
Hasna baru saja sampai di dekat tempat yang dijanjikan untuk bertemu Fajri dan Beno. Mereka menunggunya untuk mendiskusikan kasus yang ini. Beno sangat bersemangat, ini pertama kalinya dia akan bertemu Hasna secara langsung. Biasanya dia hanya mendengar suara dan kabar dari cerita Fajri.
Hasna baru akan masuk, namun ponselnya berdering. Hasna terhenti dan mengangkat telpon yang dia lihat dari Vino.
"Ya, kenapa Pak Vino Anggara S? Ada keluhan lagi?" tanya Hasna.
"Bisakah kau kemari? Aku ...."
Belum selesai Vino bicara, Hasna sudah khawatir dengan suaranya yang parau. Tak biasanya, suara itu pernah terdengar dulu saat dia menangis mengingat ibunya. Saat pertama kali Hasna berteman dengannya.
"Ada apa? Kenapa dengan mu?" tanya Hasna khawatir.
"Aku....aku...."
Vino tak bisa mengatakan apa yang terjadi pada dirinya. Hasna terlalu khawatir, Vino orang yang selalu ceria. Jika dia sampai menangis, itu berarti situasinya sangat tak bisa dia atasi sendiri.
Hasna tak bisa konsentrasi, dia kembali ke mobilnya sambil mengirim pesan pada Fajri untuk membatalkan pertemuan malam ini. Fajri berusaha menghubunginya karena Hasna membatalkannya secara tiba-tiba. Hasna mengangkat telponnya dengan menyalakan speaker karena tak sempat memakai earphonenya.
"Na, kenapa? Ada masalah?" tanya Fajri khawatir.
"Tidak....tidak apa-apa, aku ...sakit perut" ucap Hasna berbohong.
Dia sangat tahu, Fajri tak suka jika dia terlalu sering memanjakan Vino yang sudah beberapa kali menyatakan cinta padanya di hadapan Fajri.
"Aku akan ke rumah mu!" ucap Fajri semakin khawatir.
"Tidak...tidak usah, aku sakit perut karena haid. Kau mengerti kan?" ucap Hasna.
"Ouh...ok, hati-hati! Hubungi aku jika sakitnya tambah parah" pinta Fajri.
Beno memasang wajah melongo dan sedih. Dia kecewa pertemuan dengan pengacara favoritnya batal. Dia berdiri dan pergi begitu saja tanpa pamit pada Fajri.
"Hei...kau akan meninggalkan ku?" teriak Fajri pada Beno yang sudah berjalan cukup jauh.
"Ya...pulanglah sendiri. Aku lelah, kecewa dan marah!" teriak Beno.
Fajri tersenyum menertawakan sikap Beno yang kecewa.
"Dasar bocah!" gumam Fajri.
##
Hasna bergegas naik lift menuju apartemen Vino. Dia tahu kode password pintu rumahnya, langsung menekan dan masuk.
Apartemennya sangat gelap, Hasna berjalan dengan hati-hati. Dia meraba dinding mencari saklar.
"Hei Vino, jika kau bercanda dengan situasi ini, aku tidak akan pernah kemari lagi seumur hidupku" seru Hasna yang sangat takut gelap.
Saat lampu menyala, Hasna melihat Vino memeluk lututnya di bawah sofa. Hasna langsung berlari mendekatinya.
"Kenapa? Ada apa? Kenapa kau menangis dalam gelap? Kau membuatku takut Vino" ucap Hasna.
Tangan Hasna membelai wajah Vino yang matanya sembab karena menangis. Vino menatap wajah Hasna.
"Aku....sudah lama bersembunyi darinya karena aku tidak mau merasakan rasa sakit ini terbuka kembali. Tapi....dia datang dan membuka rasa sakit itu kembali ke hadapan ku" ucap Vino sambil menangis.
Hasna mengerutkan dahinya ikut merasakan kesedihan yang dialaminya. Tangan Hasna perlahan menarik bahu Vino dan memeluknya. Mengusap kepala hingga punggungnya. Tanpa sepatah kata terucap, belaian Hasna sudah membuatnya tenang dan berhenti terisak.
Sama seperti apa yang selalu Vino lakukan padanya, dia tak bertanya akan alasannya. Hanya membantu membuat dirinya merasa tak sendiri. Hasna menjaga agar pertemanan mereka tetap utama dibandingkan lainnya.
Ponsel Hasna terus bergetar, dia menaruhnya di sofa agar suara getarnya tak mengganggu Vino yang akhirnya tertidur di ranjangnya. Hasna perlahan berjalan menuju sofa dan melihat misscall dari Fajri yang begitu banyak.
Sambil berjalan keluar dengan perlahan, Hasna menelpon Fajri agar dia tak khawatir.
"Kau dimana? Rumah mu gelap" tanya Fajri.
Hasna membulatkan matanya mengingat alasan yang dia buat tadi.
"Aku di toko membeli pembalut dan obat" jawab Hasna perlahan.
"Masa aku harus teriak-teriak" jawab Hasna sambil menutup perlahan pintu apartemen Vino.
Dia berjalan dengan cepat menuju lift, kemudian keluar dari lift juga dengan cepat. Dia sampai di mobil dan melajukannya hingga sebuah toko. Hasna membeli pembalut dan obat untuk meyakinkan Fajri yang menunggu di depan rumahnya.
Hasna memarkirkan mobilnya, dia melihat Fajri duduk di depan pintu sambil melempar batu kecil ke arah kolam kecil buatan. Hasna keluar dari mobil dan tersenyum pada Fajri. Dia melihat obat yang sudah dia sobek sebagai tanda dia sudah meminumnya tadi di mobil.
"Sudah lebih baik?" tanya Fajri melihat senyum Hasna.
"Ah...ya, sudah lebih baik. Sudah minum obat tadi sebelum menjalankan mobil" jelas Hasna.
Hasna membuka kunci pintunya, pintu terbuka dan Hasna menggerakkan kedua alisnya seolah bertanya apa yang akan dilakukan Fajri menunggu di sana.
Fajri mundur dan tersenyum.
"Ya sudah, aku akan pulang!" ucap Fajri.
Hasna menatapnya.
"Masuklah dulu, kau sama sekali belum pernah masuk sejak aku pindah kemari" ucap Hasna.
Sebenarnya tak ada orang yang pernah masuk ke rumahnya. Dia tak pernah mengizinkannya. Namun karena merasa bersalah sudah berbohong pada Fajri, dia mengizinkannya untuk masuk.
Namun Fajri tahu Hasna berbohong sejak dia menerima telpon sesaat setelah membatalkan pertemuannya.
"Tidak! Istirahatlah, besok banyak yang harus kita bicarakan" ucap Fajri.
Hasna tak berani menatap mata Fajri yang seolah tahu bahwa dirinya sedang berbohong.
"Kalau begitu pakai mobilku untuk pulang" pinta Hasna.
"Tidak, bagaimana kau akan pergi ke kantor jika aku bawa mobil mu" ucap Fajri sambil tersenyum.
Hasna semakin merasa bersalah. Dia ingin mengatakan bahwa dia baru saja menenangkan Vino di apartemennya. Namun Fajri berbalik dan berjalan menjauh dari rumahnya. Berjalan perlahan seolah menunggu Hasna berlari menghampirinya untuk menjelaskan padanya.
Hasna menutup pintu dan masuk ke kamarnya. Dia melihat ponselnya dan segera mengirim pesan pada Fajri.
[Kau tahu aku berbohong? Apa kau marah karena aku berbohong?]
[Tidak, kau sudah sering berbohong padaku]
[Tapi kau terlihat tak menyukai kebohongan ku kali ini]
[Ya tentu saja, karena itu berhubungan dengan pria itu, aku tidak suka]
[Aku bersumpah demi nyawa ku, dia sedang sedih, aku hanya membuatnya merasa tak sendiri. Sama seperti yang selalu kau dan dia lakukan pada ku]
[Untuk apa bersumpah demi nyawa mu, kau juga tidak merasa bahwa nyawa mu berharga]
[Nyawa ku berharga, setidaknya untuk satu orang yang sering marah seperti saat ini]
Fajri terdiam, dia menyimpan ponselnya ke saku tanpa membalas pesan Hasna.
[Kenapa? Kau marah lagi?😯]
Ponselnya terdengar bunyi pesan masuk, namun dia mengabaikannya. Dia berjalan dengan cepat menuju kantornya.
Sementara Hasna menunggu pesan dari Fajri yang tak kunjung datang. Kemudian sebuah email masuk di laptopnya.
[Semua warga senang surat tanahnya kembali tanpa syarat. Tugas ku sudah selesai. Terimakasih atas kiriman mu]
[Ya, sama-sama] jawab Hasna.
Hasna berpikir, dia mencoret nama Rusdiawan Pratama dalam daftar balas dendamnya. Masih banyak nama dalam daftar balas dendamnya. Namun dari 45 nama, 43 nama tergabung dalam kelompok yang dia namai WARGA BODOH.
Apa yang akan Hasna lakukan pada ke 43 nama itu?