
Vino yang juga sudah datang sedari tadi, berdiri terpaku mendengar semua pembicaraan mereka di balik dinding dekat pintu, tempat mereka bicara.
"Aku melakukannya saat aku membawakan pakaian mu, Vania tak berani masuk dan mengambilnya" jelas Hasna.
"Lalu kenapa? Apa alasannya?" tanya Fajri.
"Kami sedang menyelesaikan semua penyelidikan tentang Bima, bukti-bukti yang kau kumpulkan tentang aku bisa mengalihkan perhatian mereka" ucap Hasna.
"Tapi, Na. Pekerjaan mu, karir mu di bidang ini. Apa hanya dengan membalas dendam pada Bima kamu rela kehilangan semuanya?" Fajri menahan nafas karena kesalnya.
Hasna terdiam sejenak, dia membasahi bibir dengan lidahnya, dan sesekali menggigit bibirnya sendiri. Seolah tak kuasa untuk mengatakan semuanya.
"Aku sudah kehilangan semuanya, bahkan harapan. Dia menodai ku lagi sesaat setelah kau pergi dari rumah sakit waktu itu. Dia tidak membunuhku, aku hidup, hidup dengan semua amarah yang lebih besar. Hari itu aku ingin mati lagi, tapi ucapannya tentang mengancam keselamatan mu, membuatku ingin sekali lagi melindungi orang yang aku sayangi. Aku akan merasa sangat bersalah pada ayah, jika dia melihat ku menyerah dan membiarkan mu jadi korban iblis itu"
Fajri memeluk Hasna dengan erat. Tangannya mengusap rambut Hasna dengan lembut.
"Aku hancur Jri, sehancur-hancurnya. Aku tidak pantas untuk mu ataupun Vino. Kalian terlalu baik, kalian harus mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku"
Hasna menangis di pelukan Fajri yang juga menangis dalam diamnya. Sementara Vino, tangannya mengepal membuat bulatan yang keras seolah siap menghancurkan apapun yang disentuhnya.
Wajah Vino merah padam, dia sangat marah mendengar ayahnya melakukan hal biadab pada wanita yang sangat dia cintai. Dengan semua rasa marahnya, dia pulang ke rumahnya.
Sampai di rumah, pelayan rumah menyambutnya dan menyapa.
"Aden sudah pulang, mau saya siapkan makan?" tanya pelayan itu.
Tapi Vino berjalan lurus menuju kamar Bima. Dia membuka pintu kamarnya dengan tendangan kakinya. Mata merahnya yang berair meraba seluruh dinding kamar ayahnya.
Nafasnya tersengal karena kekesalan yang dirasakannya. Tapi dia hanya bisa melempar semua barang-barang Bima. Mengacak-acak semua yang ada di hadapannya.
"ARGGGHHHHHH!"
Teriakannya membuat pelayan dan penjaga rumah saling menatap dan tak tahu apa yang haris dilakukan.
Pelayan kemudian berinisiatif untuk menghubungi Hasna. Tapi tak diangkat karena ponsel Hasna disenyapkan.
Sementara itu, Fajri masih duduk bersama Hasna di kantor Beno.
"Maaf jika aku mengganggu, tapi jika Pengacara Hasna bisa cepat di introgasi, dia akan lebih cepat pulang" ucap Beno.
Fajri hanya melirik dan mendengarkan, tapi Hasna berdiri dan melepas tangan Fajri yang sedari tadi menggenggam tangannya. Fajri tak melepasnya, Hasna menatapnya.
"Aku mau cepat pulang" ucap Hasna.
Fajri menatapnya.
"Pulang ke rumah ku" ucap Fajri.
"Ya, pulang ke rumah mu" jawab Hasna.
Tak benar-benar akan pulang ke rumah Fajri, hanya ingin membuatnya melepaskan tangannya.
Fajri melepaskannya dan mengantar sampai dia duduk di hadapan Beno.
"Aku akan menunggu di luar" ucap Fajri.
Hasna berdecak, mulai merasa risih dengan sikap oveprotektif nya Fajri.
"Inilah kenapa aku tidak pernah mau mengatakan masalah ku....." Hasna hendak protes dengan sikap Fajri.
Hasna menghela, hatinya tak bisa berjanji, tapi tangannya perlahan menepuk tangan Fajri seolah menyetujui permintaan nya. Fajri pergi setelah merasa Hasna menurut.
Beno menatap kemesraan mereka, tak aneh. Dia bahkan pernah melihat mereka bercanda dengan bergulat di ranjang. Tapi kali ini dia merasa sangat tak tega melihat Fajri yang sangat berharap Hasna bisa pulang.
"Apalagi?" tanya Hasna.
Beno menatapnya, mengangkat dahinya balik bertanya.
"Ouh ya, introgasinya. Haha!" Beno memulihkan pikirannya.
Hasna diberi pertanyaan lagi, dia juga menjawab dengan apa adanya. Beberapa tuduhan disangkalnya. Beno mengangguk setelah membaca semua jawaban Hasna. Dia mengambil kesimpulan dan memutuskan.
"Maafkan aku, untuk membuktikan kau tidak bersalah. Kau harus menginap di sini malam ini" ucap Beno.
"Apa yang kau rencanakan?" tanya Hasna heran dengan keputusannya.
Beno melirik ke arah rekan kerjanya, untuk memastikan tak ada yang mendengarkan.
"Aku akan membuat semua buktinya hilang, jika kau masih ditahan, mereka tak akan curiga pada mu" bisik Beno.
"Tidak usah melakukan apa-apa" ucap Hasna setelah tertawa sedikit.
Beno membulatkan matanya.
"Kenapa?" tanya Beno heran.
"Sudahlah, jangan pergi kemana-mana, tunggu aku di sini. Aku takut tinggal di ruangan kantor sendirian" ucap Hasna.
Beno menatap Hasna, teringat dengan pembicaraan mereka tadi. Beno merasa kasihan pada Hasna.
"Baiklah, aku akan menuruti mu" ucap Beno.
Semalaman Beno menunggu di mejanya. Hasna masuk ke dalam sel tahanan. Dia duduk sembari memejamkan matanya.
Beno melihat ponsel Hasna yang muncul panggilan tak terjawab belasan kali.
"Nomor rumah menelpon mu hingga belasan kali, kau mau menjawabnya?" ucap Beno.
Tapi Hasna sudah terlelap, ruangan itu seketika hening. Hanya suara gemuruh petir dan rintikan hujan yang terdengar.
Fajri menunggu Hasna yang tak kunjung datang di rumahnya. Dia menatap rintikan hujan yang semakin deras. Hanya hela nafasnya yang menemani di rumah kontrakan itu. Dia kecewa Hasna tak menepati janjinya untuk pulang.
Sementara itu, Vino terengah, duduk di sisi sofa di kamar ayahnya. Ruangan itu porak poranda oleh kemarahan Vino. Tangis tersedu nya menambah suasana mencekam di ruangan itu.
Rasa kecewa terhadap dirinya sendiri, penyesalan yang tak pernah percaya pada Hasna, juga amarah pada Bima, berkecamuk di hatinya.
~Apa yang harus aku lakukan Hasna? Aku harus apa? Pernikahan kita hanya sebagai alasan untuk mengecoh ayah dalam penyelidikan mu. Aku harus apa supaya kau benar-benar yakin bahwa aku sangat mencintai mu? Bagaimana cara menyembuhkan luka hati mu? Bagaimana..?~ Vino menjerit dalam hatinya.
Hari ini, hari dimana Vino mengetahui semua kejadian yang menimpa Hasna entah itu dari mulutnya langsung atau mendengarkan pembicaraannya dengan Fajri.
Vino kecewa, Hasna hanya percaya pada Fajri. Dia juga mengatakan semua kejadian yang tak dikatakan padanya tapi menceritakannya pada Fajri. Vino merasa hanya menjadi alat untuk balas dendam nya.
Sementara Fajri, hari ini, dia bertekad untuk melindungi Hasna, apapun yang terjadi. Satu-satunya keluarga yang dia miliki. Satu-satunya cinta dalam hidupnya.
Lain hal nya dengan Hasna, hari ini dia tersenyum dalam tidurnya. Mimpi buruk yang biasanya hinggap dalam bunga tidurnya, kini menghilang. Beban itu sudah lunas dia bayar dengan mengatakannya di depan Vino dan ayahnya. Apa yang dia sembunyikan sudah diketahui semua orang. Tak perlu lagi bersembunyi.
Bima jadi buronan, bukan tujuannya yang sebenarnya. Tapi setidaknya, kejahatannya sudah terbongkar.