Vino berjalan melewati kamar mandi dan tak sengaja mendengar pembicaraan Venus di telpon.


"Kau gagal? " seru Venus.


Vino mendekat, dia meminta salah satu temannya mengawasi agar tak ada yang tahu dia menguping.


"Hasna itu cuma wanita, kau gagal untuk membawanya ke hadapan Wira. Sebentar lagi dia pasti kemari dan mencecarku dengan semua caciannya" ucap Venus.


Mendengar nama Hasna, Vino kalaf. Dia masuk ke kamar mandi dan menarik kerah baju Venus.


Venus yang terkejut, menjatuhkan ponselnya ke toilet. Vino menariknya keluar dan hendak memukul wajahnya. Tapi dia ingat, sebentar lagi dia akan keluar penjara. Jika dia memukul Venus hari ini, dia akan kesulitan mengembalikan kesempatan keluar dari penjara.


Tangannya yang mengepal berada tepat di depan wajah Venus yang memejamkan matanya, bersiap untuk dihajar.


"Dia akan kemari? Jam berapa? " tanya Vino dengan tangan gemetar mengendalikan emosinya.


"Ji.. jika aku gagal, dia akan datang beberapa jam setelah mendengar kabar kegagalan ku, ku rasa, dia sudah sampai" ucap Venus dengan nafas tersengal karena tercekik tangan Vino yang menggenggam erat kerah bajunya.


Vino melepaskan Venus dengan melempar tubuhnya ke sudut kamar mandi. Venus kehilangan keseimbangan dan terduduk dengan mata menatap amarah Vino yang sedang memuncak. Dia sadar telah mengusik ketenangannya dengan mengusik Hasna. Dia tak berani melawan atau pun menenangkannya.


Vino keluar dari toilet dan berjalan dengan langkah berat menuju ruang kepala penjara. Dengan tangan yang bertenaga, dia membuka pintu dan mendapati Wira sudah ada di sana, duduk dengan santai menatap wajahnya.


"Aku sudah bilang aku akan melakukan semua yang ku inginkan, asal kau tidak menyentuh dia! " ucap Vino.


Dia berdiri di depan Wira yang duduk masih dengan santainya.


"Aku tidak sabar, kau mungkin tidak akan menyerahkannya karena rasa cinta mu yang begitu besar" ucap Wira.


"Aku menahan diri untuk tidak memukul Venus atau mencekik mu, hanya untuk kembali padanya dan memberikan dirinya padamu. Kau inginkan apa lagi dari ku? Jika kau ingin mengambil jalan lain selain rencanaku, ambillah. Kau tidak akan pernah berhasil karena Hasna selalu berada dalam pengawasan Fajri, dan sekarang Keanu juga mendukungnya "


Vino seolah memberikan saran pada Wira.


"Kau tidak akan pernah berhasil tanpa andilku" tambah Vino.


Wira mengalihkan pandangannya, berpikir tentang apa yang dikatakan Vino ada benarnya.


'Anak buah Venus yang paling kejam pun tak bisa menyentuhnya, apalagi jika aku melakukannya sendiri. Aku harus mengikuti rencana Vino, meskipun saat ini dia terlihat marah karena keselamatan Hasna terancam' pikir Wira.


Vino menunggu responnya.


'Ikutilah ucapan ku, percayalah padaku. Permudah aku untuk berada di pihak mu, berpikir lah seperti orang bodoh lainnya Wira' ucap hati Vino.


Wira bangkit dari kursinya. Dia berjalan memutari meja yang juga memutari Vino.


"Aku tidak tahu sedendam itu kau pada Hasna" ucap Wira.


"Dia terus meminta ku menceraikannya, cinta ku berubah menjadi benci saat dia memilih untuk bersama Keanu, dibandingkan bersama ku" ucap Vino dengan sesekali memejamkan matanya karena mengucapkan kebohongan.


"Ya, cinta yang berubah jadi benci. Aku tahu bagaimana rasanya. Dulu juga aku menyayanginya karena dia berhasil selamat dan mematahkan peraturan sekte ini. Tapi saat tindakannya justru membuat Anna menjadi korban selanjutnya, aku membencinya. Setelah aku harus mengorbankan istri yang sangat aku cintai, aku juga harus mengorbankan permata hatiku, putriku Anna"


Wira memegang meja karena lemas mengingat putrinya.


'Kau tahu rasanya kehilangan cinta, tapi kau tidak mau memahami perasaan ku. Aku juga tidak mau, tidak akan pernah mau kalian mengorbankan cinta ku' ucap hati Vino.


"Kita punya dendam atas Hasna, berikan aku kesempatan.... "


"Lakukanlah, aku akan menunggu. Awal tahun depan, gedung milik Venus yang berada di pinggir kota. Aku menunggu mu di sana tepat tanggal 10 Januari pukul 12 malam. Bawa dia ke sana, lakukan kewajiban mu. Akan kuberikan semua kekuasaan ku untuk mu" ucap Wira berjanji.


Vino menghela saat Wira pergi meninggalkannya. Tak terasa tangisnya menetes di pipi.


'Dia pasti ketakutan' ucap hati Vino.


"Aku harus segera melakukannya" gumamnya.


***


Fajri menatap Hasn yang tertidur lelap, dia menjaganya semalaman. Fajri menguap dan melakukan peregangan otot karena cukup pegal menggenggam tangan Hasna.


"Apa? " tanya Fajri.


"Pak, orang yang anda cari semalam, anak buah Venus. Tapi dia juga sering bertemu dengan Pak Wira. Pak, aku tidak tahan dengan drama penguasa ini Pak! " keluh Hadi.


"Bersabarlah, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Bersabarlah! " jawab Fajri.


Fajri menaruh ponselnya di meja makan, dia meraih gelas untuk membuat kopi.


"Apa yang kalian sembunyikan dari ku? " tanya Hasna yang sudah berdiri di ambang pintu.


Suara dan pertanyaan Hasna membuat Fajri terkejut dan melempar gelas yang hampir di jatuhkan.


"Astaga! Kau membuatku terkejut! " keluh Fajri seraya mengusal dadanya.


Hasna berjalan mendekat dan menatapnya.


"Apa drama penguasa yang Hadi maksud? " tanya Hasna sekali lagu dengan menatap mata Fajri.


Fajri diam membisu.


"Apa hubungannya dengan ku?" tangis Hasna mulai menetes.


Fajri meraih tangannya, namun Hasna mengelaknya.


"Kenapa pria itu bilang kalau seharusnya aku mati malam itu? " tangis Hasna terus mengalir.


"Dengarkan aku! " pinta Fajri sambil mencoba meraih kembali tangannya.


"Tidak, sekarang kau yang dengarkan aku" Hasna menahan isak tangisnya.


"Hasna! " Fajri tak mau melihatnya menangis.


"Pria itu, aku tahu dia,.... dia ada di sana malam itu, bersama Bima" ucap Hasna terbata.


Hasna terduduk lemas, tak kuasa menahan rasa takutnya mengingat kemalangannya. Fajri meraihnya dan menahan dia untuk tak terjatuh. Tapi mereka berdua malah terduduk bersama.


"Pria itu.... " Hasna hendak menjelaskan.


"Aku sudah menemukannya, Hadi sedang mengejarnya. Kau akan baik-baik saja, tenanglah! " ucap Fajri.


Mata Hasna menatapnya penuh harap, berharap ucapan Fajri benar, dia sangat ingin pria itu ditangkap dan mendapatkan penjelasan dari semua ucapannya semalam.


Tak berapa lama, suara bel pintu rumahnya memecah keheningan diantara mereka. Hasna menghapus air matanya dan mengendalikan emosinya.


Fajri berdiri dan membukakan pintu, dia melihat Keanu yang sangat rapi berdiri menatapnya.


"Kau di sini? " tanya Keanu.


Fajri melirik ke sisinya, melihat Hasna masuk ke kamarnya.


"Hasna tidak bisa masuk hari ini, dia tidak enak badan" ucap Fajri.


"Hasna sakit? Sakit apa? " tanya Keanu mengkhawatirkanya.


"Hanya tidak enak badan, tapi aku tidak tahu kapan dia siap untuk masuk lagi. Kau bisa memakluminya kan? " tanya Fajri seraya melipat kedua tangannya di dada.


Keanu tak puas dengan hanya mendengarkan ucapan Fajri. Matanya menatap ke arah pintu kamar Hasna. Dia sangat ingin masuk dan melihat sendiri keadaannya.


"Kau tidak boleh masuk, dia sedang istirahat!" ucap Fajri memperhatikan arah mata Keanu.


"Baiklah, kau bisa menghubungi ku kapanpun untuk membantu Hasna, aku akan selalu siap" ucap Keanu.


"Ya, terimakasih" jawab Fajri.


Keanu pergi, tapi dia merasa heran dengan respon Fajri yang seolah benar-benar membutuhkan ucapan itu darinya.


Keanu menatap pintu rumah Hasna yang masih terbuka saat dia memegang pintu mobilnya. Fajri keluar dan menatapnya, kemudian menutupnya.