
Hasna sampai di kantor penyedia listrik di daerah itu. Dia mengurus semuanya dengan cepat dan kembali ke rumahnya.
Sampai di rumahnya, hela nafasnya terdengar keras di ruangan yang sunyi itu.
"Apa yang harus aku lakukan? " gumam Hasna.
Tak lama kemudian, Keanu meneponnya. Dia terdiam sejenak menatap ponselnya.
"Apa aku harus menerima pekerjaan darinya?" tanya Hasna pada dirinya sendiri.
Panggilan itu berakhir, Hasna mengabaikannya dan membuka laptopnya. Tapi Keanu kembali menelponnya. Hasna langsung menjawabnya.
"Ya, Hallo! " jawab Hasna.
"Akhirnya, bisakah kau ke kantor ku sekarang? " Keanu langsung memintanya.
"Ada apa? " Tanya Hasna.
"Aku tidak tahu bagaimana harus mendiskusikan ini dengan siapa" jelas Keanu.
Hasna terdiam.
"Baiklah, aku akan ke sana" ucap Hasna menyetujui.
Dia langsung pergi, keuar dari rumah dan menyalakan mobilnya. Dia tak melihat Fajri yang baru saja memarkirkan mobil di belakangnya. Hasna pergi begitu saja, sementara Fajri menatap kepergiannya setelah keluar dari mobilnya.
"Mau kemana dia sampai terburu-buru seperti itu? " gumam Fajri.
Fajri hendak masuk ke rumahnya, namun dia berhenti saat melihat kunci digital yang menempel.
"Hufft, aku tidak bisa masuk lagi ke rumah ini lagi" gumam Fajri.
Dia berbalik hendak kembali ke mobilnya. Namun langkahnya terhenti, dia berpikir sejenak, kemudian berbalik.
"Kira-kira berapa passcode nya ya? " gumam Fajri yang penasaran.
Dia mendekat lagi ke pintu dan mencoba beberapa angka, tapi pintunya tak juga terbuka. Fajri menghela kemudian mencoba angka-angka yang ada di pikirannya. Pintunya terbuka, mata Fajri membulat.
"Tanggal kematian ayahnya. Dia tidak akan pernah meupakan itu" gumam Fajri.
Fajri hendak masuk, tapi Hedi menelponnya.
"Ya ada apa? " tanya Fajri.
Dia mendengarkan beberapa saat, kemudian menutup pintu rumah Hasna dan pergi.
Sampai di kantor, Hadi menunjukkan sesuatu yang membuatnya membuka lebar matanya.
"Ini kasus besar, beberapa anak ditemukan di titik yang berbeda. Dari hasil otopsi, mereka kehilangan organ tubuh mereka. Ada yang sudah tak memiliki ginjal, hati dan jantung" jelas Hadi.
Fajri menelan salivanya, matanya tak bisa lepas dari berkas laporan yang dia terima.
"Suruh yang lainnya menemui ku di kantor ku" pinta Fajri.
Hadi keluar dan memanggil semuanya.
***
Hasna sampai di depan kantor hukum Reaves, matanya meraba gedung yang cukup besar itu.
"Aiiishhh, kenapa kantor sebesar ini memerlukan orang seperti aku? Apa dia menjebak ku?" gumam Hasna.
Tak berapa lama, Keanu keluar dengan mata yang mencari kearah lain. Hasna memperhatikannya.
"Dia nyari siapa? " tanya Hasna pada dirinya sendiri.
Kemudian Keanu melihatnya, dia menghela dengan keras. Langkahnya lebih cepat dan mendekat pada Hasna.
"Akhirnya kau datang! " ucapnya sejak beberapa langkah agak jauh.
Dahi Hasna berkerut, dia tak menyangka Keanu sedang menunggunya. Tangan Keanu langsung memegang tangan Hasna dan menariknya.
"Ikut aku, ini sangat urgent" ucapnya.
"Ada apa? " seru Hasna.
Dia terpaksa ikut karena juga ikut panik melihat sikapnya. Semua karyawan dan orang-orang yang ada di kantor itu menatap Keanu dan Hasna yang ditariknya.
Sampai di depan pintu sebuah ruangan, Keanu berhenti melangkah dan mengambil nafas dalam. Hasna ikut berhenti dan menatapnya dari belakang. Keanu berbalik dan menatapnya.
"Di dalam... " Keanu mengatur nafasnya seraya menunjuk ke arah ruangan itu.
"Huuh? " Hasna hanya bereaksi sedikit.
"Ada pasangan yang ingin bercerai, tapi mereka malah bertengkar di hadapan ku... " keluh Keanu.
Hasna menghela dan tersenyum.
"Yakinkan mereka untuk tidak bercerai" ucap Keanu.
"Apa? " tanya Hasna heran.
"Hanya itu, aku akan berterima kasih jika kau berhasil melakukannya" pinta Keanu seperti anak kecil.
Keanu membuka pintu perlahan dan meminta Hasna masuk. Hasna masuk dengan perlahan seraya memperhatikan situasi yang sedang terjadi.
Matanya terbuka lebar saat melihat pasangan yang ada di sana. Mereka sedang saling diam dan membelakangi.
"Pak Jordan! " gumam Hasna.
Pria berusia 40 tahun yang dia kenal sebagai pengacara yang handal. Yang mengajarinya banyak hal di bidang ini. Hasna menatapnya juga memperhatikan istrinya yang masih berusia 30 tahunan.
"Kalian yang akan bercerai? " tanya Hasna.
Suaranya membuat mereka menoleh dengan heran.
"Hasna? " Pak Jordan menyapanya tak menyangka.
"Hai! " sapa Hasna pada istrinya.
Tiba-tiba Hasna memeluk Pak Jordan dengan erat. Mata Melani, istrinya membelalak melihat pemandangan itu. Jordan pun heran dengan sikap Hasna yang biasanya dingin.
"Aku merindukan mu Pak! " ucap Hasna dalam pelukannya.
"Aa... apa? " Jordan semakin heran.
"Paaaapiiiii..... ! " seru Melani dengan berteriak.
Melani menarik lengan Hasna hendak menamparnya. Tapi tangan Keanu menahannya. Mereka berempat saling bertukar tatap.
Jordan kemudian tersenyum saat menyadari istrinya begitu cemburu melihat Hasna memeluknya.
"Sini! " ucap Jordan seraya menarik Melani.
Hasna tersenyum, tapi hanya Keanu yang diam dengan wajah yang tegang.
"Aku selalu terkejut dengan cara mu menyesaikan pertikaian rumah tangga" ucap Jordan memuji Hasna.
Melani menatap Jordan dengan heran karena ucapannya.
"Masih ada cemburu, berarti masih ada cinta. Kenapa yang lain jadi masalah untuk kalian? " ucap Hasna.
Melani tertunduk malu. Jordan mengusap punggungnya untuk membuatnya merasa lebih baik.
"Sedang apa kau di sini? " tanya Jordan.
Mereka duduk bersama.
"Pria ini meminta ku kemari dengan nada suaranya yang panik" ucap Hasna seraya menunjuk pada Keanu yang masih berdiri.
Jordan tersenyum, Melani ikut menertawakannya.
"Kalian sering bertengkar, tapi aku juga akan heran jika kalian bertengkar di kantor firma hukum seseorang. Semua orang mendengar dan memperhatikan" ucap Hasna.
"Entah apa yang membuatku begitu marah padanya. Aku sudah lupa bahwa aku masih mencintainya. Rasa ini takkan pernah bisa aku sembunyikan, meski waktu dan keadaan begitu berusaha memudarkannya"
Melani menatap Jordan dengan penuh rasa penyesalan.
"Maafkan aku, seharusnya aku mengerti kau sudah sangat berusaha membuatku mengerti bahwa kau begitu mencintai ku" ucap Melani.
Hasna menundukkan pandangannya melihat mereka saling memeluk. Teringat dengan Vino yang begitu tak pernah menyerah mengatakan dan membuktikan bahwa dirinya lah yang selalu dia cintai.
Keanu memperhatikannya, dia mencoba untuk membuatnya tak larut dalam lamunan.
"Jadi, kalian tak melanjutkan gugatannya? " tanya Keanu dengan nada canda.
Jordan tertawa.
"Kau sangat berbeda dari ayah mu" ucap Jordan.
"Jelas, jika dia yang masih ada di sini, kalian sudah mendapatkan nasihatnya yang mendalam. Kalian pun akan diam di sini seharian" ucap Keanu di iringi gelak tawa.
Jordan menatap Hasna yang tak bergeming dengan candaan mereka.
"Kau tak ingat Marvin Reaves? " tanya Jordan.
"Tentu saja ingat, dia orang paling berpengaruh di bidang ini. Tidak ada yang tidak mengenalnya" jawab Hasna.
"Ya, kau benar. Sayangnya Marvin melepaskan semuanya begitu saja dan pergi ke Belanda. Kau tidak tahu alasan dia melakukannya? " tanya Jordan pada Keanu.
"Tidak, papa tak pernah mengatakannya. Di sana pun dia hanya diam dan menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan saja" jawab Keanu.
Jordan masih penasaran dengan diamnya Hasna.