My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
32



Di ruang rawat.


Fajri menatap wajah Hasna yang masih pucat. Dia hendak menyentuh tangannya, namun Hasna tiba-tiba sadar dan membuka matanya.


"Kau sudah sadar?" tanya Fajri.


"Ayah.....ayah...." ucap Hasna dengan lirih dan terengah.


"Ayah? Kenapa dengan ayah?" tanya Fajri heran.


"Kecelakaan ayah....itu....disengaja!" ucap Hasna.


Fajri membulatkan matanya, dia sangat terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Hasna yang masih mengatur nafasnya.


"Tenangkan dirimu, nanti bicara lagi" ucap Fajri menenangkannya.


"Nggak, kamu harus cari tahu siapa yang nabrak ayah" Hasna kekeh sambil mengatur nafasnya yang berebut dengan rasa ingin menangis.


Fajri kebingungan, dia khawatir dengan keadaan Hasna yang mulai histeris.


"Kau jangan diam saja, kau harus cari tahu siapa yang menabrak ayah. Dia sengaja melakukannya. Iblis itu yang menyuruhnya.." Hasna mulai lemah lagi.


Dokter dan suster datang setelah mendengar Hasna yang ribut. Beberapa orang juga menatap dari arah pintu masuk.


"Jangan membuat dia stress!" ucap Dokter.


Fajri menatap Hasna yang hendak diberikan obat penenang.


"Sebaiknya kamu keluar dulu!" ucap suster.


"Tapi..." Fajri masih ragu untuk keluar.


Namun Hasna mulai terlelap lagi, Fajri melihatnya dari luar.


###


Bima mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang lainnya terus menggerakan kursor laptopnya. Hatinya tak menentu, dia mengetahui selama ini telah diincar oleh Hasna, wanita yang dicintai anaknya.


~Bagaimana ini? Aku baru saja mendapatkan perhatian anak ku kembali. Dia bahkan membela ku untuk kasus ini. Bagaimana caranya membuat dia melepaskan wanita itu?~


Bima merusak flashdisk itu, semua berkas yang dia ambil dari rumah Hasna pun dibakarnya. Matanya menatap api yang melalap semua barang yang membuktikan dia bersalah, entah itu kejadian sepuluh tahun yang lalu ataupun yang baru baru ini terjadi.


"Sial!" ucapnya.


###


Vino datang ke rumah sakit, dia melihat keadaan, mencari Fajri yang akan melarangnya menemui Hasna. Namun Vino tak bisa membendung rasa ingin bertemu dengan Hasna. Vino sangat yakin Hasna bisa menerimanya kembali.


Fajri tak ada, Vino masuk ke ruangan yang ditunjukkan oleh suster. Dia menatap wajah Hasna yang masih ada sedikit bekas luka. Vino menyentuh tangannya.


Hasna terbangun, dia kira itu adalah Fajri, namun saat dia membuka mata, dia melepas tangan Vino dan menghindari tatapannya.


"Hasna, aku mohon! Ayahku sudah terbukti tidak bersalah, supirnya yang melakukan semua itu pada Nabila. Sampai kapan kamu akan seperti ini padaku?" Vino memohon dengan memelas.


Hasna masih diam saja, perasaannya sudah mati untuk Vino. Bagaimana tidak, saat dia sudah mulai membuka hati dan bisa mencintai Vino, kenyataan membuat hatinya patah lagi. Sebuah kenyataan bahwa Vino adalah putra dari Bima Sebastian. Orang yang memperkosanya saat dia masih berumur 14 tahun. Dimana kejadian itu selalu menjadi mimpi buruk yang tak pernah mau pergi dari setiap malamnya.


Karena perbuatan ayahnya, dia dihina oleh ke 43 warga yang dia hancurkan rumahnya oleh longsor buatannya. Mereka tak percaya Hasna menjadi korban perkosaan Bima yang saat itu adalah orang terpandang dan sangat kaya raya.


Karena mereka, ayah dan ibunya mencoba menggadaikan surat rumahnya untuk mendapatkan biaya untuk penyelidikan yang tak pernah berhasil. Bahkan tak pernah mampu menyentuh sehelai pun rambut Bima sebastian.


Mereka kehilangan semuanya, hanya karena ingin Bima disentuh hukum. Tapi tak ada yang percaya, bahkan Agung pun menyerah membantu mereka.


Ibunya sakit dan meninggal saat mendengar perkataan saudaranya Wahyudin (kasus perdana) untuk bunuh diri bersama atas aib Hasna karena tak mau memberikan pertolongan.


Ayahnya gantung diri karena tak sanggup menahan rasa malu dan tekanan yang terjadi sepeninggal istrinya.


Bayangan ayahnya yang menggantung tanpa nyawa masih terlihat jelas. Mata Hasna terbuka lebar tak berkedip menatapnya saat itu. Dia terlalu takut untuk ikut menggantung dirinya. Juga terlalu takut melihat pisau untuk memotong nadinya karena Bima pernah menyobek selakangannya.


Rasa takut, dendam, amarah, tangis dan penyesalan bercampur aduk. Kemudian datang Agung memeluknya dan memberikan kasih sayang tanpa pamrih. Yang kini sudah tak ada, wajahnya yang belumuran darah, masih dia ingat.


Tak terasa tangis Hasna mulai mengalir. Vino melihatnya, dia membelai pipi Hasna untuk menghapusnya.


"Pergilah, aku masih berkabung atas kematian ayah angkat ku" ucap Hasna.


Vino menahan diri, dia menatap wajah Hasna yang sangat ingin dia peluk untuk menghapus kesedihannya.


"Aku mencintaimu Hasna, sangat mencintai mu. Aku bersedia melakukan apapun asalkan kamu kembali padaku. Ingatlah, aku akan selalu ada untuk mu" ucap Vino yang kembali menyentuh tangan Hasna.


Vino pergi, hari ini dia menyerah lagi. Hasna hanya menatap kepergiannya hingga menghilang di ambang pintu.


Beberapa jam mendapatkan perawatan, Hasna diperbolehkan pulang. Dia pulang sendiri tanpa memberitahu Fajri. Namun alangkah terkejutnya dia saat melihat rumahnya yang porak poranda bagaikan kapal yang dihantam badai besar.


Hasna mengambil satu persatu barang yang mungkin masih bisa digunakan. Dia mulai bergerak menuju kamar yang pintunya dirusak paksa.


Mata Hasna membulat saat mengingat laptop dan semua berkasnya. Dia lebih terkejut saat melihat mejanya rusak tak berbentuk lagi. Mencari ke seluruh ruangan, seperti orang gila. Hasna tak mendapatkannya. Dia terduduk lemas di lantai.


~Apa ini? Siapa yang melakukannya?~


Hasna keluar dari kamar dan hendak menghubungi Fajri. Namun langkahnya terhenti, saat dia menatap Bima yang berdiri menatapnya.


Tubuh Hasna tersentak karena ketakutan. Tangannya gemetar dan mulai berkeringat. Dia mundur perlahan untuk mencari topangan.


Bima tersenyum menyeringai menatap ke seluruh rumahnya.


"Jadi kau masih hidup?" suara Bima dalam dan menakutkan.


Hasna seolah tersengat listrik mendengar suara pria tinggi itu.


"Aku tak sangka, kau berubah lebih cantik dan menarik. Sampai anakku Vino, tergila-gila padamu" ucapnya lagi.


Hasna masih mengendalikan diri agar tak melemah dan jatuh. Dia juga mengatur nafasnya.


"Aku sudah membakar semua bukti yang bisa membuatku dijebloskan ke penjara. Tapi sayang, dengar, uang ku bisa menyumpal semua orang yang membantu mu. Bahkan lebih dari seratus orang"


Hasna sekarang mengerti mengapa rumahnya bisa berantakan. Bima mulai mendekat, Hasna semakin tersudut.


"Aku tak sangka, kau menjadikan dirimu kuat dan membalas semua orang yang menyakiti mu dengan cara yang apik. Mereka jatuh terpuruk karena perbuatan mu. Dan kau mengumpulkan semua bukti yang menyudutkan ku, untuk menyerang ku. Tapi apakah kau bisa menyentuhku?"


Bima tersenyum dengan semua kepuasannya yang membuat Hasna tersudut sekarang.


"Kau sangat cantik Hasna Maulida. Aku jadi penasaran, bagaimana rasanya mengulang semua yang pernah terjadi pada kita?" ucap Bima dengan meraba seluruh tubuh Hasna dengan tatapannya.


Mata Hasna menangis, dia sangat ketakutan mendengar ucapan pria yang disebutnya 'iblis' itu. Hasna berlari ke kamar dan menutupnya rapat dengan tubuhnya.


Tapi Bima mendorongnya dengan kuat. Hasna sulit bertahan, Bima kembali mendorong dengan lebih kuat dan membuatnya terpental hingga ke sisi ranjang. Hasna mencoba berdiri, namun Bima menyergapnya.