My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
19



Bima datang lagi ke apartemen Vino dan menunggu di lobi. Vino yang baru sampai menatapnya dengan kesal. Sesak masih selalu ada saat dia menatap ayahnya itu. Tapi dia berusaha tegar dan berdiri tegak di hadapan ayahnya.


Sekarang dia adalah seorang pengacara, dia harus punya keberanian menghadapi ayahnya. Dia tidak boleh gentar hanya karena kenangan buruk masa lalu. Dia juga sudah semakin merasa percaya diri semenjak Hasna mau menerimanya.


Bima tersenyum pada Vino.


"Apa kabar nak?" tanya Bima.


"Baik, selama itu jauh dari mu, aku akan selalu baik-baik saja" ucap Vino ketus.


Bima merespon ucapan ketus Vino dengan senyuman.


"Kau tidak menawarkan masuk ke rumah mu?" Bima sangat ingin dekat lagi dengan ayahnya.


Vina mendelik, dia merasa sangat malas tak mau menerimanya. Tapi jika dia tak melakukannya, itu berarti dia masih tak bisa menghilangkan rasa takutnya bertemu dengan Bima ayahnya.


"Masuk saja, bukankah kau Bima Sebastian? Kau bisa melakukan apapun yang kau mau" ucap Vino sambil berjalan masuk ke lift.


Bima berjalan di belakangnya dan masuk kemudian berdiri di sampingnya saat di dalam lift.


Lift berhenti di depan pintu apartemen Vino. Dia keluar dan membuka kunci yang di pasang passcode sebagai kuncinya. Bima menatap tersenyum melihat anaknya yang pandai.


"Silahkan!" ucap Vino menyambutnya sebagai tamu.


"Rumah yang bagus, kau pandai mengatur barang persis seperti ibumu" ucap Bima.


"Apa yang kau tahu tentang ibu, kau tak pernah tahu bagaimana dia menahan rasa sakitnya, perih bagai tersayat-sayat. Tangis sembilu yang selalu mengalir setiap malam setelah kau menyuruhnya pergi dari rumah bersamaku" ucap Vino yang terdiam di depan meja makannya.


Bima duduk di sofa mendengarkannya dengan memasang wajah menyesal.


"Ibu mu adalah yang terbaik, dia adalah segalanya. Aku menyakitinya agar dia berpisah dariku dengan cara apapun" ucap Bima.


Vino menggenggam jemarinya dengan erat seolah memeras. Dia kesal ayahnya bercerita tentang ibunya.


"Aku terkena HIV saat itu, karena seorang dokter menggunakan suntikan yang sama dengan pasien positif HIV. Aku tidak bisa memberitahunya karena dia hanya akan khawatir. Jadi ku lakukan sesuatu agar dia memberontak dan marah. Lalu aku bisa mengusirnya dan dirimu dari rumah" jelas Bima.


Vino mendengarkan, dia baru tahu alasan semua itu terjadi.


"Kalian hidup dalam satu ruangan selama bertahun-tahun. Apakah sangat sulit untukmu saling jujur? Kenapa harus ada drama untuk masalah sepele?" ucap Vino dengan suara parau hendak menangis.


"Ibu mu adalah wanita yang setia Vino, jika dia tahu aku berpenyakit HIV, dia takkan peduli pada dirinya sendiri lagi, juga pada dirimu. Dia hanya akan fokus pada diriku yang lemah" ucap Bima.


Vino memandang sebelah mata pada ayahnya.


"Aku hanya berusaha, meski akhirnya dia tahu" ucap Bima.


Vino terheran.


"Dengar, aku benar-benar tidak tertarik dengan alasan mu. Kalau kau mau kemari karena masih menganggapku anak, silahkan. Tapi jangan pernah meminta aku menerima mu sebagai ayah ku" ucap Vino tegas.


Dia masuk ke kamar mandi dan membiarkan ayahnya sendiri. Vino membersihkan diri dengan santai. Dia berpikir ayahnya sudah pergi dan dia bisa istirahat tanpa harus mengobrol dulu.


~Lagipula apa yang harus dibicarakan, kami sudah bukan seperti ayah dan anak lagi~ ucap Vino dalam hatinya.


Dia keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya dengan handuk. Namun gerakannya melambat saat dia melihat ayahnya tertidur di sofa. Vino menatapnya dengan rasa kasihan.


Tapi rasa sakit hati untuk ibunya masih membuatnya kesal setiap kali ingat. Vino mengabaikannya dan tidur di ranjangnya.


Beberapa saat mencoba untuk terlelap, tapi tak bisa. Pikirannya mengkhawatirkan ayahnya yang pasti kedinginan tanpa selimut. Vino menyelesaikan kekhawatirannya dengan menyelimuti ayahnya. Dia kembali tidur, kali ini dia bisa memejamkan matanya. Vino tertidur lelap sekali.


Bima bangun pagi sekali, dia mencari bahan makanan yang sekiranya bisa dia masak untuk sarapan anaknya. Dia menemukan beberapa telur dan roti tawar juga susu.


Bima mengolah semua bahan menjadi makanan kesukaan Vino. Dia menatanya di piring, dia juga membuatkan susu pisang untuk Vino.


Bima menunggu Vino bangun sambil membaca koran kemarin. Tak lama kemudian ponselnya bergetar.


"Baiklah, aku akan ke sana sekarang" ucap Bima dengan berbisik.


Bima harus pergi meskipun dia sangat ingin sarapan dengan anaknya. Dia pergi setelah memperbaiki selimut anaknya.


Vino bangun dan menatap jendelanya sudah terbuka. Dia ingat bahwa ayahnya tidur di sofa. Dia menatap sofa, tapi ayahnya tak ada di sana. Vino berdiri dan hendak berjalan menuju kamar mandi.


Ponselnya berdering, Hasna menghubunginya. Dia kembali untuk mengambil ponselnya dan menjawab telpon Hasna.


"Ya sayang!" jawab Vino.


"Jangan panggil aku seperti itu!" Hasna kesal.


Vino tersenyum kemudian langsung terdiam menatap meja yang diatasnya sudah tersedia makanan. Vino duduk dan menarik piringnya agar lebih dekat padanya.


"Ok, ada apa? Pacarku" Vino tetap merayunya.


"Ah, terserah. Kau pasti baru bangun!"ucap Hasna menebak.


"Darimana kau tahu? Kau memasang CCTV tersembunyi di kamarku?" Vino menduga dan melihat sekitar.


"Jadi benar, kau lupa pagi ini ada meeting tentang kasus artis itu" ucap Hasna.


"Hmmm, iya maafkan aku, aku benar-benar lupa" jawab Vino sambil mengunyah makanan yang ayahnya buat.


"Kau makan apa? Tumben bangun tidur langsung sarapan, apa ada yang memasak untuk mu?" tanya Hasna mengejeknya.


Vino tersenyum dan memikirkan hal yang akan membuat Hasna cemburu.


"Tentu saja, dia membuatkan makanan kesukaan ku. Roti lapis panggang dengan telur sebagai isiannya. Juga segelas susu rasa pisang yang sangat enak" ucap Vino.


"Siapa dia? Wanita? atau pria?" tanya Hasna menjadi penasaran.


Dia tak tahu kalau Vino suka susu rasa pisang.


"Hmmmm, kau penasaran?" ucap Vino sambil membuka pakaiannya untuk mandi.


Dia memutar keran shower dengan pelan agar Hasna tak menyadari sedang mengobrol dengannya sambil mandi.


"Mau lihat apa yang dia masakan untukku?" tanya Vino.


Hasna diam tak menjawab karena sedang mengetik sesuatu di komputer kantornya.


"Alihkan ke video call!" pinta Vino.


Hasna mengalihkannya, dia juga penasaran dengan apa yang dimakan Vino. Namun yang dia lihat adalah tubuh Vino yang setengah badan sedang mandi dan keramas.


Hasna terkejut, dia menutup telponnya dengan terburu-buru. Wajahnya memerah dan dia melihat sekitar berharap tak ada yang melihatnya.


"Dasar!" ucap Hasna kesal.


Sementara Vino tertawa terbahak-bahak melanjutkan mandinya. Selesai mandi, dia mengirimkan foto selfinya yang sedang memakai handuk dengan senyum tampannya.


Hasna membuka pesannya, wajahnya terasa panas saat menatap Vino yang terlihat segar setelah mandi. Hasna menutup ponselnya di meja. Mengatur nafas dan kembali bekerja.


"Awas, jika dia datang aku akan mencubit perutnya yang seperti roti sobek itu" gumam Hasna.


Vino selesai berganti pakaian, dia kembali ke meja dan menghabiskan semua makanan yang ayahnya buat.


"Sayang jika ada sisa, nanti ada tikus yang memakannya" ucapnya sendiri.


Vino masih belum bisa menerima ayahnya. Dia berangkat dan memundurkan mobilnya. Saat hendak tancap gas, ponsel Vino berdering lagi. Kali ini nomor ayahnya, dia menghela, malas menjawabnya.


~Dia pasti menanyakan apa aku memakan sarapan ku atau tidak!~ ucap hati Vino.


"Ya hallo!"


"Maaf pak, tuan pemilik ponsel sedang pingsan di klinik, dia mengalami kecelakaan di jalan dekat tol dalam kota" ucap seorang wanita.


Mata Vino membulat, dia sangat terkejut.


"Pak! Saya menelpon karena nomor anda ada di daftar nomor panggilan darurat pertama" ucap lagi wanita itu.


Vino masih diam.


"Pak!" seru wanita itu.


"Ya, klinik mana? Saya akan ke sana" ucap Vino.


Dia mendapatkan alamat klinik itu, kemudian langsung tancap gas. Dia menelpon Hasna sambil berkendara.


"Ya hallo! Kenapa belum sampai?" tanya Hasna.


"Aku tidak bisa datang, ayahku kecelakaan" ucap Vino.


Hasna berdiri dari kursi kerjanya.


"Kecelakaan? Aku akan ke sana!" ucap Hasna.


"Tidak usah! Kau bisa gantikan aku menangani kasus artis itu kan? Hanya hari ini saja" ucap Vino.


"Ah, baiklah. Aku akan beritahu yang lainnya. Kau fokus saja pada ayahmu" ucap Hasna.


Dia menutup telponnya dan memberitahu orang yang akan meeting dengan Vino.


Sementara Vino tak lama kemudian sampai di klinik. Dia mencari dan bertanya pada suster untuk mencari ayahnya. Suster menunjuk pada deretan ranjang rumah sakit yang hanya beberapa terisi. Dia menunjuk ke ujung dan Vino berjalan perlahan mendekatinya.


Bima terbaring lemas di sana, Vino melihatnya. Hatinya sangat ketakutan, dia memang membencinya, tapi dia tidak siap jika harus kehilangannya.


"Sepertinya beliau syok, tapi keadaanya sudah sedikit tenang. Dokter akan memeriksanya lagi setelah tes darahnya keluar" ucap suster.


"Ya, terimakasih suster" ucap Vino.


Dia duduk di dekatnya. Teringat semalam saat dia menatapnya tertidur di sofa karena dia biarkan menunggu dirinya mandi. Vino menyentuh tangannya.


~Kau pasti kesal karena aku bersikap seperti itu terus menerus~ ucap hati Vino.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir" ucap Bima saat merasakan sentuhan Vino.


Vino menjauhkan tangannya, dia merubah raut wajahnya menjadi datar lagi.


"Ya, syukurlah!" jawab Vino.


"Kau sudah makan sarapan mu kan?" tanya Bima.


Vino menatapnya.


"Ya, sudah. Susu pisangnya sangat enak" ucap Vino.


Bima tersenyum.


"Hmmm, baguslah. Aku mau tidur lagi, sepertinya obat yang disuntikkan yang membuatku sangat mengantuk" ucap Bima.


Vino menundukkan pandangannya. Dia menatap kedua tangannya sendiri yang tak mampu memeluk ayahnya atau sekedar mengusap wajah ayahnya.