My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
122



Vania membobol sebuah mobil dengan keahliannya, dia juga membawanya ke depan lobi dan hendak menyusul Fajri dan Hadi. Tapi, Keanu yang datang dari arah belakang, menariknya.


"Hei! " Vania terkejut.


Keanu berhenti dan menatapnya.


"Kau! " Vania mengenalinya.


"Ya, aku! " jawab Keanu kemudian menariknya ke bagian belakang hotel.


Vania sangat tahu kerja keras Keanu dalam mencuri perhatian Hasna. Dia juga yang paling tahu bahwa Hasna begitu acuh pada semua pria di kampus.


"Kau mau bawa aku kemana?" Vania panik.


"Jangan lakukan apapun! " ucap Keanu seraya berbalik padanya.


"Kenapa? " Vania terheran.


"Aku dan Vino sudah membuat rencana" ucap Keanu.


"Apa? " Vania tak paham.


"Kami membuat rencana untuk membawa Hasna keluar dari sini dan menghancurkan mereka dengan bom yang telah kami pasang di sekitar aula" jelas Keanu.


Mata Vania membelalak.


"Tidak, Fajri, Hadi dan Dania masih di dalam! " seru Vania menunjuk ke arah hotel.


"Aku tahu, pengawal Vino akan membawa mereka" ucap Keanu yakin.


"Lalu Dania? " Vania masih belum yakin.


"Dania sudah ada di panti sekarang" ucap Keanu.


Vania memperhatikan wajah Keanu yang melihat ke arah ruang kendali listrik.


"Kita akan mulai setelah Vino memberikan isyarat" ucap Keanu.


"Isyarat? "


Mereka menunggu.


Sementara itu, di aula.


Vino sedang berusaha menembakkan pistol yang ada di tangannya. Dia hendak memberikan sinyal pada Keanu. Tapi dia kesulitan, karena pistol yang dia ambil dari anak buah Wira yang dia sekap, macet.


Fajri tak tahan dengan pemandangan yang terjadi di hadapannya. Dia mendekat dan memukuli orang-orang yang hampir melucuti pakaian Hasna.


Semua orang panik, Wira meminta orang-orang menahan Fajri. Hadi dan Fajri berjibaku dengan orang-orang itu, sementara Vino mengambil kesempatan untuk membawa Hasna pergi dari sana.


Ruangan aula menjadi ricuh karena aksi Fajri dan Hadi. Fajri melihat Vino menarik tangan Hasna dan hendak membawanya keluar. Dia sedikit lega karena Hasna lolos. Tapi sayangnya, Wira menembak Vino dan membuatnya tersungkur sebelum menggapai pintu. Semua orang tiarap karena takut terkena peluru nyasar.


Suara tembakan membuat Keanu mengira itu isyarat yang mereka sepakati. Seketika mereka memadamkan semua lampu seluruh gedung.


Aula menjadi gelap gulita, orang-orang yang berkelahi terdiam sekaligus mencari arah di kegelapan. Fajri dan Hadi yang telah terlatih, leuasa dalam mencari pintu keluar.


Tapi Fajri kesulitan mencari Hasna yang tadi ikut terjatuh saat Vino tertembak. Dia meraba ke lantai dan mencari-cari tangan Hasna


"Hasna!" seru Fajri.


Hasna yang baru tersadar, mendengar teriakan Fajri. Dia mencoba menggapai Vino yang tergeletak pingsan di sampingnya. Namun dia masih lemas dan tak bertenaga untuk sekedar menjawab panggilan Fajri atau menarik tangan Vino.


"Vino! " lirih suara Hasna.


Dalam kegaduhan di kegelapan itu, Fajri bisa mendengar suara Hasna. Dia langsung bisa menemukannya.


"Hasna, ayo kita keluar dari sini" ajak Fajri sambil mencoba menggendongnya.


Hasna berusaha meronta, tak mau pergi tanpa Vino.


"Tidak, Vino.... " bisik Hasna.


Fajri baru ingat pada Vino yang telah tertembak.


"Aku akan membawanya nanti" ucap Fajri.


Hasna menurut dan ikut dengan Fajri dalam gelap.


Sayangnya, Wira yang mendengar percakapan mereka, menarik rambut Hasna. Fajri tak bisa terus menggendong Hasna yang kesakitan karena rambutnya yang dijambak.


Hadi yang mengetahui situasi itu, berusaha menghalangi Wira. Tapi kekuatan Wira dengan tubuh tegapnya tak mudah untuk ditaklukkan.


Hadi terpental, Fajri berusaha juga untuk melepaskan tangan Wira dari rambut Hasna. Pukulan demi pukulan dilayangkan pada Wira, tapi dia seolah kerasukan sesuatu dan menarik Hasna dengan brutal hingga kembali ke tengah Aula.


Di sisi lain, Keanu yang sedang menunggu Vino turun dengan Hasna, semakin gusar karena tak ada satupun yang keluar dari sana.


Mereka malah mendengar letusan senjata lagi. Tembakan yang di keluarkan Hadi pada Wira yang hendak merusak sisa pakaian yang Hasna pakai. Tapi tembakannya meleset dan mengenai anggota lain.


Keanu buru-buru meminta orang untuk menyalakan kembali lampu. Dia langsung berlari menuju aula.


Di aula, Wira terdiam diantara todongan senjata dari Fajri dan Hadi. Orang-orang lainnya terdiam karena todongan senjata dari anak buah Venus. Hening seketik dalam aula yang cukup besar itu.


Hasna memakai jubah untuk menutupi tubuhnya. Tak berapa lama datang Keanu dan terpaku sejenak menatap Vino yang tergeletak.


Kemudian matanya bergerak menatap Hasna, dia langsung mendekat.


"Kau tidak apa-apa? " tanya Keanu cemas.


Hasna menunduk malu dengan keadaannya. Tapi kemudian dia menatap Vino dan berlari.


"Vino bangun! " Hasna menangis melihatnya.


Keanu kesal melihat Hasna hanya memperhatikan Vino.


"Bawa mereka pergi" ucap Fajri.


Keanu mengangguk dan mengajak Hasna membawa Vino pergi dari sana.


"Ayo Na! " ajak Keanu seraya menarik lengannya.


Keanu berpindah pada Vino untuk membantunya bangun.


"Tidak, aku tidak bisa bangun" gumam Vino.


Hasna terduduk kembali.


"Ok, tidak apa-apa, aku akan menemanimu di sini sampai ambulans datang" ucap Hasna.


"Tidak, tidak Hasna, kau harus pergi bersama yang lainnya. Rencananya harus tetap dilakukan" ucap Vino.


"Apa, rencana? " Hasna berpaling pada Keanu.


"Tidak, kita akan mengubah rencananya. Kita akan menunggu hingga ambulans datang" ucap Keanu.


Dia hendak menghubungi anak buahnya untuk cepat datang.


"Tidak, waktunya.... " ucap Vino.


Keanu menatap Vino dan kembali ingat bahwa bom yang mereka pasang adalah bom waktu.


"Tidak Hasna, kita harus cepat keluar dari sini!" seru Keanu.


Fajri, Hadi dan Hasna kebingungan dengan sikap Keanu yang cepat berubah.


Wira mengambil kesempatan itu dan mengambil senjata yang Hadi pegang. Dia langsung menembak Fajri dan mengenai lengannya.


Semua orang membalikkan keadaan, kini Fajri, Hadi dan Keanu juga Hasna yang diam karena todongan senjata mereka.


"Hufft, kalian benar-benar membuat pertemuan kami berantakan" ucap Wira.


Wira menarik tangan Hasna dan memaksanya berdiri kembali di tengah aula.


"Semua ini karena kau, kau selalu berusaha lolos dari takdir mu sebagai persembahan kami" ucap Wira dengan kesal sambil menodongkan senjata di kepalanya.


Salah satu tangannya kembali membuka pakaian Hasna. Fajri kini merasa tak berdaya, bukan karena luka di tangannya, dia harus berhati-hati karena Wira bisa saja menembak Hasna.


"Aku akan lalukan apapun yang kau minta, asalkan kau bebaskan mereka semua" ucap Hasna dengan derai air mata.


"TIDAK! " Wira berteriak dengan mata yang merah penuh emosi.


Semua orang tercengang dengan sikap Wira yang seolah sangat emosi. Sangat berbeda dengan sosoknya yang biasanya tenang dan bijaksana.


"Kau membuat istri dan anakku menjadi korban karena kau lolos dari ritual bodoh ini! " teriak Wira.


Semua anggota perkumpulan itu terkejut dengan ucapan Wira.