My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
33



Fajri memeriksa CCTV beberapa toko yang memperlihatkan kecelakaan ayahnya. Wajah Dudung jelas terlihat saat menabrak ayahnya. Fajri juga melihat betapa Hasna sangat terkejut menatap ayahnya terkapar hingga membuat dirinya juga ditabrak.


Tangan Fajri mengepal, Beno menatap ekspresi wajah Fajri yang kesal.


"Pria ini benar-benar jahat" ucap Beno.


~Hasna mengatakan bahwa Bima yang menyuruh Dudung melakukan itu, tapi bagaimana aku bisa membuktikannya? Dia pasti akan mengelak dan mengakui semuanya sendiri~ ucap hati Fajri.


Beno menatap wajah Fajri yang tak merespon ucapannya.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Beno.


"Kita akan periksa dia lagi atas kasus ini. Aku harus dapatkan semua bukti bahwa dia diperintahkan oleh orang lain" ucap Fajri.


###


Hasna merapikan rumahnya, dia pergi dari Jakarta dan memilih untuk tak pernah kembali ke tempat itu lagi.


Saat Hasna hendak mengunci pintu rumahnya, Vino datang dan menghampirinya.


"Kau mau pergi?" tanya Vino.


Hasna menelan salivanya, tubuhnya merasa merinding mendengar suara Vino yang mengingatkannya pada Bima. Hasna memejamkan matanya kemudian tak terasa meneteskan air mata mengingat kejadian semalam.


"Hasna aku mohon, semua tuduhan Fajri tak terbukti pada ayahku. Kenapa kamu masih bersikap seperti ini?" Vino tetap ingin Hasna kembali padanya.


Hasna berbalik dan membawa tasnya kemudian berjalan menuju mobilnya tanpa memperdulikan keberadaan Vino. Tapi Vino tak menyerah, dia meraih lengan Hasna.


"Na, please! Dengerin aku dulu!" Vino kekeh.


Hasna menghela kemudian menatap Vino. Tapi pandangannya beralih pada mobil Bima yang ada jauh di belakang Vino.


~Dia mengawasiku?~ tanya hati Hasna.


Pandangan Hasna kembali pada wajah Vino. Pikirannya mulai mengatakan untuk memanfaatkan cinta Vino untuk membalas dendam pada Bimo.


"Aku sangat cinta sama kamu, dan aku nggak bisa biarin kamu pergi. Please Na!" ucap Vino sambil memegang tangan Hasna penuh harap.


~Apa tidak akan apa-apa jika aku memanfaatkan cinta mu untuk balas dendam ku? Apa kamu nggak akan terluka?~ Hasna ragu.


Hasna melepas tangan Vino, dia mengurungkan niatnya, mengingat dia juga mencintai Vino dan tak ingin melukainya.


"Maaf Vin, aku nggak bisa tinggal di sini lagi. Aku harus pergi" ucap Hasna.


Vino masih tak rela melepaskan Hasna, dia memeluk erat tubuh Hasna dari belakang agar dia tak pergi.


"Please Hasna, aku bisa mati kalau kamu pergi" ucap Vino.


Hasna hanya diam saja, tapi tangannya berusaha melepaskan pelukan Vino.


"Naa!" Vino masih berusaha.


Hasna masuk ke mobilnya, Vino masih berusaha agar dia tetap tinggal. Hasna terdiam menatap jalan di depannya. Mobil Bima masih ada di sana, mata Bima dan Hasna beradu. Hasna melihat Bima yang terus menatap Vino dan dirinya secara bergantian.


~Apa yang iblis itu pikirkan? Kenapa dia terus menatap aku dan Vino seperti itu?~ tanya hati Hasna.


"Kau mencintaiku?" tanya Hasna tiba-tiba.


Vino terdiam dan membulatkan matanya.


"Iya, sangat" jawab Vino bersemangat.


"Kalau begitu, nikahi aku" ucap Hasna.


Mata Vino semakin membulat, mendengar permintaan Hasna.


"Nikahi aku secepatnya. Jika kamu bersedia, aku akan kembali merapikan pakaian ku di dalam" ucap Hasna.


Vino membuka pintu mobil. Dia meraih tangan Hasna untuk keluar kemudian memeluknya.


"Aku akan menikahi mu, secepatnya. Aku janji" ucap Vino.


Entah apa yang Hasna inginkan, namun Vino sangat senang mendengar permintaannya. Tak pelak senyum terus tersungging di bibirnya selama memeluk Hasna. Sedangkan mata Hasna menatap Bima di dalam mobil kemudian sedikit tersenyum.


Di tempat yang cukup jauh, Fajri melihat pemandangan itu. Tangan kanannya yang membawa sebungkus nasi padang kesukaan Hasna, mulai mengepal.


Matanya berkaca-kaca, wajahnya mulai merah padam merasa panas menatap wanita yang disukainya dipeluk dengan erat kemudian saling tersenyum.


Fajri berbalik arah, dia pergi dari sana karena tak tahan melihat semua itu. Langkahnya semakin berat saat dia berjalan diantara pertokoan yang tutup. Tangannya menopang ke dinding dan dia mulai terduduk lemas.


Fajri menangis, dia merasa Hasna sudah tak bisa dia gapai seperti keinginannya. Kehilangan ayah tak membuat Hasna lebih memperhatikan dirinya. Dia malah lebih dekat dengan Vino.


###


Sementara itu, Bima kembali ke rumahnya dan meminta seorang anak buahnya untuk memberikan peringatan pada Hasna untuk tak mendekati Vino.


"Tulis sebuah surat kaleng, katakan jika dia tetap di sisi Vino, dia akan kehilangan pria yang sudah dianggapnya sebagai saudara itu"


Bima menatap foto Fajri dan Hasna yang sedang makan malam bersama Agung. Matanya menatap ke arah depan seolah menunggu jawaban dari orang yang dia hubungi.


Bima menutup ponselnya. Tangannya mengepal, dia merasa kesal. Hasna tak langsung bunuh diri saat dia merudapaksanya kemarin. Dia malah terlihat menerima Vino kembali ke dalam hidupnya.


~Aku baru saja mendapatkan hati anakku setelah bertahun-tahun. Aku tidak akan membiarkan apapun memisahkan ku dengan anakku lagi. Aku takkan membiarkan Hasna meracuni pikiran Vino dengan semua ucapannya. Aku harus memisahkan mereka~


Bima menatap foto keluarganya yang beberapa bulan lalu dia pasang di dinding rumahnya. Baru beberapa bulan ini, Bima berpikir untuk mendekati Vino kembali untuk meneruskan kerajaan bisnisnya.


Ketakutannya akan kedekatan Hasna dengan Vino membuat anaknya kembali menjauh darinya. Bima bertekad untuk menjauhkan mereka.


###


Beno menatap ke arah pintu kantornya yang terbuka. Fajri datang dengan langkah seolah sedang menanggung beban berat. Tangan yang membawa sebungkus makanan perlahan terangkat dan menaruh bawaannya di atas meja di depan Beno.


"Apa ini?" tanya Beno sambil membuka kantungnya.


"Nasi padang, makanlah!" jawab Fajro dengan suara lemah.


"Kenapa hanya satu? Kau tidak makan?" Beno ragu untuk membukanya sendiri.


"Tidak, aku sudah kenyang" jawab Fajri.


~Kenyang dengan semua kenyataan pahit yang aku alami, bertubi-tubi, sampai aku jadi muak dengan semua ini~ jawab hati Fajri meneruskan ucapan yang tak bisa dia utarakan pada Beno.


"Kau sedang muak pada siapa?" tanya Beno seolah mendengar isi hati Fajri.


Mata Fajri membulat menatapnya.


~Aisss, apa dia bisa dengar apa yang aku katakan di pikiran ku?~


"Tidak biasanya kau memberikan makanan enak padaku. Hey, apa kau mau memberikan makanan ini untuk orang lain, tapi orang itu tidak mau, lalu kau memberikannya padaku, haah?"


Beno membuat dugaan sendiri karena curiga dengan kebaikan Fajri yang biasanya sangat acuh padanya.


"Hmmm, dugaan mu benar. Insting detektif mu mulai peka. Bagus, kau banyak kemajuan" ucap Fajri sambil meringkuk dan menutupi kepalanya dengan kedua tangannya di atas meja.


"Aissshhhh, kai tidak pernah berubah. Pantas saja pengacara cantik itu tak jatuh ke pelukan mu. Kau sama sekali tak pernah perhatian pada orang sekitar mu. Aku ini rekan kerja mu sudah dua tahun bersamamu. Sekali membawakan makanan kau berikan yang orang lain tolak. Dasar, rekan kerja macam apa kau ini"


Beno terus menggerutu, sementara Fajri hanya memejamkan matanya tanpa mendengarkan ocehan Beno. Semua kenangan manis bersama Hasna sedari remaja terpampang jelas di matanya. Mata Fajri meneteskan air mata, dia tak bisa mengendalikan kesepian yang merasuk ke dalam hatinya.