My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
12



Beberapa bulan ini cuaca sangat buruk, hujan mengguyur Jakarta hampir setiap hari. Langit selalu terlihat gelap, angin dingin berhembus setiap malam. Badai kecil selalu terasa di akhir hari.


Hasna membawa payungnya, dia berjalan di sebuah jalanan kecil kampung Gadung. Hujan masih rintik-rintik kecil, kemudian menjadi besar. Hasna memasang payungnya.


Beberapa anak kecil berlarian ke rumah mereka masing-masing. Para pedagang berteduh di warung-warung yang tendanya lebih lebar. Hujan lebat, Hasna masih berdiri di pinggir jalan. Dia menatap ke arah sebuah blok di perumahan itu.


Hasna melihat masa kecilnya di jalan itu. Dia melihat dirinya sendiri berlarian saat hujan. Ibunya berteriak-teriak memanggilnya. Hasna kecil yang masih mau bermain tak mendengarnya. Dia berlarian di depan rumahnya, ibunya mengejarnya memakai payung. Tapi Hasna kecil menghindarinya, dia berlarian membuat ibunya kehilangan keseimbangan dan menjatuhkan payungnya.


"Hasna!"


Hasna menoleh, panggilan seorang wanita pada seorang anak yang namanya sama di sana, membuyarkan kenangannya. Saat Hasna kembali menatap rumah yang tadi dia lihat.


Rumah itu berubah menjadi kusam dan lusuh, seperti rumah kosong. Mata Hasna berair seketika. Apa yang dia lihat tadi adalah benar-benar masa lalunya. Hasna memejamkan matanya sejenak, air di matanya menetes.


Hasna berjalan menuju sebuah warung. Dia membeli tisu untuk melap tangis dan air hujan yang bercampur di wajahnya. Beberapa pedagang sedang mengobrol di sana.


"Lu tahu blok G itu?" tunjuk pedagang mainan ke arah blok yang Hasna lihat tadi.


"Hmmm emang napa?" jawab temannya.


"Semua sertifikat tanah mereka balik lagi dalam sekejap" ucap pedagang itu.


"Maksud?" tamannya tak mengerti.


"Mereka kebanyakan orang-orang yang minjem uang sama Juragan Garang. Anaknya Juragan Garang itu nyuri semua sertifikat rumah yang belum dibalik nama. Sekarang balik lagi deh. Girang pasti mereka" jelas nya.


"Semuanya?" temannya membulatkan mata tak percaya.


"Ngga semua, rumah noh yang onoh yang kayak tempat rongsok. Yang onoh kagak balik lagi sama orang-orangnya" tunjuknya.


Hasna melirik pada mereka, dia juga menatap rumahnya.


"Gue tau ceritanya" ucap Pedagang itu lagi.


"Gimana?" temannya semakin penasaran.


"Hmm...nggak ah, gue takut" pedagang itu merinding.


"Takut kenapa?" temannya sangat penasaran.


"Takut orangnya tau, trus tau gue yang cerita. Dia bisa ngangkat dagangan gue sampe gue ga bisa dagang lagi seumur hidup gue"


Pedagang itu mengisyaratkan mati di lehernya.


"Gue nggak ngerti omongan lu" temannya menyerah untuk ikut berpikir.


"Kagak ngerti lebih baik dari pada tahu tapi lu nggak bisa ceritain ma orang lain. Nyesek bro" ucapnya mengusap dada.


~Kalian salah mengambil jalan dengan menutup mulut dengan rapat~ ucap hati Hasna.


Hasna pergi meski hujan masih lebat. Beberapa orang melihatnya dan berkomentar bahwa dia terlalu nekat. Namun saat melihat Hasna masuk ke mobil mereka pun mengubah pandangannya.


Hasna menatap foto kedua orang tuanya di ponsel.


~Ayah, Ibu. Kenapa?~ ucap hati Hasna.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Hasna mengangkat telponnya.


"Kau dimana?" tanya Fajri.


"Sedang ada pekerjaan di...."


"Bohong, aku tanya Vino, tak ada kasus yang sedang kau kerjakan hari ini. Kau kemana?" tanya Fajri mendesaknya.


"Apa apaan ini? Aku merasa sedang diintrogasi" ucap Hasna.


"Cepat katakan! Kau dimana?" Fajri kekeh.


"Hei...kau sendiri dimana? aku yang akan menemui mu segera" ucap Hasna berbalik bertanya.


"Aku di rumah mu, di depan rumah mu" ucap Fajri.


Hasna membulatkan matanya kemudian menelan ludah. Pantas saja Fajri begitu kesal mendengarnya beralasan, ternyata dia sedang menunggunya di depan rumah. Hasna menyalakan mesin mobilnya kemudian melaju menuju rumahnya.


Di pintu masuk perumahan, Hasna dihadang oleh seorang pria.


"Anda di sini?" tanya pria itu saat Hasna membuka kaca mobilnya.


"Masuk lah!" ucap Hasna


Hasna menjalankan mobilnya.


"Hujan beberapa hari ini membuat aliran sungai meluap, kau tahu sela-sela pondasi yang sudah cukup tua membuat abrasi cukup dalam. Saya rasa pekerjaan saya akan menjadi lebih mudah" ucap pria itu.


"Baguslah!" ucap Hasna singkat.


Hasna berhenti di sebuah halte bus, pria itu hendak membuka pintu untuk turun. Hasna memberikan amplop dengan isi cukup tebal.


"Terima kasih bu!" ucapnya.


"Aku tidak akan menghubungi anda dulu. Musim hujan ini yang akan melakukan tugas anda selanjutnya. Terimakasih!" ucap Hasna.


Pria itu keluar dan berdiri menunggu bus untuknya pulang. Dia masuk ke dalam bus dan duduk di kursi tengah dekat jendela. Menatap hujan yang masih lebat.


Teringat saat pertama kali bertemu Hasna. Saat itu dia bertemu dengannya di rumah sakit saat membawa anaknya untuk operasi kelenjar yang membengkak di lehernya.


Wajah bingungnya terpasang menatap tubuh Icha anaknya yang berbaring menunggu kepastian tentang biaya oprasi yang tak kunjung ia setor ke rumah sakit untuk memulai persiapannya.


Hasna yang sedang duduk di sana memperhatikan dirinya yang duduk mengusap seluruh kepalanya dengan keputusasaan. Hasna mendekat kemudian mereka bicara.


"Hai! Saya Hasna. Anda sedang menunggu siapa di sini?" tanya Hasna.


"Saya Dani Bu, saya lagi nunggu anak saya Icha ada pembengkakan kelenjar di lehernya" ucap Dani sambil tersenyum ketir.


"Ouhh...pantesan dari tadi saya lihat seperti yang lagi bingung" ucap Hasna.


"Hehe iya Bu. Saya udah nyari kemana-mana tapi ngga ada yang ngasih uang pinjeman. Mau pinjam sama Juragan Garang malah di tendang karna saya ngga punya jaminan" Dani menceritakan kisahnya.


Hasna melihat memar di lengan pria yang berusia 35 tahun itu. Dia tak merasa aneh dengan cerita orang tentang Juragan Garang.


"Berapa jumlah uang untuk oprasi?" tanya Hasna langsung.


Dani terdiam menatap Hasna dengan heran.


"Berapa?" tanya lagi Hasna.


"25juta" jawab Dani.


"Aku hanya punya 15 juta, sisanya akan aku pinjam dari seorang teman. Akan aku kumpulkan 30 juta untuk perawatan setelah oprasi"


"Tapi Bu!"


"Tidak gratis, lakukan sebuah pekerjaan untuk ku"


Mata Dani membulat, dia senang karena bisa bekerja untuk uang itu.


"Aku akan ke ruang suster, tunggu lah" pinta Hasna.


Dani menatap anaknya dengan senyum.


"Tenang sayang, ayah akan bekerja untuk membayar uang oprasi mu. Bersabarlah, sembuhlah!" ucap nya.


Hasna terlihat sedang bicara dengan suster, tak lama kemudian seorang dokter menghampiri. Dokter tersenyum dan menjabat tangannya. Kemudian Hasna kembali dan pamit pada Dani.


Anak Dani perlahan pulih dan kembali ke rumahnya setelah sembuh. Tak berapa lama, sebuah pesan masuk di ponsel yang diberikan Hasna padanya. Sebuah pesan yang menyuruhnya mengambil uang dari atm yang dia berikan sebelumnya untuk membeli sebuah obat.


Dani berpikir, dia menatap nama obat dalam pesan. Pengalamannya sebagai tukang bangunan, membuat dia paham dengan nama obat itu. Obat untuk mengikis pondasi untuk mempermudah pembongkaran suatu gedung atau lainnya.


Dani bertanya-tanya dalam hatinya, untuk apa semua itu. Namun karena dia terikat dengan balas budi yang sangat dalam pada Hasna, dia tak menanyakannya. Dia melakukan semua tanpa bertanya alasannya.


##


Dani berjalan menuju rumahnya, membuka pintu dan melihat anaknya sedang belajar di meja. Dia tersenyum dan mengusap kepala Icha anaknya.


"Ayah sudah pulang?" tanya Icha.


Dani tersenyum dan membuka pakaiannya yang basah.


Terdengar suara televisi yang memberitakan sebuah longsor di perumahan.


"Barusan aja Pak, saya lihat banget pas semua rumah turun dan ambruk begitu saja setelah getaran hebat" ucap salah satu pedagang yang menyaksikan longsor itu.


Dani meremas tangannya, menunggu kabar dan berharap mendengar bahwa tak ada korban yang meninggal.


Tv nya mati karena mati lampu. Dani menghela nafas panjang kemudian menunduk.