My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
121



Malam persembahan tiba.


Dua pelayan yang mendandani Hasna terus bergunjing tentang Hasna.


"Ngeri, apa yang terjadi padanya? Luka itu mengerikan, aku bahkan bisa tahu betapa dalamnya luka itu" ucap salah satunya.


Pelayan satunya hanya mengangguk.


Suara mereka membuat Hasna terbangun, mereka pun menunduk di hadapan Hasna. Mengingat semua perintah Wira dimana mereka harus memperlakukan Hasna dengan hormat.


Hasna bangun dan memegangi kepalanya yang masih pusing, efek dari obat bius yang Wira berikan. Dia hendak berdiri namun kesulitan karena salah satu tangannya di ikat di ranjang.


"Anda tidak bisa kemana-mana Nona! " ucap pelayan itu.


Hasna masih mengumpulkan kesadarannya. Dia hanya melihat keadaan ruang kamar itu.


***


Hadi dan Fajri menodongkan pisau ke arah tawanannya yang sedang memberikan penjelasan di depan pintu.


"Kalian ini mengganggu saja, aku masih ingin bersama wanita ini! " keluhnya.


"Maaf Pak, tapi jika anda melihat sesuatu yang mencurigakan, tolong cepat hubungi lobi" ucap pengawal itu.


"Hmmm! " jawab pria itu kemudian pintu tertutup.


Pria itu menelan salivanya menatap Fajri dan Hadi yang mendekat dan kembali mengikatnya.


Hadi kembali menyumpal mulutnya dan mengikatnya lagi di ranjang. Vania menghela merasa lega. Mereka hampir saja ketahuan, untungnya Fajri langsung membawa pria itu keluar dan memaksanya mengatakan semua itu.


Tak berapa lama, ponsel milik pria itu berbunyi. Fajri melihatnya, pesan dari grup yang dinamakan sebagai MahaMaya.


{Waktunya tiba, silahkan berkumpul di aula}


Fajri menatap Vania, Hadi buru-buru mendekat ke pintu dan mengintip. Beberapa orang sudah mulai berjalan menuju aula. Hadi mendekati Fajri dan menunjuk ke arah pintu.


"Ya, aku tahu! " ucap Fajri tanpa menjawab penjelasan Hadi.


"Itu berarti Hasna sudah ada di sini" ucap Vania.


Fajri menoleh ke arah pintu, hela nafas cukup panjang keluar dari mulutnya. Tak bisa dipungkiri dia tetap mengkhawatirkan Hasna. Tak terbayangkan apa yang akan terjadi padanya malam ini.


***


Vino sudah siap dengan apa yang telah dia lakukan. Dia berdiri menatap ke arah aula di antara beberapa petugas kebersihan yang lain.


Satu jam sebelumnya dia mendapatkan telpon dari Keanu tentang apa yang sudah dia sepakati dengan Venus.


Vino ditemani anak buah Venus yang masih sangat setia padanya sudah membuat semua rencana Keanu dan Vino dipadukan dan siap untuk membuat pertemuan malam ini menjadi pertemuan terakhir bagi mereka.


Vino menatap satu persatu para anggota perkumpulan itu. Mereka datang dengan senyum lebar di bibirnya. Mereka melirik sebelah mata pada para petugas kebersihan dan pengawal yang berjejer di depan aula.


Vino malah ikut menertawakan mereka karena merasa mereka akan mendapatkan semua ganjaran dari perbuatan mereka selama ini, malam ini.


Sebuah suara terdengar dari alat dengar yang dipasang di telinga Vino.


"Semua bom sudah di pasang di area utara Pak! "


"Pergilah, tugas kalian sudah selesai! " ucap seorang dari mereka.


Vino dan petugas lainnya pergi meninggalkan aula. Tapi langkah kaki Vino tersendat saat melihat dua pelayan membawa Hasna yang telah dirias dengan jubah berwarna merah tua.


Tatapan Vino terarah pada wajah Hasna yang terihat sangat lemah.


'Dia di bawah pengaruh obat' ucap hati Vino.


Vino merasa kesal karena tak bisa menarik tangan Hasna saat itu juga. Rencananya belum sepenuhnya sempurna. Belum datang Wira dan anggota penting lainnya yang bergabung di aula. Dia harus menunggu beberapa menit lagi untuk melakukannya.


Vino berjalan dan sampai di ruang kebersihan. Beberapa orang yang membantunya pun datang dan mengganti pakaian dengan pakaian anti ledakan.


Vino masih diam dan mengingat wajah Hasna. Tak terasa air matanya terjatuh, dia sangat menyesali pernah bergabung dengan sekte ini.


"Pak! " sapa salah satu dari mereka.


Vino menoleh. Pria itu menyerahkan pakaian yang harus Vino pakai untuk menghadiri pertemuan itu. Vino menatapnya cukup lama, kemudian mengambilnya setelah menghela keras.


***


Fajri dan Hadi keluar dan menuju aula dengan berpakaian rapi dan sedikit menyamarkan riasan wajahnya. Vania sendiri keluar tapi pergi menuju lobi.


Sebelumnya, Fajri bersedia menyelamatkan Hasna setelah Vania menjelaskan sekali lagi tentang ketidaktahuan Hasna. Dan dia pun memberikan arahan pada Hadi dan Vania tentang apa yang harus merek lakukan.


Fajri dan Hadi menyamar sebagai anggota, sedangkan Vania harus berhasil keluar dari hotel, menyiapkan kendaraan dan melaporkan semua pada petugas berwajib lainnya.


Mereka semua bergerak cepat, berusaha sebaik mungkin menjalankannya hingga tujuan mereka tercapai.


Sampai di aula, Fajri melihat ke sekeliling. Banyak orang di sana, mungkin hingga lima puluh orang. Wira belum datang, Hasna pun belum ada di sana. Fajri bergabung dengan yang lain, seperti itu pun Hadi.


Kemudian, saat pintu terbuka dan Hasna datang, Fajri menatap wajah Hasna yang begitu lemah dan seolah tak kuasa melawan. Dia didampingi oleh dua pelayan wanita, diantarkan menuju kursi yang terletak ditengah aula.


Tak berapa lama, Vino datang bersama beberapa orang lainnya. Fajri menatapnya dengan kesal. Dia hendak menghampirinya, namun tak bisa karena Wira dan seorang wanita datang, semua orang memusatkan perhatian pada kehadiran mereka.


"Selamat malam semuanya? " sapa Wira.


Wanita yang bersamanya duduk di dekat Hasna dan seolah sedang bersiap.


"Akhirnya, setelah sekian lama kita menanti hari ini. Gadis yang dulu telah lolos dari pengorbanan ini, kini telah ada di hadapan kita dan bersedia merelakan dirinya untuk menjadi persembahan. Kelompok kita akan menjadi lebih besar dan kuat setelah bisa membuktikan bahwa kita bisa menyelesaikan apa yang tidak bisa salah satu anggota kita lakukan" ucap Wira.


Fajri dan Hadi tercengang.


'Dia berbohong!' ucap hati Fajri.


Hadi menatap ke arah Fajri yang terlihat terkejut dengan ucapan Wira.


"Demi dewa dewi yang sudah memberikan kita semua yang kita dapatkan, kesenangan, kekuasaan dan kekayaan. Malam ini, kita akan mempersembahkan wanita yang sudah pernah lolos, dengan kemudian akan melaksanakan pertemuan dan persembahan lainnya dengan jadwal yang dulu pernah ditetapkan" ucap seorang wanita yang mendampingi Wira.


Beberapa pria maju dan membuka jubah milik Hasna. Semua orang terkejut melihat bekas luka di kakinya yang dulu pernah Bima buat. Hasna yang masih lemah dan dipengaruhi obat, hanya diam saja.


Mereka menyentuh dan melucuti satu persatu pakaian Hasna. Yang lainnya menonton dengan mata yang mungkin hanya sesekali berkedip.


Fajri tak tahan melihat mereka menyentuh Hasna, lain halnya dengan Vino yang santai dan diam.


"Mulai hari ini, semua orang akan kembali mempersembahkan salah satu anak mereka dan orang-orang yang terdekat mereka untuk perkumpulan ini. Demi dewa dewi yang ada di sini, yang telah hadir untuk menyaksikan persembahan kita" seru wanita itu semakin kencang.