
Di cafe.
Keanu memperhatikan Hasna yang sedang melihat pesan di ponselnya. Dia meraba dari ujung rambut hingga kemeja yang Hasna pakai dengan matanya. Dia kagum dengan kecantikan Hasna, meskipun kenyataannya dia baru keluar dari penjara saat itu.
Dia mulai mengakui semua cerita temannya yang mengatakan bahwa Hasna dikenal sebagai pengacara cantik. Dia juga sedikit tersenyum saat mengingat ucapan mereka tentang Hasna yang membela mana yang benar dan mengutuk siapapun yang salah.
Sementara itu Hasna membaca pesan dari Armand yang mengatakan bahwa Vino langsung menandatangani surat pengajuan cerainya. Kali ini Hasna diam membeku beberapa saat, perasaannya bercampur aduk.
"Kau baik-baik saja? " tanya Keanu.
Hasna menoleh, di menaruh ponselnya dan mulai siap mendengarkan.
"Ya, tentu saja. Jadi, apa yang ingin anda bicarakan Pak Pengacara? " jawab sekaligus tanya Hasna.
Keanu sedikit canggung mendengar panggilan yang Hasna sebut untuknya.
"Panggil saja Keanu, kita sepantaran" ucapnya.
"Ya, baiklah. Bisa dipercepat pembicaraannya? " pinta Hasna tegas.
Keanu cukup terkejut dengan sikap dingin yang ditunjukkan Hasna.
"Ok"
Keanu merapikan cara duduknya dan mulai bicara.
"Aku mendengar semua cerita tentang diri mu dari beberapa pengacara yang menjadi rival dan juga rekan mu di setiap kasus mu. Aku cukup terkesan dengan cara kerja mu. Kau menganalisa semua kasus dengan caramu. Oleh karena itu, aku ingin mengajak mu bergabung di Reaves firma Hukum untuk menjadi penasihat kami" jelas Keanu dengan bersemangat.
"Izin profesi ku dibekukan aku tidak bisa" jawab Hasna singkat.
Keanu membeku mendengar jawabannya.
"Hanya itu? Kalau begitu aku permisi, aku harus pulang" ucap Hasna.
Dia hendak berdiri dan pergi.
~Semudah itu? semudah itu dia menolak ku? tidak, aku harus bisa menjadikan dia rekan kerja ku di firma ku~ ucap hati Keanu yang bertekad.
"Tunggu! " ucap Keanu menahan tangan Hasna.
Hasna menatap tangan Keanu yang memegangi tangannya.
Keanu sadar dengan tindakannya yang terlalu tiba-tiba, dia melepaskan tangan Hasna.
"Maafkan aku, aku hanya... " Keanu jadi sulit bicara di hadapan Hasna.
Hasna memperhatikannya yang berusaha bersikap sopan padanya.
"Aku akan memikirkan tawaran mu setelah izin profesi ku kembali. Kau tahu rumah ku bukan? Nanti kau juga pasti tahu kapan izin profesi ku tidak beku lagi. Kau bisa datang setelah itu" ucap Hasna memberikan janjinya.
Keanu diam saja menatap bibir Hasna yang bicara.
"Aku harus pergi, permisi" ucap Hasna pamit dengan sedikit membungkuk.
Keanu membeku, mau tetap mencegah kepergian Hasna tapi memang dia tak punya alasan lagi untuk bicara dengannya.
"Inilah kelemahan ku, aku tidak pandai bersilat lidah seperti pengacara lain. Aku bahkan membeku hanya dengan melihat wajahnya yang manis" gumam Keanu.
Hasna berjalan keluar dari restoran. Dia merasa ada yang mengambil gambarnya melalui ponsel. Di berbalik dan memperhatikan pengunjung lainnya. Ada seseorang yang membuatnya curiga. Hasna mengabaikannya, dia pergi dan mencegat taksi dan pulang.
Matanya menatap salah satu pengunjung yang memperhatikan dirinya kemudian menelpon seseorang. Hasna membaca gerak bibirnya, dia sadar telah di ikuti.
***
Di dalam sel, Vino berbaring santai menerima pijatan dari teman satu selnya. Pemandangan yang lain dari hari sebelumnya, dimana di yang selalu jadi bahan olok-olok warga binaan lain.
Dani, orang yang berkelahi dengannya tempo hari, hanya menatap dengan kesal melihat tingkahnya yang sok berkuasa. Tangannya mengepal, pandangannya dipenuhi amarah dan balas dendam.
Tak berapa lama, seorang petugas datang memberitahukan bahwa ada kunjungan baginya. Semua mata memandang padanya, karena bukan jam untuk kunjungan.
"Huhhfff, kau mengganggu sekali. Tapi tidak apa-apa, aku akan menemuinya" ucap Vino menyombongkan diri.
Tangan Dani semakin mengepal, rasanya ingin dia hajar wajah Vino yang berlagak itu. Vino pun sengaja berjalan melewatinya begitu dekat agar Dani semakin kesal.
"Aku mau memberikan laporan pertama ku, sekaligus membuat mu yakin bahwa aku bisa dipercaya" ucap Nendi.
"Apa itu? " tanya Vino setelah melihat Nendi mengeluarkan beberapa lembar foto.
"Foto istri mu, maksudku mantan istri mu" ucap Nendi kemudin tersenyum.
Vino mengabaikannya, dia mengambil salah satu foto yang dilihatnya Hasna sedang bicara dengan seorang pria di depan rumahnya.
"Sampai di rumah, Hasna mendapatkan tamu yang tak diduga. Keanu Reaves, pengacara andal juga kaya yang punya firma Hukum sendiri. Ku rasa dia menawarkan pekerjaan padanya" jelas Nendi tanpa ditanya.
"Panggil dia Nyonya, jangan sampai aku menghajar mu hanya kesalahan sepele seperti itu" ucap Vino.
Glekkk...
Nendi menelan salivanya, dia cukup takut mendengar ancaman Vino.
"Iya Pak, Nyonya Hasna menolak karena alasan pembekuan profesinya. Dia kembali setelah menolaknya" lanjut Nendi.
Vino mengambil semua gambar Hasna, dia memasukkan semua foto itu ke saku kemejanya.
"Bagaimana Pak, anda cukup puas dengan pekerjaan ku? " tanya Nendi.
Vino yang hendak berdiri kembali duduk dan menatapnya dari rambut hingga dada.
"Jangan terlalu sering memotret nya dari dekat. Hanya saat dia bertemu seseorang atau pergi bersama seseorang, termasuk Fajri" pinta Vino.
"Baik Pak! " seru Nendi sambil memberikan hormat.
Vino pergi mengabaikannya, Nendi menyeringai karena cukup kesal dengan sikapnya.
"Dasar orang kaya, sombongnya tak kenal tempat. Di penjara pun mereka masih bisa sombong" gumam Nendi.
"Aku bisa mendengarnya" seru Vino yang masih tak jauh dari pintu masuk.
Glekk...
Nendi menelan salivanya lagi kemudian buru-buru merapikan tasnya dan pergi dari sana.
***
Di TKP, setelah menangkap gembong narkoba, Fajri menemukan barang bukti yang cukup membuatnya terkejut. Sebuah foto dimana Venus, julukan bagi gembong narkoba yang dia tangkap, sedang berfoto bersama sekumpulan orang dan Bima ada di dalamnya. Tubuh Fajri membeku, terutama saat foto Wira yang berdiri dekat dengan Bima.
"Semua sudah selesai Pak, kami akan kembali ke kantor" ucap Ciko, salah satu anak buahnya.
"Hmmm" Fajri hanya mengangguk.
Semua orang pergi, tapi Fajri masih tinggal untuk mencari foto lain di laci Venus. Tapi sayangnya, tak ada yang lainnya. Semua sudah kosong, Ciko dan anak buahnya yang lain sudah membawanya.
Fajri menghela dengan keras, dia harus menanyakannya langsung pada Venus.
"Lagi-lagi aku harus menginterogasi nya" ucapnya terdengar malas.
Kemudian, di mengambil ponselnya karena ingat dengan Hasna yang belum dia hubungi.
"Hallo! " seru Fajri.
[Ada apa? ] tanya Hasna.
"Kau tidak pergi kan? " tanya Fajri lagi.
[Tentu saja pergi, aku harus keluar membeli sesuatu, memangnya harus selalu..... ]
Belum selesai dia bicara Fajri sudah menyela nya.
"Supermarket mana? Aku akan menjemput mu" Fajri langsung membuka pintu mobilnya.
[Tidak usah, aku... ]
Fajri mendengar suara pengumuman dari swalayan yang Hasna kunjungi, dia mengerti Hasna sedang berada di mana. Tanpa mendengar dan menjawab ucapan Hasna, Fajri menutup telponnya dan tancap gas menuju swalayan itu.