
Hasna diam membeku di depan laptopnya. Sehari setelah pemakaman, dia menemui Pak Wira dan mereka bertengkar hebat.
Hasna memintanya menjelaskan perkumpulan apa yang sudah dia ikuti bersama semua orang di sana.
Pak Wira hanya bisa diam membisu. Hasna juga menanyakan perihal bantuan yang dia minta setelah Hasna keluar dari penjara. Tapi Wira juga diam.
*
"Apa yang kalian buat sebenarnya? " tanya Hasna.
Wira diam.
"Apa hubungannya dengan Bima yang membunuh beberapa wanita? Apa itu sebagian dari perintah perkumpulan? " Hasna mendesaknya.
Wira masih diam.
"Apa kalian tega melakukan semua itu terhadap wanita dalam keluarga kalian sendiri? Termasuk istri dan anak perempuan kalian? " lanjut Hasna.
"Seandainya aku bisa menghentikan semua itu" akhirnya Wira bicara.
"Apa maksud mu? " tanya Hasna.
"Aku pernah meminta bantuan mu, tapi terlambat. Semuanya terlambat, mereka semua sudah bersembunyi dan menyembunyikan semua bukti. Sampai kapanpun kau tidak akan bisa membongkar kebusukan mereka" ucap Wira.
"Kau menyalahkan aku atas perbuatan kalian?" nada suara Hasna meninggi.
"Sudahlah! Jika kau berbuat lebih, akan lebih banyak lagi keluarga yang mati mengenaskan bahkan lebih mengenaskan dari keluarg Nunik" Wira menutup pembicaraan.
Dia pergi meninggalkan Hasna dengan amarah di hatinya.
*
"Kalian semua si@l@n! " gumam Hasna.
Hasna menutup laptopnya. Berpikir keras pun, dia tak bisa berbuat apapun karena statusnya yang masih harus menjaga sikap dan wajib lapor. Sedikit saja dia ketahuan berbuat hal lain, maka izin profesional nya akan dicabut selamanya.
Tangan Hasna seolah gatal karena merasa terkekang dengan keputusan itu. Tak lama kemudian, suara pintu diketuk terdengar.
"Na! Buka pintunya! " seru Fajri.
Hasna mendelik merasa malas untuk membuka pintu.
"Ayolah Na! Mau sampai kapan mengabaikan aku seperti ini? " lanjut Fajri.
Hasna berdiri dan berjalan menuju pintu. Dia membukanya dan menatap wajah Fajri yang lusuh, terlihat telah menghadapi hari yang berat. Namun berusaha tersenyum karena Hasna membuka pintunya.
"Aku bawa makanan kesukaan kamu! " serunya.
Hasna menghela. Awalnya dia akan mengusir nya, namun melihat raut wajahnya, dia mengurungkan niatnya dan membiarkannya masuk.
"Akhirnya kau membuka pintu, sudah beberapa hari ku bawakan makanan, tapi Hadi yang akhirnya menghabiskannya" keluh Fajri.
Hasna diam saja dan masuk ke kamarnya.
"Bagaimana bisa kau bertahan tak keluar selama beberapa hari? Apa kau punya stok makanan? Waahhh, sejak dulu sifat jelek mu ini tak berubah" seru Fajri seraya menyiapkan piring untuk mereka makan.
Tak ada jawaban dari Hasna, Fajri terus bicara sendiri selama menyiapkan makanan.
"Makanannya sudah siap! " seru Fajri.
Tapi Hasna tak keluar. Fajri mengetuk pintu kamarnya beberapa kali.
"Naaa! " teriak Fajri sangat keras.
Hasna membuka pintu secara tiba-tiba dan membuatnya terkejut.
"Ahhh, kau ini! " keluh Fajri.
"Kau tahu Pak Wira terlibat dalam perkumpulan itu saat menangkap Venus, kenapa tak menanyakan langsung padanya tentang hal itu? " tanya Hasna.
Mata Fajri membulat, dia terkejut dengan pertanyaan Hasna.
"Apa apaan kau ini, aku mengajak mu makan bukan berdiskusi tentang kasus yang sudah di tutup" Fajri menghindarinya.
"Kau punya hutang budi padanya? Aku sudah katakan sebelumnya, jangan mengambil teralu banyak dari seseorang, sehingga bisa membuat mu berhutang budi dan sulit melangkah" Hasna mengomel.
Dia mengaitkan ketidakberdayaan Fajri pada Wira, dengan perubahan gaya hidup Fajri yang berubah drastis. Fajri terdiam dengan tubuh membelakangi Hasna.
Mata Fajri terpejam sebentar, dia menelas saliva mengingat apa yang dia sudah ambil dari tawaran Wira. Dia tak bisa menjelaskan apapun pada Hasna tentang ketidakberdayaan nya.
"Makanlah, aku akan kembali ke kantor" ucap Fajri pelan.
"Kembalikan padanya, jangan sampai langkahmu sebagai petugas terhenti dan terhalang oleh rasa bersalah mu" seru Hasna.
Langkah Fajri terhenti.
"Ini bukan Fajri yang aku kenal, Fajri yang menjunjung tinggi loyalitasnya terhadap pekerjaan.... "
Fajri berbalik dan langsung mencium Hasna, hingga terdorong ke dinding. Hasna yang terkejut, hendak menahan tubuh Fajri dan mendorongnya. Namun Fajri memegangi tangannya dan terus menempel.
Fajri memaksakan kehendaknya kali ini, dia membuat Hasna kesal dan menendang pahanya dengan lututnya. Fajri kesakitan dan melepaskannya.
"Beraninya kau melakukan ini pada adik mu sendiri! " seru Hasna.
"Kau bukan adik ku, siapapun tahu itu. Almarhum ayah juga mengakuinya. Aku masih punya kesempatan..... "
Hasna mendekat dan menendang kakinya lagi.
"Aww....! Sakiiiit! " Fajri mengerang.
"Sekali lagi kau melakukannya.... " Hasna hendak mengancam.
Tapi Fajri meraih tangan Hasna yang menunjuk padanya, kemudian menjebaknya kembali ke dinding.
"Apa? " tanya Fajri di depan wajah Hasna.
Wajah Hasna masih memerah, dia menatap bibir Fajri yang tadi mencumbunya. Detak jantungnya berdegup kencang. Dia mengalihkan pandangannya untuk mengatur perasaannya.
"Kau bahkan tak berani menatap mata ku saat kita berdekatan seperti ini" Fajri menertawakannya.
"Aku adik angkat mu dan masih berstatus istri orang. Lepaskan aku! " pinta Hasna.
"Kalian bahkan belum melakukan apapun sebagai suami istri, kenapa aku harus mempermasalahkan itu" ucap Fajri seraya melepaskan pegangan tangannya.
Meski terlepas, tapi Hasna tersulut oleh ucapan Fajri. Dia tak terima ditertawakan oleh Fajri karena belum melakukan apapun dengan Vino.
"Tentu saja kami sudah melakukan nya, jangan sok tahu! " jawab Hasna kesal.
Fajri kembali melangkah hendak keluar rumah. Tapi di berhenti diambang pintu.
"Aku sangat lapar, makanya datang kemari. Tapi kau membuat ku kesal, jadi aku akan kelaparan seharian karena mu" keluh Fajri.
Hasna terdiam merasa bersalah.
"Tidak apa, aku sudah mencium mu, itu akan cukup membuat ku kenyang selama beberapa hari" ucap Fajri seraya pergi meninggalkannya.
Mata Hasna membulat tak menyangka dia akan mengatakan hal itu.
"Astaga orang itu! " ucap Hasna kesal.
Wajah Hasna kembali memerah memikirkan cara Fajri menciumnya.
"Vino melakukannya dengan lebih lembut, dia terlalu kasar" gumam Hasna.
Ekspresi wajahnya kembali kesal.
"Astaga! Kenapa aku membandingkannya? Hasna, kau mulai gila" gumamnya lagi.
Hasna berbalik hendak kembali ke kamarnya, tapi matanya melihat dua piring berisi nasi padang, miliknya dan milik Fajri. Hasna membungkus salah satunya dan menyimpannya. Dia memakan makanan nya dan memberitahu Fajri bahwa dia sudah menghabiskan nya.
[Aku sudah menghabiskan makanannya, makanan milik mu ku simpan untuk ku makan nanti malam. Jadi makanlah di luar] isi pesan Hasna.
Sementara itu, Fajri yang baru sampai di kantor, tersenyum membaca pesan dari Hasna.
"Apa yang merasuki ku hingga berani menciumnya tadi? " gumam Fajri.
Hadi yang baru datang, menyapanya.
"Selamat sore Pak! " sapa Hadi.
Fajri menoleh padanya.
"Dari mana kau? " tanya Fajri. b
"Siap Pak! Mengejar pelaku pengeroyokan di pasar Kamis, Pak! " jawab Hadi lantang.
Mata Fajri beralih pada pria yang ditangkapnya. Tapi fokus Fajri tertuju pada pria yang menahannya.
"Beno!" gumam Fajri.
****