My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
38



Malam tiba, Hasna keluar dari kantor dan berdiri di depan kantornya. Dia berdiri dekat pos penjaga, karena melihat sebuah mobil asing parkir di tempat yang tidak biasa. Matanya mengawasi gerak-gerik dari orang yang ada di dalamnya.


Seorang pria bertubuh tegap keluar dari mobil itu. Pandangannya tak lepas dari Hasna yang masih juga mengawasinya. Hasna bersiap, dia mulai mendekat pada pos penjaga. Pria itu makin mendekat, Hasna semakin waspada.


Tapi mobil Vino sampai di depan Hasna tepat pada waktunya. Pria itu berhenti melangkah dan menatap Vino yang keluar membukakan pintu mobil untuk Hasna. Dia kembali ke mobilnya dan diam mengawasi mereka.


Hasna menghela lega, Vino mendengar desah nafasnya.


"Ada apa?" tanya Vino.


"Mobil itu, pria tadi sepertinya akan melakukan sesuatu pada ku" ucap Hasna.


Vino melihat mobil itu dari kaca spion dalamnya.


"Kau yakin? Kita bisa melapor polisi atas pengintaian terhadapmu" ucap Vino sambil masih memperhatikan mobil itu.


"Tidak usah, aku baik-baik saja" ucap Hasna.


Tapi Vino baru melihat luka di dekat telinga Hasna.


"Luka bekas apa ini?" tanya Vino sambil menyibak rambut Hasna dan menyentuh luka itu dengan lembut.


Hasna melirik, dia harus mengatakan apa yang terjadi. Tapi bagaimana caranya agar Vino justru terdesak untuk menikahinya dan membawanya ke rumah Bima.


"Ya, seseorang mencekik ku.."


"Apa? Dimana?" Vino berteriak histeris.


"Aku tidak melihat wajahnya, aku ditarik ke sebuah ruangan gelap dan sepi. Untung saja ada petugas pengadilan yang datang dan aku.. "


Vino memegang wajah Hasna, kemudian memeriksa tangan dan bahunya dengan khawatir.


"Bagaimana bisa kamu bilang untung, ini nggak bisa dibiarkan. Kita harus segera menikah dan tinggal bersama. Kau akan ku antar jemput dan selalu bersama ku. Jadi tak ada yang berani melakukan apapun terhadap mu" ucap Vino.


Dia memeluk Hasna dengan erat. Hasna tersenyum, rencananya membuat Vino semakin ingin menikahinya dengan cepat telah berhasil. Kini dia hanya tinggal menunggu satu persatu rencana yang akan dia lakukan untuk membuat Bima terjatuh hingga ke dasar.


##


Beno memeriksa kesaksian pria jepang itu sekali lagi. Fajri membuat laporan untuk meminta izin dari atasannya untuk melakukan penggeladahan di kantor milik Bima Sebastian.


Seorang petugas datang memberikan sepucuk amplop besar. Beno menatap Fajri yang menerimanya dengan wajah curiga.


Dia membuka perlahan dan menemukan sebuah usb. Fajri menunjukkannya pada Beno yang menatapnya dengan membulatkan mata.


"Usb lagi?" tanya nya memastikan.


Fajri tak berkomentar, dia langsung menancapkannya di laptop dan memeriksa isi dari USB itu.


"Rekaman pria jepang itu menandatangani kesepakatan bersama Bima!" ucap Beno.


Mereka berdua tercengang.


"Ini terlalu mudah Faj, kita nggak bisa ngasih ini begitu saja sama Pak Rahmat. Kita harus cari bukti lain" ucap Beno.


Tapi lain hal dengan apa yang dipikirkan Fajri.


~Hasna! Kapan dia hadir dalam kesepakatan ini? Kenapa dia bisa mengambil video ini dengan jelas?~ Fajri semakin penasaran dengan cara Hasna yang begitu gencar melakukan ini sendirian.


"Faj, apa yang lu pikirin?" tanya Beno.


"Kita akan selidiki ini dulu, simpan semua bukti ini No. Aku harus pergi dulu!" ucap Fajri sambil menyerahkan semua bukti pada Beno.


Sementara dia pergi ke rumah Hasna untuk menanyakan lagi tentang video itu. Tapi sampai di dekat rumah Hasna dia hanya melihat sebuah pemandangan yang memuakkan.


Dia melihat Vino membelai wajahnya, tangan mereka masing-masing membawa sebuah koper, seperti hendak pergi pindah rumah.


Fajri mendekat dan menatap mereka berdua.


"Kamu mau pindah?" tanya Fajri.


"Kamu lagi!" keluh Vino.


"Ya, aku pindah ke apartemen Vino" jawab Hasna.


Ucapannya seolah memutuskan jalan Fajri untuk selalu datang padanya.


Vino tersenyum menatap Hasna yang menjawab dan seolah setuju agar Fajri juga tak sering mengunjunginya.


"Sebentar saja, sebelum kamu pindah. Aku ingin bicara berdua saja" pinta Fajri.


Hasna memberikan kopernya pada Vino.


"Pergilah ke mobil lebih dulu, aku mau bicara sama Fajri dulu di dalam" pinta Hasna.


Fajri masuk mengikuti Hasna dan duduk di sofa yang sudah ditutup dengan kain putih.


"Ada apa lagi?" tanya Hasna seolah bosan.


"Ini tentang USB yang kamu kirim tadi. Itu sangat berbahaya, kau bisa tertangkap. Bima bisa melakukan apa saja pada mu. Sekarang kau malah akan..."


"Aku akan menikah dengannya lusa. Datanglah ke kantor urusan agama, kami menikah di sana" Hasna menyela ucapan Fajri.


"Kau sangat tahu, semakin aku bicara dengan mu semakin aku terluka dengan semua ucapan mu. Tapi apa kau benar-benar akan melakukan ini? Apa kamu sudah bisa mengatasi rasa takut mu?" Fajri berusaha memastikan kesiapan Hasna.


Hasna mendekat dan memeluk Fajri.


"Dia melakukan pemaksaan lagi padaku tempo hari, saat aku sendirian, tak ada kau ataupun Vino di sampingku. Aku ketakutan setengah mati, sampai rasanya ingin mati hari itu juga" bisik Hasna di pelukan Fajri.


Mata Fajri menangis, dia menelan salivanya mendengar pengakuan Hasna.


"Kau memutuskan untuk tak mengatakannya padaku, lalu mau melakukan semua sendiri?" ucap Fajri sambil menangis mengusap wajahnya.


"Aku baik-baik saja, aku bisa mengatasi semuanya sekarang" ucap Hasna.


Fajri mengusap kedua lengan Hasna, membayangkan semua rasa takut yang dihadapinya hari itu.


"Yang aku khawatirkan adalah kau, bagaimana jika kau tak bisa bertahan tanpa aku. Kau sangat berharap aku bisa bersama mu selamanya. Melupakan semua dendam ini dan bahagia bersama mu. Tapi, Fajri, matahari terbit ku, aku tak layak untuk sang mentari yang sinarnya begitu suci. Mentari harus mendapatkan pengabdian yang suci pula. Bukan seperti aku, aku yang sudah kotor..." ucap Hasna tapi belum selesai.


Fajri memeluk Hasna agar dia tak melanjutkan ucapannya. Hasna diam dalam pelukannya.


"Lakukan semuanya, sesuai dengan yang kau rencanakan. Lalu kembalilah padaku, aku akan tetap menjadi mentari mu. Sampai kapan pun" ucap Fajri.


Hasna memejamkan matanya, merasa sudah mendapatkan seluruh dukungan yang dia dambakan selama ini.


"Aku tidak bisa janji aku bisa kembali" ucap Hasna menghapus air mata Fajri.


"Kau harus kembali, tempat mentari terbit, aku akan menunggu mu di sana. Jadi, berhasil lah! Kau ingat? Tak ada kata gagal diantara kita, aku pun akan berjanji menyelesaikan semua yang kamu kirim ke kantor ku" ucap Fajri dengan semua janjinya.


Hasna tersenyum, dia tahu Fajri akan menepati janjinya.


"Kau sangat naif, kau bahkan tidak tahu pekerjaan mu dihalangi oleh seseorang" ucap Hasna menyentuh tangan Fajri yang mengusap tangisnya.


Mata Fajri membulat, dia tak mengerti dengan ucapan Hasna.


"Dengarkan aku, mulai sekarang rahasiakan semua dari siapapun dan jangan percaya pada siapapun. Ini hanya antara aku, kau dan Bima" ucap Hasna.


"Hasna! Na...!" panggil Fajri.


Bayangan Hasna memudar, semua yang dia ingin lakukan dan katakan pada Fajri. Itu semua hanya menjadi bayangan saja.


"Apa? jadi apa yang ingin kau katakan?" tanya Hasna mengalihkan pandangannya.


"Aku ingin mengatakan banyak hal, tapi sepertinya Vino tak sabar ingin membawa mu pergi" ucapnya menatap Vino yang mengawasi mereka di ambang pintu.


Hasna melirik, kemudian beralih menatap Fajri.


"Hati-hati, itu saja. Ingat, kau tak sendirian. Aku akan selalu ada untuk mu. Hubungi saja aku, jangan membatasi diri lagi dengan ku" lanjut Fajri.


"Kau yang harus hati-hati. Simpan semua bukti di tempat yang hanya kau yang tahu. Jangan pernah percaya pada siapapun, termasuk aku" jawab Hasna.


Jawaban Hasna membuat dia terdiam sebentar.


"Aku pergi!" pamit Hasna.


"Hasna!" seru Fajri menahan langkahnya.


Hasna berbalik dan mengangkat kedua dahinya.


"Hati-hati!" ucap Fajri.


"Ya, terimakasih" jawab Hasna.


Dia pergi setelah Vino menengadahkan tangan meminta tangan Hasna memegangnya. Fajri menatap genggaman tangan mereka.


~Semua tak berakhir di sini kan Na? Aku tak tahu apa yang kamu rencanakan. Tapi aku akan selalu menjadi Fajri, mentari untuk mu~


Ucap hati Fajri. Dia masih belum bisa mengutarakan semua kekhawatiran juga segala pertanyaan yang ingin jawabannya segera dia dengar dari Hasna. Fajri keluar dari rumah Hasna, Vino menunggunya untuk mengunci rumah itu.


"Dua hari lagi, lusa aku dan Hasna akan menikah di kantor urusan agama. Datanglah, kami butuh saksi" ucap Vino sambil mengunci pintu.


"Ya, jika aku tidak sibuk" jawab Fajri.


Vino menatapnya, tak senang dengan jawaban Fajri yang seolah pernikahan itu tak berarti apa-apa.