My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
28



Fajri duduk menatap laptop sambil mengajukan pertanyaan lagi pada Bima. Pikirannya terbagi karena ingat Hasna yang begitu sedih mengetahui Bima adalah ayah Vino. Dia begitu kecewa dan nyaris seperti kehilangan arah.


Beno mencubit tangan Fajri yang tak fokus. Fajri merespon, dia mengajukan pertanyaan yang sama tanpa mendengarkan jawaban tadi.


"Apa-apaan ini? Pertanyaannya di ulang, kamu mau mempermainkan klien saya?" ucap pengacara Bima dengan kesal.


"Mau aku ajukan seribu kali pun, jawab saja. Kami perlu tahu kenapa korban dipanggil ke rumah anda. Kenapa dia bisa ditemukan hampir mati di sisi jalan toll" jawab Fajri dengan nada tinggi.


Beno ikut terkejut dengan respon Fajri. Pengacara itu diam karena Bima menahannya.


"Baiklah, aku akan ulangi" jawab Bima.


Hasna masih membulatkan kepalan tangannya dengan jantung yang memompa darahnya dengan cepat dan membuat kepalanya terasa panas mendengar suara Bima.


"Aku memang memanggilnya untuk wawancara kerja, tapi aku lupa memberitahu dia bahwa aku harus ke Bali karena urusan mendadak" jawab Bima.


"Siapa saja yang ada di rumah saat itu?" tanya Fajri.


"Aku tidak tahu, aku baru tahu penjaga juga pergi saat aku pergi" jawab Bima terlihat kesal karena penjaga rumahnya lalai.


"Lalu rekaman CCTV menunjukkan mobil yang kamu kendarai masuk jam 08.00 pagi ke rumah mu. Lima jam sebelum Nabila datang. Itu berarti saat CCTV rusak, kamu sedang ada di rumah" tuduh Fajri.


"Astaga nak, aku sedang di Bali dan sedang rapat hari itu. Jika kau tidak percaya tanya sekertaris ku!" Bima semakin kesal.


Fajri mencatat, dia memberikan selembar kertas berisikan orang yang harus dihadirkan untuk memperkuat alibinya. Beno menatap wajah Bima yang menatap Fajri dengan kesal.


Bima dan pengacaranya pergi dari kantor yang berwajib. Dia melenggang dengan membusungkan dadanya masuk ke mobilnya. Dia menatap supirnya yang tangannya bergetar.


"Kamu harus siap, mereka mulai menyebalkan. Rasanya aku ingin mencekik anak tengil itu" ucap Bima membulatkan kepalan tangannya.


Dudung menelan ludahnya, dia takut dan benar-benar sangat takut. Pada akhirnya dia juga yang harus bertanggung jawab.


###


Hasna berdiri dan hendak pergi saat semua orang kembali melakukan pekerjaannya. Fajri menahan tangannya dan menatapnya.


"Jadi semua itu karena Vino?" tanya Fajri.


Hasna hanya melirik, dia melepaskan pegangan tangan Fajri.


"Dia berbohong, dia bahkan tak pergi kemanapun hari itu" ucap Hasna datar.


Hasna melempar daftar penumpang yang pergi ke Bali pada jam dan waktu yang Bima sebutkan. Fajri menghela, dia tak menyangka Hasna akan melangkah sejauh ini.


Hasna berjalan keluar, dia pergi ke kantornya lagi. Mempersiapkan segala hal yang memungkinkan jika Bima beralibi lagi. Meskipun dia tak bisa memberikan semua bukti pada Fajri yang terlihat kurang fokus mendapatkan Bima sebagai tersangkanya.


Vino duduk di depan komputernya. Dia memeriksa semua rekap kopi bukti yang menyudutkan ayahnya. Dia melihat Hasna datang dan berdiri. Matanya tak luput dari Hasna yang tak memperdulikannya dan kembali bekerja.


"Ayah tidak bersalah, aku tahu aku pernah bercerita dia meninggalkan ibu ku demi wanita lain, tapi dia tidak mungkin melakukan semua hal itu" ucapnya menahan sesak.


"Aku tahu kau menghindariku karena hal ini. Tapi dengar, aku akan buktikan bahwa ayahku tak bersalah. Ini hanya kesalahpahaman" Vino bicara sambil terengah menahan amarahnya pada situasi ini.


Hasna masih memalingkan wajahnya.


"Aku tahu kau juga mencintaiku, aku bisa merasakannya kemarin. Aku akan pastikan ayahku tidak bersalah Hasna. Aku akan memastikannya"


Vino terus memandang bibir Hasna yang pernah menyentuh bibirnya. Dia tak melepaskannya hingga Armand kembali dari persidangan.


Hasna duduk dan kembali menatap komputernya. Vino mundur perlahan sambil menatap rekan kerjanya yang menatapnya heran.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya pada Hasna karena melihat tangannya yang gemetar.


"Ya, aku baik-saja. Terimakasih!" jawab Hasna gemetar.


"Kita adalah pengacara, membantu semua orang untuk mendapatkan keadilan dari siapapun yang berbuat kriminal, siapapun. Jadi jangan takut, jika pun dia seorang yang berpengaruh kita tidak boleh gentar" ucap Armand.


Vino melirik padanya, dia merasa tersinggung karena sadar baru saja terlihat sedang mengitimidasi Hasna atas perasaannya.


"Ada apa Pak, kasus mu alot?" tanya Hasna mengalihkan perhatian Armand yang terus menatap Vino.


"Ya, aku sudah belajar semua tentang hukum. Tak ada yang salah, semuanya menakutkan jika suatu hari kita tersandung masalah hukum. Tapi orang-orang kaya sombong itu merasa gagah karena uang mereka. Dan orang-orang tolol itu menjual semua pengetahuan dan pengalaman mereka untuk membela. Aku jadi merasa kecil karena sesuatu yang namanya uang. Merasa kecil" keluh Armand dengan kasus yang dia tangani.


Hasna menelan ludah sambil terus mengetik laporannya. Dia masih merasa tak nyaman karena Vino terus menatap penuh harap padanya. Dia jadi ingin pergi menjauh dari kantor itu.


Vino mendapatkan telpon dari pengacara yang menangani kasus ayahnya. Mereka akan membahasnya, Vino diminta datang ke kantor hukum miliknya.


Hasna mendengarkan, dia penasaran tapi juga sedikit lega karena Vino akan pergi. Vino menatapnya saat dia hendak pergi. Dia berhenti di dekat meja Hasna.


"Aku akan segera kembali, kita makan malam bersama" ucapnya.


Hasna tak merespon. Vino pergi dengan harapan Hasna mau pergi bersamanya nanti malam. Armand memperhatikan gerak-gerik Vino.


"Ada apa dengan kalian? Biasanya akrab, ini kok kayak api dan air. Yang satu diam seperti bara api, dan yang satu terus menyirami bara api supaya cepat padam" ucap Armand mengibaratkan.


"Apa kabar Kak Bianca? Apa dia tahu kalau Pak Armand suka mabuk dulu sebelum pulang" Hasna malah membicarakan hal lain.


"Tidak, dia tidak tahu. Dan jangan pernah mengatakannya padanya. Lagipula dari mana kamu tahu aku suka mabuk? Sok tahu kamu" Armand mengelak tuduhan Hasna.


"Pak Armand minum di kedai dekat jalan menuju rumahku. Aku melihat mu setiap hari menenggak minuman eceran yang pernah kamu bilang sebagai minuman haram. Ahh....dasar laki-laki"


Hasna bicara dengan ekspresi yang sangat datar. Dia sama sekali tak tertarik dengan apa yang dia bicarakan. Namun daripada dia terus membahas hubungan Vino dengannya. Lebih baik dia membahas hal yang bisa membuatnya diam.


Armand uring-uringan mendengar Hasna melihatnya mabuk setiap hari. Dia terus bicara sementara Hasna memakai headphone di telinganya untuk mendengarkan rekaman CCTV dari beberapa bukti yang dia dapat.


Dia bekerja keras untuk memasukkan Bima dalam lingkaran tuntutannya. Dia harus masuk dulu ke lingkaran itu, baru Hasna bisa menyerangnya bertubi-tubi.