My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
24



Fajri duduk di depan komputer kantornya. Dia memeriksa beberapa email dan membacanya.


[Aku sudah memeriksa, ada sisa obat pelemah pondasi yang tertinggal di sela-sela pondasi yang hampir roboh. Longsor ini sudah direncanakan jauh-jauh hari. Dia profesional, ini mungkin dikerjakan lebih dari tiga bulan]


Fajri menghela keras membaca email yang diberikan orang konstruksi yang dia utus untuk memeriksa pondasi sisi sungai.


Fajri menutup emailnya dan mengalihkan fokusnya pada rekaman CCTV rumah sakit yang dikirimkan padanya.


Beberapa sudah dia lihat, tapi tak ada yang mencurigakan. Perawat yang membawa persediaan anestesi pun mengatakan merasa tak melihat ada yang mengambil obatnya. Dia sama sekali tak mengingat apapun. Dia sadar obat hilang setelah diberitahu ada yang menyalahgunakan obat itu.


Saat Fajri melihat dirinya masuk dari pintu depan rumah sakit, dia ingat seorang pria menabraknya dan tak sama sekali mengatakan apapun.


Dia ingat wajahnya, dia mencarinya di rekaman yang lainnya. Memeriksa ulang setiap orang yang keluar di jam yang sama. Wajah pria itu tak begitu terlihat di rekaman karena menunduk.


Mata Fajri merah karena kelelahan, dia menatap Agung yang datang dengan menyempitkan matanya. Agung tertawa melihatnya.


"Sudah dapat sesuatu?" tanya Agung.


"Belum! rekamannya tidak terlalu jelas, tingkat ketajamannya kurang bagus. Sulit memperbesarnya. Seharusnya mereka meningkatkan kualitas CCTVnya" keluh Fajri.


"Kau akan meminta mereka malakukannya?" Agung duduk di sampingnya.


Dia menaruh sebuah kaset rekaman CCTV.


"Apa itu Yah?" tanya Fajri yang menaruh kepalanya di tangannya yang direntangkan.


"Ini rekaman CCTV sebuah mobil yang dipasang di dashboard seseorang. Dia mengirimkannya setelah tahu Nabila jadi korban rudapaksa. Dia kesini kemarin sore. Dia mengatakan melihat Nabila sedang berjalan di sebuah komplek perumahan besar di sana" jelas Agung.


Fajri langsung bersemangat, dia mengambil kasetnya dan memutarnya.


"Kapan dia dipanggil lagi Yah?" tanya Fajri.


"Pak, kita sedang bekerja!" Agung meralat panggilan Fajri padanya di kantor.


Fajri menghela sambil tersenyum.


"Ok, Pak. Kapan saksi akan dipanggil lagi?" tanya Fajri sambil menatapnya.


"Besok. Hari ini kita akan ke sana melihat kemungkinan arah yang diambil Nabila setelah belokan" jawab Agung.


"Siap Pak!" seru Fajri.


Agung melihat sebuah artikel mengenai longsor. Dia mengangkat kedua alisnya karena penasaran.


"Kau menyelidiki tentang longsor itu. Kenapa?" tanya Agung.


"Ya Pak, tapi Pak Rahmat melarang saya. Saya menemukan kejanggalan. Air dari hulu baru datang saat kami sedang mengevakuasi korban dan mengamankan lokasi" jelas Fajri.


Agung berpikir keras. Dia berpikir hal yang sama dengan Fajri.


~Jika airnya baru datang setelah longsor, lalu apa yang membuat pondasi begitu rapuh karena aliran airnya?~ tanya hati Agung.


"Puluhan tahun Pak, pondasi itu berumur puluhan tahun. Meski begitu, tidak mudah bagi pondasi terabrasi hanya karena aliran sungai saja. Musin hujan dengan angin juga baru mulai beberapa minggu ini. Saya masih menyelidikinya, bagian kontruksi mengatakan menemukan sisa obat yang memudahkan pembongkaran pondasi sebuah gedung di dalamnya. Dia menyimpulkan, obat itu telah digunakan selama tiga bulan terakhir. Semua ini direncanakan Pak!" jelas Fajri.


Agung yang awalnya berdiri hendak mengajak Fajri ke lokasi, jadi terduduk. Pikirannya membawa dirinya untuk menuduh putri angkatnya. Dia memejamkan mata dan mengambil nafas dalam.


Fajri menundukkan pandangannya. Dia berpikir hal yang sama, namun akan mencari tahu lebih mendalam agar tidak simpang siur dengan semua pemikirannya.


###


Di rumah sakit, Beno dan dua orang polisi menunggu di depan pintu kamar Nabila untuk berjaga. Wisnu menatap wajah adiknya yang masih pucat. Memarnya mulai menghilang, dia masih bersyukur meski telah berkali-kali melihat adiknya seperti mayat. Dia mencoba tegar, terlebih sekarang dia harus lebih waspada. Adiknya benar-benar sedang diburu orang yang menginginkannya mati.


Hasna mundur dan hendak pergi lagi, tapi Wisnu melihatnya.


"Hasna!" Wisnu memanggilnya.


Hasna menoleh dan tersenyum tertunduk malu. Wisnu mendekat, mereka duduk berdua di kursi setelah Beno pindah ke dalam.


"Maaf, kemarin aku..."


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Entah dendam apa itu, aku sekarang merasakannya. Aku sangat ingin orang yang kau sebut 'iblis' itu mati di hadapanku" ucap Wisnu sambil menahan sesak di dadanya.


Hasna memegang tangannya untuk mendukungnya. Wisnu menangis tersedu sambil membungkuk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Hasna ikut merasa sedih dan marah. Di sisi lain hatinya, dia merasa sudah mendapat dukungan dari Wisnu. Dia bertekad akan lebih keras bekerja mencari semua bukti.


Setelah bicara banyak mengenai hal yang harus mereka lakukan saat pelaporan dan sidang, Hasna pamit pulang. Kali ini dia tak harus sembunyi-sembunyi lagi untuk datang. Wisnu meminta bantuannya sebagai pengacara langsung untuk membantunya. Dia jadi lebih percaya diri.


###


Sudah dua hari Dudung tak menjenguk istrinya. Dia ingat sudah menabrak seorang detektif saat di pintu keluar. Dia juga ragu untuk bertanya pada iparnya tentang keadaan kamar VIP. Iparnya bisa curiga, dia tak akan mengambil resiko. Tapi dia sangat penasaran apa Nabila sudah mati atau masih hidup. Dia sangat gelisah akan hal itu.


Bima memperhatikannya dari dalam rumah. Dia berpikir akan membuat Dudung mengakui semua kesalahannya dan bertanggung jawab untuk dipenjara. Bima berpikir akan menyewakannya pengacara terbaik agar dia bisa dihukum dengan hukuman ringan.


Bima menghela nafas, seorang pelayan wanita yang baru bekerja masuk dan menaruh gelas kopinya di meja. Dia melihat bagian belakang pelayan itu sampai dia menghilang kembali ke dapur. Bima mengambil nafas dalam kemudian tersenyum. Dia mengambil cangkir kopinya dan meminumnya sedikit demi sedikit kemudian tersenyum lagi.


###


Fajri dan Agung sudah sampai di komplek perumahan besar yang ada di CCTV. Mereka berpencar untuk memeriksa setiap rekaman CCTV yang terpasang di komplek itu.


Fajri bertanya pada setiap orang tentang Nabila. Beberapa dari mereka menjawab satu jawaban yang sama, mereka sedang bekerja pada jam itu. Tak ada yang tinggal di rumah. CCTV yang dipasang pun hanya yang menuju pintu masuk rumah mereka saja. Tak ada yang memasangnya di pinggir jalan.


Para pelayan yang bekerja pun mengatakan hal yang sama. Mereka pulang ke rumah masing- masing pada jam itu, karena pekerjaan mereka sudah selesai.


Agung memeriksa rekaman CCTV mini market di depan komplek. Rekamannya hanya menunjukkan punggung Nabila yang sudah berjalan jauh terekam setelah mobil yang terparkir di halaman mini market pergi. Dia hendak memintanya namun harus menunggu izin manager mereka.


Fajri duduk di trotoar jalan dan mengusap kepalanya. Dia memandang salah satu jalan dari puluhan jalan dari komplek perumahan itu. Perumahan itu cukup besar. Ada jalan alternatif tersambung ke beberapa perumahan lain. Dia menggaruk kepalanya yang berkeringat, hingga menjelang malam, belum menemukan apapun. Fajri menelpon ayahnya untuk menanyakan keberadaannya.


"Ayah dimana?" tanya Fajri.


"Aku di mini market di depan" jawab Agung.


"Astaga Ayah, aku berkeliling seharian, tapi ayah tak beranjak dari mini market sejak tadi" keluh Fajri.


"Ada Nabila di rekaman CCTV nya, mau aku minta tapi harus menunggu managernya"


Agung tak sadar telponnya sudah dimatikan Fajri. Dia menghela saat melihat ponselnya tak berada dalam panggilan.


"Anak kurang ajar! Belum selesai ngomong udah dimatiin" kesal Agung.


Fajri berlari menuju mini market tempat mereka parkir. Dia melihat rekaman itu dan mereka ulang beberapa kali. Tapi tetap saja, tak bisa menebak ke rumah mana Nabila pergi.


Fajri dan Agung menatap jalan masuk kompleks perumahan itu dengan menyempitkan matanya. Mereka sudah lelah.


"HEI.....! Kapan manager mu datang!" teriak Fajri.


Pegawai mini market itu terkejut dan menelpon kembali. Tak lama kemudian dia menghampiri Fajri dan Agung dan mengatakan bahwa managernya akan datang besok.


"Ahhhh....sialan!"


Fajri histeris karena lelahnya. Agung hanya diam kemudian berdiri dan menarik jaket Fajri agar dia bangun dan ikut pulang.