
Bima menjalani pemeriksaaan, Armand sangat bersemangat menanganinya karena sudah mendapat arahan dari Hasna tentang semuanya. Dia hanya tinggal menunggu Hasna selesai menjalani sidang profesi. Menjalani hukuman dan kembali bergabung bersama dirinya di firma hukum umum lagi.
Mata Bima menatap wajah Armand yang begitu sumringah.
"Apa dia sudah memberikan mu step by step untuk menjebloskan ku ke penjara?" ucap Bima.
Mata Armand membulat menatap wajah Bima yang mulai ditekuk setelah beberapa hari ditahan.
"Menurut mu?" Armand balik bertanya.
"Ya, kau pengacara. Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan itu sudah lumrah kalian tujukan pada korban seperti ku" ucap Bima.
"Korban katamu?" Armand menertawakan ucapan Bima sambil merapikan berkas di meja.
Bima menatap tajam padanya.
"Jika masih ada pengacara yang mengatakan kau adalah korban, karirnya akan berakhir hari itu juga" Armand menjamin ucapannya.
Wajah Bima semakin merengut mendengar ucapan Armand. Dia yang awalnya ingin membuat Armand takut dan memihaknya, malah ditertawakan.
Tak lama kemudian, Vino datang ke sana dan duduk di hadapan Armand dan Beno.
"Aku anak dari Bima Sebastian, kalian memanggil ku untuk memberikan pertanyaan perihal dirinya kan? Aku siap" ucap Vino.
"Aku yang akan menanyakannya pada dia" ucap Fajri yang juga baru datang.
Beni tak banyak berkomentar, dia memberikan berkas pertanyaan yang harus ditanyakan pada Vino.
Dengan langkah perlahan dan sedikit pincang, Fajri mengajak Vino untuk ikut dengannya ke ruangan lain. Vino mengikutinya tanpa banyak bertanya atau menolak meskipun dia sangat tak ingin berhadapan dengannya.
Fajri duduk dan membuka berkas juga membacanya satu persatu. Vino duduk di hadapannya dengan tangan melipat di dada.
"Hasna, apa dia baik-baik saja?" tanya Fajri tanpa menatapnya.
"Aku rasa pertanyaan itu bukan bagian dari penyelidikan ini" jawab Vino dengan mata menatap Fajri.
Dia tak menerima perhatian Fajri sedikit pun untuk Hasna meski itu keluar dari mulut kakak asuhnya.
"Aku belum mulai, hanya memastikan keadaannya saja. Aku sarankan untuk kalian pindah, rumah itu memang besar tapi menyesakkan untuknya" Fajri memberikan saran.
Matanya menatap mata Vino yang sudah mulai kesal.
"Ok, kita mulai pertanyaan pertama"
Fajri mengajukan hingga dua puluh pertanyaan yang berkaitan dengan Bima Sebastian. Vino pun menjawabnya dengan kooperatif.
"Jadi, kau baru tinggal bersamanya beberapa bulan ini?" tanya Fajri sekali lagi memastikan.
"Ya, berapa kali kau harus menanyakan hal itu?" Vino sudah sangat kesal.
"Ok, terimakasih atas kerjasamanya Pak Vino Sebastian. Anda bisa pulang" ucap Fajri tanpa menatapnya.
Vino keluar dari ruangan itu, menyusul Fajri yang berjalan tepat di belakangnya. Namun langkah mereka terhenti saat mendengar suara teriakan Bima. Mereka berlari ke ruang tahanan dan melihat Bima yang sedang menodongkan senjata ke hadapan Hasna.
Fajri berlari dan langsung berdiri di depan Hasna, menghadang todongan Bima.
"Oh, kau mau menghalangi ku?" Ucap Bima.
"Turunkan senjata mu, kau bisa kena pasal berlapis" ucap Fajri.
"Hahahahaha" Bima tertawa terbahak.
Semua orang bersiaga menatap gerak geriknya hendak mencegah hal yang tak diinginkan terjadi. Namun meski Bima tertawa dan banyak bicara, dia sangat siaga dan siap menembak.
"Aku sudah akan dihukum mati karena membunuh para gadis menarik itu. Ya, aku melakukan semuanya, memintanya datang ke rumah dan kantor ku hanya untuk ku nodai dan ku ukir namanya di paha kanan dan kirinya. Bukankah itu seni yang indah?"
"Aku puas melakukannya, terutama pada mu. Karena kau wanita jahat" ucap Bima menunjuk pada Hasna.
Fajri menepis tangan Bima.
"Kau wanita yang cukup memuaskan, tapi kau tak pantas untuk anakku Vino. Dia terlalu baik untuk mu" lanjut Bima dengan teriakan di akhir kalimatnya.
Hasna hanya menatapnya, semua orang pun memandang mereka bergantian. Beno hendak mengambil langkah dan mengambil senjata yang ada di tangan Bima. Namun kesiagaan Bima membuat hal fatal. Dia menembakan senjata ke arah Hasna dan mengenai lengannya. Bidikan yang tepat baginya untuk membuat semua orang waspada dan tak menganggapnya hanya menggertak.
Vino kesal dengan situasi ini, melihat Hasna tersungkur jatuh dan meringis kesakitan. Dia mengambil senjata petugas lain yang lengah dan menembakkannya ke arah dada kiri Bima berkali-kali hingga peluru di senjata itu habis.
Teriakan Vino saat menembak menggema di ruangan yang cukup besar itu. Beberapa petugas yang berada di ruangan lain pun berhamburan keluar saat mendengarnya.
Bima terkapar dengan bersimbah darah, tubuhnya tersandar di tembok dengan mata membulat menatap Vino yang juga menatapnya tajam.
Darah menyembur dari mulutnya karena dia hendak mengucapkan sesuatu. Beberapa petugas mendekat untuk melihat keadaannya. Sementara Beno mengambil senjata yang Vino pakai.
Hasna dan Fajri menatap Vino dengan iba. Dia harus menembak ayahnya sendiri untuk melindungi Hasna. Vino pun hanya bisa tersenyum melihat Hasna baik-baik saja.
Nafasnya tersengal, matanya merah mengeluarkan air yang perlahan menetes ke pipinya saat dia memejamkannya beberapa kali.
Hasna hendak menghampiri Vino, namun beberapa petugas membawanya ke ruangan lain dan memborgolnya. Fajri pun menahan tubuh Hasna yang tak memperdulikan dirinya sendiri.
"Kau harus ke rumah sakit" ucap Fajri.
Tapi telinga Hasna hanya mendengar suara letusan senjata itu terus menerus. Fajri menatap wajahnya yang masih menatap Vino yang mulai menghilang di ambang pintu.
"Hasna!" seru Fajri menyadarkannya.
Hasna menatap Fajri yang berusaha bicara padanya. Namun air mata terus mengalir dari matanya. Membuat pandangannya kabur, kemudian dia jatuh pingsan.
Fajri menahan tubuhnya, beberapa orang membantu mereka membawanya ke rumah sakit.
Bersamaan dengan mayat Bima yang dibawa juga ke rumah sakit, Hasna dibawa ke arah ruang gawat darurat untuk mendapatkan penanganan.
Fajri menunggu, pakaiannya berlumur darah Hasna yang dia peluk saat dimasukkan ke dalam ambulans. Dia tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Tangannya gemetar, keringat mengalir bergantian dengan tangis di dahi dan pipinya.
Vania berlari ke rumah sakit mendengar berita itu. Dia berhenti saat melihat Fajri duduk meremas kedua tangannya sendiri.
Fajri menoleh karena mendengar langkah kaki, matanya menatap Vania. Dia berdiri dan berlari mendekat padanya kemudian memeluknya.
"Syukurlah kau ada di sini, aku sangat ketakutan. Hasna, Bima menembak lengannya. Aku takut sekali" ucap Fajri di pelukan Vania.
Vania mengusap punggungnya perlahan untuk menenangkannya.
Sementara itu, di kantor, Beno menatap Vino yang terus mengusap wajahnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Beno.
Pertanyaan yang mungkin tak harus dijawabnya.
"Tanyakan pada Fajri, apa Hasna baik-baik saja?"
Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Beno menghela, dia mengeluarkan ponselnya kemudian menanyakannya pada Fajri.
"Baiklah, aku akan menyampaikannya" ucap Beno setelah mendengar beberapa saat.
Vino menatap Beno dengan penuh harap.
"Dia sudah ditangani dan dipindahkan ke ruang rawat. Tembakannya hanya mengenai lengan. Dan aku rasa dia pingsan karena tak kuasa memikirkan bahwa suaminya akan di penjara"
Ucapan Beno membuat Vino diam membisu. Dia tak memikirkan hal itu.