
Hasna hendak menyusul Vino yang sedang menunggui ayahnya di klinik. Dia datang setelah meeting bersama klien Vino. Dia juga membawa bingkisan makanan lembut untuk bisa dimakan ayahnya Vino.
Hasna mencari dan bertanya pada suster, dia ditunjukkan ke sebuah ruangan yang tak jauh dari sana. Hasna berjalan dan membuka pintunya. Tapi tak ada siapapun di sana. Dia kembali ke meja suster dan bertanya lagi. Suster yang lain datang dan memberitahunya bahwa pasien meminta untuk pulang.
"Putranya mengantarkannya pulang" ucap suster itu.
Hasna menghela nafas, dia sudah datang sangat buru-buru karena ingin memberikan perhatian untuk ayah Vino. Dia merogoh ponselnya kemudian menelpon Vino.
"Ayah mu sudah pulang?" tanya Hasna.
Vino yang duduk di belakang bersama Bima, membulatkan mata mendengar suara kesibukan klinik.
"Kamu ke klinik?" tanya Vino.
"Aku yang nanya, malah balik nanya" keluh Hasna.
"Aku kan bilang nggak usah ke klinik, ayah mau pulang ke Bogor, jadi aku mengantarnya" ucap Vino.
"Ya sudah, aku juga ada meeting lagi" jawab Hasna.
Hasna menutup telponnya dan pulang. Vino menatap ponselnya dengan sedih, dia tahu Hasna kesal karena tak diberi tahu bahwa ayahnya akan pulang.
"Siapa? pacarmu?" tanya Bima.
"Iya, calon. Dia pasti marah aku nggak ngabarin ayah pulang" jawab Vino.
"Maksudnya calon istri?" Bima penasaran.
"Bukan, calon pacar. Dia sulit didapatkan, sudah sejak SMA kami saling mengenal. Tapi dia sangat sulit didekati" jawab Vino.
"Yang benar saja, sesulit itukah mendapatkannya?" Bima mengejek Vino yang payah dalam meraih cintanya.
"Nanti saat kalian bertemu, aku janji aku sudah yakin mendapat jawaban iya atas lamaran untuk menikahinya" Vino tertantang karena ejekan Bima.
Bima hanya tersenyum, dia senang anaknya mulai bicara banyak dengannya. Dia berpikir gadis pilihan Vino telah membuatnya berubah menjadi baik padanya.
Sementara Hasna kembali hendak ke kantor. Dia masuk ke mobilnya namun mendapat kabar dari Wisnu kalau Nabila dipindahkan ke ruang rawat biasa karena sudah sadar. Hasna senang sekali, dia langsung ke rumah sakit melihatnya.
Sampai di rumah sakit, dia tak bisa menghampiri karena Fajri dan Beno sedang berdiri di depan pintu kamar Nabila. Hasna mengirim pesan pada Fajri menanyakan keberadaannya.
Tapi Fajri malah menelponnya, Hasna panik, jika dia mengangkat telponnya, Fajri akan tahu kalau dia sedang di rumah sakit yang sama. Hasna menolak panggilannya dan menyimpan ponselnya. Dia masuk ke lift menuju basement, tempat parkir. Hasna kembali menelpon Fajri.
"Kenapa ditolak?" ucap Fajri.
"Apanya? Cintanya!" seru Beno.
Fajri melotot pada Beno dengan kesal. Hasna mendengarnya dan merasa sangat bersalah karena akhir-akhir ini lebih menunjukkan perasaannya pada Vino meski tahu dan ingin menjaga hati Fajri yang menyukainya.
"Lagi beli makanan" jawab Hasna setelah mencari-cari alasan kemudian menatap tangannya yang membawa bingkisan yang awalnya akan dia berikan pada ayah Vino.
"Beli makanan apa?" tanya Fajri.
"Brownies keju, mau?" jawab Hasna.
"Mau, bawa ke rumah sakit ya, aku lagi nemenin Wahyu, kamu baca kan email aku?" Fajri mengingatkan.
"Baca, barusan. Makanya nanya dimana" jawab Hasna.
Percakapan terasa canggung karena ucapan Beno. Juga karena Fajri tahu Hasna berbohong membaca emailnya sebelum mengirim pesan. Dia mengawasinya selalu, pesan emailnya baru saja dia buka saat percakapan berlangsung.
Fajri melakukan semua pengingtaian terhadap Hasna semenjak dia begitu terobsesi dengan kasus pembunuhan para gadis itu. Fajri takut dia hendak balas dendam.
Tak berapa lama, Hasna datang dan menyapa mereka. Beno mengerutkan dahinya.
"Darimana dia tahu kita ada di lantai ini?" tanya Beno curiga.
"Aku yang memberitahunya" jawab Fajri.
Padahal dia tak melakukannya. Fajri menatap kedatangan Hasna yang menunjukkan kantong berisi browniesnya. Beno yang paling semangat setelah melihat Hasna membawa makanan. Dia mengambil dan membukanya.
Fajri duduk memeriksa ponselnya. Hasna melirik ke arah kamar dengan wajah yang sangat penasaran. Fajri tersenyum mengerti maksud Hasna datang ke sana.
"Dia tidur lagi, belum begitu pulih. Masih banyak alat yang dipasang di tubuhnya" ucap Fajri sambil menyimpan ponselnya dan menatap wajah Hasna.
Hasna menatapnya juga kemudian tersenyum.
"Ada dua orang yang menjaga mereka, sepertinya ada yang membiayai semua ini" ucap Fajri dengan menatap mata Hasna.
"Oh ya? Bagus kalau begitu, aku harap Wisnu dan adiknya bisa kembali ke rumah" ucap Hasna.
"Bukannya kamu mau mereka cepat melaporkan pelakunya?" ucap Fajri.
Hasna menatap Fajri, dia mengerti Fajri sedang mencurigainya. Dia merubah ekspresi wajahnya.
"Tentu saja, apalagi yang aku inginkan selain itu? Kamu pasti mengerti kan?" jawab Hasna.
Dia berbalik hendak pergi karena kesal dengan cara bicara Fajri.
"Sampai kapan? Bukankah kau koleps saat dia sentuh? Kau mau terjadi hal lebih buruk pada dirimu, begitu?" ucap Fajri.
Ucapannya membuat langkah Hasna terhenti. Beno berdiri menatap mereka dengan mulut yang masih penuh makanan. Wisnu yang mendengar suara Fajri dan keluar dari kamar Nabila pun menatap mereka.
Hasna berbalik, hendak marah pada Fajri. Namun dia melihat Wisnu dan Beno menatap dengan khawatir. Mereka tak tahu apa yang terjadi. Hasna terpaksa tersenyum dan pura-pura baru bertemu Wisnu dan mendekat untuk memberi dukungan moril padanya. Hasna mendelik pada Fajri yang dia lewati.
"Apa kabar Wisnu? Bagaimana dengan Nabila?" tanya Hasna.
"Dia sadar tadi, makanya dokter bilang bisa pindah kamar. Vino bilang pakai kamar kelas ini biar gak terlalu dicurigai"
Sebagian perkataan Wisnu dia katakan dengan bisikan. Fajri dan Beno menatap mereka yang saling berbisik.
"Ayah? Tinggal di rumah Beno kan?" ucap Hasna mengalihkan perhatian mereka.
Beno mengangguk, dia terkejut dengan tatapan Hasna. Fajri tetap memasang mata yang tak pernah luput dari Hasna.
"Nanti kalau aku ada waktu luang lagi, aku kemari lagi. Aku harus pergi, ada kasus yang harus diselesaikan. Temanku harus mengantar ayahnya pulang karena kecelakaan tadi pagi. Jadi pekerjaanku dobel" jelas Hasna.
"Ayah Vino kecelakaan?" tanya Fajri yang langsung menyimpulkan bahwa yang dibicarakan Hasna adalah Vino.
"Ya" jawab singkat Hasna.
"Jadi, brownies ini untuk dia, tapi karena dia sudah pergi, kamu berikan kemari?" Fajri mereka ulang kejadian.
Hasna memejamkan matanya sejenak. Ucapan Fajri benar, tapi dia kemari awalnya hanya untuk memastikan Nabila bisa sadar dan memberikan kesaksian untuk Bima Sebastian.
"Kau ini kenapa? Ketus sekali!" keluh Hasna.
Dia pamit pada Wisnu dan pergi, dengan menyenggol bahu Fajri dia juga mendelik padanya karena kesal.