
Fajri masuk ke kantor, dia melihat Vania seorang petugas wanita sedang duduk di kursinya. Matanya beralih ke Beno yang sedang mengarahkan sesuatu pada Vania.
"Ada apa?" tanya Fajri.
Vania menoleh padanya.
"Komputer mu rusak" jawab Vania santai.
"Kok bisa?" tanya Fajri santai.
Dia meletakkan tasnya di meja dan berdiri menatap komputernya. Beno memperhatikannya, dia merasa aneh karena Fajri terlihat santai, biasanya dia panik dan merasa gagal lagi menyimpan bukti di dalam komputernya.
Fajri menekan sebuah tombol keyboard, kemudian komputernya mati total. Vania menatapnya, dia yang memang sejak pertama menyukai Fajri, malah terpesona oleh paras Fajri yang maskulin dengan janggut dan kumis tipis yang terabaikan.
Komputer Fajri kemudian menyala lagi. Fajri menekan password kantor dan memulai kembali menyalakan komputernya. Vania mengalihkan pandangannya ke komputer dengan sedikit gemetar dan grogi karena Fajri sangat dekat dengannya.
"Sudah selesai" ucap Fajri.
"Loh kok! Apa yang kamu lakukan? Ini bisa bikin semua memori komputer mu hilang" seru Vania.
Beno menatap Fajri, heran akan tindakannya.
"Tenaaang! Semua file yang aku simpan di sini sudah aku cadangkan di tempat lain" ucap Fajri santai dan tersenyum pada Vania.
Mata Vania membulat menatap senyuman Fajri. Tapi lain halnya dengan Beno, dia mengerutkan wajahnya seolah tak senang dengan apa yang dikatakan Fajri.
"Dimana?" tanya Beno datar.
Fajri dan Vania menatapnya.
"Maksud ku, kau sangat siaga. Dimana kau menyimpannya? Aku juga perlu tahu kan?" ucap Beno dengan merubah nada bicaranya.
"Ada, aku akan mengirimkannya lagi ke komputer, nanti kamu bisa akses lagi di sana" ucap Fajri sambil menepuk bahunya.
Kemudian Fajri menatap Vania. Dia tersipu dan mengangkat kedua alisnya bertanya mengapa Fajri menatapnya seperti itu. Tapi Fajri berisyarat menunjuk kursinya. Vania tersadar, dia masih duduk di tempat Fajri. Dia gelagapan dan akhirnya berdiri.
"Terimakasih!" ucap Fajri.
"Ok, sama-sama" jawab Vania.
Dia berjalan mundur hampir tertabrak rekan kerja lainnya yang hilir mudik di sana. Fajri tersenyum menertawakan tingkahnya.
Fajri mengalihkan pandangannya pada Beno yang juga menatapnya.
"Kau kenapa?" tanya Fajri.
"Tidak, aku senang kau siap siaga untuk kasus ini" ucap Beno.
"Kau ini ada apa? Aku memang selalu siap siaga. Hanya saja, beberapa kali aku sedang tidak beruntung saja" ucap Fajri sambil tersenyum pada Beno.
Beno membalas senyuman Fajri, kemudian menatap berkas di depan matanya. Dia mengambilnya meskipun sedang tak perlu membacanya.
Fajri menatap tingkah temannya itu. Ada banyak pertanyaan yang belum dia dapat jawabannya tentang Beno. Tapi Fajri tak ingin menuduh atau membuat pertemanan mereka rusak karena kecurigaan ini. Fajri lebih memilih untuk lebih berhati-hati dibandingkan menuduhnya.
"Aku harus ke kamar mandi" ucap Beno.
Fajri mengangguk saja sambil mengerjakan sesuatu di komputernya. Tapi matanya mengikuti kemana arah Beno pergi. Dia tak pergi ke arah toilet, tapi ke arah tangga darurat. Fajri beranjak dari meja kerjanya dan mengikuti Beno yang benar-benar bohong kali ini.
Di rooftop.
"Tidak Pak, maaf. Dia lebih siap siaga sekarang. Dia menyimpan file di tempat yang lain. Dan dia tak memberitahukannya pada saya. Tapi tenang Pak, saya akan berusaha melenyapkan semua bukti yang dia simpan di kantor dalam. Kasus anda akan mundur hingga Pak kepala sendiri yang akan menugaskan kasus lain padanya" jelas Beno.
Beno menutup ponselnya setelah mendengar semua aba-aba lain dari pria yang ditelponnya. Dia berbalik dan menatap Fajri berdiri menatapnya di dekat pintu keluar.
"Apa? Apa yang kamu dengar?" tanya Beno tanpa merasa bersalah.
"Siapa dia? Bima Sebastian? Atau Takeshi?" Fajri balik bertanya.
Beno mengalihkan pandangannya ke arah sekitar Fajri. Dia tak berani menatap mata Fajri yang tak lepas dari wajahnya.
"Katakan padaku, siapa yang membuat mu tega mengkhianati ku seperti ini?" Fajri menekan Beno secara psikis.
"Ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Jangan terlalu curiga pada yang lain hanya karena ucapan wanita yang kini sudah menjadi istri orang lain" ucap Beno.
Namun, belum selesai Beno bicara, bogem mentah Fajri sudah mendarat di wajahnya. Beno terjatuh dan mengerang keras karena sakit dan kesal.
"Apa sih yang kamu pikirkan? Kamu menjadi petugas yang gampangan. Mudah di suap, mudah berkhianat. Sejak kapan kamu lakukan ini padaku?"
Beno tak ingin menjawabnya. Dia masih menyentuh pipinya yang sakit karena pukulan Fajri.
Fajri mengingat saat Beno terlihat malas di beberapa saat kemudian menjadi bersemangat hanya dalam beberapa detik. Tingkah-tingkah aneh Beno yang dia tunjukkan saat menangani semua kasus tentang Bima Sebastian saja.
"Huh, hanya kasus Bima Sebastian. Berapa dia membayar harga diri mu sebagai seorang petugas?" tanya Fajri merendahkannya.
Beno berdiri tapi tetap tak menjawabnya. Fajri mulai kesal, dia memutuskan untuk berbalik dan pergi.
"Harga diri ku ku jual karena rasa tak tega ku melihat Dara terbaring lemah di ranjang pesakitan"
Suara parau Beno yang hendak menangis menghentikan langkah Fajri.
"Sejak malam itu, dia tak bicara dan tak makan, kondisinya drop. Perawatnya bilang, beberapa kali dia berusaha bunuh diri dan berteriak histeris. Dokter mengatakan, kemungkinan dia mengidap penyakit jiwa dan sulit di sembuhkan. Aku harus bagaimana Jri? Uang yang ditawarkan Bima begitu menggiurkan dan membuatku kalaf karena ingin Dara cepat pulih. Aku harus bagaimana? Kau sendiri tahu..."
Belum selesai Beno bicara, Fajri sudah menyela ucapannya.
"Ada jalan lain Beno, semua ada jalan lain selain mengkhianati aku. Apapun alasanya, mulai sekarang aku takkan menjadi rekan mu lagi. Kau tidak akan bisa mendapatkan kepercayaan ku lagi. Terimakasih sudah pernah menjadi rekan kerja yang baik untukku" ucap Fajri.
Dia pergi dari sana, meninggalkan Beno yang menangis mengingat adiknya Dara. Beno tak bisa diam saja, dia harus mendapatkan uang yang dijanjikan Bima padanya.
Beno berlari menyusul Fajri untuk membujuknya melepas kasus Bima, namun langkahnya terlalu cepat. Dia menabrak Fajri dan tak sengaja mendorongnya hingga terjatuh, berguling-guling di tangga hingga lantai dekat pintu keluar.
Beno tercengang menatap Fajri yang terlambat dia gapai tangannya.
Fajri tergeletak tak sadarkan diri. Beno turun perlahan dan menatap wajah Fajri yang matanya tertutup. Dia menelan salivanya, tangannya mendekat ke leher sebelah kiri Fajri untuk memastikan denyut nadinya.
Beno menghela cukup keras, lega karena Fajri masih hidup. Tapi dia tak mungkin mengatakan dan mengaku bahwa dirinya tak sengaja mendorongnya. Beno memutuskan untuk meninggalkan Fajri.
Beno duduk kembali di meja kerjanya seolah tak terjadi apa-apa. Dia berusaha mengendalikan diri dari rasa khawatirnya pada Fajri. Bekerja kembali dan memasang wajah yang santai.
Tak berapa lama, seorang petugas wanita berteriak karena menemukan Fajri. Semua orang datang menghampiri untuk melihat dan membantu Fajri keluar dari sana.
Kemudian, Fajri dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan ambulans. Beno menatap kepergian ambulans yang membawa Fajri, hingga menghilang di belokan pagar kantornya.
Vania mendekat dan berdiri di dekatnya.
"Padahal tadi kita sedang diskusi tentang komputer. Huuhhfff, aku harap dia baik-baik saja dan kembali secepatnya" ucap Vania.
"Hei, dia jatuh dari atas dan berguling di tangga cukup tinggi. Ada banyak luka di tangan dan dahinya tadi. Jika dia beruntung, tak lumpuh, hal yang ringan yang akan dia alami adalah gegar otak" ucap salah satu rekan kerjanya.
"Jangan menakuti, Fajri orang yang kuat. Dia takkan kalah hanya karena terjatuh dari tangga. Lihat saja, aku akan merawatnya nanti, dia akan pulih lebih cepat" ucap Vania.
Beberapa rekan kerja menatap Vania karena merasa ucapannya merupakan pernyataan rasa sukanya pada Fajri. Mereka menggodanya hingga Vania kembali masuk karena malu.
Tapi Beno masih dia berdiri kaku di depan kantornya. Beno menghela beberapa kali untuk menahan tangisnya agar tak keluar. Dia harus bisa mengendalikan diri agar tak terlihat mencurigakan.