
Hasna terus memikirkan setiap ucapan Wira. Tak bisa dia memikirkan dirinya sendiri. Sesekali pikirannya berkata bahwa dia harus segera menyelamatkan Dania, tapi sesekali hatinya merasa sakit dan takut mengingat malam yang pernah membuatnya hampir mati dan kehilangan semua orang yang dicintainya.
Vino memperhatikannya sedari tadi, dia cukup terganggu dengan diamnya Hasna.
"Apa yang membuat istri cantik ku ini jadi diam begini? " tanya Vino sambil memeluknya dari samping.
Hasna mengendalikan dirinya dan mencoba tersenyum untuk membuat Vino tak mengkhawatirkannya.
"Tidak..., aku hanya sangat cemas dengan keadaan Dania" jawab Hasna.
"Hmmm, aku juga heran, kenapa Dania sulit ditemukan" tanya Vino pada dirinya sendiri.
Hasna diam, dia tahu persis sekarang Dania di tangan siapa. Setelah mengetahui semua itu, dia bahkan tak bisa mengomentari ucapan Vino yang jelas sedang bertukar pikiran dengannya.
"Aku lelah, aku mau tidur" ucap Hasna.
Vino langsung melepas pelukannya dan membiarkan Hasna pergi ke ranjang dan tidur. Meskipun dia begitu terkejut dengan sikap Hasna yang terkesan dingin.
Namun meskipun begitu, dia berusaha untuk memahami perasaan Hasna.
Tak berapa lama, Vino mendapat panggilan dari salah satu anak buahnya.
"Ya! " jawab Vino sembari keluar ke balkon.
"Kami tidak bisa mengintai kembali Pak, mereka menyadari keberadaan kami dan mereka mengancam kami untuk tak mengintai kembali atau mereka akan memaksa anda menghentikan semua ini" ucap anak buahnya.
Sejenak Vino diam. Dia merasa sudah tak bisa bergerak meskipun dia sangat menggebu untuk memecahkan masalah ini.
"Apa Dania ada di sana? Kalian tentu melihat pergerakan mereka" tanya Vino.
"Ya, kami mendengar percakapan mereka. Pak Wira menangguhkan operasi yang akan dilaksanakan untuk Dania. Dia meminta anak buah Venus untuk mencari korban lain"
"Wira?" Vino terkejut.
"Ya Pak, saya rasa Dania langsung dipindahkan dari tempat itu. Dia ada dalam perlindungan Pak Wira"
"Ya sudah, akan lebih baik dia di sana. Waktu kita tidak banyak, ada banyak yang harus kita siapkan untuk pertemuan perkumpulan ini, aku juga harus menyiapkan Hasna untuk menjadi apa yang mereka.... "
Vino menghela cukup keras. Terlebih saat dia menyadari Hasna yang sedang berdiri menangis menatapnya di dekat jendela.
Vino menutup panggilannya. Dia mendekat masuk saat Hasna mundur dan menangis.
"Kau.....kau tahu dimana Dania? " dengan gemetar Hasna mencoba bicara.
Dia tak bisa berpikir selain menyimpulkan bahwa Vino mengetahui bahwa Dania akan dijadikan persembahan sekte itu.
"Sayang aku.. . "
"Kau tahu tentang sekte itu.. . "
"Tidak, bukan begitu.. . "
"Kau menyembunyikan semua ini dari ku? " Hasna menangkis tangan Vino yang terus berusaha menyentuhnya.
Hasna hendak keluar dari apartemen, tapi Vino mencegahnya.
"Sayang, dengar dulu! "
"CUKUP! "
Hasna berteriak seraya menepis tangan Vino. Sontak Vino terkejut dan diam.
"Kau jahat, kau terlibat dengan sekte itu, kau tahu Dania akan dijadikan persembahan mereka dan kau tidak mengatakannya padaku. Kau tahu juga kan kalau mereka mengincarku? HANYA MENGINCARKU! "
Mata Vino membelalak mendengar ucapan Hasna.
"Kenapa kau melakukan ini padaku? Kau sengaja kembali padaku untuk melakukan ini? Apa ini? Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa kau melakukan ini padaku? "
Hasna terduduk lemas setelah mencecar Vino dengan semua ucapannya. Vino pun tak habis pikir dengan semua ucapan Hasna. Dia bahkan baru mengetahui Dania akan dijadikan persembahan sekte itu. Yang dia tahu, Dania hanya akan dioperasi dan diambil organ dalam tubuhnya untuk dijual, menjadi korban jual beli organ dalam, bisnis milik Venus.
Vino terduduk di sisi lain dinding apartemen mereka. Hening sejenak memeluk mereka yang saling diam. Sesekali Hasna terisak karena merasa telah dikhianati Vino.
Vino melirik padanya.
"Sejak kapan kau bergabung dengan mereka? " tanya Hasna.
Vino kebingungan, jelas dia bergabung setelah bicara dan mendiskusikan semua itu dengan Fajri. Tapi dia tak bisa mengatakan dan melibatkan Fajri. Dia tak mau Hasna semakin kecewa dan merasa tak ada yang bisa dia percayai.
"Saat di penjara, aku putus asa karena tak bisa bersama mu dalam waktu yang lama. Mereka memberikan ku kekuasaan untuk mengendalikan beberapa petugas dan bantuan untuk bebas lebih cepat"
Hasna menangis lebih keras.
"Apa yang mereka minta dari mu sebagai gantinya? " tanya Hasna dengan nafas tertahan sejenak.
Vino menghela, matanya terpejan sejenak tak bisa membayangkan apa yang akan Hasna pikirkan tentang dirinya jika dia mengatakan semuanya. Tapi dia harus mengatakannya.
"Kau" ucap Vino pelan.
Mata Hasna membulat tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Mereka minta aku menyerahkan mu. Korban persembahan yang tak bisa ayah selesaikan" lanjut Vino.
Vino terpaksa mengatakan apa yang sebenarnya, meskipun tidak semuanya dia katakan.
Hasna menepuk dahinya sendiri. Dia terus menangisi nasib dirinya.
Vino diam dalam tangisnya, dia tak bisa mengatakan apapun lagi. Dia tahu Hasna merasa hancur, kepercayaan dan hatinya.
Pagi hampir tiba, semalam suntuk mereka hanya diam dan duduk di lantai dengan tangisan.
"Pergilah pada Fajri. Dia akan melindungi mu dari sekte itu ataupun dari ku" ucap Vino memecah kebisuan mereka.
Hasna menghapus air matanya.
"Serahkan aku pada mereka, bawa Dania kembali ke panti" ucap Hasna.
Vino terbelalak mendengar ucapan Hasna.
"Tidak" Vino menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kau harus lakukan itu. Aku sudah muak dengan semua ini. Sudah tidak ada lagi yang bisa aku perjuangkan. Bahkan orang yang paling aku cintai sekalipun mengkhianati ku dengan cara seperti ini, aku sudah tidak berminat melanjutkan hidupku lagi"
"Tidak, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi" ucap Vino sambil berdiri.
"Kau mau kemana? " tanya Hasna yang ikut berdiri.
"Aku akan pergi dan membunuh Wira, dia otak dari semua ini. Sekte itu akan berakhir jika dia mati. Aku juga akan membunuh semua orang yang terlibat agar kau tak pernah diganggu lagi"
Vino mendekat pada lemari dan mengambil senjatanya. Hasna terkejut karena baru mengetahui Vino memiliki senjata.
"Hanya aku jalan satu-satunya untuk mengakhiri sekte ini" ucap Hasna saat Vino membuka pintu.
Benar saja, ucapannya membuat langkah Vino terhenti. Dia juga ingat dengan semua ucapan Wira.
"Jika benar yang kau katakan, Wira adalah pemimpin mereka, itu berarti dia mengatakan hal yang sebenarnya" lanjut Hasna.
Vino menoleh, dia mengerti bahwa Hasna sudah bicara dengan Wira.
"Aku harus menyudahi sekte ini, terlebih aku sudah muak dengan rasa takut ini" ucap Hasna dengan isak tangisnya.
Vino tak menyangka Hasna masih dihantui rasa sakit itu. Tapi dia juga tak bisa membiarkan istrinya menyerahkan diri pada Wira begitu saja.
"Aku mencintaimu" ucap Vino.
Hasna menunduk menangisi ucapannya.
"Aku sangat mencintaimu" ucap Vino lagi.
Kemudian perlahan langkahnya mundur dan pergi meninggalkan Hasna sendirian. Hasna berusaha mengejarnya, namun Vino sudah menutup lift dan turun.