
Hasna terdiam di depan makanan yang hendak dia makan bersama Vino. Kabar yang dia dengar membuatnya tak bisa bicara sedikitpun. Vino berusaha menyadarkannya.
"Ada apa sayang? Siapa Dania? " ucap Vino seraya memegangi tangannya.
Hasna tak bergeming, hanya tangis yang mengalir dari matanya yang semakin membuat Vino khawatir.
"Sayang, kamu nangis? " ucap Vino sambil menghampiri.
"Dania.... "
Hasna masih tak bisa membendung air matanya.
"Vino.... kita harus mencarinya" Hasna memohon.
Vino tak mengerti, tapi dia berusaha untuk mengenangkannya.
***
Fajri menatap ke arah jalan, menerka tempat dan waktu kemungkinan Dania dibawa.
"Jika dia tak sampai ke toko yang dekat, berarti dia dibawa di jalan setapak ini" gumam Fajri.
"Bagaimana jika dia pergi sendiri Pak! " ucap Hadi menduga.
Fajri menoleh padanya.
"Dia terlalu kecil untuk mengambil tanggung jawab kesebelas adik yang nota bene bukan adiknya" lanjut Hadi.
Fajri mengalihkan pandangannya, dia berada dalam situasi keraguan. Dia ingat dimana saat dia berada di sana, Dania sering menatap ke arah luar dengan melamun.
Fajri mengambil nafas panjang dan menghembuskannya melalui mulut.
"Ya, mungkin saja dia memutuskan untuk pergi.... " ucap Fajri.
"Tidak, dia tidak akan pernah pergi"
Suara Hasna mengejutkan mereka. Fajri menoleh, Hasna datang dengan kawalan dari Vino langsung.
"Kau! " ucap Fajri.
"Aku sudah katakan padamu, pria yang sering kemari, aku melihatnya ada di tempat hiburan milik Venus. Dia pasti merencanakan penculiknya" duga Hasna.
"Tapi Na... " Fajri hendak mengubah pandangan dan pemikiran Hasna.
"Kenapa tidak cari ke tempat hiburan itu saja, siapa tahu pria itu masih di sana. Baru beberapa jam kan? " ucap Vino memberi ide.
"Kami tidak bisa menggeledah tempat hiburan begitu saja, harus ada surat izin, minimal sedang bertugas, itupun anggota lain yang melakukannya" ucap Hadi.
Vino menyeringai.
'Kau tidak bisa melakukannya karena Wira' ucap hati Vino.
Fajri memperhatikannya dan menundukkan pandangan.
'Ya, aku tidak bisa karena Wira' ucap hati Fajri.
"Kau bekerja seperti amatir, kita biasa mengintai dan menyamar, kenapa kali ini kau ragu? " tanya Hasna dengan raut wajah penuh kekecewaan padanya.
Fajri mengalihkan pandangannya.
"Jika memang kau tidak bisa, tidak apa-apa. Aku dan Vino akan melakukannya sendiri" ucap Hasna sambil memegang tangan Vino.
Vino terkejut, dia menatap Hasna yang sedang menatap Fajri. Sedangkan Fajri menatap mereka bergantian.
'Wira takkan membiarkan aku melakukannya' ucap hati Vino.
'Apalagi dia! ' ucap hati Fajri yang jelas meragukan Vino.
Hasna menarik tangan Vino dan berjalan menuju rumah panti. Dia berjalan tergesa-gesa dan melihat anak-anak sedang berdiri menatapnya dari rumah.
Hasna berlari, Bagas, Meli dan beberapa anak yang masih berumur enam tahun ikut berlari dan memeluknya.
'Ingin rasanya menjerit, karena kejadian malam itu aku tak bisa menjaga anak-anak. Maafkan aku Dania' ucap hati Hasna.
"Bu! " seru Galih.
Hasna menoleh, dia berdiri dan menghampiri yang lainnya.
"Kak Dania benar-benar mau membuat telur dadar yang dicampur tepung untuk kami, dia sudah mengocok telurnya tapi tidak kembali setelah pergi hendak membeli tepungnya" jelas Galih.
"Ya, aku tahu. Dania mungkin ada yang mengajak pergi atau memaksanya. Tapi aku berjanji, dia akan kembali berkumpul lagi dengan kalian" ucap Hasna.
Vino dan Fajri hanya diam menatap mereka. Vino mengalihkan tatapannya pada Fajri dan mengajaknya menjauh untuk bicara.
"Apa ini? " tanya Vino.
"Hasna belum menceritakannya? " Fajri malah balik bertanya.
"Belum.... " jawab Vino mengaku kalah karena Hasna lebih mempercayai Fajri.
"Berberapa bulan ini, Hasna mengurus panti asuhan ini. Wulan yang memintanya, gadis yang dihukum karena membunuh pria yang menculiknya itu" jelas Fajri.
Vino mengalihkan pandangannya pada Hasna.
"Itu alasan dia menjual mobil dan menerima pekerjaan dari Keanu" lanjut Fajri.
"Dia selalu begitu" ucap Vino.
"Ya, kau juga menyembunyikan sesuatu darinya" ucap Fajri.
Vino menoleh dan menatapnya.
"Kita Faj, kau juga menyembunyikan sesuatu dari Hasna. Kita berdua yang melakukan kesepakatan. Kau dan aku yang sepakat masuk ke sekte sialan ini untuk mengetahui seluk beluknya dan mengakhirinya" ucap Vino pelan sambil mendekat.
Fajri mendengarkan.
"Tapi aku tidak tahu, apa yang Wira katakan hingga kau bisa keluar lebih awal. Kau tidak pernah memberitahu aku yang sudah punya kesepakatan dengan mu sebelumnya" ucap Fajri merasa di khianati.
Vino menatapnya, jelas dia sangat ingat ucapan Wira. Dia hanya bisa menghela nafas panjang mendengar ucapan Fajri.
"Ya, jelas kau takkan mengatakannya padaku" ucap Fajri dengan memperhatikan wajah Vino.
"Dengar Faj, aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Selain ada Hasna, Dania juga hilang dan kita harus mencarinya" Vino beralasan.
"Terserah! " ucap Fajri pelan seraya mata menatap Hasna yang mendekat.
"Apa yang kalian bicarakan? " tanya Hasna.
Vino dan Fajri saling menatap.
"Kau tidak memberitahu Vino soal mengurus panti ini" ucap Fajri.
Vino menundukkan pandangannya merasa telah di selamatkan Fajri kali ini.
"Tidak, maksud ku belum. Tadi juga aku sangat panik jadi tak sempat mengatakannya" jawab Hasna seraya memasang wajah yang merasa bersalah pada Vino.
Hasna meraih tangan Vino.
"Maaf, aku tidak mengatakan apapun. Wulan yang minta, aku hanya ingin membantu. Melihat mereka aku jadi tidak bisa berpaling dan abai" ucap Hasna.
Fajri mendelik melihat tangan mereka, dia pergi meninggalkan mereka berdua.
"Tidak apa-apa, aku sudah bertanya pada Fajri" jawab Vino.
"Kamu tidak marah kan karena Fajri tahu lebih dulu? " tanya Hasna.
Vino tersenyum kemudian mengusap kepala Hasna.
"Tidak sayang, aku justru sangat bersyukur Fajri akan selalu sedia untuk menjaga mu, terlebih saat aku tidak di sisi mu" ucap Vino.
Hasna memeluknya.
'Kau mungkin takkan memaafkan aku jika tahu aku menyembunyikan bergabungnya aku dengan sekte ini. Aku juga yang menyetujui untuk menyerahkan mu pada mereka' ucap hati Vino.
"Kurasa kita harus menginap di sini, Fajri pasti banyak pekerjaan" ucap Vino.
"Hmm" angguk Hasna.
Mereka mendekat pada Fajri dan anak-anak.
"Kami akan menginap, kau bisa melanjutkan pekerjaan mu untuk mencari Dania" ucap Vino.
"Kak, aku mohon percepat pencariannya" pinta Hasna.
Fajri mengangguk dan meninggalkan mereka. Kini hanya tertinggal mereka dan anak-anak di sana. Hasna dan Vino masuk dan menyiapkan makanan untuk anak-anak yang sejak siang tak jadi makan.
Siap dengan semua masakan, mereka makan di lantai dengan beralaskan tikar. Semua orang berdoa sebelum menyantap makanannya. Mereka juga berdoa agar Dania cepat ditemukan.
Vino memegangi tangan Hasna untuk memberikan semangat. Tapi tetap saja air mata mengalir dari matanya. Beberapa anak juga ikut menangis karena melihat Hasna menangis.