My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
63



Hasna kembali duduk di sel tahanannya. Dia hendak berbaring, namun beberapa teman satu selnya tiba-tiba berkumpul dan duduk di depan dan sebagian di ranjangnya.


"Ada apa? " tanya Hasna dengan mata menatap mereka.


"Bagaimana dengan sidangnya? " tanya Nunik.


"Baik, semuanya lancar" jawab Hasna sambil mengangguk.


"Berapa lama lagi kau akan menginap di sini?" tanya Dewi.


"Tadi sidang pembacaan tuntutan dan menghadirkan saksi, bukan keputusan pengadilan" jawab Hasna ketus.


"Wah, baru seminggu kau di sini, kau sudah berani bicara ketus pada kami" ucap Nunik.


"Aku lelah, aku ingin tiduran sebentar" keluh Hasna.


"Wah, dia ini benar-benar menyebabkan" Dewi menatap juga menertawakan.


"Jangan mentang-mentang kamu pengacara, kamu bisa seenaknya di sini! " Nunik mulai naik pitam.


Hasna mengatur nafas untuk menenangkan diri dan berusaha tak ikut emosi. Dia menghela dan memejamkan matanya sejenak. Namun sayang, saat dia membuka matanya, segelas air tertumpah di wajahnya.


Hela nafas Hasna semakin keras terdengar, namun hal itu membuat teman satu selnya tertawa terbahak-bahak.


Sekali lagi Hasna menahan diri dengan mengatur nafas dalam.


"Kalian tahu ini pakaian ku satu-satunya yang tersisa" ucap Hasna.


"Kenapa? Kau mau marah? " Nunik menantang.


"Bagaimana aku bisa tidur dengan pakaian basah seperti ini?" Hasna masih mencoba mengendalikan diri.


"Tidur saja, kau tidak akan mati hanya karena tidur dengan pakaian basah" ucap Dewi santai sembari duduk di ranjangnya.


Semua orang ke tempat tidur masing-masing. Tapi Wulan mendekati Hasna dengan perlahan. Dia menyodorkan pakaiannya yang bersih.


"Jika kau membantunya lagi, aku akan membuat kau tak makan siang selama sebulan" seru Nunik sambil membenahi posisi tidurnya.


Tangan Wulan terhenti dan mundur saat mendengar ancaman Nunik. Hasna pun berkedip padanya untuk menuruti keinginan Nunik. Wulan kembali ke tempat tidurnya.


Mata Hasna jadi tak mengantuk setelah air mengguyur wajahnya. Dia tak bisa mengamuk pada teman satu ruangannya. Jelas mereka melakukan hal itu karena memang lingkungan penjara yang membuat mereka tertekan.


Hasna berpikir tentang semua yang terjadi dalam hidupnya. Mulai dari dia yang dulu sangat bersemangat dalam belajar karena ingin sekali menjadi seorang dokter.


Namun semua hancur karena ulah Bima yang membuatnya kehilangan orang-orang yang mencintai dan dicintainya.


Hingga kini, Hasna harus mendekam di penjara karena melakukan segala cara agar Bima bisa diadili. Sementara Bima mati begitu saja ditangan Vino.


Sejenak Hasna mengingat manisnya cinta yang pernah dia rasakan pada Vino sebelum dia tahu bahwa mereka adalah ayah dan anak.


~Kenapa kau menembaknya? Itu hukuman yang terlalu mudah dan singkat baginya yang sudah mengambil semuanya dari ku. Seharusnya aku bisa melihat dia mendekam di balik jeruji ini, bukan aku. Karena kau melakukannya, aku jadi diam dan tak bisa melawan lagi Vino~


***


Sementara itu di penjara terpisah khusus laki-laki.


Vino menatap langit dari jendela besi yang ada di selnya. Dia sedang merindukan Hasna. Pikirannya bertanya-tanya tentang istrinya itu.


"Kau belum tidur? " tanya teman satu selnya.


Vino menoleh dan melihat temannya sedang duduk memeluk satu lututnya dan tersenyum padanya. Vino bangun dan duduk diantara teman yang lainnya.


Vino bangun dan duduk.


"Lebih tepatnya tidak bisa" jawab Vino.


"Kau merindukan seseorang? " tanya pria itu.


"Rindu ku tidak berarti apa-apa sekarang " ucap Vino.


"Pacar? Ouh, istri" usap pria itu setelah melihat raut wajah Vino.


Vino mengabaikannya. Tapi pria itu terus bicara.


"Apa yang dilakukan pria terhormat seperti mu hingga berakhir di ruangan gelap seperti ini? " tanya pria itu.


Vino melihatnya dengan seksama.


"Aku menembak ayah ku yang seorang penjahat" jawab Vino santai.


Pria itu tertawa, Vino kembali menatapnya.


"Oh, kau pengacara yang menembak ayahnya sendiri itu? Bima Sebastian? " ucap pria itu.


Vino terkejut, dia tahu siapa dirinya dan ayahnya.


"Siapa kau? " tanya Vino.


"Aku? " pria itu menatapnya.


Vino masih memperhatikannya.


"Aku, bukan siapapun. Hanya penikmat berita biasa" jawabnya santai.


Vino mengalihkan pandangannya pada salah satu temannya yang menendang kakinya.


"Kasihan sekali ya Bima Sebastian" ucap pria itu.


"Dia penjahatnya, kenapa harus mengasihaninya" Vino hendak berbaring kembali.


"Hmm, istirahatlah. Kau harus banyak istirahat untuk menghadapi semua masalah mu" ucap pria itu sambil menatap Vino yang mulai memejamkan matanya.


**


Fajri duduk di hadapan komputernya. Dia sedang mencari tahu tentang Pak Wira dan masa lalunya. Fajri memulai dengan jabatan Pak Wira di kepolisian.


Tak ada yang aneh, Pak Wira hanya seorang komandan pasukan yang sukses memecahkan kasus sabotase rubuhnya gedung bersejarah. Fajri juga hanya menemukan bahwa Pak Wira merupakan warga dekat wilayah longsor itu.


"Tak ada yang aneh, lalu apa yang membuat Hasna tak menyukainya?" gumam Fajri.


Dani, rekan kerjanya yang baru, datang memberikan sebuah berkas tentang kasus baru yang sedang Fajri tangani.


Ya, Beno dikelurkan dari divisi kriminal. Dia mengakui semua kejadian yang terjadi saat Fajri jatuh. Meski dia tak mendorong Fajri dengn sengaja, namun Beno sudah sengaja menghilangkan bukti-bukti selama penyelidikan. Dia di hukum dan dipindahkan ke Divisi lalu lintas.


Fajri bekerja kembali setelah Hasna dipenjara, setelah keluar dari rumah sakit. Sementara Vania tetap menjadi administrasi di kantor.


"Pak, malam ini kami akan pergi mengintai di sekitar pasar" lapor Dani.


"Ya, aku akan menemani kalian" jawab Fajri.


"Baik Pak! " jawab Dani.


Dani pergi, Fajri tetap duduk dan menatap artikel tentang rubuhnya gedung bersejarah itu.


Dalam sebuah foto, Fajri melihat seseorang yang tak asing di matanya. Mata Fajri membulat, dia melihat Bima juga beberapa relasinya yang terkait bisnis prostitusi sedang berdiri di belakang Pak Wira saat pengambilan foto di dekat reruntuhan gedung itu.


"Apa ini? " gumam Fajri.


Dia memperjelas fotonya.


"Bukankah dia menukar informasi pelaku sabotase dengan informasi tentang Bima? Lalu kenapa mereka berfoto bersama dan terlihat sangat akrab?" Fajri tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Tiba-tiba Vania datang dan mengajaknya pulang.


"Ayo pulang! " ajaknya.


Mata Fajri menatap Vania tanpa arti, karena dia sedang memikirkan apa hubungan dari Pak Wira dan Bima.


"Hei! " Vania mencoba menyadarkan Fajri dari lamunan.


"Tidak, aku harus menemani pasukan ku untuk mengintai" jawab Fajri dengan mata yang masih belum berkedip meski sudah teralih dari Vania.


"Wajah mu memperlihatkan bahwa kau tak sedang memikirkan pengintaian" ucap Vania dengan menebak.


Dia mendekat dan melihat layar komputer Fajri. Tak sempat melihat apa yang sedang dikerjakannya, Fajri sudah menutup halaman layarnya.


"Ya sudah, aku pulang lebih dulu. Petugas piket sudah datang, kau bisa meminta mereka menjaga ruangan mu" ucap Vania sadar Fajri tak ingin ada yang tahu apa yang sedang dia kerjakan.


"Bukannya aku tak mau kau tahu tentang apa yang aku kerjakan" Fajri mencoba menjelaskan.


"Tidak apa-apa, aku tidak ada urusannya dengan semua kasus mu. Aku bekerja di bagian administrasi bukan" ucap Vania sambil mendekat ke pintu keluar.


Fajri terdiam, dia baru tersadar, tidak seharusnya dia menjelaskan pada Vani tentang apa yang dia sembunyikan atau tidak. Vania menghilang dari tatapan matanya, Fajri menunduk merasa sudah menyinggung perasaannya.